--000odw0ooo-- Dua hari kemudian, Tio Bun Yang telah sampai di sebuah kota.
ketika ia baru mau mampir di kedai teh, mendadak ia mendengar suara gembrengan.
Segeralah ia berpaling, tampak seorang pria berusia lima puluhan dan seorang gadis berusia sekitar tujuh belas berada di pinggir jalan.
Dari pakaian mereka, Tio Bun Yang sudah dapat menerka, bahwa mereka adalah pemain silat keliling.
Walau gadis itu cukup cantik, namun Tio Bun Yang sama sekali tidak tertarik, sebaliknya malah tertarik pada seekor monyet yang bersama mereka.
Oleh karena itu, ia mendekati tempat tersebut Banyak pula orang berkerumun di situ.
"Saudara-saudara sekalian!" ujar orang tua itu sambil memberi hormat ke empat penjuru.
"Aku bernama Liok Ah Peng, dan ini adalah putriku, yang bernama Liok Eng Eng.
Kami ayah dan anak berasal dari Shantung, mencari nafkah berkeliling mempertunjukkan ilmu silatl Bahkan kami pun menjual obat koyo yang dapat menyembuhkan penyakit encok, salah urat dan luka dalam terkena pukulan." "Tidak salah" sambung gadis bernama Liok Eng Eng itu sambil tersenyum manis.
"Obat koyo itu memang serba guna, harganya tidak begitu mahal." "Nahl" ujar Liok Ah Peng- "Sebelum kami mulai menjual obat koyo itu, terlebih dahulu kami akan mempertunjukkan ilmu silat aliran Shantung." "Paman-paman dan bibi-bibi sekalianl" sen Liok Eng Eng.
"Ayahku akan mempertunjukkan ilmu pukulan yang sangat dahsyat Silakan menyaksikannyal" Liok Ah Peng segera memberi hormat ke empat penjuru, setelah itu barulah ia mulai mempertunjukkan ilmu pukulan tangan kosong.
Sepasang tangannya bergerak cepat sekali, kemudian berubah menjadi puluhan pasang dan menimbulkan suara yang menderu-deru.
Menyaksikan ilmu pukulan itu, Tio Bun Yan manggutmanggut dan membatin sambil tersenyum Cukup tinggi ilmu silat orang tua itu, begitu pula Iweekangnya!
Mendadak terdengar suara tepuk sorak yang riuh gemuruh, ternyata orang tua itu telah usai mempertunjukkan ilmu silatnya.
"Terirnakasih!
Terirnakasih..." ucap Liok Ah Peng sambil memberi hormat.
"Nahl Sekarang putriku akan mempertunjukkan ilmu pedang.
Silahkan menyaksikannya tapi jangan terlampau dekat hati-hati dengan sambaran pedangnya!
Ha ha...l" Liok Eng Eng menghunus pedangnya.
Segera memberi hormat ke empat penjuru, barulah!
mulai menggerakkan pedangnya.
Seketika terdengarlah suara sorak-sorai yang riuh gemuruh.
Ternyata badan gadis itu bergerak lemah gemulai, namun pedangnya bergerak cepat sekali.
Kagum juga Tio Bun Yang menyaksikan ilmu pedang Liok Eng Eng.
Karena itu ia mengeluarkan suling kumalanya, sekaligus meniupnya mengiringi gerakan gadis itu.
Tentunya sangat mengejutkan para penonton, begitu pula Liok Ah Peng dan putrinya.
Mereka berdua langsung memandang ke arah Tio Bun Yang Pemuda itu tersenyumsenyum, sehingga membuat hati gadis itu berdebar-debar aneh.
Justru membuat Liok Ah Peng terkejut bukan main, karena mendadak putrinya mengikuti irama suling itu.
Namun sungguh indah sekali gerakan pedang anak gadisnya itu, sehingga membuat Liok Ah Peng terbelalak menyaksikannya.
Berselang beberapa saat kemudian, suara suling itu berhenti.
Pedang di tangan gadis itu pun ikut berhenti.
Sambil tersenyum Liok Eng Eng memberi hormat ke empat penjuru, lalu memandang Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar, terdengar pula suara tepuk sorak dari para penonton.
"Terirnakasih!
Terirnakasih..." ucap Liok Ah Teng sambil memberi hormat.
"Putriku telah mempertunjukkan kejelekannya.
Kini aku akan suruh monyet itu main akrobat, tentunya akan menggembirakan saudara sandara sekalian." Liok Ah Peng mengambil sebuah cambuk.
Monyet itu tampak ketakutan.
