"Hay Thian yang menyuruhku memapahnya ke mari." "Betul, Paman." sambung Kam Hay Thian.
"Harap Paman jangan mempersalahkan Hui Sanl" "Hay Thian...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.
"Engkau masih tidak boleh tergerak, namun malah?" "Paman, aku____" Kam Hay Thian menundukkan kepala.
"Hui San," ujar Lim Ceng Im.
"Cepatlah papah dia ke tempat duduk!" "Ya, Bibi." Lu Hui San segera memapahnya ke tempat duduk.
Setelah itu gadis tersebut duduk di sebelahnya"Dia Kam Hay Thian." Tio Cie Hiong memperkenalkan.
"Putra Kam Pek Kian dan Lie Siu Sien, namun ayahnya telah meninggal dibunuh Seng Hwee Sin Kun." "Ooohl" Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie liong manggutmanggut, "Hay Thian, bagaimana engkau bisa kenal Ngo Tok Kauwcu?" tanya Lim Ceng Im mendadak.
"Ketika aku hampir tiba di Lembah Kabut Hitam, tiba-tiba dia muncul," jawab Kam Hay Thian memberitahukan.
"Setelah itu.
kami pun berkenalan Kemudian dia menceritakan tentang kematian ayahnya, yang ternyata dibunuh oleh Seng Hwee Sin Kun gara-gara sebuah kitab pusaka, yakni Seng Hwee Cin Keng." "Oooh!" Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Dia tidak menceritakan bagaimana berkenalan dengan Bun Yang?" "Dia tidak menceritakan tentang itu, hanya bilang kenal Bun Yang," ujar Kam Hay Thian "Tapi dia memberitahukan, bahwa Bun Yang yang menyembuhkan wajahnya." "Oh?" Lim Ceng Im mengerutkan kening "Kenapa wajahnya?" "Entahlah." Kam Hay Thian menggelengkan kepala.
"Dia tidak memberitahukan kepadaku." "Cie Hiong," ujar Lam Kiong Bie Liong sambil memandangnya.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya nya.
"Rencana apa?" Tio Cie Hiong heran.
"Mengenai Seng Hwee Sin Kun" sahut Lam Kiong Bie Liong.
"Maaf!" Tio Cie Hiong menghela nafas pa jang.
"Aku tidak punya rencana apa pun, sebab aku sudah tidak mau mencampuri urusan dunia persilatan." "Cie Hiong...." Lam Kiong Bie Liong mengeleng-gelengkan kepala.
"Engkau?" "Kini Seng Hwee Sin Kun telah terluka," ujar Tio Tay Seng, majikan Pulau Hong Hoang "Kita tunggu saja bagaimana perkembangannya setelah itu barulah kita berunding." "Baiklah." Lam Kiong Bie Liong manggut-?unggul.
"Tapi kami tidak bisa lama-lama di sini, sebab Toan Hong Ya telah berpesan kepada kami harus segera membawa Soat Lari dan Beng Kiat pulang ke Tayli." "Oooh!" Tio Cie Hiong manggul-manggut.
"Kapan kalian akan pulang ke Tayli?" "Lusa," jawab Toan Wie Kie.
"Kok begitu cepat?" Tio Cie Hiong memandangnya.
"Padahal kalian baru tiba di sini." "Maafl" ucap Toan Wie Kie.
"Ayahku yang terpesan begitu, maka kami harus menurut." "Oh ya!" Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Tayli Lo Ceng ke mari, tapi sudah pergi kemarin." "Oh?" Toan Wie Kie tertegun.
"Apakah Lo Ceng berpesan sesuatu untuk kami?" "Tidak" Tio Cie Hiong menggelengkan kepala.
"Sayang sekali!" Toan Wie Kie menghela nafas panjang "Kami tidak bertemu padri tua itu!" 'Kenapa harus merasa sayang tidak bertemu dia?" tanya Kou Hun Bijin mendadak, kemudian ter tawa nyaring.
"Dia berkepala gundu!, apakah kalian juga ingin menggundulkan kepala?" "Bijin, kami-." Toan Wie Kie tergagap.
"Kami.-." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak, "Bijin, engkau senang apabila mereka juga berkepala gundu!?" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan "Kalau kepala mereka digundulkan, isteri mereka pasti merana!
Hi hi hi..-!" --ooo0dw0ooo-- Bagian ke tiga puluh lima Hian Goan Sin Kang (Tenaga Sakt!
Melumpuhkan Lawan) Di Lembah Ang Hoa Kok (Lembah Bunga Merah) terdapat sebuah goa yang amat besar dan indah.
