"Engkau menunggu di sini, aku akan ketempat pertempuran itu!" "Ai Ling...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas.
"Baiklah!
Mari kita ke sana!" Kedua gadis itu segera melesat ke arah suara pertempuran.
Sampai di tempat itu, mereka melihat seorang gadis berpakaian aneh sedang bertarung dengan beberapa orang berpakaian hijau.
"Mereka para anggota Seng Hwee Kauw," bisik Lie Ai Ling memberitahukan.
"Aku tahu," sahut Siang Koan Goat Nio sambil memperhatikan gadis yang sedang bertarung itu.
'Dia menggunakan suling." "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa.
"Sulingnya berwarna putih, jangan-jangan suling perak!" "Eeeeh?" Mendadak Siang Koan Goat Nio terbelalak.
"Ai Ling, perhatikanlah gerakannya!
bukankah gerakannya mirip dengan ilmu Giok Siauw Bi Ciat Kang Khi ciptaan Paman Cie Hiong?" "Betul." Lie Ai Ling mengangguk.
"Dia memang menggunakan ilmu itu.
Heran" Kok dia mahir menggunakan ilmu itu?" "Mungkin gadis itu punya hubungan dengan Paman Cie Hiong," ujar Siang Koan Goat Nio.
"Tidak mungkin." Lie Ai Ling menggeleng kepala.
"Gadis itu masih begitu muda, bagaimana mungkin dia punya hubungan dengan Paman Cl Hiong?" "Kalau begitu..." pikir Siang Koan Goat Nio "Mungkin orang tuanya punya hubungan dengan Paman Cie Hiong." "Itu, memang mungkin.
Tapi dia bukan gadis Tionggoan," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa kecil.
"Pakaiannya begitu aneh, entah dia berasal dari mana?" "Dia mulai terdesak." Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
"Para anggota Seng Hwei Kauw itu berkepandaian tinggi sekali." "Tapi...." Lie Ai Ling terbelalak.
"Dia masih mampu berkelit." "Benar." Siang Koan Goat Nio manggut-mangut.
"Dia menggunakan Kiu Kiong San Tian Poh (Ilmu Langkah Kilat).
Aku semakin yakin orang tuanya punya hubungan dengan Pamam Cie Hiong." "Betul." Lie Ai Ling mengangguk.
"Cuma sayang, dia belum begitu mahir menggunakan Kiu Kiong San Tian Poh." "Ai Ling, dia semakin terdesak," ujar Siang Koan Goat Nio.
"Kita harus segera turun tangan membantunya." "Baik." Lie Ai Ling mengangguk.
Kedua gadis itu membentak keras sambil melesat ke tempat itu.
Kemunculan mereka berdua sangat mengejutkan para anggota Seng Hwee Kauw.
"Haah...?" seru mereka serentak.
"Kim Siauw Siancu dan Hong Hoang Li Hiap!
Kita harus hati-hati menghadapi mereka!" "Hmm!" dengus Lie Ai Ling dingin, gadis itu bertolak pinggang.
"Seng Hwee Sin Kun masih belum sembuh, kalian sudah berani berlaku sewenang-wenang!
" "He he he!" Salah seorang dari mereka tertawa gelak.
"Bagus sekali kalian muncul!" "Kami akan bersenang-senang dengan kalian bertiga!
He he he...!" "Oh?" Lie Ai Ling tertawa dingin sambil menghunus Hong Hoang Po Kiam (Pedang Pusaka Gunung Phoenbc).
Siang Koan Goat Nio juga mengeluarkan suling emasnya.
Kedua gadis itu sudah siap bertaung.
"Serang mereka!" seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu.
Para anggota Seng Hwee Kauw langsung menyerang kedua gadis itu dengan berbagai macam senjata tajam.
Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling segera berkelit, kemudian balas menyerang.
Siang Koan Goat Nio menggunakan Cap Pwee Kim Siam Ciat Hoat (Delapan Jurus Maut Suling Emas) sedangkan Lie Ai Ling menggunakan Hong Hoan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), maka terjadilah pertarungan sengit.
