"Mereka adalah para penjahat, jadi pantas diberantas.
Engkau berhati lemah, itu akan membahayakan dirimu sendiri lho!" "Tapi...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.
"Cukup melukai mereka saja, tidak perlu membunuh." "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"Engkau berhati bijak dan penuh rasa kasihan, maka engkau tidak boleh berkecimpung di rimba persilatan.
Lebih baik hidup tenang di suatu tempat yang sepi." "Aku memang tidak ingin berkecimpung di rimba persilatan, hanya saja...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sedang mencari seseorang...." "Mencari seseorang?" Tu Siao Cui menatapnya seraya bertanya.
"Mencari kekasihmu?" "Ng!" Siang Koan Goat Nio mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring.
"Engkau tidak perlu mencarinya, seharusnya dia yang mencarimu." "Tapi...." Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening, kemudian menatapnya seraya berkata.
"Engkau seperti ibuku...." "Oh, ya?" "Engkau dan ibuku sama-sama suka tertawa cekikikan.
Heran!
Kenapa bisa begitu?" "Siapa ibumu?" "Kou Hun Bijin." "Apa?" Tu Siao Cui terbelalak.
"Ibumu adalah Kou Hun Bijin yang awet muda itu?" "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.
"Engkau kenal ibuku?" "Puluhan tahun lalu, kami pernah bertemu." Tu Siao Cui memberitahukan, kemudian menatapnya dengan penuh keheranan.
"Engkau adalah anak angkatnya?" "Aku anak kandungnya, ayahku adalah Kim Siauw Suseng." "Apa?" Tu Siao Cui tertegun.
"Kim Siauw Suseng yang juga awet muda itu ayahmu?" "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk, gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak.
"Tadi engkau bilang, puluhan tahun lalu pernah bertemu ibuku?" "Benar." "Bagaimana mungkin?" Siang Koan Goat Nio tidak percaya.
"Usiamu baru dua puluhan." "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.
"Kalau kubilang usiaku sudah hampir sembilan puluh, engkau percaya?" "Tentu tidak." "Ayah dan ibumu awet muda, apakah aku tidak bisa dari tua kembali menjadi muda seperti anak gadis berusia dua puluhan?" "Itu...." Siang Koan Goat Nio tetap tidak percaya.
"Aku tidak percaya sama sekali." "Kelak engkau pasti percaya." Tu Siao Cui tersenyum.
"Oh ya, Goat Nio, kita terpaksa harus berpisah di sini, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan." "Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio memandangnya seraya bertanya.
"Tadi engkau menggunakan ilmu apa membunuh para anggota Seng Hwee Kauw itu?" "Hian Goan Ci!" Tu Siao Cui memberitahukan.
"Hian Goan Ci?" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
"Ilmu apa itu?" "Ilmu jari sakti," ujar Tu Siao Cui menjelaskan.
"Tadi aku menggunakan empat bagian lwee- kangku, maka dada mereka tertembus oleh ilmu tersebut.
Seandainya aku cuma menggunakan dua atau tiga bagian lweekangku, mereka hanya akan mengalami kelumpuhan." "Kalau begitu, kenapa engkau tidak melumpuhkan mereka, melainkan membunuh mereka?" "Engkau harus tahu, mereka adalah penjahat yang suka memperkosa wanita," sahut Tu Siao Cui.
"Oleh karena itu, mereka harus diberantas tanpa ampun." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.
"Goat Nio!" Tu Siao Cui tersenyum.
"Kalau kita berjodoh, kelak pasti akan berjumpa lagi." "Ya." Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.
"Goat Nio, sampai jumpa!" ucap Tu Siao Cui lalu melesat pergi.
Siang Koan Goat Nio berdiri termangu-mangu di tempat, kemudian memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Mendadak muncul beberapa orang berpakaian hijau, yang ternyata para anggota Seng Hwee Kauw.
Begitu melihat mayat-mayat itu, wajah mereka langsung berubah.
"Nona yang membunuh mereka?" tanya salah seorang dari mereka.
"Bukan," sahut Siang Koan Goat Nio.
"Yang membunuh mereka telah pergi, kalian terlambat ke mari." "Siapa orang itu?" "Bu Ceng Sianli." "Haaah?" Para anggota Seng Hwee Kauw itu tampak terkejut.
Mereka saling memandang.
"Mari kita bawa mayatmayat itu ke markas!" Siang Koan Goat Nio menatap mereka sejenak, kemudian barulah melesat pergi.
Para anggota Seng Hwee Kauw itu tidak memperdulikannya, karena sibuk mengumpulkan mayatmayat itu.
-ooo0dw0ooo- Siang Koan Goat Nio melanjutkan perjalanan menuju Gunung Thian San.
