Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 85

Memuat...

Tio Bun Yang memeluknya erat-erat sambil terisak-isak.

"Kauw heng," ujarnya dengan air mata bercucuran.

"Engkau telah menyelamatkan nyawaku, namun...." Monyet bulu putih bercuit lemah dalam pelukan Tio Bun Yang, dan nafasnya pun tampak lemah sekali.

"Baik.

Aku akan segera membawamu ke Gunung Thian San," ujar Tio Bun Yang sambil memandang Siang Koan Goat Nio.

"Kalian bertiga harus segera membawa Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To, mungkin ayahku dapat menolongnya." "Tapi engkau...." Siang Koan Goat Nio merasa berat berpisah dengan Tio Bun Yang.

"Aku harus segera membawa kauw heng ke Gunung Thian San, sebab dia...

dia sudah sekarat," Tio Bun Yang memberitahukan.

"Bagaimana kalau aku Ikut ke sana?" tanya Siang Koan Goat Nio penuh harap.

"Lebih baik engkau menyertai Adik Ai Ling dan Hui San ke Pulau Hong Hoang To, sebab lebih aman di sana," sahut Tio Bun Yang lalu berkata kepada Ngo Tok Kauwcu.

"Kakak Ling Cu, aku mohon bantuanmu!" "Katakanlah apa yang harus kubantu!" "Pergilah ke markas pusat Kay Pang menemui kakekku, beritahukan tentang kejadian ini!" "Baik." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Aku pasti segera ke sana." "Terirnakasih, Kakak Ling Cu!" ucap Tio Bun Yang, kemudian memandang Siang Koan Goat Nio seraya berkata.

"Setelah membawa kauw heng ke Gunung Thian San, aku pasti segera kembali ke Pulau Hong Hoang To." "Bun Yang...." Wajah Siang Koan Goat Nio tampak murung.

"Aku?" "Goat Nio," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh- "Kam Hay Thian sudah sekarat, cepatlah kalian hawa ke Pulau Hong Hoang Tol Jangan membuang waktu di sini, sebab kalau terlambat, dia tidak akan tertolong." "Biar aku berangkat duluan." ujar Lu Hui San yang langsung menggendong Kam Hay Thian lalu melesat pergi.

"Goat Nio, Adik Ai Ling, cepat ikut dial" seru Tio Bun Yang.

"Baik." Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling mengangguk, kemudian keduanya segera melesat pergi menyusul Lu Hui San.

"Maaf, Kakak Ling Cul" ucap Tio Bun Yang.

"Aku pun harus segera pergi." "Baik," sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Aku pasti ke markas pusat Kay Pang menemui kakekmu memberitahukan tentang kejadian ini." "Terirnakasih, Kakak Ling Cul Sampai jumpa!" ucap Tio Bun Yang kemudian melesat pergi dengan menggendong monyet bulu putih yang terluka parah -ooo0dw0oo- Phang Ling Cu Ngo Tok Kauwcu telah tiba di markas pusat Kay Pang.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangannya dengan penuh keheranan sebab mereka sama sekali tidak kenal wanita itu.

"Maaf!

Bolehkah kami tahu siapa Nona?" tanya Lim Peng Hang.

"Namaku phang Ling Cu," sahut Ngo Tok Kauwcu sambi!

memberi hormat.

"Aku adalah Ngo Tok Kauwcu, sengaja ke mari untuk menemui Lim Pangcu." "Ngo Tok Kauwcu?" Lim Peng Hang tersentak, sebab selama ini Kay Pang tidak punya hubungan dengan Ngo Tok Kauwcu, lagi pula Ngo Tok Kauwcu tergolong perkumpulan sesat.

"Ya." Ngo Tbk Kauwcu mengangguk sambil tersenyum.

"Adik Bun Yang yang menyuruhku ke mari." "Oh?" Lim Peng Hang terkejut.

'Di mana cucuku" Kenapa dia menyuruh Anda ke mari?" "Adik Bun Yang sudah berangkai ke Gunung Thian San." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Monyet bulu putih terluka parah." "Apa"!" Bukan main terperanjatnya Lim Peng liang.

"Bagaimana kauw heng bisa terluka parah" Apa yang telah terjadi" Cepat tuturkan!" "Lim Pangcu!" Ngo Tok Kauwcu tertawa kecil.

"Apakah aku harus menutur dengan cara berdiri?" "Maaf, maaf]" ucap Lim Peng Hang- "Silakan duduk!" "Terirnakasih!" Ngo Tok Kauwcu duduk.