Sementara gadis berpakaian aneh itu cuma berdiri diam sambil menyaksikan pertarungan itu Ia kagum sekali akan kepandaian Siang Koa Goat Nio dan Lie Ai Ling.
Mendadak gadis itu terbelalak, ternyata Siang Koan Goat Nio mulai menyerang mereka dengan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi, menggunakan jurus San Pang Te Liak (Gunung Runtuh Bumi Retak).
"Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan.
Salah seorang anggota Seng Hwee Kauw terhuyung huyung dengan mulut mengeluarkan darah.
Punggungnya terhajar suling emas, bahkan salah satu uratnya putus, sehingga musnahlah kepandaianya.
"Aaakh...!" Terdengar suara jeritan lagi.
Ternyata Lie Ai Ling juga berhasil melukai salah seorang anggota Seng Hwee Kauw yang menyerangnya.
Gadis itu menggunakan jurus Hong Hoang Coan Sin (Burung Phoenix Memutari Badan).
Menyaksikan itu, Kepala anggota Seng Hwe Kauw itu pucat wajahnya, lalu berseru.
"Mari kita kabur!" Mereka segera lari pontang-panting meninggalkan tempat itu.
Lie Ai Ling tertawa geli, Siang koan Goat Nio dan gadis itu cuma tersenyum.
"Terimakasih atas pertolongan kalian!" ucap gadis berpakaian aneh itu.
"Sama-sama," sahut Siang Koan Goat Nio sambil memandangnya dengan penuh perhatian.
'Maaf, engkau berpakaian begitu aneh.
Bolehkah kami tahu engkau berasal dari mana?" "Aku berasal dari Jepang." Gadis itu memberitahukan.
"Namaku Yatsumi.
Kepandaian kalian berdua tinggi sekali, bolehkah aku tahu siapa kalian?" "Namaku Siang Koan Goat Nio, dan dia bernama Lie Ai Ling," sahut Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum lembut.
"Tadi engkau mempergunakan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi.
Dari mana engkau mendapat ilmu itu?" "Ibuku," jawab Yatsumi heran.
"Engkau pun l?isa menggunakan ilmu itu, apakah engkau punya hubungan dengan Paman Cie Hiong?" "Eeeeh?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Engkau kenal Paman Cie Hiong?" "Aku tidak kenal, tapi ibuku kenal dia," sahut Yatsumi dengan mata bersimbah air.
"Ibuku bernama Michiko." "Michiko?" Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio saling memandang.
Kedua gadis itu sama sekali tidak tahu tentang Michiko, karena Tio Cie Hiong tidak pernah menceritakannya kepada mereka.
"Paman Cie Hiong pernah mengajar ibu ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi, maka ibuku berhasil membunuh ketua Ninja." Yatsumi mem beritahukan.
"Setelah itu, ibuku pulang ke Jepang lalu menikah." "Oooh!" Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling manggutmanggut.
"Ternyata begitu!
Kemudian bagaimana?" "Beberapa bulan lalu, mendadak muncul se orang ninja berkepandaian tinggi," tutur Yatsuni dengan air mata berlinang linang.
"Ninja itu adalah adik seperguruan ketua ninja yang dulu.
Dia berhasil membunuh ayahku dan melukai ibuku Akan tetapi, ibuku berhasil meloloskan diri bersamaku.
Di tengah jalan ibuku berpesan." "Apa pesan ibumu?" tanya Siang Koan Goi Nio dan merasa kasihan pada gadis Jepang itu.
"Ibuku berpesan...." Yatsumi memberitahu kan.
"Aku harus berangkat ke Tionggoan menemui Paman Cie Hiong, dan aku pun harus belajar ilmu silat kepadanya, agar bisa membalas dendam kelak." "Oooh!" Siang Koan Goat Nio manggut manggut.
"Engkau tahu Paman Cie Hiong tinggal dimana?" "Aku tidak tahu." Yatsumi menggelengkan kepala.
"Tapi ibuku menyuruhku harus ke markas puisat Kay Pang, karena Paman Cie Hiong punya hubungan dengan Kay Pang." "Betul," sahut Lie Ai Ling.
"Kami pun tahu tempat tinggal Paman Cie Hiong, tapi alangkah baiknya kita ke markas pusat Kay Pang dulu, kita runding di sana saja." "Terimakasih!" ucap Yatsumi.
