"Bun Yang membawa Kauw heng ke gunung Thian San." "Kenapa Bun Yang membawa kauw beng ke sana?" Lim Ceng Im mengerutkan kening.
"Seharusnya Bun Yang membawa kauw heng ke mari." "Itu atas kemauan kauw heng.
Kelihatannya____" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Kauw heng tidak bisa hidup lama lagi" "Benar," sambung Lie Ai Ling dengan mata basah.
"Kauw heng tidak bisa hidup lama, karena dadanya telah hangus." "Aaakh...!" keluh Tio Cie Hiong dengan mati bersimbah air.
"Engkau menyelamatkan Bun Yang namun harus mengorbankan dirimu Kauw heng kami berhutang budi kepadamu!" "Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng.
"Itu memang sudah merupakan takdir.
Kalau tiada monyet bulu pulih itu, aku yakin Bun Yang pasti celaka di tangan Seng Hwee Sin Kun." "Goat Nio, benarkah Seng Hwee Sin Kun berkepandaian tinggi sekali?" tanya Kou Hui Bijin.
"Benar." Siang Koan Goat Nio menganggut "Kepandaian Bun Yang masih di bawah kepandaiannya." "Tapi dia pun terluka oleh tangkisan kauw heng." Lie Ai Ling memberitahukan.
"Kalau tidak, dia pasti mengejar kami." "Dia juga terluka parah?" tanya Sam Gan Sin Kay.
"Entahlah." Lie Ai Ling menggelengkan kepala.
"Kami tidak mengetahuinya, sebab kami langsung kabur ketika kauw heng menangkis pukulannya." "Seng Hwee Sin Kun dapat melukai kauw heng, pertanda kepandaiannya tinggi sekali.
Namun aku pun yakin dia terluka oleh tangkisan kauw heng, hanya tidak separah kauw heng," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan.
"Kepandaiannya masih di atas Bu Lim Sam Mo." "Sungguh tak disangka sama sekali____" Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.
"Seng Hwee Sin Kun berkepandaian begitu tinggi...." "Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng memberi-tahukan "Seng Hwee Sin Kang berasal dan Persia, ilmu itu telah muncul.
Mungkin tidak lama lagi semacam ilmu lain berasal dari Persia juga akan muncul di rimba persilatan." "Ilmu apa itu?" tanya Kou Hun Bijin.
"Hian Goan Sin Kang (Tenaga Sakti Melumpuhkan Lawan)," jawab Tayli Lo Ceng dan menambahkan, "Ada beberapa macam ilmu berasal dari Persia, yaitu Kan Kun Taylo Sin Kang, Seng Hwee Sin Kang dan Hian Goan Sin Kang Tio Cie Hiong memiliki Kan Kun Taylo Sin Kang, Seng Hwee Sin Kun memiliki Seng Hwee Sin Kang.
Namun Hian Goan Sin Kang-..." "Siapa yang memiliki ilmu Itu?" tanya Kira Siauw Suscng.
"Omitohud...." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Seharusnya yang memiliki ilmu itu adalah adik seperguruanku." "Apa?" Kou Hun Bijin tertegun.
"Kepala gundul, engkau punya adik seperguruan?" "Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Siapa adik seperguruanmu itu?" tanya Ku Hun Bijin heran.
"Kenapa engkau tidak pernah menceritakannya?" "Omitohud____" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Percuma aku menceritakannya." "Kenapa?" Kou Hun Bijin heran.
"Karena...." Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang lagi.
"Sudah delapan puluh tahun aku tidak bertemu dia, entah menghilang ke mana adik seperguruanku?" "Kalau begitu...." Sam Gan Sin Kay memandangnya.
"Delapan puluh tahun lalu, Lo Ceng masih bertemu dia, kan?" "Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Pada watu itu dia berusia empat puluh lebih, gagah tampan dan berkepandaian tinggi sekali.
Dia menggandeng seorang anak gadis berusia sekitar lima 11 tahun.
Aku tersentak ketika menyaksikan anak gadis itu." "Lho" Kenapa?" tanya Sam Gan Sin Kay heran.
"Sebab wajah anak gadis itu penuh diliputi dendam, bahkan juga mengandung hawa membunuh yang sangat berat." Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Karena itu, aku bertanya kepada adik seperguruanku, siapa anak gadis tersebut.
