Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 91

Memuat...

"Hei!

Anak muda cepatlah engkau ke mari" Tio Bun Yang mempercepat langkahnya.

Ketika sampai di hadapan orang itu, wajahnya langsung berubah dan terbelalak.

Ternyata orang itu sudah tua sekari dan telanjang bulat.

Sungguh mengenaskan keadaan orang tua itu, sepasang kaki dan tulang punggungnya terbelenggu rantai baja.

"Paman tua...." Tio Bun Yang memandangi dengan iba.

"Anak mudai" Orang tua itu tertawa lagi.

'iha hal Jangan takut, aku bukan setan iblis!" "Aku tahu, tapi keadaan Paman tua...." "Aaaakh!" keluh erang tua itu.

"Memang sudah nasib dan takdirku harus dikurung di dalam gua ini.

Namun di saat ajalku tiba.

justru muncul seorang anak muda ke mari.

Ha ha ha!

Sungguh menggembira kan!" "Paman tua, aku mengerti sedikit ilmu pengobatan.

Bolehkah aku memeriksamu?" "Oh?" Orang tua itu menatapnya dengan mata redup "Percuma, sebab ajalku telah tiba." "Paman tua!" Tio Bun Yang segera memeriksanya kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Ha ha!

Ajalku sudah tiba kan?" Orang tua itu tertawa.

Tio Bun Yang tidak menyahut, melainkan mengambil sebutir pil dari dalam bajunya lalu dimasukkannya ke mulut orang tua itu.

Setelah menelan pil itu, tak lama wajah orang tua itu tampak agak segar.

"Bukan main obat itu!" ujar si kakek sambil tertawa.

"Bisa memperpanjang nyawaku untuk beberapa saat!" "Paman tua," tanya Tio Bun Yang.

"Kenapa Paman tua dikurung di sini" Siapa yang berbuat begitu kejam terhadap Paman tua?" "Aaaakh___!:" Orang tua itu menghela nafas panjang.

"Anak muda, siapa engkau?" "Namaku Tio Bun Yang." "Ngmm!" Orang tua iiu manggut-manggut.

"Baiklah.

Aku akan menceritakan tentang kejadianku.

Aku bernama Tan Liang Tie, julukanku Thian Gwa Sin Hiap.

Delapan puluh tahun yang lalu, pada wakiu itu aku baru berusia empat puluhan.

Akan tetapi, aku justru melakukan suatu kesalahan." "Kesalahan apa?" "Membunuh sepasang suami isteri." Tan Liari Tie menghela nafas panjang lalu melanjutkan "Sepasang suami isteri itu adalah perampok, kebetulan aku memergoki mereka merampok rumah seorang hartawan.

Karena itu, aku turun tangan membunuh mereka.

Sebelum perampok wanita itu menghembuskan nafas penghabisan dia berpesan kepadaku agar aku ke rumahnya" "Paman tua ke rumah wanita itu?" "Tentunya aku tidak mau.

Namun setelah mereka mati.-" Tan Liang Tie menggeleng-gelengkan kepala.

"Muncullah para penduduk kampung itu.

Begitu mereka melihatku, para penduduk kampung itu mencaci maki aku." "Lho?" Tio Bun Yang beran.

"Kenapa mesti mencaci maki Paman tua?" "Ternyata mereka berdua adalah peramok budiman." Tan Liang Tie memberitahukan, "mereka merampok di rumah para hartawan yang berlaku sewenang-wenang, lalu hasil rampok itu dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Aku sama sekali tidak tahu tentang itu, maka...." "Paman tua terlalu cepat membunuh suamii itu." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sungguh menyesal Karena itu aku sejera ke rumah mereka," lanjut Tan Liang Tie.

Ternyata ada seorang anak gadis berusia sekitar lima tahun di dalam rumah itu.

Dia adalah anak suami isteri yang kubunuh itu, namanya Tu Siao Cui.

