Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 97

Memuat...

"Jangan khawatir!

Pokoknya kami semua pasti mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi." "Terimakasih, Bibi!

Terimakasih..." ucap Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri-seri.

"Oh ya!

Bibi, di mana Kakak Goat Nio?" "Dia dan Ai Ling sudah berangkat ke Tionggoan beberapa hari yang lalu." Kou Hun Bijin memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Goat Nio ingin menyusul Bun Yang, sedangkan Ai Ling menemaninya." "Apa?" Wajah Tio Bun Yang langsung berubah kecewa.

"Goat Nio sudah berangkat ke Tionggoan?" "Ya." Lim Ceng Im mengangguk.

"Mereka ke Tionggoan menuju ke markas pusat Kay Pang, setelah itu barulah berangkat ke Gunung Thian San." "Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang.

"Kami selisih jalan...." "Itu tidak apa-apa." Lim Ceng Im tersenyum.

"Engkau boleh segera berangkat ke Tionggoan menyusulnya." "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang, bagaimana kauw heng?" tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya.

"Kauw heng...." Wajah Tio Bun Yang berubah murung sekali.

"Sudah mati, jantungnya hangus terkena pukulan Seng Hwee Sin Kun." "Aaaah!" keluh Tio Cie Hiong dan Lim CcnJ Im.

"Kauw heng...." "Sungguh kasihan monyet bulu putih itu!"Sam Gan Sin Kay menghela nafas panjang.

"Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, kauw heng berpesan kepadaku agar ke gua es, yang terletak di sebelah timur puncak Gunung Thian San." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Oh?" Tio Cie Hiong tertegun.

"Untuk apa kauw heng berpesan begitu kepadamu" Engkau ke sana setelah kauw heng mati?" "Aku ke sana...." Tio Bun Yang menuturkan tentang itu.

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut seraya berkata.

"Ternyata Kan Kun Taylo Sin Kang terdiri dari hawa "Im' dan 'Yang", jadi boleh disebut Kan Kun Taylo Im Yang Sin Kang." "Kalau begitu..." sela Kou Hun Bijin.

"Kan Kun Taylo Im Kang pasti mampu menandingi Seng Hwee Sin Kang." "Mungkin," sahut Tio Cie Hiong sambil mengangguk.

"Oh ya!" Tio Bun Yang teringat sesuatu.

"Ketika aku melewati Gunung Hong San, aku mendengar suara pekikan yang sangat menyeramkan." Tio Bun Yang menutur tentang Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie, semua orang mendengar dengan mulut ternganga lebar.

"Engkau bertemu dia?" Kou Hun Bijin kelihatan kurang percaya.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Yang membelenggunya adalah Tu Siao Cui, muridnya.

Bahkan muridnya itu juga membawa kabur kitab pusaka Hian Goan Sin Kang." "Benar apa yang diceritakan Tayli Lo Ceng," ujar Sam Gan Sin Kay.

"Oh ya!" ujar Tio Bun Yang memberitahukan.

'Orang tua itu pun berpesan kepadaku agar mencari seseorang." "Mencari siapa?" tanya Tio Cie Hiong.

"Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok," jawab Tio Hun Yang dan bertanya.

"Ayah kenal siapa Tayli In Ceng-Kong Sun Hok!" "Ayah tidak kenal." Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.

"Aku kenal," sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa.

"Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok adalah Tayli Lo Ceng." "Haaah?" Tio Bun Yang tertegun.

"Ternyata Tayli Sin Ceng adalah Tayli Lo Ceng!" "Ketika masih muda, julukan Tayli Lo Cefl adalah Tayli Sin Ceng!" Kou Hun Bijin memberitahukan.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Aku yakin..." ujar Sam Gan Sin Kay mendadak.

"Tu Siao Cui pasti sudah mati, sebab dia tidak pernah muncul di rimba persilatan." "Mudah-mudahan!" sahut Kim Siauw Suseng kemudian bertanya kepada Kou Hun Bijin.

"isteriku, bagaimana kalau kita juga mengajar Sian Hoa ilmu silat?" "Aku setuju." Kou Hun Bijin menganggul sambil tersenyum, lalu memandang Bokyong Sian Hoa seraya berkata.

