Begitu sampai di rumah, mereka berdua terbelalak karena melihat semua orang sudah berkumpul di ruang depan.
"Eeeeh?" Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio berjalan ke dalam.
"Ada apa nih" Kok kumpul semua di sini?" "Kami semua sedang mogok makan," sahut Sam Gan Sin Kay.
"Oleh karena itu, kalian berdua tidak boleh ke manamana." "Apa?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Kalian semua mogok makan?" "Ya." Lie Man Chiu dan Tio Hong Mol mengangguk.
"Kami harus mendahului mogok makan, sebab kalau tidak, kalian berdua yang akan mogok makan, bukan?" "Kami...." Lie Ai Ling dan Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.
"Ai Ling, kenapa engkau mengajak Goat Nio yang bukanbukan?" tanya Lie Man Chiu sambil menatapnya.
"Dari mana Ayah tahu?" Lie Ai Ling heran.
"Kakek pengemis pergi mencari kalian." Lie Man Chiu memberitahukan.
"Melihat kalian berdua berbisik-bisik di bawah pohon...." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Jadi kakek pengemis yang mencuri dengar pembicaraan kami!
Pantas...!" "Pantas apa?" tanya Sam Gan Sin Kay sambil icrtawa.
"Pantas seluruh penghuni pulau ini berkumpul di sini!" sahut Lie Ai Ling sambil tertawa geli.
"Apakah ingin menyidang kami?" "Tentu tidak," ujar Kim Siauw Suseng.
"Hanya kami pun ingin mogok makan agar kalian tidak meninggalkan pulau ini." "Ayah...." Siang Koan Goat Nio membanting-banting kaki.
"Ayah jahat ah!" "Maka kalian jangan coba-coba mogok makan!" ujar Kim Siauw Suseng sambil tertawa.
"Kalau ingin pergi menyusul Bun Yang, berundinglah dengan kami!
Jangan menggunakan akal!" "Kalau tidak menggunakan akal, bagaimana mungkin kami diperbolehkan pergi menyusul Kakak Bun Yang?" sahut Lie Ai Ling.
"Oh?" Kim Siauw Suseng tertawa lagi.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya sambil tersenyum.
"Goat Nio ingin pergi menyusul Bun Yang, itu dikarenakan dia sangat rindu kepadanya maka dapat dimaklumi.
Namun kenapa engkau juga ingin pergi menyusul Bun Yang?" "Aku menemani Goat Nio," jawab Lie Ai Ling, "Lagi pula aku juga rindu kepada Kakak Bun Yang, karena dia boleh dikatakan adalah kakak ku." "Oooh!" Tio Hong Hoa manggut-manggut "Dia memang kakakmu, sebab ayahnya adalah adikku." "Goat Nio, betulkah engkau ingin pergi menyusul Bun Yang?" tanya Kou Hun Bijin sambil menatapnya.
"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Kenapa engkau ingin pergi menyusulnya?" tanya Kou Hun Bijin lagi.
"Ibu, aku...." Wajah Siang Koan Goat Nid kemerahmerahan.
"Berterus teranglah, jangan malu-malu!
Engkau mencintai Bun Yang?" tanya Kou Hun Bijin mendadak.
"Ibu kok jahat sih!" tegur Siang Koan Goat Nio sambil menundukkan kepala.
"Aku...." "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring, "Baik.
Ibu memperbolehkanmu pergi menyusul Bun Yang." "Terimakasih, Ibu!" ucap Siang Koan Goat Nio dengan wajah berseri-seri.
"Terimakasih....'!
"Ayah!
Ibu!
Aku ikut Goat Nio," ujar Lie Ai Ling mendadak.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.
"Kalau engkau ikut, bukankah akan mengganggu Goat Nio?" "Ibu, aku tidak pernah mengganggu mereka." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Kalau mereka berdua memadu cinta, aku pasti menyingkir jauh-jauh.
Tapi...
kadang-kadang aku mengintip juga." "Apa?" Air muka Siang Koan Goat Nio berubah kemerahmerahan.
"Engkau pernah mengintip kami berduaan?" "Memangnya tidak boleh?" sahut Lie Ai Ling umbil tertawa geli.
"Engkau...." Siang Koan Goat Nio menudingnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau sungguh keterlaluan!" "Jangan gusar!" ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.
