Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 94

Memuat...

Trang-..!

Terdengar suara bentturan senjata.

Terjadilah pertarungan sengit.

Gadis itu bergerak cepat dan gesit berkelit ke sana ke mari, pedangnya pun berkelebatan menyerang mereka Akan tetapi, puluhan jurus kemudian, gadis itu mulai kewalahan melawan mereka.

"Ha ha ha!" Anggota Seng Hwee Kauw tertawa tergelak menyaksikan itu.

"Nona manis, lebih baik engkau menyerah.

Mari kita bersenann senang!" "Berhenti!" Terdengar suara bentakan yangi mengguntur, kemudian tampak melayang seseorang, yang ternyata Tio Bun Yang.

Para anggota yang menyerang gadis itu langsung berhenti, karena dikejutkan oleh suara bentakan Tio Bun Yang.

"Siapa engkau?" lanya Kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil menatapnya dengan kening berkerut.

"Engkau tidak perlu tahu siapa aku!" sahut Tio Bun Yang dingin.

"Cepatlah kalian enyah!" "He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkaulah yang harus enyah!" "Jangan cari penyakit!" Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Cepat serang dia!" seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.

Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang Tio Bun Yang dengan senjata, namun Tio Bun Yang tetap berdiri di tempat.

Hal itu sungguh mengejutkan gadis berpakaian aneh tersebut.

"Hei!" serunya.

"Hati-hati!" Tio Bun Yang tersenyum, sekaligus mengibaskan lengan bajunya ke arah para penyerang itu.

"Aaaakh...!" jerit mereka dan terpental beberapa depa, lalu terkulai dengan wajah pucat pias.

Ternyata kepandaian mereka telah musnah digempur oleh Iweekang Tio Bun Yang.

"Haah?" Bukan main terkejutnya Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Engkau...?" "Kini giliranmu!" Tio Bun Yang menghampirinya selangkah demi selangkah.

Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menyurut mundur, kemudian mengambil langkah seribu.

Akan tetapi, Tio Bun Yang bergerak cepat sambil mengibaskan lengan bajunya ke arah Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu.

"Aaaakh!" jerit Kepala anggota Seng Hwefl Kauw.

Ia terpental lalu terkulai dengan wajah pucat pias dan kepandaiannya pun telah musnah "Si...

siapa engkau?" "Giok Siauw Sin Hiap!" "Haaah?" Saking terkejut kepala anggota Seng Hwee Kauw itu pingsan.

"Hi hi hi!" Gadis berpakaian aneh itu tertawa geli, kemudian memandang Tio Bun Yang dengan kagum.

"Engkau hebat sekali!" "Tidak begitu hebat," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Sekarang sudah aman, engkau boleh melanjutkan perjalanan." "Aku ikut engkau," ujar gadis berpakaian aneh itu mendadak.

"Apa"!" terbelalak Tio Bun Yang.

"Ikut aku" Mana boleh?" "Lho" Kenapa tidak boleh?" Gadis berpakaian aneh itu menatapnya dalam-dalam.

"Aku tidak punya teman di Tionggoan.

Apakah engkau tega melihat aku berkeliaran seorang diri" Bagaimana kalau aku bertemu penjahat lagi?" "Eh" Nona...." "Jangan memanggilku nona!

Namaku Bokyong Sian Hoa, panggil saja aku Sian Hoa!" "Nona Sian Hoa...." "Kok masih memanggilku nona?" Bokyong Sian Hoa cemberut.

"Engkau harus memanggilku Sian Hoa!" "Sian Hoa...." "Nah, begitu!" Gadis itu tertawa gembira.

"Ei!

Tidak baik kita bercakap-cakap dengan cara berdiri, lebih baik kita duduk di bawah pohon." "Tapi...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Engkau menolak?" Bokyong Sian Hoa cemberut lagi.

"Aku...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku...." "Hmm!" dengus Bokyong Sian Hoa.

"Orang Tionggoan memang jahat semua, tiada satupun yang baik!" "Sian Hoa!

Baiklah!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Mari kita duduk di bawah pohon!" Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah pohon.

Sementara para anggota Seng Hwee Kauw telah meninggalkan tempat itu.

Begitu pula Kepala anggota Seng Hwee Kauw, setelah siuman ia pun langsung kabur.

