" "Baik." Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.
"Bertemu atau tidak dengan Goat Nio, aku harap engkau ke mari lagi!" "Itu sudah pasti." Tio Bun Yang mengangguk.
"Karena aku pulang dari Thian San harus melalui kota ini." "Kapan engkau akan berangkat ke Gunung Thian San?" "Sekarang." "Apa?" Ngo Tok Kauwcu terbelalak.
"Engkau mau berangkat sekarang" Tidak bermalam di sini?" "Aku harus cepat-cepat sampai di sana," sahut Tio Bun Yang sekaligus berpamit.
"Kakak, aku mohon diri!" "Adik Bun Yang," pesan Ngo Tok Kauwcu.
"Pulang dari Gunung Thian San, jangan lupa mampir!
Sebab aku pun akan menyuruh beberapa orang pergi menyelidiki tentang Goat Nio." "Terimakasih, Kak!
Sampai jumpa!" ucap Tio Bun Yang lalu berangkat ke Gunung Thian San dengan perasaan cemas.
-ooo0dw0oo- Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah sampai di Gunung Thian San.
Akan tetap walau ia sudah mencari ke sana ke mari di gunung itu, namun tetap tidak berhasil menemukan Siang Koan Goat Nio.
Akhirnya ia menuju goa tempat tinggal monyet bulu putih.
Begitu memasuki goa tersebut, ia langsung menjatuhkan d duduk di hadapan makam monyet bulu putih.
"Kauw heng...." Sepasang mata Tio Bun Yang bersimbah air.
"Aku datang di Gunung Thian San ini untuk mencari Goat Nio, namun dia tidak berada di gunung in Maka aku ke mari menengokmu, kauw heng...." Tio Bun Yang terisak-isak.
Berselang sesaat barulah ia baugkit berdiri dan berkata.
"Kauw heng, aku tidak bisa lama-lama di sini karena masih harus pergi mencari Goat Nio maafkan aku!" Tio Bun Yang terus menatap makam monyet bulu putih itu, lama sekali barulah meninggalkan goa tersebut.
la melakukan perjalanan dengan menggunakan ginkang.
Beberapa hari kemudian ia sudah sampai di kota Kang Shi, dan langsung menuju markas Ngo Tok Kauw.
"Adik Bun Yang...." Ngo Tok Kauwcu menatapnya.
"Duduklah!" Tio Bun Yang duduk sambil menghela nafas panjang, kemudian menggeleng- gelengkan kepala seraya berkata.
"Kakak, aku tidak bertemu Goat Nio." "Berarti dia tidak ke Gunung Thian San.
Aku pun belum memperoleh kabar beritanya." "Aaah...!" keluh Tio Bun Yang dengan wajah cemas.
"Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Menurut aku tidak," ujar Ngo Tok Kauwcu.
"Kemungkinan besar dia kembali ke markas pusat Kay Pang.
Maka alangkah baiknya engkau ke markas pusat Kay Pang saja.
Kalau aku memperoleh kabar beritanya, pasti ke sana memberitahukan kepadamu." "Baiklah." Tio Bun Yang mengangguk.
"Kalau begitu, aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang.
Sampai jumpa Kak!" -ooo0dw0oooTiraikasih Bagian ke empat puluh dua Siang Koan Goat Nio ditangkap Sementara itu di markas Seng Hwee Kauw, tampak Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Clu Ong duduK dengan wajah serius.
Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tawa terbahak-bahak, muncullah Seng Hwee Sin Kun dengan wajah berseri-seri.
"Ha ha ha!
Ha ha ha...!" "Selamat, Ketua!" ucap mereka berempat sambil bangkit berdiri, sekaligus memberi hormat kepada Seng Hwee Sin Kun.
"Terimakasih!
Terimakasih!
Ha ha ha...!" sahut Seng Hwee Sin Kun tertawa sambil duduk.
Leng Bin Hoatsu dan lainnya juga ikut duduk.
Seng Hwee Sin Kun menatap mereka dengan penuh perhatian.
"Tidak sampai setahun aku sudah pulih, bahkan Iweekangku juga bertambah tinggi setelah makan sisa pil Seng Hwee Tan itu.
Kini sudah saatnya Seng Hwee Kauw menguasai rimba persilatan." "Benar, Kauwcu," sahut Leng Bin Hoatsu.
