"Aaaakh!" jerit Liok Ah Peng.
Ternyata dadanya terkena pukulan Shantung Khie Hiap.
Ia terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah dengan mulut menyemburkan darah segar.
"Ayah!" teriak Liok Eng Eng sambil mc nyerang Shantung Khie Hiap dengan pedangnya "Ha ha ha!" Shantung Khie Hiap tertawa gelak.
"Engkau pun harus mampus!" Liok Eng Eng tidak menyahut.
Gadis itu terus menyerangnya dengan sengit, namun dengan mudah sekali Shantung Khie Hiap berkelit, bahkan mulai balas menyerang dengan tangan kosong.
Tio Bun Yang mendekati Liok Ah Peng, kemudian memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya.
"Terimakasih!" ucap Liok Ah Peng.
"Anak muda, tolong selamatkan putriku!" Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengeluarkan serulingnya sekaligus meniup dengan nada tinggi.
Sungguh mengherankan, begitu mendengar suara suling itu, gerakan pedang Liok Eng eng berubah cepat laksana kilat.
Breeet!
Pakaian Shantung Khie Hiap sobek tersabet pedang itu.
Betapa terkejutnya Shantung Khie Hiap.
Cepat-cepatlah ia meloncat ke belakang sambil memandang Tio Bun Yang.
Liok Eng Eng pun menghentikan serangannya lalu melirik Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar.
"Anak muda!" seru Shantung Khie Hiap.
"Kenapa engkau mencampuri urusan kami?" "Maaf, Shantung Khie Hiap!" sahut Tio Bun Yang sambil menatapnya tajam.
"Aku cuma membela kebenaran!" "Hmm!" dengus Shantung Khie Hiap dingin "Baik, mari kita bertanding!
Kalau engkau mampu mengalahkan aku, aku berjanji tidak akan membunuh Liok Ah Peng dan putrinya!" "Shantung Khie Hiap," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Kita tidak perlu bertanding...." "Engkau takut" Kalau begitu, cepatlah enyah dari sini!" "Aku tidak takut, melainkan punya Suatu cara untuk menghindari pertandingan," sahut Tio Bun Yang memberitahukan.
"Paman boleh memukulku tiga kali, kalau Paman berhasil melukaiku, aku akan meninggalkan tempat ini!" "Anak muda!" Shantung Khie Hiap terbelalak.
"Apakah engkau sudah bosan hidup?" "Bukan bosan hidup, namun aku yakin Paman tidak akan mampu melukaiku dengan pukulan." ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.
Tapi Shantung Khie Hiap malah merasa dihina, maka timbullah kegusarannya.
"Baik!
Aku akan memukulmu tiga kali!" Shantung Khie Hiap menudingnya.
"Biar engkau mampus!" "Silakan!" Tio Bun Yang tersenyum sambil mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang.
"Kakak Bun Yang...." Liok Eng Eng tampak cemas sekali, begitu pula Liok Ah Peng.
"Anak muda!
Jangan mempersalahkan aku, karena engkaulah yang sudah bosan hidup!" ujar Shantung Khie Hiap, kemudian mendadak melan carkan sebuah pukulan ke arah dada Tio Bun Yang.
Duuuuk!
Dada Tio Bun Yang terpukul.
"Aaaakh...!" Yang menjerit malah Liok Eng Eng.
Gadis itu terkejut sekali dan yakin Tio Bun Yang pasti terluka.
Namun justru sungguh di luar dugaan, ternyata Tio Bun Yang masih berdiri di tempat sambil tersenyum-senyum.
"Haaah?" Shantung Khie Hiap terbelalak, karena ketika tinjunya mendarat di dada Tio Bun Yang, ia merasa memukul sesuatu yang sangat lunak.
"Silakan pukul lagi!" ujar Tio Bun Yang.
Shantung Khie Hiap penasaran sekali.
Ia menghimpun Iweekangnya lalu melancarkan pukulan ke arah dada Tio Bun Yang.
Sementara Tio Bun Yang telah mengerahkan tiga bagian Kan Ku n Taylo lm Kang.
Duuuuk!
Dada Tio Bun Yang terpukul, namun yang menjerit malah Shantung Khie Hiap.
"Aaaakh...!" Shantung Khie Hiap terpental tiga depa dan sekujur badannya menggigil kedinginan.
Liok Ah Peng dan putrinya terperangah menyaksikan kejadian itu, begitu pula para penonton.
"Aaaakh, dingin!
