"Itu bukan setan iblis, melainkan manusia biasa seperti kita.
Hanya saja mereka berkepandaian tinggi, dan berasal dari suatu golongan.
Kita bukan kaum rimba persilatan, jadi tidak usah takut, karena mereka tidak ikan mengganggu kita." "Mudah-mudahan begitu!
Tapi kota Giok Bun Kwan sudah mulai sepi, sebab para pedagang tidak berani ke daerah lain melalui Gurun Sih Ih.
Aku pun sudah tidak mau berdagang ke daerah-daerah yang berdekatan Gurun Sih Ih.
Aku...
aku masih merasa seram dan takut." Pada waktu bersamaan, di meja lain tampak beberapa lelaki berpakaian ringkas.
Mereka adalah kaum rimba persilatan, juga sedang membicarakan sesuatu dengan serius sekali.
"Beberapa bulan ini, di rimba persilatan telah muncul seorang gadis yang amat cantik mempesonakan.
Siapa yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya.
Gadis itu memang cantik sekali." "Aku pun pernah mendengar tentang gadis itu.
Apakah engkau pernah melihatnya?" "Tidak pernah.
Akan tetapi gadis itu sangat uidis sekali.
Siapa yang berani berlaku kurang ajar padanya, pasti dibunuhnya tanpa ampun!" "Itu sesuai dengan julukannya." "Engkau tahu julukannya?" "Tahu.
Julukannya adalah Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan).
Gadis itu memang tak punya perasaan.
Membunuh orang sambil tersenyum, seakan membunuh seekor semut." Mendengar penuturan itu, Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.
Pada waktu bersamaan muncul pula seorang gadis ke dalam kedai teh itu.
Kecantikan gadis itu sulit diuraikan dengan kata-kata.
Begitu melihat gadis itu, para tamu terbelalak dengan mulut ternganga lebar.
Tio Bun Yang juga memandang gadis itu sejenak, namun sikapnya tidak seperti para tamu lain.
Sementara gadis itu menengok ke sana kt mari, kemudian mendekati meja Tio Bun Yang.
"Adik kecil, bolehkah aku duduk di sini?" "Tentu boleh, Kakak besar," sahut Tio Bun Yang.
Karena gadis itu memanggilnya 'Adik kecil', maka ia memanggilnya 'Kakak besar', itu membuat gadis tersebut tertawa geli.
"Hi hi hi!" Suara tawanya merdu bagaikan kicauan burung, menggetarkan kalbu para lelaki di kedai itu.
Gadis tersebut duduk sambil menatap Tio Bun Yang.
"Adik kecil, engkau sungguh tampan dan lucu!" "Kakak besar," sahut Tio Bun Yang dan nn mandangnya.
"Engkau amat cantik dan menggeli kan." "Oh, ya?" Gadis itu tertawa lagi.
Siapa gadis itu" Tidak lain adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.
Kaum rimba persilatan di kedai teh itu sama sekali tidak mengenalnya.
Mereka cuma mendengar tentang dirinya tapi tidak pernah melihatnya.
"Sungguh beruntung pemuda itu!" bisik seseorang kepada temannya.
"Gadis yang cantik jelita itu duduk bersamanya." "Tentu.
Karena pemuda itu sangat tampan, tidak seperti kita yang berwajah tidak karuan." "Kalau aku bisa memperisterinya, jadi budaknya pun aku rela." "Gadis itu memang cantik sekali.
Kelihatannya dia tertarik pada pemuda itu.
Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau duduk bersamanya?" "Sayang sekali dia tidak mau duduk bersama kita di sini!" "Bagaimana mungkin gadis itu mau duduk bersama kita" Dia masih muda dan cantik sekali, sedangkan kita berwajah tidak karuan dan sudah berusia tiga puluhan." Sementara gadis itu terus-menerus memandang Tio Bun Yang, sepertinya sedang mengamati sesuatu benda antik yang sangat menarik hatinya.
"Adik kecil, bolehkah aku tahu namamu?" "Namaku Tio Bun Yang." "Oooh!" Gadis itu manggut-manggut sambil tersenyum manis.