Lembah tersebut ditumbuhi bunga-bunga liar berwarna merah, maka dinamai Lembah Bunga Merah.
Tampak seorang nenek berusia delapan puluhan duduk di dalam goa itu.
Kelihatannya nenek itu sedang melatih semacam Iweekang.
Berselang sesaat, ubun-ubun nenek itu mengeluarkan uap putih.
Itu pertanda Iweekangnya telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.
Justru sungguh mengherankan, karena uap itu sama sekali tidak buyar, melainkan terus berputar di atas kepala nenek itu.
Beberapa saat kemudian, uap putlb itu menerobos ke dalam ubun-ubun nenek tersebut.
Perlahan lahan nenek itu membuka matanya, lulu tertawa nyaring menggetarkan goa itu, bahkan berkumandang di luar goa pula.
Siapa nenek itu" Ternyata Tu Siao Cut murid Thiaan Gwa Sin Hiap - Tan Liang Tie, adik seperguruan Tayli Lo Ceng.
"Hi hi hil Aku telah berhasil menguasai ilmu Hian Goan Sin Kang!
Hi hi hi..." Tu Siao Cui terus tertawa nyaring dan bergumam.
"Akhirnya aku berhasil menguasai ilmu itu!
Tapi...." Mendadak Tu Siao Cui menangis meraung-raung dengan air mata berderai-derai, setelah itu bergumam lagi.
"Tapi...
aku telah kehilangan masa mudaku.
Enam puluh tahun lebih aku berada di dalam goa ini sehingga membuat masa mudaku habis di dalam goa ini pula.
Aku benci kepada guruku itu!
Benciii...!" Kenapa Tu Siao Cui membenci gurunya" Kenapa sekian lama ia berada di dalam goa itu" Apakah dikarenakan berlatih Hian Goan Sin Kang" "He he he!" Tiba-tiba Tu Siao Cui tertawa terkekeh kekeh.
"Tapi aku pun telah mengurungnya di dalam goa di Gunung Hong San, mungkin dia sudah mampus!
He lie he..!" Seusai tertawa terkekeh-kekeh dan bergumam, Tu Siao Cui bangkit berdiri sambil bergumam lagi.
"Puluhan tahun aku tidak pernah berjalan ke dalam, karena terluka parah oleh pukulan yang dilancarkan guruku!
Namun hari ini aku sudah kuat berjalan ke dalam.
Aku ingin tahu, ada apa di dalamnya." Tu Siao Cui mengayunkan kakinya ke dalam Goa itu memang aneh, sebab batu-batu yang dindingnya memancarkan cahaya, sehingga membuat goa itu menjadi agak terang.
Kenapa selama puluhan tahun ini Tu Si Cui tidak pernah berjalan ke dalam menelusuri goa tersebut" Ternyata ia menderita luka parah akibat terkena pukulan gurunya, sehingga membuat sepasang kakinya lumpuh.
Oleh karena itu, ia harus mengobati lukanya.
Setelah lukanya sembuh, barulah ia mulai mempelajari Hian Goan Sin Kang.
Kini sepasang kaki nya telah sembuh, maka ia berjalan ke dalam melihat-lihat goa yang dihuninya itu.
Ketika sampai di ujung goa, ia terbelalak melihat sebuah sumur alam, dan tampak kabut kemerah-merahan di permukaan sumur itu.
Tu Siao Cui tercengang.
Ia menghampiri sumur alam itu dan melihat airnya.
Sungguh mengherankan, ternyata air sumur alam itu berwarna merah.
"Herani" gumam Tu Siao CuL "Kenapa sumur alam ini berwarna merah" Mungkin mengandung racun?" Tu Siao Cui memungut selembar daun kering lalu dicelupkan ke air sumur alam itu.
Lama sekali barulah diangkat daun kering itu, lalu diperiksanya dengan teliti sekali.
Daun kering itu tampak segar, oleh karena Itu.
Tu Sisa Cui yakin air sumur alam itu tidak mengandung racun.
"Hi hi hi!" Nenek itu tertawa girang.
"Aku akan mandi sepuas-puasnya!
Hi hi hi..." Tu Siao Cui mulai menanggalkan pakaiannya yang dibuat dari kulit pohon.
Usianya sudah delapan puluh lebih, tentunya tubuhnya sangat tak sedap dipandang.
Dia lalu mencebur ke dalam sumur alam itu.
Sungguh di luar dugaan, sumur alam itu cukup dalam sehingga kaki Tu Siao Cui tidak menyentuh dasar sumur alam itu.