"Lain kali aku tidak akan mengintip lagi." "Ai Ling!" tegur Tio Hong Hoa dengan kening berkerut.
"Engkau tidak boleh berbuat begitu, tidak baik lho!" "Ya, Ibu." Lie Ai Ling mengangguk, lalu minta msaf kepada Siang Koan Goat Nio.
"Aku minta maaf." "Sudahlah!" Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Aku yakin engkau tidak sengaja berbuat begitu." "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.
"Goat Nio, jadi engkau sudah mengambil keputusan untuk pergi menyusul Bun Yang?" tanya Kou Hun Bijin.
"Ya, Ibu." Siang Koan Goat Nio mengangguk pasti.
"Kalau begitu...." Kou Hun Bijin tersenyum "Ibu mengijinkanmu pergi menyusulnya." "Terimakasih, Ibu!" ucap Siang Koan Goal Nio dengan wajah berseri.
"Terimakasih!" "Ibu...." Lie Ai Ling memandang Tio Hong Hoa.
"Aku...
aku ikut Goat Nio pergi menyusul kakak Bun Yang." "Itu...." Tio Hong Hoa melirik Lie Man Chu "Baiklah." Lie Man Chiu manggut-manggut "Tapi engkau tidak boleh nakal, harus menurut perkataan Goat Nio." "Ya, Ayah." Wajah Lie Ai Ling berseri.
"Terimakasih!" "Goat Nio," pesan Lim Ceng Im.
"Kalau bertemu Bun Yang, ajak dia pulang!" "Ya, Bibi." Siang Koan Goat Nio mengangguk, "Kapan kalian akan berangkat ke Tionggoan" tanya Tio Cie Hiong sambil memandang mereka "Se...
sekarang," jawab Siang Koan Goat Nio lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Apa?" Kim Siauw Suseng tertegun.
"Engkau mau berangkat sekarang" Tidak bisa menunggu besok?" "Ayah, aku...." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Sastrawan sialan, putrimu sudah rindu sekali kepada Bun Yang, biarlah dia berangkat sekalung!" "Itu...." Kim Siauw Suseng melirik Kou Hun Hijin seraya bertanya, "Bagaimana" Engkau setuju?" "Kalau tidak setuju.
Goat Nio pasti ngambek." tahut Kou Hun Bijin sambil tertawa.
"Dari pada dia ngambek tidak karuan, lebih baik kita perbolehkan berangkat sekarang." "Terimakasih, Ibu!" ucap Siang Koan Goat Nio girang.
"Ibu baik sekali!" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
'Nah, engkau boleh berangkat sekarang." "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Goat Nio, Ai Ling.
setelah kalian bertemu Bun Yang, ajaklah dia pulang!" pesan Tio Cie Hiong.
"Ya, Paman," sahut Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling serentak, lalu kedalam untuk berkemas.
Setelah itu, barulah mereka berangkat ke Tonggoan.
Seandainya mereka bisa bersabar beberapa hari, tentu akan bertemu Bun Yang, yang pulang bersama Bokyong Sian Hoa.
---oo0dw0oo-- Kini Kam Hay Thian telah sembuh, maka Tio Cie Hiong mulai memberi petunjuk kepadanya mengenai Pak Kek Sin Kang dan ilmu silat lainnya.
Sudah barang tentu kepandaian Kam Hay Thian bertambah tinggi.
Akan tetapi, pemuda itu merasa kecewa sekali karena Siang Koan Goat Nio mencintai Tio Bun Yang.
Bahkan gadis itu pergi menyusul Tio Bun Yang.
Oleh karena itu, Kam Hay Thian jadi melamun.
"Hay Thian..." panggil Lu Hui San sambil mendekatinya.
"Oh, Hui San!" sahut Kam Hay Thian.
"Silakan duduk!" Lu Hui San duduk di sebelahnya, kemudian memandangnya seraya bertanya dengan keninf berkerut.
"Kenapa engkau duduk melamun di sini?" "Aku...." Kam Hay Thian menundukkan kepala.
"Goat Nio dan Ai Ling sudah berangkat ki Tionggoan, kenapa engkau tidak ikut mereka?"!
"Aku...." Wajah Lu Hui San agak kemerah merahan.
