"Engkau secantik bidadari, haruslah berhati welas asih.
Jangan suka membunuh menodai dirimu sendiri, lepaskanlah mereka!" "Bagaimana kalau aku tidak bersedia melepaskan mereka?" "Aku terpaksa menghadapimu," tegas Tio Bun Yang.
"Karena aku tidak mau melihat engkau membunuh lagi." "Engkau membela mereka?" Tu Siao Cui mengerutkan kening.
"Mereka adalah para penjahat lho!" "Terus terang, yang kubela adalah dirimu.
Sama sekali bukan mereka," sahut Tio Bun Yang sungguh-sungguh.
"Engkau pun harus tahu, sebetulnya mereka dan ketuanya adalah musuhku.
Tapi aku akan membuat perhitungan dengan Seng Hwee Sin Kun, ketua mereka itu, bukan terhadap mereka." "Oh?" Tu Siao Cui tersenyum.
"Bagaimana engkau membela diriku?" "Agar engkau tidak berbuat dosa lagi," sahut Tio Bun Yang.
"Nah, bukankah aku membelamu?" "Ngmm!" Tu Siao Cui manggut-manggut.
"Masuk akal juga apa yang engkau katakan!
Baiklah Aku melepaskan mereka." "Terimakasih, Kakak!" ucap Tio Bun Yang.
lalu memandang para anggota Seng Hwee Kauw seraya berkata.
"Cepatlah kalian pergi, kalau pikiran Bu Ceng Sianli berubah celakalah kalian!" "Terimakasih, Giok Siauw Sin Hiap!" ucap mereka sambil memberi hormat.
"Kami telah berhutang budi kepadamu.
Sampai jumpa!" Para anggota Seng Hwee Kauw berjalan pergi, sekaligus menggotong mayat Hek Sim Popo meninggalkan tempat itu.
"Adik kecil!" Tu Siao Cui tersenyum.
"Engkau memang berhati bajik, maka tidak seharusnya engkau berkecimpung di rimba persilatan." "Aaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Aku memang sudah jenuh akan rimba persilatan." "Adik kecil...." Tu Siao Cui menatapnya dalam-dalam, kemudian ujarnya sungguh-sungguh.
"Kelihatannya hatimu terganjel sesuatu.
Katakanlah kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu!" "Terimakasih atas maksud baikmu!" ucap Tio Bun Yang.
"Tapi, tiada suatu apa pun terganjel dalam hatiku." "Adik kecil..." Tu Siao Cui menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Entah apa sebabnya, aku merasa suka sekali padamu." "Kakak...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, lalu melangkah pergi.
Akan tetapi, Tu Siao Cui segera mengikutinya.
Puluhan langkah kemudian, Tio Bun Yang terpaksa berhenti karena Tu Siao Cui masih terus mengikutinya.
"Eeeh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Kenapa engkau terus mengikutiku" Aku masih harus menempuh perjalanan, jangan menggangguku!" "Adik kecil!" Tu Siao Cui tertawa.
"Aku tidak mengganggumu, melainkan ingin melakukan perjalanan bersamamu.
Boleh kan?" "Untuk apa?" Tio Bun Yang menggeleng- gelengkan kepala.
"Lagi pula kita baru berkenalan, jadi tidak baik melakukan perjalanan bersama." "Pokoknya aku harus ikut engkau," tegas Tu Siao Cui dan menambahkan.
"Engkau ke mana, aku pasti ikut." "Engkau sudah gila ya?" "Aku memang tergila-gila padamu," sahut Tu Siao Cui sambil tertawa cekikikan.
"Oleh karena itu, aku harus ikut engkau." "Kakak!
Jangan bergurau, itu...
bagaimana mungkin" Sudahlah!
Jangan menggangguku!
Aku harus segera melakukan perjalanan!" "Pokoknya aku harus ikut!" "Engkau tidak boleh ikut!" "Aku harus ikut!
Pokoknya ikut!" "Kakak...." Tio Bun Yang betul-betul kewalahan menghadapi Bu Ceng Sianli, akhirnya ia duduk di bawah sebuah pohon.
"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan sambil duduk di sebelahnya.
