Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 89

Memuat...

"Aku adalah Tio Cie Hiong, kawan baik ayah dan ibumu." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Paman Tio, maafkan aku karena tidak bisa memberi hormat" "Tidak apa-apa." Tio Cie Hiong tersenyum, "Engkau masih belum bisa bergerak, beberapa hari kemudian barulah engkau bisa bergerak." "Terimakasih Paman Tio telah menyelamatkan nyawakul" ucap Kam Hay Thian.

"Terima kasih!" "Seharusnya engkau berterimakasih kepada mereka bertiga." Tio Cie Hiong menunjuk Lu Hui Sam, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Kalau mereka terlambat membawamu ke mari, nyawamu pasti sulit diselamatkan." Kam Hay Thian memandang ketiga gadis itu bergantian, kemudian ucapnya terharu.

"Terimakasih atas pertolongan kalian bertiga aku...." "Hi hi hil" Lie ai ling tertawa geli.

"Tidakusah mengucapkan terimakasih kepada kami ingat kita semua adalah teman baik" "Ya, ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Kita semua memang teman baik.

Terimakasih" Siang Koan Goat Nio melirik Lu Hui san gadis itu tersenyum malu-malu sambil menundukkan kepala.

Itu tidak terlepas dari mata Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im, mereka berdua tersenyum.

"Hay Tiran," tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya dalam-dalam.

"Engkau punya hubungan dengan Bu Lim Sam Mo?" "Bu Lim Sam Mo?" Kam Hay Thian tampak tertegun.

"Aku tidak kenal Bu Lim Sam Mo Paman." "Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan keniing "Kalau begitu, engkau belajar Pak Kek Sin Kang dari mana?" "Ketika aku berusia sebelas tahun, ibuku memberitahukan kepadaku tentang Paman.

Katanya kalau aku ingin menuntut balas kepada pembunuh ayahku, maka aku harus berguru kepada Paman Karena itu, aku meninggalkan rumah dengan tujuan mencari Paman.

Aku sampai di kota Leng An, lalu belajar ilmu silat kepada guru silat Lie..." tutur Kam Hay Thian dan menambahkan, "Namun ketika aku kembali ke kota Leng An, guru silat Lie dan putrinya yang baik hati itu telah mati dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe." "Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut seusai mendengar penuturan Kam Hay Thian.

"Sungguh di luar dugaan, ternyata engkau memperoleh kitab-kitab pusaka itu di dalam goa bekas markas Bu Tek Pay!

Pantas engkau memiliki Pak Kek Sin Kangl Hanya saja belum begitu tinggi lweekangmu." "Paman, aku mohon diberi petunjuk!" ujar Kam Hay Thian.

"Aku harus membalaskan dendam ayahku kepada Seng Hwee Sin Kun." "Kami pun harus menuntut balas padanya." sela Toan Beng Kiai dan Lam Kiong Soat Lan serentak.

"Kalian____" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Balas membalas, kapan akan berakhir itu!" "Paman, aku mohon...." "Hay Thian, aku pasti memberi petunjuk kepadamu, namun harus menunggu engkau pulih dulu." ujar Tio Cie Hiong.

"Terirnakasih, Paman!" ucap Kam Hay Thian.

"Oh ya.

Paman, kira-kira kapan aku akan pulih?" "Mungkin membutuhkan waktu enam atau tujuh bulan." Tio Cie Hiong memberitahukan "Setelah engkau pulih, barulah aku membimbing mu." "Kenapa harus begitu lama aku baru pulih?" Kam Hay Thian menghela nafas.

"Itu...." "Engkau harus sabar, lagi pula Seng Hwee Sin Kun pun telah terluka," ujar Tio Cie Hiong "Dia harus mengobati lukanya, yang tentunya juga membutuhkan waktu." "Oohl" Kam Hay Thian manggut-manggut "Paman, siapa yang mampu melukai Seng Hwee Sin Kun?" "Kauw heng," jawab Tio Cie Hiong samb menghela nafas.

"Namun monyet bulu putih itupun terluka parah." "Paman, siapa pemilik monyet bulu putih itu!" Kam Hay Thian heran.

"Aku." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Tapi kauw heng itu ikut Bun Yang pergi mengembara" "Jadi Bun Yang adalah putra Paman?" "Ya." Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang lagi.