"Ngo Tok Kauwcu," desak Lim Peng Hang.

"Tuturkanlah apa yang telah terjadi, bagaimana kauw beng bisa terluka parah?" "Adik Bun Yang bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun.

Monyet bulu putih menolongnya sehingga terkena pukulan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Ngo Tok Kauwcu," ujar Gouw Han Tiong.

"Harap tuturkan lebih jelas!" "Baik, aku akan menutur dari awal." Ngo Tok kauwcu menutur tentang pertemuannya dengan !io Bun Yang dan lain sebagainya.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendngarkan dengan penuh perhatian, kemudian Gouw Han Tiong menghela nafas seraya berkata.

"Kalau begitu, kita punya musuh yang sama." "Oh?" Ngo Tok Kauwcu tertegun.

"Maksud Gouw Tianglo?" "Seng Hwee Sin Kun juga membunuh ayahku, bahkan membunuh para anggota kami." Lim Peng Hang memberitahukan.

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Kepaudaian Seng Hwee Sin Kun memang tinggi sekali.

Kelihaiannya Adik Bun Yang juga masih bukan tandingannya." "Cucuku cuma mengalami luka ringan?" tanya Lim Peng Hang tampak cemas.

"Adik Bun Yang cuma terbakar ringan.

Yang terluka berat adalah Kam Hay Thian dan monyet bulu putih " "Goat Nio, Ai Ling dan Lu Hui San membawa Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To?" tanya Gouw Han Tiong.

"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Monyet bulu putih menyuruh Adik Bun Yang membawanya ke Gunung Thian San.

Kelihatannya monyet bulu putih sudah sekarat." "Aaaakh!" keluh Lim Peng Hang.

"Kauw heng.?" "Ngo Tok Kauwcu," tanya Gouw Han Tiong.

"Seng Hwee Sin Kun sama sekali tidak terluka oleh tangkisan monyet bulu putih?" "Dia juga terluka dalam.

Kalau tidak, mungkin kami semua tidak akan bisa meloloskan diri," jawab Ngo Tok Kauwcu.

"Tapi...." Gouw Han Tiong mengerutkan ke ning.

"Bukankah Seng Hwee Sin Kun punya bawahan yang berkepandaian tinggi" Kenapa mereka tidak mengejar kalian?" "Mereka bukan tandingan Adik Bun Yang, maka mereka tidak berani mengejar kami," ujar Ngo Tok Kauwcu dan menambahkan, "Lagi pula Pat Pie Lo Koay adalah saudara angkat ayahku." "Apa?" Gouw Han Tiong tercengang.

"Pat Pie Lo Koay saudara angkat ayahmu?" "Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Namun Seng Hwee Sin Kun tidak mengetahuinya, maka tidak bercuriga sama sekali." "Oh yaf" Gouw Han Tiong teringat sesuatu.

"Toan Beng Kiat pernah memberitahukan kepadaku, ketika dia bertarung dengan Pat Pie Lo Koay, kelihatannya Pat Pie Lo Koay tidak bersungguh-sungguh menyerangnya.

Tahukah engkau apa sebabnya?" "Toan Beng Kiat?" Ngo Tok Kauwcu kebingungan.

"Dia adalah anak Gouw Sian Eng putriku, ayahnya adalah Toan Wie Kie." Gouw Han Tiong memberitahukan.

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Itu disebabkan Tui Hun Lojin." "Apa?" Gouw Han Tiong terbelalak.

"Kenapa disebabkan almarhum ayahku?" "Sebab Tui Hun Lojin pernah menyelamatkan nyawa Pai Pie Lo Koay," ujar Ngo Tok Kauwcu menjelaskan.

"Maka ketika bertarung dengan Toan Beng Kiat, Pat Pie Lo Koay tidak menyerangmu dengan sungguh-sungguh." "Oooh!" Gouw Han Tiong manggut-manggut "Kalau begitu, engkau yang mengutus Pat Pie Ia Koay memata-matai Seng Hwee Sin Kun?" "Itu cuma kebetulan saja.

Karena Seng H Sin Kun yang menguudangnya untuk bergabung jadi kumanfaatkan kesempatan untuk memata-matai gerak-gerik Seng Hwee Sin Kun melalu Pat Pie Lo Koay," ujar Ngo Tok Kauwcu dai menambahkan sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku justru tak menyangka, Seng Hwee Si Kun berkepandaian begitu tinggi." "Benar" Lim Peng Hang manggut-manggut "Dia mampu melukai kauw heng, pertanda 'kepandaiannya memang tinggi sekali.

