Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 96

Memuat...

Bahkan...

aku nyaris membunuh ayah angkatku." Lu Hui San memberitahukan.

"Lho?" Lie Man Chiu terkejut.

"Kenapa begitu" "Aku telah bertemu pamanku...." Lu Hui San menutur tentang Tio Bun Yang mengajaknya ke tempat tinggal Sie Kuang Han dan lain sebagainya, kemudian menambahkan, "Kalau Bun Yang tidak muncul, ayah angkatku pasti sudah mati di bawah pedangku." "Ternyata begitu...." Lie Man Chiu mengha nafas panjang.

"Aku sama sekali tidak menyangka kalau ayahmu masih punya perasaan dan sangiat menyayangimu.

Itu sungguh di luar dugaan!" "Memang di luar dugaan." Lu Hui San manggut-manggut.

"Oh ya, Paman Chiu jangan membocorkan identitas diriku kepada Hay Thian!" "Jangan khawatir!" Lie Man Chiu tersenyul "Aku berjanji!" "Terimakasih, Paman Chiu!" ucap Lu Hui Si sambil menundukkan kepala.

"Aku...

aku sangat kacau...." "Tidak usah kacau!" Lie Man Chiu menatap nya seraya berkata sungguh-sungguh.

"Cepatlah engkau susul Hay Thian, hiburlah dia!" "Tapi...." "Kalau engkau sungguh-sungguh mencinta nya, haruslah sabar dan mencairkan hatinya yang beku itu." "Ya, Paman Chiu." Lu Hui San menganggul lalu melangkah pergi.

Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala Di saat ia menghela nafas panjang, muncullah Tio-Hoang Hoa, isterinya.

"Kakak Chiu...." "Adik Hoa!" Lie Man Chiu agak terperanjat ketika melihat kemunculan isterinya.

"Engkau.

"Aku telah melihat...." "Jangan salah paham!" "Tapi engkau harus menjelaskan!

Kalau tidak, aku pasti menaruh curiga dan salah paham!" "Adik Hoa!" Lie Man Chiu terpaksa men-klaskan.

"Terus terang, dia adalah putri angkat Lu Thay Kam...." "Oooh!" Tio Hong Hoa manggut-manggut setelah mendengar penjelasan itu.

"Aku tidak menyangka, ternyata gadis itu mencintai Kam Hay Thian!

Namun Kam Hay Thian malah jatuh cinta 'kepada Siang Koan Goat Nio." "Yaaah!" Lie Man Chiu menghela nafas.

"Mudah-mudahan tidak akan terjadi karena itu!" "Tentunya Kam Hay Thian tahu Goat Nio mencintai Bun Yang, lagi pula Bun Yang yang telah menyelamatkan nyawanya.

Oleh karena itu, aku yakin Kam Hay Thian tidak akan berbuat sesuatu yang bukan-bukan," ujar Tio Hong Hoa.

"Mudah-mudahan begitu!" ucap Lie Man Chiu.

"Adik Hoa, sesungguhnya aku sangat berharap...." "Berharap apa?" "Sudah percuma." Katakanlah!" "Semula aku sangat berharap putri kita ber-Jodoh dengan Bun Yang, tapi Bun Yang malah mencintai Goat Nio." "Aku pun berharap begitu." Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

"Namun tidak bisa, sebab hubungan Ai Ling dengan Bun Yang bagaikan kakak beradik kandung." "Memang." Lie Man Chiu manggut-manggut dan bergumam.

"Entah siapa jodoh putri kita?" "Ai Ling masih begitu muda," sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum.

"Jadi engkau tidak usah kalut." Lie Man Chiu mengangguk dan tersenyum kemudian menggandeng isterinya meninggalkan tempat itu.

"Seharusnya Hay Thian mencintai Hui San," ujar Tio Hong Hoa mendadak.

"Karena gadis itu yang menggendongnya sampai di pulau ini.

Lapi pula gadis itu sangat cantik, baik hati dan lemah lembut." "Tidak salah." Lie Man Chiu manggut-manggut.

"Mudahmudahan mereka berdua akan saling mencinta!" ---ooo0dw0oo--Tio Bun Yang telah tiba di Pulau Hong Hoang To bersama Bokyong Sian Hoa.

Betapa gembira nya Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Tio Tay Seng Sam Gan Sin Kay, Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

Sedangkan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin saling memandang dengan kening berkerut kerut.

"Ayah!

Ibu!" panggil Tio Bun Yang.

"Nak!" Lim Ceng Im langsung memeluknya erat-erat sambil tertawa gembira.