Ketika Liok Ah Peng menggerakkan cambuk itu ke bawah, geraian monyet itu bersalto beberapa kali.
"Ha ha ha...
" Para penunlon tertawa lor babak-babak.
"Lucu sekali monyet itul" Akan tetapi, setelah bersalto beberapa kali mendadak monyet itu jatuh gedebuk, kemudian bercuit-cuit seakan kesakitan.
Liok Ah Peng tampak gusar sekali dan langsung mengayunkan cambuknya ke arah monyet Itu.
Taar...!
Monyet itu tersambar cambuk, sehingga jatuh tergulingguling sekaligus bercuit-cuit kesakitan!
Di saat bersamaan, terdengarlah suara bentakan yang mengguntur.
"Jangan siksa monyet itu!" ternyata Tio Bun Yang yang membentak gusar.
Betapa terkejutnya para penonton, begitu pula Liok Ah Peng dan putrinya, mereka berdua langsung memandang ke arah Tio Bun Yang.
Pemuda itu menatap gusar ke arah Liok A Peng, kemudian memandang monyet itu sambil mengeluarkan suara cuit-cuit.
Terjadilah hal yang di luar dugaan, karena mendadak monyet itu meloncat ke bahu Tio Bun Yang.
"Sungguh kasihan engkau, monyet kecil!" kata Tio Bun Yang sambil membelai belai monyet dengan penuh kasih sayang- Terbelalaklah para penonton dan Liok Ah Peng serta putrinya.
Mereka mengira pemuda itu tidak waras.
Akan tetapi, sungguh mengherankan karena monyet itu kelihatan menurut sekali pada pemuda tersebut.
"Monyet kecil!" Tio Bun Yang menggeleng-lengkan kepala.
"Engkau masih belum bisa bersalto Lebih baik aku mengajarmu." Monyet itu bercuit-cuit, tentunya membuat semua orang terheran-heran, begitu pula Liok Ah Peng dan putrinya.
"Monyet kecil, turunlah!" ujar Tio Bun Yang.
Monyet itu segera meloncat turun.
Hal itu membuat Liok Eng Eng terbelalak, karena monyet itu mengerti apa yang dikatakan pemuda tersebut.
"Monyet kecil, kalau berrsalto harus begini...." Tio Bun Yang memberi petunjuk kepada monyet itu dengan cara menggerak-gerakkan tangannya.
Monyet itu manggut-manggut, lalu bersalto mengikuti petunjuk Tio Bun Yang sambil bercuit-cuit.
tampaknya gembira sekali.
"Ha ha" Tio Bun Yang tertawa.
"Monyet kecil, engkau telah berhasil bersalto!
Ha ha ha....!" Para penonton dan Liok Ah Peng serta putrinya menyaksikan itu dengan mata terbeliak lebar dan mulutnya pun ternganga.
"Paman!" panggil Tio Bun Yang sambil menghampirinya.
"Aku harap mulai sekarang Paman tidak menyiksa monyet kecil itu!" "Anak muda," sahut Liok Ah Peng.
"Aku tidak menyiksanya, melainkan cuma menakuti nya." "Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Tadi Paman telah memukulnya dengan cambuk." "Itu karena dia tidak mau bersalto.." "Monyet kecil itu belum bisa bersalto, namun Paman memaksanya," potong Tio Bun Yang.
"Kalau Paman masih ingin memukulnya, lebih baik aku bawa monyet kecil itu." "Anak muda?" Liok Ah Peng mengerutkan kening.
"Kami...
kami berjanji tidak akan memukul monyet itu lagi!" sela Liok Eng Eng dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Eng Eng...." Liok Ah Peng menatapnya heran.
"Engkau...." "Ayah, mulai sekarang Ayah jangan memukul monyet itu lagi!" sahut Liok Eng Eng.
"Kasihan...." "Baiklah." Liok Ah Peng tertawa gelak.
"Ayah berjanji, mulai sekarang tidak akan memukul monyet itu lagi!" "Terimakasih, Paman!" ucap Tio Bun Yan lalu bercuit memanggil monyet tersebut.
Monyet itu segera mendekatinya.
Tio Bun Yang membelainya seraya berkata lembut.
"Monyet kecil, mulai sekarang Paman itu tidak akan memukulmu dengan cambuk lagi, engkau tidak perlu takut." Monyet itu bercuit-tuit sambil Memandang Tio Bun Yang, kemudian manggut-manggut, "Monyet kecil" Liok Eng Eng membelainya.
"Engkau tidak usah takut, mulai sekarang ayahku tidak akan memukulmu lagi dengan cambuk.