"Ei!

Engkau hebat sekali!" Bokyong Sian Hoa menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Oh ya, bolehkah aku tahu namamu?" "Namaku Tio Bun Yang." "Berapa usiamu?" "Hampir dua puluh." "Usiaku baru tujuh belas, aku lebih kecil" Bokyong Sian Hoa tersenyum seraya berkata "Jadi aku harus memanggilmu Kakak Bun Yang" "Aku pun harus memanggilmu Adik Sian Hoa" ujar Tio Bun Yang dan bertanya.

"Engkau berasal dari mana" Kenapa pakaianmu begitu aneh?" "Aku dari Manchuria," jawab Bokyong Sian Hoa dengan wajah murung.

"Ayah dan ibuku telah mati." "Oh?" Tio Bun Yang tertegun.

"Paman yang membunuh ayah dan ibuku Bokyong Sian Hoa memberitahukan dengan mata bercucuran.

"Sebelum ayahku menghembuskan nafas penghabisan, aku disuruh kabur ke Tionggoan." "Kenapa harus kabur ke Tionggoan?" "Kalau tidak, paman pasti membunuhku juga Maka aku segera kabur ke Tionggoan mencari seseorang." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggu' "Kenapa pamanmu membunuh kedua orang tua mu?" "Kakak Bun Yang, engkau orang baik atau orang jahat?" tanya Bokyong Sian Hoa mendadak "Aku bukan orang jahat," jawab Tio Bun Yau sambil tersenyum geli.

"Kenapa engkau bertanya begitu?" "Karena aku harus memberitahukan identitas diriku.

Kalau engkau orang jahat, pasti akan nangkapku." "Oh?" "Ayahku bernama Patoho." Bokyong Sian Hoa irmberitahukan.

"Raja Manchuria." "Apa?" Tio Bun Yang tertegun.

"Kalau begitu, aku berhadapan dengan Tuan Putri Manchuria!" "Sekarang aku bukan Tuan Putri lagi." Bok-yong Sian Hoa menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sudah menjadi buronan, kini pamanku yang menjadi raja Manchuria.

Mungkin tak lama lagi dia akan mengutus orang ke mari untuk membunuhku." "Di sini daerah Tionggoan, orang Manchuria tdak bisa sembarangan memasuki daerah ini." "Siapa bilang" Setahuku pamanku itu akan bekerja sama dengan Lu Thay Kam.

Kemungkinan besar pasukan Manchuria akan menyerbu Tionggoan." "Oh?" Tio Bun Yang terkejut.

"Apakah Lu thay Kam telah mengutus orang ke Manchuria?" "Ya." Bokyong Sian Hoa mengangguk.

"Pada waktu itu ayahku masih menjadi raja Manchuria, mereka menolak untuk bekerja sama.

Karena itu, pamanku amat gusar sehingga bertempur dengan ayahku." "Kenapa ayahmu tidak mau bekerja sama dengan Lu Thay Kam?" "Karena ayahku telah berjanji kepada teman baiknya yang di Tionggoan, bahwa ayahku tidak akan menyerbu Tionggoan." "Oooh?" Tio Bun Yang manggut-manggut "Siapa teman baik ayahmu itu?" "Aku harus memanggilnya paman," jawab Bok yong Sian Hoa memberitahukan.

"Paman Tio." "Paman Tio?" Tio Bun Yang tersentak.

"Namai nya?" "Cie Hiong." "Apa?" Tio Bun Yang terbelalak.

"Teman baik ayahmu bernama Tio Cie Hiong?" "Ya." Bokyong Sian Hoa mengangguk.

"Engkau kenal dia?" "Kenal." Tio Bun Yang mengangguk.

"Bahkan aku pun sangat dekat padanya, karena aku adalah anaknya." "Oh?" Bokyong Sian Hoa kurang percaya.

"Bagaimana mungkin begitu kebetulan sih" Aku ingin mencari Paman Tio, justru bertemu anaknya." "Adik Sian Hoa, aku memang anaknya," ujar Tio Bun Yang dan teringat sesuatu.

"Oh ya, aku punya bukti." "Bukti apa?" "Nih!" Tio Bun Yang memperlihatkan kalung pemberian ayahnya.