Aku sungguh kasihan kepadanya, maka aku bersumpah dalam hati akan mengurusi anak gadis itu." "Kemudian bagaimana?" "Aku memberitahukan kepadanya bahwa kedua orang tuanya sudah mati.

Anak gadis itu menangis sedih, lalu masuk ke kamar.

Namun lak lama kemudian, dia keluar lagi dengan membawa buah kitab." "Kitab apa itu?" "Hian Goan Cin Keng." Tan Liang Tie memberitahukan.

"Kitab itu adalah kitab pusaka yang berisi pelajaran ilmu silat tinggi sekali.

Sungguh di luar dugaan, kitab pusaka tersebut tersimpan di rumah anak gadis itu." "Anak gadis itu tidak memberitahukan dari mana kitab pusaka itu?" "Dia tidak memberitahukan, tapi kedua orang tuanya pernah berpesan, apabila mereka mati, kitab pusaka itu harus diserahkan kepada orang yang mendalangi rumahnya." "Pantas anak gadis itu mengeluarkan kitab pusaka itu!" "Bahkan dia pun menyerahkan kitab pusaka itu kepadaku," ujar Tan Liang Tie sambi!

mengeleng-gelengkan kepala.

"Aku melihat anak gadis itu begitu polos dan belum tahu apa-apa, maka aku pun tidak memberitahukannya tentang kematian kedua orang tuanya." "Paman tua tinggal di rumah itu?" "Tidak.

Aku membawanya ke goa ini.

Maksud aku ingin membesarkannya di dalam goa ini," sahut Tan Liang Tie sambil melanjutkan.

"Tapi di tengah jalan aku justru memberitahukannya bahwa kedua orang tuanya mati dibunuh orang " "Kenapa Paman tua memberitahukannya?" "Yaaah!" Tan Liang Tie menghela nafas panjang.

"Dia terus bertanya, maka aku terpaksa memberitahukannya.

Dia...

dia bersumpah akan membalas dendam." "Paman tua memberitahukan siapa pembun kedua orang tuanya?" tanya Tio Bun Yang sambil mengerutkan kening.

"Tentu tidak," sahut Tan Liang Tie.

"Di saat itu, aku pun bertemu saudara seperguruanku" "Siapa saudara seperguruan Paman tua?" "Saudara seperguruanku bernama Kong Su Hok, julukannya Tayli Sin Ceng.

Dia mahir meramal.

Ketika melihat anak gadis itu, dia berpesan kepadaku harus berhati-hati padanya.

Aku diam saja." "Oh?" "Setelah sampai di goa ini, mulailah aku mengajarnya menulis, membaca dan ilmu silat.

Sedang kan aku mulai mempelajari Hian Goan Cin Keng yang berisi Hian Goan Sin Kang (Tenaga Sakli Melumpuhkan Lawan), Hian Goan Ci (Jari Sakti Melumpuhkan), ilmu pukulan dan ilmu pedang." "Bagaimana ilmu-ilmu itu?" tanya Tio Bun Yang tertarik.

"Bukan main hebatnya," jawab Tan Liang Tie sunggubsungguh dan melanjutkan sambil menggeleng gelengkan kepala.

"Ketika Tu Siao Cui berusia sepuluh tahun, mulailah aku mengajarnya ilmu-ilmu itu." "Setelah itu bagaimana?" "Aaaahl" Tan Liang Tie menghela nafas panjang dan suaranya mulai lemah.

"Dia terus bertanya kepadaku, siapa pembunuh kedua orang tuanya.

Aku selalu menjawab tidak tahu.

Namun tak terduga sama sekali...." "Apa yang telah terjadi?" "Setelah dia berusia dua puluh, secara diam-diam pergi menyelidiki kematian kedua orang tuanya." "Berhasilkah dia menyelidikinya?" "Kalau tidak berhasil, tentunya aku tidak akan dirantai di sini." Tan Liang Tie menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak tahu tentang itu, bahkan juga tidak bercuriga, sebab dia bersikap seperti biasa.

Tapi...

secara diam-diam dia meracuniku dengan arak." "Oh?" Tio Bun Yang terbelalak.