"Kenapa engkau tidak bertanya namaku?" "Tidak baik sembarangan bertanya nama seorang gadis, aku tidak mau dikatai kurang ajar." "Kalau engkau menanyakan namaku, tentu aku tidak akan mengataimu kurang ajar," ujar Tu Siao Cui sambil menatapnya dalam-dalam, lalu memperkenalkan diri.
"Namaku Tu Siao Cui." "Tu Siao Cui" Tu Siao Cui..." gumam Tio Bun Yang dengan kening berkerut-kerut.
"Tu Siao Cui...." "Eh" Anak kecil!" Tu Siao Cui tertegun.
"Kenapa engkau terus-menerus bergumam menyebut namaku?" "Aku pernah mendengar namamu, tapi tidak mungkin dia adalah engkau," sahut Tio Bun Yang.
"Oh?" Tu Siao Cui terbelalak.
"Di mana engkau pernah mendengar namaku?" "Aku pernah bertemu seorang tua di dalam sebuah goa di Gunung Hong San.
Orang tua itu dibelenggu dengan rantai baja." "Apa?" Tu Siao Cui tampak terkejut.
"Orang tua itu masih hidup?" "Sudah mati." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Orang tua itu punya seorang murid perempuan yang sangat jahat.
Murid perempuan itulah yang merantainya.
Tapi sebelumnya dia pun berhasil memukul murid perempuannya." "Siapa orang tua itu?" "Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie." "Dia yang menceritakan itu kepadamu?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Ternyata dia salah tangan membunuh kedua orang tua Tu Siao Cui.
Demi menebus dosanya, maka dia mengurusi Tu Siao Cui." "Hmm!" dengus Tu Siao Cui.
"Syukurlah dia sudah mampus!" "Eh" Engkau...." Tio Bun Yang menatapnya heran.
"Kok engkau tidak bersimpati kepadanya?" "Dia telah membunuh kedua orang tua Tu Siao Cui, kenapa aku harus bersimpati kepadanya?" "Orang tua itu sangat menyesal, namun Tu Siao Cui itu sangat kejam," ujar Tio Bun Yang.
"Tidak ingat budi, malah menyiksanya di dalam goa itu" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"Engkau merasa kasihan pada orang tua itu?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Tapi juga merasa kasihan pada Tu Siao Cui itu, entah bagaimana dia?" "Engkau juga kasihan pada Tu Siao Cui itu?" tanya Tu Siao Cui bernada girang.
"Yaaah!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Dia pun terluka, tapi masih sempat membawa pergi kitab Hian Goan Cin Keng.
Itu adalah kejadian enam puluh tahun lampau, maka bagaimana mungkin Tu Siao Cui itu masih hidup?" Halaman 28-29 tidak ada "Aku Hek Sim Popo!
Engkau pernah mendengar namaku?" "Hek Sim Popo..." gumam Tu Siao Cui.
"Aku tidak pernah mendengar namamu tu, sungguh!" "Engkau murid siapa" Kenapa berani menentang Seng Hwee Kauw?" tanya Hek Sim Popo sengit "Engkau tidak usah tahu aku murid siapa !" sabut Tu Siao Cui sambil tertawa nyar.ng.
"Para anggota Seng Hwee Kauw itu kurang ajar terhadapku, maka aku membunuh mereka!" "Hmm!" dengus Hek Sim Popo dingin.
"Hari ini engkau harus mampus!" "Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"Jangan-jangan engkau dan para anak buahmu itu yang akan mampus!" "Hek Sim Popo," ujar Tio Bun Yang mendadak.
"Seng Hwee Sin Kun, ketua kalian itu sudah pulih?" "Engkau...." Hek Sim Popo tersentak, kemudian menatapnya tajam.
"Engkau adalah Giok Siauw Sin Hiap?" "Betul." Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Hek Sim Popo.
lebih baik kalian segera enyah dari sini!
Jangan cari penyakit!
Setelah Seng Hwee Sin Kun pulih, aku akan membuat perhitungan dengannya." "Giok Siauw Sin Hiap!
Itu adalah urusanmu dengan Seng Hwee Sin Kun, namun sekarang aku punya urusan dengan dia!" sahut Hek Sim Popo sambil menuding Tu Siao Cui.