"Adik kecil, kenapa engkau kelihatan takut padaku!" "Aku tidak takut padamu, melainkan tidak baik kita melakukan perjalanan bersama.
Aku sudah punya kekasih, lagi pula kita baru berkenalan." "Itu tidak jadi masalah." Mendadak Tu Siao Cui memegang tangannya.
"Adik kecil, aku suka sekali padamu." "Kakak...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Terus terang, aku pun suka padamu.
Tapi engkau kuanggap sebagai kakak." "Terima kasih!
Terimakasih!" ucap Tu Siao Cui.
Tiba-tiba ia membaringkan dirinya, lalu memandang Tio Bun Yang dengan penuh gairah nafsu.
Tio Bun Yang menghela nafas panjang, sedangkan Tu Siao Cui terus memikat sekaligus menggodanya dengan berbagai gaya merangsang.
Akan tetapi, Tio Bun Yang tetap duduk tenang di tempat, kelihatannya sama sekali tidak terangsang.
Betapa penasarannya Tu Siao Cui, ia tidak percaya iman Tio Bun Yang begitu teguh.
Perlahan-lahan ia melebarkan sepasang kakinya, menghadap ke arah Tio Bun Yang.
Setelah itu, ia menyingkap pakaiannya sehingga pahanya yang putih mulut itu tertampak sedikit.
Perlu diketahui, Tu Siao Cui juga memiliki semacam ilmu sesat yang merangsang kaum lelaki.
Kalau lelaki itu telah terangsang, tapi tidak disalurkan padanya, maka lelaki itu akan mati secara mengenaskan.
Namun Tu Siao Cui justru tidak tahu, kalau Tio Bun Yang memiliki ilmu Penakluk Iblis.
Karena itu, ia sama sekali tidak akan tergoda maupun terangsang.
Itu sungguh membahayakan diri Tu Siao Cui sendiri, sebab akan terjadi senjata makan tuan.
Tio Bun Yang tahu tentang itu, sehingga timbul rasa cemasnya.
Sedangkan Tu Siao Cui sudah tidak bisa menarik kembali ilmu sesatnya itu, membuat wajahnya mulai memucat.
Tiba-tiba Tio Bun Yang teringat sesuatu.
Maka ia segera mengeluarkan sulingnya dengan wajah berseri-seri.
Tak lama terdengarlah suara alunan suling yang sangat menyentuh hati.
Begitu mendengar suara suling itu, sekujur badan Tu Siao Cui tampak tergetar keras.
Berselang beberapa saat kemudian, wajahnya yang memucat itu mulai berubah seperti semula.
Perlahan-lahan ia bangkit duduk di hadapan Tio Bun Yang, lalu menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Adik kecil..." ujar Tu Siao Cui seusai Tio Bun Yang meniup sulingnya.
"Aku sama sekali tidak menyangka, engkau begitu mahir meniup suling, bahkan suara sulingmu juga mengandung kekuatan yang dapat membersihkan hati maupun batin orang yang tersesat.
Aku sungguh kagum padamu!" "Kakak tidak usah heran," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Kalau aku tidak memiliki ilmu Penakluk Iblis, pasti sudah tergoda!" "Apa!" Tu Siao Cui terbelalak.
"Engkau masih sedemikian muda, tapi sudah memiliki ilmu itu?" "Sejak kecil aku sudah belajar ilmu Penakluk Iblis." Tio Bun Yang memberitahukan.
"Aku juga tahu, kalau engkau memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.
Aku harap, mulai sekarang engkau jangan terlampau gampang membunuh orang, sebab akan menciptakan suatu karma buruk untukmu." "Adik kecil, terimakasih atas nasihatmu!" ujar Tu Siao Cui sungguh-sungguh.
"Baru kali ini aku bertemu dengan pemuda yang begitu luar biasa.
Padahal usiaku sudah delapan puluh lebih." "Kakak!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Aku tak menyangka, kakak pun suka bergurau." "Adik kecil, kelak engkau akan percaya mengenai usiaku.
Sampai jumpa!" Tu Siao Cui melesat pergi.
Sayup-sayup terdengar suara seruannya.