Mungkin cuma Tio Cie Hiong yang mampu melawannya." "Itu pun belum tentu," sahut Gouw Han Tion, sambil mengerutkan kening.

"Sebab kepandaian Bun Yang sudah begitu tinggi, tapi masih terluka." "Aku yakin itu karena Bun Yang kurang berpengalaman, maka Seng Hwee Sin Kun dapat melukainya," ujar Lim Peng Hang.

"Belum tentu karena itu," sela Ngo Tok Kaucu.

"Aku menyaksikan pertarungan itu, kepadaian Adik Bun Yang memang masih di bawah tingkat kepandaian Seng Hwee Sin Kun." "Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kenin "Kalau begitu, mungkinkah Seng Hwee Sin Kun mampu mengalahkan Tio Cie Hiong?" "Menurut aku, tidak gampang bagi Seng Hwee Sin Kun mengalahkan Tio Cie Hiong," sahut Gouw Han Tiong, kemudian menghela nafas panjang.

"Kita entah harus bagaimana, perlukah kita berangkat ke Pulau Hong Huang To?" "Tidak perlu." Lim Peng Hang menggelengkan kepala.

Tapi kita harus tahu bagaimana gerak-gerik Seng Hwee Kauw.

Mungkinkah mereka akan menyerang ke mari?" "Itu tidak mungkin," ujar Ngo Tok Kauwcu.

"Sebab Seng Hwee Sin Kun telah terluka, lagi pula Pat Pie Lo Koay pasti akan mencegah penyerangan ke mari." "Benar." Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Maafl" Ngo Tok Kauwcu bangkit dari tempat duduknya lalu berpamit, "Aku mau mohon diri!" "Baiklah." Lim Peng Hang mengangguk sambil herdiri.

"Terimakasih atas kedatanganmu untuk menyampaikan tentang kejadian itu!" "Adik Bun Yang menyembuhkan wajahku, maka aku pun harus membantunya," ujar Ngo Tok Kauwcu sungguhsungguh.

"Maka Lim Pangcu tidak usah berterimakasih kepadaku." "Ngo Tok Kauwcu!" Lim Peng Hang tertawa.

'Aku harap engkau jangan memanggilku Lim Pangcu, lebih baik panggil saja aku paman!" "Baik, Paman!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

Tapi Paman pun jangan memanggilku Ngo Tok Kauwcu, cukup panggil namaku saja!" "Baiklah." Lim Peng Hang tertawa.

"Oh ya, engkau mau ke mana?" "Aku harus segera kembali ke markas, karena aku masih harus menghimpun kekuatan Ngo Tok Kauw, agar kelak mampu melawan Seng Hwee Kauw," ujar Ngo Tok Kauwcu.

"Paman, sampai jumpa!" "Selamat jalan, Ling Cu!" sahut Lim Peng Hang dan bersama Gouw Han Tiong mengantarnya sampai di luar.

Setelah Ngo Tok Kauwcu melesai pergi, barulah mereka berdua kembali masuk.

"Entah bagaimana keadaan kauw heng?" gumam Lim Peng liang dengan wajah muram "Mudah-mudahan monyet bulu putih itu tidak apa-apa" Bagaimana keadaan luka Seng Hwee Sin Kun " Apakah separah luka monyet bulu putih" Luka ketua Seng Hwee Kauw itu memang parah.

Ketika sampai di markas, ia pun berkata kepada Leng Bin Hoatsu.

"Tangkisan monyet bulu putih itu membuat aku terluka dalam, maka aku harus beristirahat setahun agar bisa pulih.

Karena itu, mulai saat ini engkau harus menangani semua urusan Seng Hwee Kauw." "Ya, Kauwcu." Leng Bin Hoatsu mengangguk.

'Dalam waktu setahun, janganlah kalian mengganggu aku" pesan Seng Hwee Sin Kun sungguh-sungguh.

"Sebab aku harus memperdalam Seng Hwee Sin Kang.

Tentunya kalian masih ingat, aku masih menyimpan Seng Hwee Tan (Pil Api Suci).

Nah, kini sudah waktunya aku makan sisa pil itu." "Oooh!" Leng Bin Hoatsu manggut-manggut.

Post a Comment