Sambil tertawa gembira Tu Siao Cui berenang ke sana ke mari, kemudian menyelam ke dasar sumur itu.
Bukan main indahnya dasar sumur tersebut karena batu-batu di situ memancarkan cahaya.
Karena ingin menyaksikan keindahan dari sumur itu, maka ia menghimpun Hian Goan Sin Kang untuk menahan nafasnya.
Entah berapa lama kemudian, barulah ia muncul di permukaan air, lalu naik ke atas.
Setelah Ia berada di atas, ia pun terbelalak melihat sepasang tangannya.
Ternyata sepasang tangannya berubah bersih dan halus, begitu pula sepasang payudara nya tampak agak padat.
Dapat dibayangkan, betapa kaget dan gembiranya Tu Siao Cui.
Cepat-cepat ia melihat wajahnya di permukaan air sumur itu.
Begitu melihat, membuatnya terheran heran, karena wajahnya yang keriput itu tampak segar dan agak halus.
"Haaah..?" Mulutnya ternganga lebar.
"Mungkinkah air sumur itu akan membuat diriku muda kembali, apabila aku menghimpun Hian Goan Sin Kang di dalam air sumur alam itu?" Berpikir begitu, mendadak Tu Siao Cui meloncat ke sumur alam itu, sekaligus menghimpun Hian Goan Sin Kang.
Tu Siao Cui memang tidak tahu, bahwa sumur itu mengandung semacam obat yang menghaluskan kulit.
Apalagi ia menghimpun Hian Goan Sin Kang, sehingga mempercepat proses penghalusan itu.
Beberapa bulan kemudian, Tu Siao Cui yang berusia delapan puluhan itu telah berubah menjadi seorang gadis berusia dua puluh, bahkan sangat cantik pula.
Itu boleh dikatakan tidak masuk akal, namun Tu Siao Cui memang mengalami perubahan itu.
"Hi hi hil Hi hi hil" Tu Siao Cui tertawa girang sehingga sepasang matanya mengucur, air mata.
"Aku sudah muda kembali, aku sudah muda kembalil Aku akan segera meninggalkan goa inil Hi hi hi..!' --ooo0w0ooo-- Sementara itu, di dalam goa es di Gunung Thian San, Tio Bun Yang telah berhasil mengusai ilmu Kan Kun Taylo Im Kang.
Buktinya mutiara inti es yang digenggamnya itu telah lenyap.
"Aku telah berhasil!" sorak Tio Bun Yang dengan wajah berseri.
"Aku akan meninggalkan goa es ini?" Tio Bun Yang melesat ke luar, kemudian mengerahkan ginkangnya meluncur ke atas.
Dalam waktu sekejap, ia sudah mencapai pinggir jurang, lalu melesat ke arah goa hangat tempat tinggal monyet bulu putih.
"Kauw heng...." Tio Bun Yang berlutut di hadapan makam monyet bulu putih.
"Hari ini aku akan meninggalkan Gunung Thian San.
Kalau ada sempat kelak, aku pasti ke mari lagi." Tio Bun Yang terisak-isak dengan air mata berderai-derai.
Sejak ia lahir, monyet bulu putih itu sudah menemaninya.
Namun kini monyet bulu pulih itu telah tiada, betapa sedihnya hati Tio Bun Yang.
"Kauw heng, aku bersumpah lagi, semua keturunanku dilarang membunuh monyet jenis apa pun!
Kauw heng, aku pergi__" Tio Bun Yang bangkit berdiri, lalu melesat pergi meninggalkan goa tersebut, tujuannya ke markas pusat Kay Pang.
Beberapa hari kemudian, ia melewati sebuah lembah di Gunung Hong San.
Mendadak ia mendengar suara pekikan yang amat seram, menyerupai suara pekikan setan iblis.
Tio Bun Yang bukan penakut, namun suara pekikan itu membuatnya merinding juga.
Karena merasa heran, maka ia melesat ke arah suara itu Tak seberapa lama, ia sudah sampai di hadapan sebuah goa.
Ternyata suara pekikan itu berasal dari dalam goa tersebut.
Suara pekikan itu makin terdengar jelas, kemudian berubah memilukan.
Tio Bun Yang mengerutkan kening, la yakin itu adalah suara pekikan manusia.
Oleh karena itu, ia memberanikan diri melesat memasuki goa "Ha ha ha!
Ha ha ha !" Suara pekikan itu mendadak berubah menjadi suara tawa, kemudian terdengar suara seruan parau.