"Mulai besok kami semua akan mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi." "Terimakasih, Bibi!" ucap Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri.

"Terimakasih...." "Oh ya, Ayah," tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Bagaimana keadaan Kam Hay Thian Apakah dia sudah sembuh?" "Dia sudah sembuh," jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Tapi kalau dia tidak memiliki Pak Kck Sin Kang dan engkau tidak memberinya makan pil Sok Beng Tan (Pil Penyambung Nyawa), nyawanya pasti sudah melayang sebelum sampai di sini.

"Ayah, Hui San masih berada di sini?" "Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.

"Gadis selalu menemaninya, mereka berdua merupakan pasangan yang serasi." "Ayah, Hui San...." Ucapan Tio Bun Yang terputus karena mendadak muncul Kam Hay Thian dan Lu Hui San.

"Bun Yang!" seru gadis itu girang.

"Hui San!" Tio Bun Yang tersenyum, kemudian memandang Kam Hay Thian seraya bertanya.

"Saudara Kam, engkau sudah pulih?" "Aku sudah pulih," sahut Kam Hay Thian sambil menatapnya tajam.

"Terimakasih atas pertolonganmu!" "Tidak usah mengucapkan terimakasih kepadaku." Tio Bun Yang tersenyum lagi dan melimbahkan, "Seharusnya engkau berterimakasih kepada Hui San." "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Adik Sian Hoa!" Tio Bun Yang memperkenaikan.

"Dia adalah Lu Hui San dan Kam Hay Thian." "Selamat bertemu!" ucap Bokyong Sian Hoa samhil memberi hormat kepada mereka berdua.

Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi lho!" "Eh" Adik Sian Hoa...." Wajah Lu Hui San memerah.

"Memang benar kok." Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.

"Jadi kakak Hui San tidak usah merasa malu." "Benar." Tio Bun Yang manggut-manggut "Mereka berdua sungguh merupakan pasangan yang sepadan." "Engkau pun sepadan dan serasi dengan Goat Nio," ujar Lu Hui San.

"Kakak Hui San," tanya Bokyong Sian FlA mendadak.

"Betulkah kakak Goat Nio begitu cantik?" "Betul!" Lu Hui San mengangguk.

"Kakak Hui San, siapa yang lebih cantik aku atau Kakak Goat Nio?" tanya Bokyong Siai Hoa.

"Kalian berdua sama cantiknya," sahut Lu Hu San sambil tersenyum.

"Namun sifat kalian berbeda.

Dia bersifat lemah lembut, kalem dan anggun, sedangkan engkau bersifat periang, lincah dan masih kekanak-kanakkan." "Usiaku sudah tujuh belas, bukan kanak-kanak lagi lho!" sahut Bok Yong Sian Hou dia menambahkan.

"Kami suku Manchuria, berusia tiga belas sudah boleh menikah." "Oh?" Lu Hui San terbelalak.

"Engkau gadis Manchuria?" "Betul." Bokyong Sian Hoa memberitahukan "Sesungguhnya aku adalah putri raja Manchuria tapi kedua orang tuaku sudah mati dibunuh oleh pamanku." "Engkau...." Lu Hui San tersentak.

"Engkau putri raja Manchuria?" "Sekarang sudah tidak," sahut Bokyong Sian Hoa.

"Karena kedua orang tuaku sudah mati, maka aku menjadi gadis biasa." "Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Hui San, ajaklah Sian Hoa ke kamarmu, kalian tidur sekamar saja!" ujar Lim Ceng Im.

"Ya." Lu Hui San segera mengajak Bokyong Sian Hoa ke kamar.

"Aaaah...!" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Patoho sudah mati, aku yakin tidak lama lagi pasukan Manchuria akan menyerbu Tionggoan!" "Itu adalah urusan kerajaan, kita tidak usah memusingkannya," sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.

"Seandainya pasukan Manchuria menyerbu ke mari, barulah kita menghabiskan mereka." "Aaaah...!" Sam Gan Sin Kay menghela nafas panjang.

