Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 111

Memuat...

Pek Bin Kui merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan suatu benda ber- bentuk bulat, lalu dilemparkannya ke arah gadis itu.

Daaar!

Benda itu meledak dan mengeluarkan asap.

"Haaah...?" Siang Koan Goat Nio terperanjat.

Ia tahu asap itu mengandung racun, tapi sudah tidak sempat menutup pernafasannya, akhirnya ia terkulai pingsan.

"Ha ha ha!" Pek Bin Kui tertawa.

"Kita berhasil, Kauwcu pasti gembira sekali!" "Mari kita bawa dia pulang!" sahut Leng Bin Hoatsu.

"Jangan membuang waktu di sini!" "Baik." Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian membopong Siang Koan Goat Nio.

"Ha ha ha!" Leng Bin Hoatsu tertawa gelak.

"Mari kita kembali ke markas!" -ooo0dw0oooTiraikasih Betapa gembiranya Seng Hwee Sin Kun karena Siang Koan Goat Nio sudah tertangkap.

Pat Pie Lo Koay menaruh gadis itu ke bawah.

Ternyata gadis itu masih dalam keadaan pingsan.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun terus tertawa terbahakbahak.

"Kini gadis itu berada di tangan kita, pihak Kay Pang pasti cemas sekali!" "Kauwcu," tanya Pat Pie Lo Koay.

"Kapan Kauwcu akan mengutus orang ke markas Kay Pang?" "Tidak perlu begitu cepat," sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Aku ingin membuat pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To dicekam rasa gelisah terutama kedua orang tua gadis itu!

Ha ha ha...!" "Kauwcu,"ujar Pek Bin Kui mengusulkan, "Bagaimana kita musnahkan kepandaiannya?" "Itu ..."Seng Hwee Sin Kun tampak ragu, "Tidak perlu,"sela Pat Pie Lo Koay cepat.

"Kalau kita memusnahkan kepandaian gadis itu, sama juga mempermalukan Seng Hwee kauw, bukan?" "Benar," Seng Hwee kauwcu manggut-manggut.

"Kalau begitu,kurung saja dia dan biarkan dia sadar sendiri." "Ya" PatPie Lo Koay mengangguk,sekaligus membopong Siang Koan Goat Nio lalu dibawa ke dalam.

Berselang sesaat, Pat Pie Lo Koay sudah kembali ke ruang depan.

"Bagaimana?"tanya Seng Hwee Sin Kun.dis itu sudah dikurung?" "Sudah, Kauwcu" Pat Pie Lo Koay mengangguk.

"Baiklah" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.

"Sekarang kalian boleh beristirahat." "Terimakasih, Kauwcu!"ucap mereka sentak, kemudian pergi ke kamar masing-masing Begitu memasuki kamar, Pat Pie Lo Koay berjalan mondarmandir dengan kening berkerut-kerut, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu, berselang beberapa saat kemudian ia manggut-manggut epertinya sudah mengambil suatu keputusan.

Malam harinya, Pat Pie Lo Koay berjalan berendap-endap menuju halaman belakang, lalu melesat ke atas sebuah pohon.

Sungguh di luar dugaan, ternyata ada seekor burung merpati di atas pohon itu.

Pat Pie Lo Koay mengikat sesuatu di kaki burung merpati itu, kemudian menepuk kepala burung merpati tersebut seraya berkata "Cepatlah engkau terbang ke markas Ngo Tok Kauw, tapi harus berhati-hati!" Burung merpati itu manggut-manggut, lalu terbang meluncur ke angkasa.

Pat pie Lo Koay menghela nafas lega, dan segera kembali ke kamarnya.

-ooo0dw0ooo- Perlahan-lahan Siang Koan Goat Nio membuka matanya, ternyata gadis itu telah sadar dan tampak tercengang karena mendapatkan dirinya berada di dalam kamar batu.

"Eh" Aku berada dimana?" gumamnya sambil menengok ke sana ke mari.

"Apakah aku sudah ditangkap?" Siang Koan Goat Nio mencoba menghimpun lweekangnya, namun tidak berhasil karena sekujur badannya masih lemas.