"Dia membawa Kauw heng ke Gunung Thian San, mungkin kauw heng tidak bisa hidup lama lagi." "Paman, kenapa Bun Yang membawa monyet bulu pulih itu ke Gunung Thian San?" tanya Kam Hay Thian heran.

"Itu atas kemauan Kauw heng.

Sebab tempat tinggal Kauw heng berada di Gunung Thian San sahut Tio Cie Hiong sambil menggeleng gelengkan kepala.

"Kemauan kauw heng begitu, pertanda-.." "Paman?" tanya Lie Ai Ling dengan air mata becucuran "Betulkah kauw heng tidak bisa hidup lagi?" "Yaaahl" Tio Cie Hiong menarik nafas.

"Kira-kira begitulah.'' "Aaaahl Kauw heng...." Lie Ai Ling terisak-isak.

"Dia berkorban demi menyelamatkan Kakak Bun Yang.

Kita semua berhutang budi kepada monyet bulu putih itu!" "Benar." Siang Koan Goat Nio manggut manggut dan matanya pun tampak basah.

"Kita semua berhutang budi kepada kauw heng." "Memang tidak salah," ujar Tio Cie Hiong.

"Kauw heng pun pernah menyelamatkan nyawaku, dan kini menyelamatkan nyawa Bun Yang.

Oleh karena itu, aku harap kalian semua jangan membunuh monyet jenis apa pun!" "Ya," sahut Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling serentak.

Sedangkan Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan manggutmanggut.

"Baiklah." Tio Cie Hiong tersenyum "Engkau beristirahatlah kami mau ke ruang depan!" "Paman, aku...

aku tetap di sini menemani Hay Thian." ujar Lu Hui San dengan kepala tertunduk.

"Itu...." Tio Cie Hiong memandang Lim Ceng Im.

"Bagaimana menurutmu?" "Tentu boleh," sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum, lalu memandang Lu Hui San seraya berkata, "Engkau boleh tetap di sini menemani Hay Thian!" "Terimakasih, Bibil" ucap Lu Hui San dengan wajah agak kemerah-merahan.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im saling memandang, kemudian mereka meninggalkan kamar itu menuju ruang depan, diikuti Siang Koan Goa Nio, Lie Ai Ling, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan dari belakang.

"Cie Hiong, pemuda itu sudah sadar?" tanya Sam Gan Sin Kay ketika melihat kemuncullannya "Dia sudah sadar," sahut Tio Cie Hiong sambi duduk dan memberitahukan.

"Ternyata dia memperoleh kitab kitab pusaka itu di dalam goa bekas markas Bu Tek Pay." "Oooh!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggul "Sungguh beruntung pemuda itu!" "Hanya saja?" Tio Cie Hiong menggeleng gelengkan kepala.

"Aku membutuhkan waktu sekitar enam atau tujuh bulan untuk mengobatinya barulah dia bisa pulih.

Setelah itu, aku pun hari memberinya petunjuk mengenai ilmu silatnya.

Karena dia belajar Pak Kek Sin Kang tanpa guru maka belum mencapai tingkat tertinggi." "Ngmm!" Sam Gan Sin Kay manggut-manggu "Memang ada baiknya engkau rnembimbingnya sebab dia sangat sadis terhadap penjahat." "Ya" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Sadis terhadap penjahat tidak ada salahnya," sela Kou Hun Bijin.

"Karena dia adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat).

Kalau dia tidak sadis terhadap penjahat, itu berarti dia bukan Chu Ok Hiap." "Kakak____" Tio Cie Hiong menggeleng gelengakan kepala.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring, 'Engkau berhati bajik, namun orang lain belum tentu akan berhati bajik lho!" "Karena itu, aku harus membimbingnya agar berhati bajik," sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

Di saat bersamaan, tampak Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa berjalan ke dalam dengan wajah berseri-seri.

"Eeeh?" Kou Hun Bijin memaudang mereka dengan mata terbelalak- "Kenapa wajah kalian berseri-seri" Apa yang membuat kalian begitu gembira?" "Bijin!" Terdengar suara sahutan.

"Kami yang membuat mereka gembira." Muncul beberapa orang, yaitu Toan Wie Kie, Gouw Sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Put Lian.