"Kini Kauwcu telah pulih, berarti sudah saatnya Seng Hwee Kauw menguasai rimba persilatan." "Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut.
"Oh ya, bagaimana keadaan rimba persilatan selama aku berada di dalam ruang rahasia?" "Tidak terjadi apa-apa," sahut Pek Bin Kui.
"Tapi belum lama ini di rimba persilatan telah muncul Bu Ceng Sianli." "Bu Ceng Sianli?" Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.
"Siapa dia dan bagaimana kepandaiannya?" "Dia seorang gadis berusia dua puluhan, parasnya cantik sekali dan berkepandaian sangat tinggi." Pek Bin Kui memberitahukan.
"Siapa gurunya dan berasal dari mana serta perguruan mana, kami sama sekali tidak mengetahuinya." "Oh?" Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening lagi seraya bertanya.
"Apakah dia menentang perkumpulan kita?" "Dia memang sering membunuh para anggota kita, tapi juga pernah membunuh kaum persilatan dari golongan putih," jawab Pek Bin Kui.
"Kalian diam saja" Sama sekali tidak mengambil suatu tindakan terhadap Bu Ceng Sianli itu?" tanya Seng Hwee Sin Kun bernada gusar.
"Kauwcu!" Leng Bin Hoatsu memberitahukan.
"Aku telah mengutus Hek Sim Popo pergi memberesinya, tapi...." "Kenapa?" tanya Seng Hwee Sin Kun dengan kening berkerut-kerut.
"Telah terjadi sesuatu?" "Ya." Leng Bin Hoatsu mengangguk.
"Hek Sim Popo telah mati, belasan anggota kita pulang...." "Apa?" Air muka Seng Hwee Sin Kun berubah hebat.
"Hek Sim Popo dibunuh oleh Bu Ceng Sianli itu?" "Ya," sahut Pat Pie Lo Koay.
"Kalau waktu itu Giok Siauw Sin Hiap tidak berada di tempat, belasan anggota kita pun pasti dibunuh." "Giok Siauw Sin Hiap bersama Bu Ceng Sianli itu?" tanya Seng Hwee Sin Kun sambil mengepal tinju.
"Mereka berdua memang bersama, tapi mereka tiada hubungan satu sama lain." Pat Pie Lo Koay memberitahukan.
"Kauwcu, secara tidak langsung kita berhutang budi kepada Giok Siauw Sin Hiap." "Kita berhutang budi pada Giok Siauw Sin Hiap" Ha ha ha...!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak.
"Omong kosong!" "Itu memang benar..." ujar Pat Pie Lo Koay.
"Seng Hwee Kauw tidak berhutang budi kepada siapa pun," sahut Seng Hwee Sin Kun ketus.
"Oh ya, bagaimana Lu Thay Kam" Apakah dia pernah mengutus orangnya ke mari?" "Gak Cong Heng, wakil Lu Thay Kam memang pernah ke mari, namun tidak membicarakan apa pun pada kami, hanya sekedar mengobrol lalu pergi," jawab Leng Bin Hoatsu.
"Karena Kauwcu menutup diri di ruang rahasia, sejak itu pihak Lu Thay Kam tidak pernah ke mari lagi." "Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-mang- gut.
"Kini Seng Hwee Kauw harus mulai bertindak, maksudku harus membasmi Kay Pang dan partai-partai lainnya, agar Seng Hwee Kauw dapat menguasai rimba persilatan." "Maaf Kauwcu!" ujar Pat Pie Lo Koay.
"Menurut aku, lebih baik kita membereskan Bu Ceng Sianli dulu.
Setelah itu, barulah kita membasmi Kay Pang dan partai-partai besar lainnya".
"Kalian tahu Bu Ceng Sianli itu berada di mana?" tanya Seng Hwee Sin Kun.
"Kami tidak tahu," sahut Leng Bin Hoatsu sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu...." Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.
"Cara bagaimana kita memberesinya?" "Kauwcu!" Leng Bin Hoatsu memberitahukan.
"Sebetulnya Bu Ceng Sianli bersifat agak sesat.
Kalau kita bisa menariknya untuk bergabung, itu sungguh baik sekali." "Tapi bukankah dia sering membunuh para anggota kita?" "Benar." Leng Bin Hoatsu mengangguk.