Katanya anak gadis itu bernama Tu Siao Cui, calon muridnya." "Kepala gundul, engkau tidak bertanya asal-usul anak gadis itu?" tanya Kou Hun Bijin.
"Aku bertanya, namun adik seperguruanku itu tidak mau menjawab.
Maka aku tidak bertanya lagi, hanya berpesan kepadanya harus berhati-hati terhadap anak gadis itu," jawab Tayli Lo Ceng dan melanjutkan.
"Justru ada satu hal yang sungguh di luar dugaanku, ternyata tanpa sengaja adik seperguruanku itu memperoleh sebuah kitab." "Kitab apa?" tanya Tio Tay Seng tertarik.
"Hian Goan Cin Keng (Kitab Pusaka Ilmu Silat)" jawab Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Aku tak menyangka, dia yang memperoleh Kitab pusaka tersebut." "Kepala gundul, sebetulnya siapa adik seperguruanmu itu?" tanya Kou Hun Bijin mendadak.
"Tan Liang Tie, julukannya adalah Thian Gwa Sin Hiap (Pendekar Sakti Luar Langit)," jawab Tayli Lo Ceng dan menambahkan, "Adik seperguruanku itu dan Thian Gwa Sin Mo (Iblis Sakti Luar Langit) adalah kawan baik." "Oh?" Kou Hun Bijin tertegun.
"Thian Gwa Sin Hiap adalah adik seperguruanmu" Itu...
sungguh di luar dugaanl" "Benar." Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Aku memang pernah bertemu dia bersama Thian Gwa Sin Mo, tapi setelah itu tidak pernah bertemu dia lagi," ujar Kou Hun Bijin.
"Mungkinkah dia telah...
mati?" "Mungkin." Tayli Lo Ceng manggui-manggut sambil menghela nafas panjang.
'Kalau tidak bagaimana mungkin aku tidak bertemu dia hampir delapan puluh tahun?" "Lo Ceng," tanya Sam Gan Sin Kay.
"Muridnya itu juga tiada kabar beritanya sama sekali ?" "Tidak ada." Tayli Lo Ceng menggelengku kepala.
"Itu sungguh membingungkan!" "Mungkinkah adik seperguruanmu dan muridnya itu telah mati?" tanya Kou Hun Bijin.
"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng.
"Aku tidak berani memastikan itu, tapi...
mungkin mereka telah mati." "Kalau begitu, ilmu Hian Goan Sin Kang pasti tidak akan muncul di rimba persilatan." ujar Ki Siauw Suseng.
"Itu yang diharapkan," sahut Tayli Lo Ceng "Kepala gundul," tanya Kou Hun Bijin.
"Bagaimana kehebatan ilmu Hian Goan Sin Kang itu?" "Berapa kehebatan ilmu itu, aku tidak mengetahuinya," jawab Tayli Lo Ceng jujur.
"Yang jelas, ilmu itu hebat bukan main." "Lo Ceng, bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu Kan Kun Taylo Sin Kang?" tanya Tio Cie Hiong.
"Kedua ilmu itu belum bertemu, maka sulit membandingkannya.
Namun..." sahut Tayli Lo Ceng sungguhsungguh.
"Siapa yang terserang Hian Goan Sin Kang, pasti akan menjadi lumpuh tak ber-kepandaian lagi." "Kalau begitu...." Tio Cie Hiong manggut-iiMnggut.
"Ilmu itu sangat hebat sekali!" "Benar," ujar Tayli Lo Ceng- "Apabila yang memiliki ilmu itu berhati jahat, pasti akan menimbulkan bencana dalam rimba persilatan."-" "Kepala gundul" Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Bagaimana mungkin ilmu itu akan muncul" Bukankah adik seperguruanmu itu sudah tiada kabar beritanya?" "Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng- "Mudah mudahan ilmu itu tidak muncul, jadi tidak akan menimbulkan suatu masalah lagi dalam rimba persilatan!" "Kalau pun muncul, itu tidak apa-apa," sahut Kui Hun Bijin.
"Sebab kini rimba persilatan memang sudah kacau." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Bijin, engkau memang suka akan kekacauan." "Omong kosongi" kilah Kou Hun Bijin.