"Oh ya!" Lie Ai Ling menatapnya kagum.
"Kok engkau begitu lancar berbahasa Han?" "Sejak kecil aku sudah belajar bahasa Han, bahkan aku pun bisa menulis huruf-huruf Han." Yatsumi memberitahukan.
"Oh ya, kita harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang." "Memangnya kenapa?" Lie Ai Ling heran.
"Aku khawatir Takara Nichiba akan menyusul kemari," ujar Yatsumi dengan wajah agak memucat.
"Siapa Takara Nichiba?" tanya Siang Koan ilnat Nio.
"Dia adik seperguruan ketua ninja lama, juga membunuh kedua orang tuaku.
Dia tahu aku kabur ke Tionggoan, maka kemungkinan besar dia akan menyusulku ke mari," sahut Yatsumi bernada ketakutan.
"Kepandaiannya tinggi sekali, bahkan kini dia sebagai ketua ninja di Jepang." "Oh?" Lie Ai Ling terbelalak tapi kemudian malah tertawa.
"Kalau dia menyusul ke mari, kami akan menghajarnya hingga dia pulang ke Jepang." "Kepandaian kalian berdua memang tinggi, namun...." Yatsumi mengerutkan kening.
"Menurut aku, kalian berdua masih bukan tandingannya." "Oh, ya?" Siang Koan Goat Nio menatapnya.
"Apakah dia memiliki kepandaian luar biasa?" "Ya." Yatsumi mengangguk.
"Dia bisa menyusup ke dalam tanah dan menghilang mendadak.
Itulah ilmu istimewa kaum ninja Jepang." "Hebat!" ujar Lie Ai Ling.
"Tapi biar bagaimana pun, aku harus melawannya!" "Ai Ling, kita harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang." Siang Koan Goat Nio mengingatkannya.
"Jangan terus mengobrol di sini!" "Betul." Lie Ai Ling tersenyum.
"Engkau ingin buru-buru bertemu Kakak Bun Yang.
Baiklah.
Mari kita berangkat sekarang!" --ooo0dw0ooo-- Betapa gembiranya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong ketika mengetahui kedatangan Siang Koang Goat Nio serta Lie Ai Ling.
Namun mereka juga merasa heran karena kedua gadis itu datang bersama seorang gadis asing.
"Kakek Lim, Kakek Gouw!" Panggil Siang koan Goat Nio dan Lie Ai Ling sekaligus memperkenalkan gadis Jepang itu.
"Dia berasal dari Jepang, namanya Yatsumi, putri Michiko." "Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut.
'Kami kenal baik ibunya." "Yatsumi, bagaimana kabar ibu dan ayahmu?" tanya Gouw Han Tiong sambil memandangnya.
"Ibu dan ayahku sudah meninggal," jawabnya sambil menangis terisak-isak dengan air mata berderai-derai.
"Oh?" Gouw Han Tiong dan Lim Peng hang tersentak kaget.
"Kedua orang tuanya dibunuh oleh Takara Nichiba, adik seperguruan ketua ninja lama." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Sungguh tak disangka, ketua ninja itu punya adik seperguruan!" "Kepandaiannya tinggi sekali, hanya beberapa jurus dia berhasil membunuh ayah dan melukai lbuku," ujar Yatsumi dan menambahkan.
"Sabetan pedangnya secepat kilat." "Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" "Aku harus menemui Paman Cie Hiong," sahut Yatsumi.
"Itu adalah pesan dari ibuku, bahkan aku pun harus belajar ilmu silat kepada Paman Cie Hiong, agar kelak bisa membalaskan dendam kedua orang tuaku." "Tapi...." Lim Peng Hang mengerutkan kening.
"Cie Hiong tidak berada di sini, dia tinggal di Pulau Hong Hoang To." "Tidak apa-apa," ujar Yatsumi.
"Aku akan ke Pulau Hong Hoang To menemuinya.
Itulah tekadku." "Kalau begitu...." Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.
"Salah satu di antara kalian harus mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To." "Kakek Lim," ujar Lie Ai Ling.