"Namun itu dikarenakan para anggota kita yang mengganggunya duluan, maka dia membunuh mereka.
Bu Ceng Sianli pun pernah membunuh para pesilat dari golongan putih.
Apabila dia mau bergabung dengan kita, bukankah kita dapat memanfaatkannya untuk membunuh para pesilat golongan putih?" "Ide yang cemerlang!" ujar Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gelak.
"Kalau begitu, kalian harus berusaha mengundangnya ke mari.
Itu adalah tugas kalian, laksanakan dengan baik!" "Ya," sahut mereka serentak, kemudian Pek Bin Kui memberitahukan.
"Kauwcu, kami telah menerima informasi, bahwa Siang Koan Goat Nio sedang menuju markas pusat Kay Pang." "Oh?" Wajah Seng Hwee Sin Kun tampak berseri.
"Kalau begitu, cepatlah kalian pergi tangkap dia!" "Kauwcu," tanya Pat Pie Lo Koay.
"Kenapa gadis itu harus ditangkap?" "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa.
"Kalau dia kutangkap, tentunya dia tidak akan tiba di markas pusat Kay Pang.
Nah, bukankah itu akan mencemaskan pihak Kay Pang?" "Maksud Kauwcu menyanderanya?" tanya Pat Pie Lo Koay.
"Kira-kira begitulah," Seng Hwee Sin Kun manggutmanggut.
"Setelah itu, barulah kita kirim berita ke markas pusat Kay Pang, agar mereka datang ke mari.
Di saat itulah kita membantai mereka." "Betul." Pek Bin Kui mengangguk.
"Kita harus bertindak begitu." "Tapi...." Pat Pie Lo Koay menggeleng-gelengkan kepala.
"Itu pasti akan mengundang kemarahan pihak Pulau Hong Hoang To, yang tentunya akan membahayakan Seng Hwee Kauw." "Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terbahak-bhak.
"Aku justru ingin memancing mereka ke mari, kalian harus tahu.
Kepandaianku kini boleh dikatakan sudah tiada tanding di kolong langit.
Nah, apa yang harus ditakuti?" Pat Pie Lo Koay diam, sedangkan yang lain justru tertawa gembira.
Berselang sesaat Seng Hwee Sin Kun berkata.
"Kalian berempat cepat pergi menangkap Siang Koan Goat Nio, tapi jangan melukainya!
Pergunakan bom asap agar dia pingsan, barulah kalian tangkap!" "Ya, Kauwcu," sahut mereka berempat, lalu berangkat pergi untuk menangkap Siang Koan Goat Nio.
-oo0dw0oo- Siang Koan Goat Nio terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.
Ketika sampai di tempat yang sepi, mendadak melayang turun beberapa orang di hadapannya.
Mereka ternyata Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.
"Ha ha ha!" Leng Bin Hoatsu tertawa seraya berkata.
"Nona, kita bertemu lagi!" "Kalian mau apa?" tanya Siang Koan Goat Nio dingin sambil mengeluarkan sulingnya.
"Nona," sahut Pat Pie Lo Koay memberitahukan.
"Kami ke mari bermaksud mengundangmu ke markas kami, itu adalah perintah Kauwcu kami " "Bagaimana kalau aku menolak?" "Kami terpaksa harus menggunakan kekerasan," ujar Leng Bin Hoatsu.
"Oleh karena itu, kami harap Nona menurut!" "Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin.
"Aku tidak akan menurut, pokoknya aku akan melawan mati-matian!" "Baik!" Leng Bin Hoatsu tertawa dan berseru.
"Mari kita serang Nona Siang Koan ini!" Seketika mereka berempat langsung menyerang Siang Koan Goat Nio dengan tangan kosong.
Gadis itu bergerak cepat berkelit, kemudian balas menyerang dengan sulingnya, menggunakan ilmu Cap Pwee Kim Siauw Ciat Hoat (Delapan Belas Jurus Maut Suling Emas).
Akan tetapi, belasan jurus kemudian Siang Koan Goat Nio tampak mulai berada di bawah angin.
Di saat itulah ia menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling) ciptaan Tio Cie Hiong.
Begitu Siang Koan Goat Nio menggunakan ilmu tersebut, Leng Bin Hoatsu dan lainnya segera meloncat ke belakang.