Dingin sekali...!" Shantung Khie Hiap merintih-rintih dengan wajah agak kehijau-hijauan karena kedinginan.
"Aduuuh, dingin sekali...!" Tio Bun Yang menghampirinya, lalu memegang bahunya sekaligus menyalurkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya.
Tak seberapa lama kemudian, Shantung Khie Hiap tidak menggigil lagi dan wajahnya pun tampak agak kemerahmerahan.
"Anak muda!" Shantung Khie Hiap meml dangnya terbelalak.
"Terimakasih!
Oh ya, sebetulnya engkau siapa?" "Namaku Tio Bun Yang!" "Apa?" Shantung Khie Hiap tampak terkejut dan gembira.
"Engkau...
engkau Giok Siauw Sin Hiap?" "Ya." "Kalau begitu...." Wajah Shantung Khie Hij berseri-seri.
"Engkau pasti putra Pek Ih Sin Hia Tio Cie Hiong!" "Dari mana Paman tahu?" Tio Bun Ya tercengang.
"Bun Yang!" Shantung Khie Hiap memegang bahunya dan menatapnya kagum.
"Engkau sungguh gagah dan bijaksana seperti ayahmu!" "Paman kenal ayahku?" "Pernah kenal." Shantung Khie Hiap memberitahukan.
"Ayahmu pernah menyelamatkan nyawaku, maka aku berhutang budi kepada ayahmu" "Paman...." Tio Bun Yang tersenyum.
"Jangan berkata begitu!" "Bun Yang!" Shantung Khie Hiap tertawa gelak.
"Mulai sekarang aku sudah tidak menark dendam kepada Liok Ah Peng." "Terimakasih, Shantung Khie Hiap!" ucap Liok Ah Peng.
"Terimakasih...." "Paman!" Wajah Liok Eng Eng berseri.
"Terimakasih!" "Ha ha ha!" Shantung Khie Hiap tertawa terbahak-bahak.
"Seharusnya kalian berterima-kasih kepada Giok Siauw Sin Hiap ini!" 'Terimakasih, Giok Siauw Sin Hiap!" ucap Liok Ah Peng sambil memberi hormat.
"Paman...." Tio Bun Yang segera balas mem-lieri hormat.
"Tidak usah berterimakasih!" "Kakak Bun Yang!" Liok Eng Eng memberi hormat.
"Terimakasih!" "Nona...." "Kok panggil aku Nona?" Liok Eng Eng cemberut.
"Aku...." "Bun Yang," ujar Shantung Khie Hiap.
"Engkau harus memanggilnya Adik Eng Eng." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Adik Eng Eng!" "Kakak Bun Yang...." Wajah Liok Eng Eng kemerahmerahan.
"Ha ha ha!" Shantung Khie Hiap dan Liok Ah Peng tertawa gelak, kemudian Shantung Khie hiap berkata.
"Liok Ah Peng, aku minta maaf!" "Terimakasih!
Aku...." Liok Ah Peng menghela nafas panjang.
"Aaaah!" Shantung Khie Hiap juga menghela nafas panjang.
"Adik seperguruanku itu memang jahat.
Yah, sudahlah!" "Shantung Khie Hiap, sekali lagi kuucapkan terimakasih karena engkau mau menyudahi urusan itu." "Adik seperguruanku yang bersalah, hanya saja...
aku adalah kakak seperguruannya, maka mau tidak mau harus menuntut balas kepadamu Namun...
aku telah bertindak salah, untung ada Giok Siauw Sin Hiap.
Kalau tidak...." "Ha ha ha!" Liok Ah Peng tertawa.
"Aku pasti mati di tanganmu, begitu pula putriku." "Aku...." Wajah Shantung Khie Hiap memerah karena merasa malu.
"Paman," ujar Tio Bun Yang mendadak.
"Urusan ini sudah selesai, aku mau pergi." "Kakak Bun Yang...." Wajah Liok Eng Eng langsung berubah murung.
"Engkau begitu cepat mau pergi?" "Adik Eng Eng!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Kita akan berjumpa lagi kelak." "Kakak Bun Yang...." Mata Liok Eng Eng mulai basah.
"Aku...." "Adik Eng Eng!" Tio Bun Yang memegang bahunya.
"Percayalah!
Kita pasti berjumpa lagi kelak." "Ba...
bagaimana mungkin?" Liok Eng Eng mulai terisakisak.
"Adik Eng Eng, engkau jangan menangis, kita pasti berjumpa kelak!" Tio Bun Yang menepuk bahunya, kemudian mendekati monyet itu.