"Engkau bertambah tinggi lho!" "Bun Yang, siapa gadis ini?" tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya tajam.

"Ayah, dia adalah...." "Paman Tio, namaku Bokyong Sian Hoa." sela gadis itu sambil tersenyum.

"Ayahku bernama Patoho, teman baik Paman." "Patoho?" Tertegun Tio Cie Hiong.

"Engkau...engkau adalah putrinya?" "Ya!" Bokyong Sian Hoa mengangguk.

"Sian Hoa!" Tio Cie Hiong tampak gembira.

"Bagaimana kabarnya ayahmu" Dia baik-baik saja?" tanyanya.

"Ayah dan ibuku...." Mendadak Bokyong Sian hoa menangis terisak-isak, padahal barusan gadis itu tersenyum-senyum.

"Eeeh?" Tio Cie Hiong terperangah.

"Sian Hoa!" Lim Ceng Im menggandengnya ke tempat duduk.

"Duduklah!" "Bun Yang, engkau juga boleh duduk," ujar Tio Cie Hiong sambil menatapnya.

"Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk.

Ia memmberi hormat kepada Tio Tay Seng, Sam Gan im Kay, Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

Setelah itu, barulah ia duduk.

"Tuuuh!" bisik Kou Hun Bijin kepada Kira Siauw Suseng"Sungguh tampan Bun Yang itu, kelihatannya juga lemah lembut dan sopan." "Betul." Kim Siauw Suseng manggut-manggul.

"Tapi kok dia bersama gadis berpakaian aneh itu?" "Akan kutegur dia," sahut Kou Hun Bijin, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya berseru, "Anak muda, engkau adalah Tio Bun Yang?" "Benar." Tio Bun Yang heran.

Ia memang belum kenal Kou Hun Bijin.

"Maaf, Bibi adalah...." "Bun Yang, dia adalah Kou Hun Bijin." Lim Ccng Im memberitahukan.

"Haaah?" Tio Bun Yang terbelalak.

"Bibi ada lah Kou Hun Bijin?" "Tidak salah," sahut Kou Hun Bijin sambil tersenyum dingin.

"Goat Nio adalah putri kesayanganku.

Dia begitu mencintaimu, tapi...

engkau malah pulang bersama gadis lain.

Hmm!

Sungguh keterlaluan!" "Bibi, aku...." Tio Bun Yang tergagap.

"Aku...." "Bibi Kou Hun Bijin, memangnya aku tidak boleh kemari bersama Kakak Bun Yang?" tanya Bokyong Sian Hoa mendadak dengan suara nyaring.

"Diam!" bentak Kou Hun Bijin.

"Galak amat sih!" Bokyong Sian Hoa menatapnya dan menambahkan, "Kalau aku tidak kemari bersama Kakak Bun Yang, bagaimana mungkin aku bisa bertemu Paman Tio?" "Sian Hoa," tanya Tio Cie Hiong cepat, agar gadis itu tidak terus berdebat dengan Kou Hun Bijin.

"Bagaimana kabarnya ayahmu" Dia baik-baik saja?" "Ayah dan ibuku mati dibunuh oleh pamanku," jawab Bokyong Sian Hoa dan mulai menangis terisak-isak lagi.

"Apa?" Tio Cie Hiong tertegun.

"Kenapa pamanmu membunuh kedua orang tuamu" Bolehkah engkau menjelaskan?" "Ayahku tidak setuju bekerja sama dengan Lu thay Kam, sebaliknya pamanku justru setuju." Bokyong Sian Hoa menjelaskan dengan air mata berlinang linang.

"Karena itu, terjadilah pertarungan.

Pamanku berhasil melukai ayahku, kemudian melukai ibuku.

Di saat pamanku ingin melukaiku, muncul Pancha menolongku." "Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Aku masih ingat, ayahmu pernah berjanji kepadaku, bahwa dia tidak akan mengirim pasukannya untuk menyerang Tionggoan." katanya.

"Karena itu...." Bokyong Sian Hoa menangis sedih.

"Ayah dan ibuku mati di tangan pamanku.

Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, ayah menyuruhku ke Tionggoan menemui Paman Tio!

padahal di waktu itu pamanku juga ingin menghabiskan nyawaku, namun putranya yang bernama Pancha itu membelaku mati-matian, maka aku berhasil meloloskan diri.

Aku langsung ke Tionggoan mencari Paman Tio." "Kalau begitu, engkau bertemu Bun Yang secara kebetulan?" tanya Lim Ceng Im sam tersenyum.