"Haaah?" Gadis itu terkejut bukan main.

"Aku telah kehilangan hawa murni?" Mendadak pintu kamar batu itu terbuka, Pat Pie Lo Koay berjalan ke dalam.

Begitu melihat Pat Pie Lo Koay itu, Siang Koan Goat Nio menudingnya.

"Cepat lepaskan aku!

Cepaaat!" "Tenang, Nona!" sahut Pat Pie Lo Koay.

"Kauwcu kami ingin menemuimu, mari ikut aku ke ruang depan!" "Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Aku tidak sudi menemui Seng Hwee Sin Kun yang licik itu!" "Nona...." Pat Pie Lo Koay menatapnya dalam- dalam.

"Mari ikut aku agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan!" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening, lama sekali barulah mengangguk, lalu bersama Pat Pie Lo Koay menuju ruang depan.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Apa kabar, Nona Siang Koan" Tentunya engkau baik-baik saja, bukan?" "Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Silakan duduk, Nona Siang Koan!" ucap Seng Hwee Sin Kun.

Siang Koan Goat Nio duduk, Seng Hwee Sin Kun menatapnya tajam, kemudian tertawa seraya berkata.

"Ha ha ha!

Tahukah engkau kenapa kami menangkapmu?" "Tahu," sahut Siang Koan Goat Nio.

"Pertanda kalian semua pengecut!" "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Kalau kami pengecut, engkau pasti sudah jadi mayat!" "Oh?" Siang Koan Goat Nio tertawa dingin.

"Kalau begitu, cepatlah bunuh aku!" "Bunuh engkau?" Seng Hwee Sin Kun tertawa lagi.

"Kami tidak akan membunuhmu, hanya mengurungmu di sini saja." "Seng Hwee Sin Kun, lebih baik engkau segera melepaskan aku!" bentak Siang Koan Goat Nio.

"Kalau tidak...." "He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh.

"Engkau harus tahu apa sebabnya aku mengurungmu di sini!

Itu agar pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To ke mari, karena aku ingin membunuh mereka semua!" "Oh?" Siang Koan Goat Nio tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa dingin dan berkata.

"Seng Hwee Sin Kun, jangan menyombongkan diri!

Mungkin engkau yang akan mati di tangan Kakak Bun Yang!" "Maksudmu Giok Siauw Sin Hiap itu?" "Ya." "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.

"Kalau waktu itu monyet bulu putih tidak menangkis pukulanku, Giok Siauw Sin Hiap pasti sudah mati!" "Hm!" dengus Siang Koan Goat Nio, kemudian bertanya mendadak.

"Seng Hwee Sin Kun, kenapa engkau begitu dendam kepada kami?" "Karena aku memang punya dendam dengan pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To!" Seng Hwee Sin Kun memberitahukan.

"Terutama terhadap Kou Hun Bijin itu, karena gara- gara dia kakak seperguruanku mati di tangan Kwan Gwa Siang Koay dan Ngo Kui!" "Oh?" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.

Ia memang cerdik maka tidak membocorkan identitas dirinya.

"Pat Pie Lo Koay, bawa dia ke dalam kamar batu itu!" ujar Seng Hwee Sin Kun.

"Dan jangan lupa beri dia minum racun pelemas badan!" "Ya, Kauwcu." Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian membawa Siang Koan Goat Nio ke kamar batu.

Gadis itu menurut, karena tahu bahwa melawan pun percuma, bahkan akan membahayakan dirinya.

Namun ia tetap berharap Tio Bun Yang akan muncul menolongnya.

-oo0dw0ooo- Sementara itu, Tio Bun Yang telah sampai di markas pusat Kay Pang.

Akan tetapi, Siang Koan Goat Nio tidak berada di markas itu.

"Jadi...." Lim Peng Hang menatapnya.

"Engkau tidak bertemu Goat Nio di Gunung Thian San?" "Tidak." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Menurut Ngo Tok Kauwcu, Goat Nio tidak ke Gunung Thian San." "Kenapa Ngo Tok Kauwcu mengatakan begitu?" Lim Peng Hang heran.