"Monyet kecil, kita akan berpisah sekarang, namun pasti berjumpa lagi kelak." Monyet itu bercuit-cuit sedih.
"Monyet kecil...." Tio Bun Yang membelainya.
"Jangan sedih, kita akan berjumpa lagi kelak!
Paman, Paman dan Adik Eng Eng, sampai jumpa!" Mendadak Tio Bun Yang melesat pergi menggunakan ginkang, dan dalam waktu sekejap ia sudah menghilang dari pandangan semua orang.
"Dia...
dia bisa terbang!" teriak salah seorang penonton.
"Jangan-jangan dia adalah Sin Tong (Bocah Dewa)!" sahut yang lain.
Sementara Shantung Khie Hiap dan Liok Ah Peng cuma saling memandang, sedangkan Liok Eng Eng terus menangis terisak-isak.
"Eng Eng, mari kita pulang ke Shantung!" ujar Liok Ah Peng.
"Aku tidak mau pulang, Ayah," sahut Liok Hng Eng.
"Aku...
aku mau pergi cari Kakak Bun Yang." "Eng Eng!" Liok Ah Peng menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu tidak mungkin, lebih baik kita pulang." "Ayah...." "Kalian pulang saja!" ujar Shantung Khie Hiap.
"Kalau aku bertemu Giok Siauw Sin Hiap, aku pasti bermohon kepadanya untuk mengunjungi kalian." "Terimakasih, Shantung Khie Hiap!" ucap Liok Ah Peng.
"Terimakasih, Paman!" ucap Liok Eng Eng.
"Tapi...
bagaimana mungkin dia akan mengunjungi kami di Shantung?" "Jangan khawatir!" Shantung Khie Hiap tersenyum.
"Aku punya cara, yang penting aku bisa bertemu dia." "Terimakasih, Paman!" ucap Liok Eng Eng.
"Terimakasih...." "Ha ha ha!" Shantung Khie Hiap tertawa gelak, lalu melesat pergi.
"Eng Eng!" Liok Ah Peng memegang bahu putrinya.
"Mari kita pulang ke Shantung!" "Ya." Liok Eng Eng mengangguk dengan air mata berlinang-Iinang.
"Kakak Bun Yang...." ---oo0dw0ooo--Bagian ke Tiga puluh enam Gadis Manchuria Tio Bun Yang terus melakukan perjalanan me nuju markas pusat Kay Pang.
Hari ini, ketika sampai di tempat sepi, mendadak ia mendengar suara bentakan anak gadis.
Segeralah ia menoleh kan kepalanya, ternyata tak jauh dari situ terdapat seorang gadis berpakaian aneh yang sedang dikerumuni beberapa orang berpakaian hijau, mereka adalah anggota Seng Hwee Kauw.
"Kalian jangan kurang ajar!" bentak gadis itu gusar.
"Nona manis, tempat ini sangat sepi, alangkah baiknya kita bersenang-senang," ujar salah seorang dari mereka dengan tertawa.
"Hm!" dengus gadis itu.
"Jangan memaksaku membunuh kalian!" "Apa?" Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekehkekeh.
"He he he!
Engkau berniat membunuh kami?" "Ya!" Gadis itu mengangguk.
"Itu kalau kalian berlaku tidak senonoh terhadap diriku!" "Kami cuma ingin mengajakmu bersenang-senang, bukan berlaku tidak senonoh terhadapmu.
Nona!
Ayohlah!
Mari kita bersenang-senang!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menowel pipinya.
Betapa gusarnya gadis itu, sehingga langsung mengayunkan tangannya.
Plok!
"Aduh!" jerit Kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil mengusap pipinya yang kena tampar.
"Kuning ajar!" "Hm!" dengus gadis itu.
"Yang kurang ajar malah engkau, maka pantas kutampar!" "Nona!" ujar Kepala anggota Seng Hwee Kauw.
Engkau memang ingin dihajar!
Kawan-kawan!
Cepat hajar gadis binal itu!" Para anggota Seng Hwee Kauw itu langsung menghampiri gadis tersebut, namun mendadak gadis itu membentak sambil menghunus pedang nya.
"Kalau kalian berani menyerangku aku tidak akan mengampuni kalian!" "Serang dia dengan senjata!" seru Kepali anggota Seng Hwee Kauw.
Seketika para anggota mengeluarkan senjata masingmasing, kemudian menyerang gadis itu dengan serentak.
Tiang!
Trang!