Percayalah" Monyet itu diam saja.
Tentunya mengherankan gadis itu.
Ditatapnya Tio Bun Yang seraya bertanya.
"Eh Kenapa monyet kecil itu diam saja?" "Karena.." Tio Bun Yang tersenyum.
"Engkau bejum memiliki perasaan kasih sayang kepadanya, maka dia diam saja." "Oh?" Liok Eng Eng tertawa geli.
"Jadi...
aku harus menyayanginya?" "Tentu." Tio Bun Yang mengangguk.
"Walau dia adalah hewan, namun punya perasaan juga." "Kalau begitu..." ujar Liok Eng Eng sungguh mngguh.
"Mulai sekarang aku pasti menyayanginya" "Bagus." Tio Bun Yang manggut-manggut dan berkata kepada monyet tiu.
"Monyet kecil, mulai sekarang nona itu pasti menyayangimu, jadi engkau tidak perlu takut lagi." Monyet itu bercuit, lalu memandang Liok Eng Eng dengan mata berkedip-kedip, kelihatannya masih kurang percaya kepada gadis itu.
"Monyet kecil, aku berjanji akan menyayangimu, percayalah!" ujar Liok Eng Eng sambil tertawa.
"Monyet kecil," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Nona itu tidak akan membohongi nah Percayalah!" Monyet itu manggut-manggut, kemudian mendekati Liok Eng Eng, yang kemudian langsung membelainya.
"Ha ha hal" Liok Ah Peng tertawa gelak "Baru kali ini aku melihat manusia bisa berbicara dengan monyet!
Oh ya, anak muda!
Sebetulnya siapa engkau" Kok engkau mengerti bahasa monyet?" "Namaku Tio Bun Yang, Paman," sahut muda itu sambil tersenyum ramah.
"Sejak kecil aku sudah bergaul dengan monyet, maka aku mengerti bahasanya." "Oh?" Liok Ah Peng terbelalak.
"Kalau begitu, engkau lahir di dalam hutan?" "Aku lahir di sebuah pulau." "Ooohl" Liok Ah Peng manggut-manggut "Engkau mahir sekali meniup suling, sejak kapan engkau meniup suling?" "Sejak kecil." "Kakak Bun Yang..." Ketika Liok Eng Eng baru mau mengatakan sesuatu, mendadak terdengar suara tawa yang menyeramkan, kemudian melayang turun seseorang bertampang seram pula "He he he!
Liok Ah Peng, ternyata engkau berada di sini bersama putrimu!
Hari ini kalian berdua tidak bisa kabur lagil He he he.
I' "Shantung Khie Hiap (Pendekar Aneh Shantung)!" seru Liok Ah Peng dengan wajah pucat "He he he!" Shantung Khie Hiap tertawa terkekeh-kekeh.
"Liok Ah Peng, engkau membunuh adik seperguruanku, maka hari ini aku harus membunuhmu!" ---ooo0dw0ooo--Jilid 8 "Shantung Khie Hiap," sahut Liok Ah Pcng ambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Adik seperguruanmu itu sangat jahat, sering merampok dan memperkosa....' "Diam!".
bentak Shantung Khie Hiap.
"Pokoknya engkau dan putrimu harus mampus hari ini!" "Shantung Khie Hiap!" Liok Ah Peng mengerutkan kening.
"Aku tak sengaja membunuhnya, dia...
dia terus menyerangku.
Lagi pula...
dia ingin memperkosa putriku, maka....!" "Diam!" bentak Shantung Khie Hiap gusar.
"Ayoh, cepat keluarkan senjatamu untuk bertarung denganku!" "Shantung Khie Hiap...." Liok Ah Pcng menghela nafas panjang.
"Baiklah!
Aku akan melawanmu dengan tangan kosong!" "He he he!" Shantung Khie Hiap tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau begitu, mari kitu bertarung dengan tangan kosong!" Sementara Tio Bun Yang diam saja karena tidak mau mencampuri urusan pribadi orang.
Yang paling gembira adalah para penonton, sebab mereka akan menyaksikan suatu pertarungan yang sangat seru.
Pertarungan sudah mulai, yang menyerang duluan adalah Liok Ah Peng.
Shantung Khie Hiap berkelit sekaligus balas menyerang.
Mereka sama sama menggunakan jurus-jurus andalan.
Akan tetapi, puluhan jurus kemudian, Liok Ah Peng mulai di bawah angin.
Menyaksikan itu, pucatlah wajah Liok Eng Eng.
Gadis itu menggenggam pedangnya erat-erat, kelihatannya siap membantu ayahnya.