"Siapa bilang aku suka akan kekacauan" Dasar kepala gundul" "Omitohud...." Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Bijin, engkau sama sekali tidak tahu akan satu hal." "Hal apa?" Kou Hun Bijin mengerutkan kening.
"Aku pernah ke tempat tinggalmu, yang di Kwan Gwa.
Siang Koay dan Ngo Kui sudah menjadi tulang belulang." Tayli Lo Ceng memberilahukan.
"Aku yang menguburkan tulang belulang itu." "Apa?" Betapa terkejutnya Kou Hun Bijin "Maksudmu mereka sudah mati semua?" "Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk.
"Siapa yang membunuh mereka?" tanya Kui Hun Bijin dengan mata berapi-api.
"Seng Hwee Sin Kun." "Dari mana engkau tahu Seng Hwee Sin Ku yang membunuh mereka?" "Sebab tulang mereka ada yang hangus, maka aku yakin mereka terkena pukulan Seng Hwee-Sin Ciang." "Kalau begitu," ujar Kou Hun Bijin sambii berkertak gigi.
"Aku harus pergi membunuh Seng Hwee Sin Kuni" "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
'Engkau harus sabar, jangan emosi!" "Aaaakh..." keluh Kou Hun Bijin.
"Ibu," ujar Siang Koan Goat Nio dengan mata bersimbah air.
"Paman-paman itu telah mati semua sungguh kasihan mereka," "Jangan berduka.
Nak!" hibur Kim Siauw Suseng "Kelak kita akan menuntut balas kepada Seng Hwee Sin Kun." "Heran" gumam Kou Hun Bijan.
"Kenapa Seng Hwee Sin Kun membunuh Siang Koay dan Nyo Kui?" "Aku yakin mereka punya dendam.
Kalau tidak, bagaimana mungkin Seng Hwee Sin Kun membunuh mereka?" sahut Tayli Lo Ceng.
"Kalau begitu," ujar Sam Gan Sin Kay dengan kening berkerut.
"Kenapa Seng Hwee Sin Kun membunuh Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin?" "Itu..." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu memang agak membingungkan.
Sudahlah, aku mau pergi!" "Kok begitu cepat, Guru?" ujar Toan Beng Kiat.
Lam Kiong Soat Lan dan Lie Man Chiu serentak.
"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng.
"Guru memang harus pergi, kalian baik-baiklah menjaga diri!" "Kepala gundul," tanya Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.
"Kapan kita akan bertemu lagi" "Omitohud Apabila aku belum-mati, kita semua pasti akan bertemu kembali kelak.
Selamat tinggal!" ucap Tayli Lo Ceng lalu melesat pergi.
Dalam waktu sekejab ia telah hilang dari pandangan semua orang.
--ooo0dw0ooo-- Perlahan-lahan Kam Hay Thian membuka matanya, namun masih tidak mampu menggerakkan badannya, karena tak bertenaga sama sekali "Hay Thian...." panggil Lu Hui San girang "Engkau...
engkau sudah sadari" "Aku...
aku berada di mana?" tanya Kam Hay Thian bingung.
"Apa yang telah terjadi?" "Engkau pingsan belasan hari, kami membawamu ke mari." Lu Hui San memberitahunya "Oh?" Kam Hay Thian menatapnya.
"Aku aku berada di mana sekarang" Siapa yang menyelamatkan nyawaku?" "Engkau berada di Pulau Hong Hoang tempat tinggal kami.
Kakak Bun Yang yang menolongmu di Lembah Kabut Hitam, dan kami yang membawamu ke mari.
Paman Cie Hiong yang menyelamatkan nyawamu." sahut Lie ai ling.
"Aku berada di Pulau Hong Hoang To" Paman Cie Hiong yang menyelamatkan nyawaku?" Kam Hay Thian tampak tertegun.
"Ya." Lu Hui San mengangguk.
Di saat bersamaan, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im melangkah ke dalam kamar itu.
Betapa girangnya mereka, ketika melihat Kam Hay Thian telah siuman.
"Syukurlah engkau sudah siumanl" ucap Tio Cie Hiong dengan wajah berseri-seri.
Tapi engkau masih tidak boleh bergerak, harus tetap berbaring di tempat tidur." "Maaf.
Paman!" Kam Hay Thian memandangnya.