"Kita adalah bangsa Han, apakah kita harus diam saja melihat daratan Tionggoan di serbu bangsa liar itu?" "Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng tertawa.

"Kita sudah tua, percuma memikirkan itu!" "Benar." Tio Tay Seng manggut-manggut.

"Kita bukan pembesar, jadi tidak perlu memusingkan tentang itu." "Yaaah!" Tio Cie Hiong mcnggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkin sudah waktunya dinasti Beng runtuh." "Ayah," ujar Tio Bun Yang mendadak.

"Aku akan berangkat ke Tionggoan esok menyusul Goai Nio." "Apa?" Tio Cie Hiong terbelalak.

"Engkau baru pulang kok sudah mau pergi?" "Nak," ujar Lim Ceng Im.

"Tinggal di sini beberapa hari, setelah itu barulah engkau berangkat." "Ibu...." "Jangan bantah, Nak!" "Ya, Ibu." Tio Bun Yang mengangguk.

Beberapa hari kemudian, barulah Tio Bun Yang berangkat ke Tionggoan.

Karena tertunda beberapa hari, maka ia tidak bertemu Siang Koan Goat Nio.

-ooo0dw0ooo- Bagian ke tiga puluh tujuh Gadis Jepang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling telai memasuki daerah Tionggoan.

Kedua gadis itu terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.

Ketika hari mulai gelap, mereka tiba disebuah lembah.

Mendadak terdengar semacam suara siulan yang amat menyeramkan.

Mereka saling memandang dengan sekujur badan merinding.

"Goat Nio," bisik Lie Ai Ling dengan wajah agak pucat.

"Apakah itu suara siulan setan iblis?" "Kita harus cepat bersembunyi," sahut Siang Koan Goat Nio sambil menarik Lie Ai Ling ke balik sebuah pohon.

Tak seberapa lama kemudian, terdengar pula suara derap kaki kuda, dan suara siulan aneh yang menyeramkan itu pun makin terdengar jelas.

"Iiiih!" bisik Lie Ai Ling bergemetar.

"Jangan-jangan memang suara setan iblis!" "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin setan iblis menunggang kuda?" "Tapi...." Suara derap kaki kuda itu makin mendekat, kemudian tampak belasan kuda berpacu kencang.

Dalam waktu sekejap, kuda-kuda itu telah melewati mereka yang bersembunyi di balik pohon.

Para penunggang kuda itu berpakaian putih semua, muka memakai kedok setan yang menyeramkan.

"ih!

Seram sekali kedok yang dipakai mereka itu!" ujar Lie Ai Ling sambil menarik nafas.

"Yang jelas mereka bukan setan iblis," sahut Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Aku yakin mereka adalah para anggota suatu perkumpulan." "Benar" Lie Ai Ling manggut-manggut "Mereka menuju utara, bagaimana kalau kita kuntit?" "Jangan cari masalah!" sahut Siang Koan Goat Nio.

"Lagi pula kita sedang memburu waktu menuju markas pusat Kay Pang." "Goat Nio!" Lie Ai Ling tertawa.

"Engkau kok begitu ngebet sih terhadap Kakak Bun Yang?" "Eh?" Siang Koan Goat Nio melotot.

"Mula!

menggodaku ya?" "Aku tidak menggodamu, melainkan berkata sesungguhnya." Lie Ai Ling tertawa lagi.

"Sudahlah!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita harus segera berang kat ke kota yang terdekat, sebab hari sudah mulat malam." "Tidak mungkin kita akan sampai di kota terdekat," sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum "Kelihatannya malam ini kita harus bermalam di sini, besok pagi kita baru berangkat." "Baiklah." Siang Koan Goat Nio mengang guk.

Kedua gadis itu terpaksa bermalam di lembah tersebut.

Keesokan harinya barulah mereka berangkat ke markas pusat Kay Pang.

Ketika meteka sampai di suatu tempat, tiba-tiba terdengar suara benturan senjata tajam.

"Eh?" Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Itu suara pertempuran, mari kita ke sana!" "Ai Ling!" Siang Koan Goat Nio menggeleng kepala.

"Jangan mencampuri urusan itu!" "Kalau begitu..." ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

Post a Comment