"Sebab siapapun yang pergi ke Gunung Thian San, harus melalui Kota Kang Shi," jawab Tio Bun Yang memberitahukan.

"Tapi para anggota Ngo Tok Kauw sama sekali tidak melihat Goat Nio di kota itu.

Maka Ngo Tok Kauwcu berkesimpulan, bahwa Goat Nio tidak pergi ke Gunung Thian San." "Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Kalau begitu, pergi ke mana Goat Nio?" "Mungkinkah..." ujar Gouw Han Tiong dengan kening berkerut-kerut, "telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Goat Nio berkepandaian cukup tinggi, tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas dirinya," sahut Lim Peng Hang.

"Lalu kenapa tiada kabar beritanya?" Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan.

"Bun Yang, lebih baik engkau tunggu disini.

Engkau jangan ke manamana, jadi kalian tidak akan selisih jalan lagi!" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku merasa heran, sebetulnya dia pergi ke mana" Kenapa tiada jejaknya sama sekali?" "Begini," ujar Lim Peng Hang sungguh-sungguh.

"Kakek akan menyuruh beberapa orang menyelidiki jejak Goat Nio, engkau tinggal di sini saja," "Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk.

Wajahnya tampak cemas dan muram sekali.

"Seandainya Goat Nio terjadi sesuatu...." "Bun Yang!" Gouw Han liong tersenyum.

''Jangan memikirkan yang bukan-bukan!

Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa.

Percayalah!" "Mudah-mudahan!" ucap Tio Bun Yang.

Kemudian mendadak ia teiingat sesuatu.

"Oh ya, apakah Kakek pernah mendengar tentang Bu Ceng Sianli?" "Bu Ceng Sianli?" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakek tidak pernah mendengar tentang dia.

Mungkinkah dia adalah pendekar wanita yang baru muncul di rimba persilatan!

Engkau bertemu dia?" "Aku memang telah bertemu Bu Ceng Sianli tu." Tio Bun Yang memberitahukan sambil menghela nafas.

"Dia cantik jelita berusia dua puluhan, namun berhati kejam.

Dia membunuh orang seperti membunuh semut." "Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Dia membunuh siapa?" "Membunuh Hek Sim Popo...." Tio Bun Yang menutur tentang kejadian itu dan menambahkan.

"Bahkan dia pun ingin membunuh para anggota Seng Hwee Kauw, tapi aku mencegahnya." "Kenapa dia membunuh pihak Seng Hwee Kauw?" Gouw Han Tiong heran.

"Apakah dia punya dendam dengan pihak Seng Hwee Kauw?" "Sebetulnya dia tidak punya dendam apa pun dengan pihak Seng Hwee Kauw, hanya dikarenakan para anggota Seng Hwee Kauw menggodanya, maka dia membunuh mereka." "Engkau bentrok dengan Bu Ceng Sianli itu?" tanya Lim Peng Hang sambil menatapnya.

"tidak" Tio Bun Yang menghela nafas.

"Ketika aku mencegahnya membunuh para anggota Seng Hwee Kauw, dia tampak gusar tapi kemudian malah menuruti perkataanku." "Engkau tahu namanya dan bagaimana kepandaiannya?" tanya Gouw Han Tiong.

"Dia bernama Tu Siao Cui kepandaiannya tinggi sekali," jawab Tio Bun Yang memberitahukan.

"Hanya Belasan jurus dia telah berhasil membunuh Hek Sim Popo." "Oh?" Lim Peng Hang terperanjat.

"Kalau begitu, kepandaiannya memang tinggi sekali." "Bun Yang," tanya Gouw Han Tiong.

"Enakau tahu siapa gurunya?" "Tidak tahu." Tio Bun Yang menggeleng- gelengkan kepala.

"Aku justru bingung memikirkannya." "Kenapa bingung?" Lim Peng Hang menatapnya tajam.

"Kakek jangan salah paham!" ujar Tio Bun Yang dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Yang kupikirkan adalah identitasnya, sebab aku pernah bertemu Thian Gwa Sin Hiap di dalam goa, di Gunung Hong San...." Tio Bun Yang menutur tentang itu.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendengar dengan penuh peihatian.

Post a Comment