"Aku merasa betah tinggal di pulau ini' "Hui San, betulkah ayahmu bernama Lu Kam Thay?" tanya Kam Hay Thian sambil menatapnya tajam.
"Be...
betul." Lu Hui San mengangguk.
Ternyata Siang Koan Goat Nio dan Lie Al Ling tidak memberitahukan kepada Kam Hay Thian mengenai identitas Lu Hui San, maka pemuda itu tidak tahu ayah Lu Hui San adalah Lu Ihay Kam.
"Hui San...."Kam Hay Thian menghela nafas panjang.
"Sebetulnya aku sangat berterimakasih kepadamu, karena engkau yang menggendongku sampai di Pulau Hong Hoang To ini, aku...
aku berhutang budi kepadamu." "Jangan berkata begitu...." Lu Hui San ter-lenyum.
"Karena kita...." "Kita adalah teman baik, aku tahu itu," ujar kam Hay Thian.
"Namun aku tetap berhutang budi kepadamu." "Hay Thian," ujar Lu Hui San sungguh-sungguh.
"Engkau tidak berhutang budi kepadaku, melainkkan kepada Bun Yang.
"Aku tahu." Kam Hay Thian manggut-mang-jut.
"Kalian telah menceritakan kepadaku, kalau dia tidak muncul tepat pada waktunya, aku pasti sudah mati di tangan Seng Hwee Sin Kun.
Aku...
aku berhutang budi kepadanya." "Kini Paman Cie Hiong pun memberi petunjuk kepadamu mengenai ilmu silat.
Betapa baiknya mereka terhadapmu.
Oleh karena itu...." "Aku harus membalas budi kebaikan mereka?" "Itu sih tidak perlu.
Hanya saja...." Lu Hui memandangnya.
"Engkau jangan tersinggung" "Lanjutkanlah!
Aku tidak akan tersinggung." "Engkau tidak usah memikirkan Goat Nio lagi, sebab dia mencintai Bun Yang," ujar Lu Hui San dengan suara rendah.
"Mereka berdua saling mencinta, percuma engkau memikirkan Goat Nio" "Hui San!" Wajah Kam Hay Thian berubah tak sedap dipandang.
"Engkau...." "Maaf!" Lu Hui San menundukkan kepala "Aku berkata sesungguhnya, tidak bermaksud menyinggung perasaanmu." "Hui San, aku mau memikirkan siapa, itu adalah urusanku!
Engkau tidak berhak mencampurinya," ujar Kam Hay Thian setengah membentak lalu meninggalkan tempat itu.
"Hai Thian!" panggil Lu Hui San.
Kam Hay Thian terus melangkah pergi tanpa menghiraukan Lu Hui San.
Gadis itu tetap duduk di tempat, kemudian menangis terisak-isak.
Mendadak muncul seseorang menghampirinya, yal ternyata Lie Man Chiu.
"San San!" panggilnya lembut.
"Paman Chiu!" Air mata Lu Hui San melelel "Aaaah...!" Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Sudahlah, jangan menangis!
Pemuda itu memang agak keras hati." "Paman Chiu...." Lu Hui San terisak-isak "San San!" Lie Man Chiu menatapnya.
"Goat Nio dan Ai Ling tahu mengenai identitas dirimu?" "Tahu." Lu Hui San mengangguk.
"Mereka berdua sama sekali tidak membocorkannya, aku salut pada mereka," ujar Lie Man Chiu dan bertanya, "Hay Thian tahu identitasmu?" "Tidak tahu." Lu Hui San menggelengkan kepala.
"Kalau dia tahu, mungkin akan membenciku." "Kenapa?" Lie Man Chiu heran.
"Sebab...." Lu Hui San menutur tentang kematian guru silat Lie dan putrinya berdasarkan penuturan Kam Hay Thian.
"Oooh!" Lie Man Chiu manggut-manggut.
"Tapi Lu Thay Kam cuma merupakan ayah angkatmu, lagi pula kematian guru silat Lie dan putrinya tiada kaitannya dengan dirimu." "Memang, tapi...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.
"Hay Thian sangat mendendam kepada ayah angkatku.
Dia bersumpah akan membunuh ayah angkatku itu." "Aaaah...!" Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Oh ya, engkau pernah kembali ke istana?" "Pernah.