"Aku suka padamu...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, berselang sesaat barulah ia melesat pergi melanjutkan perjalanannya.
-ooo0dw0ooo- Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di Kota Kang Shi.
Mendadak ia teringat pada Ngo Tok Kauwcu-Phang Ling Cu Maka, segeralah ia menjadi markas Ngo Tok Kauw.
"Adik Bun Yang...." Betapa gembiranya Ngo Tok Kauwcu.
"Aku tak menyangka engkau akan ke mari." "Maaf, Kakak!" ucap Tio Bun Yang jujur.
"Aku bukan sengaja kemari, kebetulan berada di kota ini, maka aku mampir menengok Kakak." "Terima kasih!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.
"Silakan duduk!" Tio Bun Yang duduk, kemudian memandang Ngo Tok Kauwcu seraya bertanya dengan penuh perhatian.
"Bagaimana keadaan Kakak selama ni?" "Aku baik baik saja," sahut Ngo Tok Kauwcu.
"Oh ya, engkau baik-baik saja" Bagimana keadaan kauw heng?" "Aku baik-baik saia.
Tapi...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
Kauw heng sudah ma .." "Oh!" Ngo Tok Kauwcu menggeleng-geleng- kan kepala.
"Sungguh kasihan kauw heng itu!
Dia berkorban dem menyelamatkan nyawamu." "Aaaah!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi.
"Aku berhutang budi kepada monyet bulu putih itu.
Maka aku bersumpah, turunanku tidak boleh membunuh monyet jenis apa pun." "Ngmm!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.
"Oh ya, kenapa engkau datang di kota ini!" "Aku sedang menuju ke Gunung Thian San." "Lho?" Ngo Tok Kauwcu tertegun.
"Kenapa engkau ke sana lagi?" "Itu dikarenakan Goat Nio...." Tio Bun Yang memberitahukan.
"Maka aku berangkat ke sana lagi." "Ternyata begitu!
Tapi...." Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening.
"Siapa pun yang pergi ke Gunung Thian San, harus melalui kota ini.
Namun para anggotaku tidak melihat adanya seorang gadis menuju Gunung Thian San." "Oh?" Tio Bun Yang tertegun.
"Mungkinkah dia mengambil jalan lain?" "Tidak mungkin," ujar Ngo Tok Kauwcu.
"Perjalanan ke Gunung Thian San harus melalui kota ini, jadi aku yakin Goat Nio belum sampai kota ini." "Bagaimana mungkin dia belum sampai di kota ini?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Dia berangkat duluan karena mengira aku masih di Gunung Thian San" "Kalau begitu...." Wajah Ngo Tok Kauwcu agak berubah.
"Apakan telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Itu...." Tio Bun Yang mulai cemas.
"Kepandaiannya cukup tinggi, tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas dirinya.
Oh ya, engkau tahu bagamana keadaan Seng Hwee Sin Kun" Apakah dia sudah pulih?" "Aku telah memperoleh informasi mengenai Seng Hwee Sin Kun," jawab Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.
"Dalam bulan ini dia akan pulih, maka engkau harus berhati-hati." "Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya.
"Bagaimana kepandaianmu sekarang" Apakah sudah bertambah maju?" "Kepandaianku memang sudan bertambah maju..." jawab Tio Bun Yang dan menutur tentang keberhasilannya mempelajari ilmu Kan Kun Taylo Im Kang.
"Syukurlah!" ucap Ngo Tok Kauwcu dengan wajah berseri "jadi engkau pasti sudah dapat menandingi Seng Hwee Sin Kun." "Mudah-mudahan!" sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.
"Kini yang kupikirkan adalah Goat Nio.
Kalau aku belum bertemu dia, sama sekali tidak bisa tenang." "Adik Bun Yang...." Ngo Tok Kauwcu menggelenggelengkan kepala.
"Oh ya, aku akan menyuruh beberapa anggotaku untuk mencari Goat Nio.
Apabila ada kabar beritanya, aku pasti ke markas pusat Kay Pang memberitahukan kepada mu." 'Terimakasih, Kak!" ujar Tio Bun Yang dan melanjutkan.
"Tapi biar bagiamanapun, aku harus ke Gunung Thian San.