"Kalung ini membuktikan bahwa aku anak Tio Cie Hiong." "Tidak salah." Wajah Bokyong Sian Hoa berseri.

"Ayahku pernah memberitahukan, kalungnya telah dihadiahkan kepada Paman Tio teman baiknya di Tionggoan.

Inilah kalung ayahku." "Nah!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tidak bohong kan?" "Sekarang aku baru yakin bahwa engkau anak Taman Tio," ujar Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.

"Kakak Bun Yang, kita memang berjodoh." "Eh" Adik Sian Hoa...." "Kalau kita tidak berjodoh, bagaimana mungkin bisa bertemu di sini" Kita bertemu di sini pertanda berjodoh." "Adik Sian Hoa...." "Kakak Bun Yang!" Bokyong Sian Hoa menatapnya dalamdalam.

"Kenapa engkau tampak cemas?" "Aku...." "Oooh!" Bokyong Sian Hoa tersenyum.

"Aku tahu, bahwa engkau pasti sudah punya kekasih." "Ng!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Jangan cemas!" Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.

"Aku tidak akan mengganggu kalian.

Oh ya, engkau harus membawaku menemui ayahmu." "Oh" Apakah itu merupakan pesan almarhum?" "Betul.

Ayahku berpesan kepadaku harus belajar ilmu silat kepada paman Tio, maka aku harus menemuinya." "Tapi...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kenapa?" Bokyong Sian Hoa menatapnya heran.

"Tempat tinggal kami jauh sekali." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Di Pulau Hong Hoang To." "Biar bagaimana pun aku harus menemui ayahmu," tegas Bokyong Sian Hoa.

"Jauh ke ujung langit pun aku harus ke sana." "Baik." Tio Bun Yang tersenyum.

Ia memang sudah rindu kepada Siang Koan Goat Nio, karena itu ia membatalkan niatnya pergi ke markas pusat Kay Pang, dan akan langsung menuju Pulau Honj Hoang To.

"Kakak Bun Yang, kapan kita berangkat?" "Sekarang." "Baik." Bokyong Sian Hoa manggut-manggut sambil tersenyum.

"Mari kita berangkat sekarang!" "Tapi ingat!

Dalam perjalanan ke Pulau Hong Hoang To, engkau tidak boleh nakal!" pesan Tio.

Bun Yang dan menambahkan.

"Juga tidak boleh menimbulkan masalah apa pun!" "Ya." Bokyong Sian Hoa mengangguk.

"Pokoknya aku menurut kepadamu." Di Pulau Hong Hoang To, tampak Siang Koan Goat Nio duduk termenung di bawah pohon, bahkan menghela nafas panjang.

"Goat Nio!" panggil Lie Ai Ling sambil mendekatinya.

"Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata engkau duduk melamun di sini!

Sedang memikirkan Kakak Bun Yang ya?" "Ai Ling...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku...." "Aku tahu." Lie Ai Ling tersenyum.

"Engkau sudah rindu kepada Kakak Bun Yang, yang sedang pergi ke Gunung Thian San.

Sudah setengah tahun, tapi dia masih belum pulang...." "Aku khawatir...." "Khawatir terjadi sesuatu atas dirinya?" "Ya." "Itu tidak mungkin," ujar Lie Ai Ling.

"Menurut aku, kemungkinan besar dia sedang berlatih di sana." "Namun...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas lagi, "tidak mungkin begitu lama." "Goat Nio," bisik Lie Ai Ling.

"Bagaimana kalau kita menyusul ke Gunung Thian San?" "Belum tentu orang tua kita mengijinkan." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Begini..." bisik Lie Ai Ling lagi sambil ter-enyum.

"Kalau orang tua kita tidak mengijinkan kita pergi menyusul Kakak Bun Yang, maka kita...mogok makan saja." "Mogok makan?" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Anggap saji kita diet." "Ngmm!" Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Akal yang bagus!

Kalau kita mogok makan, orang tua kita pasti mengijinkan kita pergi menyusul Kakak Bun Yang." "Tidak salah." Lie Ai Ling tertawa gembira "Ayoh, mari pergi menemui orang tuamu!" Kedua gadis itu melesat pergi.

Post a Comment