"Kalian...?" Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im membelalak, kemudian mereka segera bangkit berdiri menyambut kedatangan Toan Wie Kie dan lainnya.

"Ayah, Ibu!" seru Lam Kiong Soat Lan, yang langsung berlari menghampiri Toan Put Lian.

la mendekap di dadanya.

"Soat Lan?" Toan Pit Lian membelairnya dengan penuh kasih sayang.

Sementara Toan Beng Kiat juga menghampiri kedua orang tuanya.

Toan Wie Kie memandang nya sambil manggutmanggut.

"Nak..." panggilnya lembut.

"Ayah, Ibu!" Panggil Toan Beng Kiat sambil tersenyum.

"Nak____" Gou Sian Eng membelainya.

"Aku rindu sekali kepadamu." "Acara mencurahkan kerinduan telah usai "ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.

"Ha ha Sekarang kalian duduklah!" Toan Beng Kiat, Gouw Sian Eng, Lam Kio Bie Liong dan Toan Pit Lian segera menghormat kepada mereka lalu duduk.

"Dari mana kalian tahu Beng Kiat dan Sot Lan berada di sini?" tanya Tio Cie Hiong heran "Kami ke markas pusat Kay Pang dulu, Pang Lim dan Paman Gouw yang memberitahu kami bahwa Beng Kiat dan Soal Lan berada di Pulau Hong Hoang To, maka kami ke mari "jawab Toan Wie Kie dan menambahkan.

"Mereka pun menceritakan tentang kejadian ku." "Ooohl" Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya bertanya.

"Bagaimana kalian bisa kenal Ngo Tok kauwcu?" "Kakak Bun Yang yang kenal dia.

Namun karena buru-buru menolong Kam Hay Thian, maka Kakak Bun Yang tidak sempat memperkenalkan kami," jawab Lie Ai Ling menjelaskan.

'Kakak Bun Yang minta bantuan Ngo Tok Kauw m untuk ke markas pusat Kay Pang menemui kakek Lim." "Heran?" gumam Tio Cie Hiong.

"Bagaimana Bun Yang bisa kenal Ngo Tok Kauwcu yang tergolong, sesat itu?" "Kakak Cie Hiong," ujar Lim Ceng Im sambil tersenyurn.

"Walau sesat, tapi Ngo Tok Kauwcu itu tidak jahat!" "Oh yal" Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Paman Lim juga menceritakan bahwa Bun Yang yang mengobati wajah Ngo Tok Kauwcu." "Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Adik," ujar Kou Hun Bijin sungguh-sungguh, "tidak usah mencemaskan Bun Yang!

Bukankah kakak juga tergolong wanita sesat" Nah, buktinya kakak tidak jahat kok." "Betul, Paman," sambung Siang Koan Goat Nio.

"Kelihatannya Kakak Phang adalah gadis yang baik, bahkan punya dendam pula terhadap Seng Hwee Sin Kun." "Oh" Dia punya dendam apa terhadap Seng Hwee Sin Kun?" tanya Tio Cie Hiong.

"Hay Thian tahu tentang itu," jawab Sia Koan Goat Hio.

"Lebih baik Paman bertanya kepadanya, agar akan lebih jelas." "Ngmm" Tio Cie Hiong manggut-manggut "Kini kita sudah tahu siapa pembunuh kakekku dan Lam Kiong hujin, maka kita harus pergi membunuhnya," ujar Gouw Sian Eng sungguh-sungguh.

"Seng Hwee Sin Kun telah terluka, jadi tidak perlu pergi membunuhnya," sahut Tio Hiong.

"Ini justru merupakan kesempatan baik buat kita untuk menyerbu ke markas Seng Hwee Kauw "sela Lam Kiong Bie Liong.

"Janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan ini, mari kita segera menyerbu ke sana membunuh Seng Hwee Kunl" "Kita bukan pengecut," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Tentunya kita tidak akan bertindak begitu.

Ya, kan?" "Ini...." Wajah Lam Kiong Bie Liong tampaki kemerahmerahan.

Pada waktu bersamaan, muncul Lu Hui San sambil memapah Kam Hay Thian.

Seketika , Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Hui San, kenapa engkau papah dia ke mari?" tanya Tio Cie Hiong bernada teguran.

"Maaf, Paman!" jawab Lu Hui San dengan kepala tertunduk.

Post a Comment