"Setelah minum arak yang disuguhkannya itu aku pun tahu kalau arak itu mengandung racun Aku berusaha mendesak keluar racun itu dengan Iweekangku, tapi cuma berhasil mendesak racun itu tidak menyerang jantungku.

Oleh karena itu aku menghimpun lweekangku pada sepasang telapak tanganku." "Paman tua ingin memukulnya?" "Ya." Tan Liang Tie mengangguk.

"Karena Iweekangku disalurkan pada sepasang telapak tanganku, maka sekujur badanku jadi lemas.

Di situlah Tu Siao Cui muncul sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Ketika dia mendekat, aku langsung melancarkan sebuah pukulan ke arahnya.

Dia memang hebat karena berhasil meloncat ke atas maka pukulanku cuma menghantam sepasang kkaki nya.

Dia terpental hingga membentur dinding goa ini, sedangkan aku terkulai dan pingsan." "Lalu bagaimana?" "Ketika aku siuman, dia sudah tidak kelihatan Kitab Hian Goan Cin Keng pun lenyap." Tan Liang Tie menghela nafas panjang.

"Aku yang bersalah, tidak seharusnya aku menyerangnya sebab belum tentu dia akan membunuhku.

Disebabkan aku menyerangnya, dia merantai diriku" "Kejadian yang sungguh tragis!" Tio Bun Yang Menggelenggelengkan kepala.

"Aku yang bersalah," ujar Tan Liang Tie dengan suara lemah.

"Oh ya, pernahkah engkau mendengar seorang nenek bernama Tu Siao Cui muncul di rimba persilatan?" "Tidak pernah, tapi aku kenal Kou Hun Bijin-" Tio Bun Yang memberitahukan.

"Mungkinkah Kou Hun Bijin adalah Tu Siao Cui?" "Apa?" Tan Liang Tie terbelalak.

"Engkau kenal Kou Hun Bijin" Dia...

dia masih hidup?" "Kou Hun Bijin masih hidup, ayahku dan dia adalah kawan baik," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Kou Hun Bijin sudah menikah dengan Kim Siauw Suseng.

Mereka punya seorang putri yang seusia denganku." "Oh?" Tan Liang Tie tampak tertegun, kemudian tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Kou Hun Bijin telah menikah" Ha ha ha!

Kalau Thian Gwa Sin Mo (Iblis Sakti Luar Langit) tahu, dia pasti mati penasaran." Tio Bun Yang diam.

Ia sama sekali tidak kenal Thian Gwa Sin Mo.

Siapa Thian Gwa Sin Mo" tidak lain adalah paman guru Tang Hai Lomo, adalah seorang Bu Lim Sam Mo.

"Anak muda," ujar Tan Liang Tie dengan nafas mulai memburu.

"Mungkin Tu Siao Cui telah mati terkena pukulanku, namun aku tetap ingin mohon bantuanmu.

Aku harap engkau sudi membantuku!" "Paman tua, apa yang dapat kubantu?" tanyi Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Setelah aku mati, tolong cari Tayli Sin Ceng' jawab Tan Liang Tie dengan suara semakin lemah dan menambahkan.

"Engkau tidak usah mengubur mayatku, sebab rantai baja ini tidak bisa diputuskan dengan Iweekang, kecuali dengan pedang pusaka." "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

Ia tahu bahwa ajal orang tua itu telah tiba.

Kalau tadi tidak memberikannya pil Sok Beng Tan (Pil penyambung Nyawa), orang tua itu pasti sudah mati.

"Ha ha ha!" Tan Liang Tie tertawa gembira "Terirnakasih, anak muda..." Suara tawanya makin lama makin lemah akhirnya tak terdengar dan kepala orang tua itu terkulai.

"Paman tual" panggil Tio Bun Yang.

Tan Liang Tie tidak menyahut, ternyata nyawa orang tua itu telah putus.

Tio Bun Yang memandangnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah memberi hormat, barulah ia meninggalkan goa itu.

Post a Comment