"Bagus!
Bagus!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"H hi hi!
Berarti kalian sudah bosan hidup!" "Bu Ceng Sianli!" bentak Hek Sim Pono.
"Hari ini engkau harus mampus!" "Hek Sim Popo, jadi engkau mau bertarung denganku?" tanya Tu Siao Cui dengan kening berkerut.
"Engkau takut?" sahut Hek Sim Popo sambil tertawa dingin.
"Takut" He he he!" Tu Siao Cui tertawa terkekeh-kekeh.
"Aku sama sekali tidak kenal apa itu takut!
Mari kita bertarung di luar, agar tidak menghancurkan kedai teh ini!" "Baik!" Hek Sim Popo mengangguk.
Mereka melesat ke luar, begitu pula para anggota Seng Hwee Kauw dan Tio Bun Yang.
Tu Siao Cui dan Hek Sim Popo berdiri berhadapan, dan mula mengeluarkan Iweekang masing-masing.
Tio Bun Yang berdiri agak jauh, namun perhatiannya dicurahkan pada Tu Siao Cui, karena ingin menyaksikan kepandaiannya.
"Lihat serangan!" bentak Hek Sim Popo mendadak, sekaligus menyerang Tu Siao Cui dengan ilmu pukulan andalannya.
Tu Siao Cui tertawa nyaring, kemudian secepat kilat berkelit dan balas menyerang.
Ter-jadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.
Belasan jurus kemudian mendadak Tu Siao Cui berseru.
"Hek Sim Popo!
Berhati-hatilah, aku akan mencabut nyawamu!" "Engkau yang akan mampus!" sahut Hek Sim Popo, dan tiba-tiba menyerang Tu Siao Cu dengan senjata ranasia.
Serrt!
Serrrrt!
Serrrr...!
Senjata-senjata rahasia itu meluncur cepat ke arah Tu Siao Cui.
"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring sambil mengibaskan lengan bajunya.
Sungguh luar biasa!
Senjata-senjata rahasia itu terpukul jatuh semua.
Di saat itulah Tu Siao Cui mengeluarkan Hian Goan Ci.
Tampak sinar putih berkelebat ke arah Hek Sim Popo.
Begitu cepat, sehingga Hek Sim Popo tidak sempat berkelit, tapi berusaha menangkis.
Cessss!
"Aaaaakh..!" jerit Hek Sim Popo.
Ia terhuyung-huyung ke belakang lalu terkapar berlumuran darah.
Ternyata dadanya telah berlubang dan nyawanya melayang seketika.
"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa.
"Dia yang cari mampus, bukan aku yang ingin membunuhnya!" "Sebetulnya engkau tidak perlu membunuhnya, cukup melukainya saja," ujar Tio Bun Yang sambil menggelenggelengkan kepala.
"Oh?" sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum "Bahkan aku pun akan membunuh mereka semua!" Tu Siao Cui ti bergerak, bersamaan itu Tio Bun Yang pun bergerak menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat).
"Haaah..?" Bukan main terkejutnya Tu Siao Tui, karena Tio Bun Yang sudah berada dihadapannya.
"Sudahlah!" ujar Tio Bun Yang, "Engkau sudah membunuh Hek Sim Popo, jangan membunuh mereka lagi!" "Adik kecil!
Engkau...." Tu Siao Cui mengerutkan kening.
"Engkau berani menghalangiku?" "Dimana masih bisa mengampuni orang, ampunilah!" sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.
"Membunuh merupakan perbuatan yang sangat berdosa, janganlah engkau membuat takdir buruk pada dirimu sendiri!" "Engkau...." Tu Siao Cui terbelalak, kemudian tertawa geli."Hi hi hi!
Kelihatannya engkau pantang membunuh, maka seharusnya engkau pergi bertapa atau jadi bikhu." Sementara para anggota Seng Hwee Kauw saling memandang.
Mereka tahu nyawa mereka dalam bahaya.
Namun mereka sama sekali tidak berani kabur, hanya berharap Bu Ceng Sianli akan mendengar perkataan Tio Bun Yang.
"Kakak!" Tio Bun Yang menatapnya.