"Ya." Bokyong Sian Hoa manggut-manggut "Ketika itu muncul beberapa orang berpakaian hijau menghadangku.

Mereka berlaku kurang ajar pula.

Di saat itulah muncul Kakak Bun Yang, saat kami berkenalan dan aku pun memberitahukan nya bahwa aku ingin menemui Paman Tio.

Ternyata Paman Tio adalah ayahnya, maka aku mendesaknya untuk membawaku ke mari." "Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil menghela nafas panjang.

"Sungguh di luar dugaan, ayahmu yang baik hati itu dibunuh oleh pamanmu!" "Setelah ayahku mati, pamanku mengangkat dirinya sebagai raja Manchuria.

Mungkin tidak lama lagi, dia akan mengutus Pancha dan Koksu (Guru Silat Istana) ke Tionggoan menemui Lie Thay Kam." Bokyong Sian Hoa memberitahukan "Sian Hoa!" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Itu adalah urusan kerajaan, aku tidak mau turut campur." "Paman Tio...." Bokyong Sian Hoa terbelalak "Kalau begitu, Paman juga tidak mau mengajarku ilmu silat?" "Engkau ingin belajar ilmu silat?" Tio Cie Hiong balik bertanya sambil menatapnya.

"Itu pesan almarhum, maka aku harus menurut," sahut Bokyong Sian Hoa dan menambahkan, "Paman Tio, aku ingin menjadi muridmu." "Sian Hoa!" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Paman Tio tidak sudi menerimaku menjadi murid?" tanya Bokyong Sian Hoa kecewa, kemudian menangis tersedu-sedu.

"Dasar gadis cengeng!" ujar Kou Hun Bijin dan mendengus.

"Hmm...!" "Kenapa engkau usil!" Bokyong Sian Hoa melotot, lalu memandang Tio Bun Yang seraya berkata, "Kakak Bun Yang, jangan mencintai putrinya!

Dia begitu macam, putrinya pasti sama seperti dia." "Hei!

Gadis liar!" bentak Kou Hun Bijin.

"engkau berani kurang ajar" Mau kutampar ya?" "Isteriku," bisik Kim Siauw Suseng.

"Sudahlah, jangan meladeni gadis kecil itu!" "Dia begitu kurang ajar!" sahut Kou Hun Bijin sambil mengerutkan kening.

"Aku harus menghajarnya!" "Bijin," ujar Tio Tay Seng.

"Sudahlah!

Gadis itu masih kecil, tidak usah diladeni!" "Adik Sian Hoa," ujar Tio Bun Yang.

"Engkau tidak boleh kurang ajar terhadap Kou Hun Bijin.

Tahukah engkau berapa usianya sekarang?" "Belum enam puluh, kan?" sahut Bokyong Sian Hoa dan melanjutkan.

"Sebetulnya aku juga tahu kesopanan, tapi dia terus memojokkanku." "Sian Hoa!" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau harus tahu, usia Kou Hun Bijin sudah di atas seratus dua puluh, maka engkau tidak boleh berlaku kurang ajar terhadap nya." "Apa?" Bokyong Sian Hoa terbelalak, kemudian tertawa geli.

"Aku tak menyangka Paman Tio suka bergurau juga." "Sian Hoa," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Aku sama sekali tidak bergurau." "Benar," sambung Tio Bun Yang.

"Adik Sian Hoa, ayahku memang tidak bergurau.

Kou Hun Bijin sudah berusia di atas seratus dua puluh, sedangkan Kim Siauw Suseng berusia hampir seratus." "Tapi...." Bokyong Sian Hoa terus memandang Kou Hun Bijin dan Kim Siauw Suseng.

"Mereka kelihatan baru berusia enam puluhan." "Mereka awet muda...." Tio Cie Hiong memberitahukan tentang mereka.

"Karena itu, kami semua sama sekali tidak berani berlaku kurang ajar terhadap mereka berdua." "Oooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut.

"Kou Hun Bijin, aku mohon maaf karena berani bersikap kurang ajar!" katanya.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring.

"Tidak apa-apa!

Tidak apa-apa!

Terus terang, aku suka kepadamu!" "Terimakasih!" ucap Bokyong Sian Hoa.

"Oh ya, aku harus memanggil apa?" "Maksudmu memanggil aku apa?" "Ya." "Panggil saja bibi!" "Bibi yang baik!" panggil Bokyong Sian Hoa.

"Aku ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi, sudikah Bibi mengajarku?" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring lagi.

Post a Comment