Ketika berada di tempat sepi, mendadak ia mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan, kemudian terdengar pula suara derap kaki kuda.
Segeralah ia melompat ke balik sebuah pohon, lalu mengintip ke arah suara siulan aneh yang menyeramkan itu.
Berselang sesaat, tampak belasan ekor kuda berpacu cepat.
Para penunggangnya berpakaian serba putih dan memakai kedok setan.
Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.
Kelihatannya ia sedang berpikir.
Akhirnya ia manggut-manggut seakan telah mengambil suatu keputusan.
Setelah kuda-kuda itu lewat, gadis itu langsung melesat menggunakan ginkang mengikuti mereka.
Ketika hari mulai gelap, sampailah ia di suatu tempat yang merupakan sebidang padang rumput.
Siang Koan Goat Nio melesat ke atas pohon, untuk bersembunyi di situ sambil mengintip.
Tampak di padang rumput itu telah berkumpul lima puluhan orang berpakaian putih.
Di tengah-tengah padang rumput itu terdapat sebuah batu besar.
Seorang berpakaian putih perak bergemerlapan dan berkedok setan berdiri di atas batu itu.
Di belakangnya berdiri lima orang.
Berapa usia mereka, sama sekali tidak bisa diketahui, karena semuanya memakai kedok setan.
"Saudara-saudara sekalian!
Dalam waktu beberapa bulan ini, aku terus-menerus meluncurkan kembang api perkumpulan kita, itu agar kalian berkumpul di sini!" ujar orang berpakaian putih perak dengan suara lantang.
"Hampir seratus tahun perkumpulan kita bubar secara tidak langsung, itu dikarenakan ketua yang lama menghilang tiada jejaknya di daerah Tionggoan ini.
Beberapa tahun lalu, aku terjatuh ke dalam jurang, kemudian tanpa sengaja aku memasuki sebuah goa.
Di dalam goa itu aku menemukan sosok tubuh, yang ternyata mayat Pek Kut Lojin (Orang Tua Tulang Putih).
Di hadapan mayat itu terdapat sebuah kitab catatan ilmu silat dan catatan mengenai riwayat Pek Kut Lojin, bahkan terdapat pula sepucuk surat dari kulit binatang.
Selanjutnya aku harap Ngo Sat Kui (Lima Setan Algojo) menjelaskan kepada saudarasaudara sekalian." Kelima orang yang berdiri di belakang orang itu melangkah maju, kemudian salah seorang dari mereka berkata dengan lantang.
"Kami berlima adalah Ngo Sat Kui, ayah kami adalah pengawal Pek Kut Lojin, ketua Kui Bin Pang.
Beberapa bulan lalu, kami melihat kembang api perkumpulan kita meluncur ke atas, maka kami berlima segera berangkat ke mari.
Kami bertemu ketua yang baru, itu telah disahkan oleh ketua yang lama dengan surat keputusan.
Kami berlima telah membaca surat keputusan itu, bahkan kami pun telah menguji kepandaiannya.
Tidak salah, kepandaian yang dimilikinya adalah kepandaian Pek Kut Lojin, begitu pula pakaian dan kedok yang dipakainya sekarang." "Bagaimana ketua yang lama berada di dalam goa itu?" tanya salah seorang anggota.
"Ketua yang lama terkena pukulan sehingga jatuh ke dalam jurang," sahut salah seorang Ngo Sat Sin yaitu Toa Sat Sin.
"Oleh karena itu, hampir seratus tahun tiada kabar beritanya.
Kini perkumpulan kita sudah ada ketuanya, ini merupakan keberuntungan bagi Kui Bin Pang kita." "Siapa yang memukul jatuh ketua yang lama?" tanya salah seorang anggota lagi.
"Ketua yang lama telah memberitahukan di dalam kitab catatannya, ternyata adalah Tio Po Thian, majikan Pulau Hong Hoang To," jawab Toa Sat Kui dan menambahkan.
"Maka pihak Pulau Hong Hoang To adalah musuh besar kita.
Kalau sudah tiba waktunya, kita akan membasmi pihak Pulau Hong Hoang To, bahkan juga akan membasmi Kay Pang dan partaipartai lainnya." Betapa terkejutnya Siang Koan Goat Nio mendengar itu, sementara Toa Sat Kui mulai melanjutkan.
"Kini kita masih belum berhasil menemukan Tianglo (Tetua), dan dua orang Hu Hoat (Pelindung), maka kita belum bisa bergerak.
Kami berlima akan berusaha mencari Tetua dan dua Pelindung itu.
Kalau mereka sudah wafat, tentunya mereka punya turunan.
Apabila turunan mereka tidak mau bergabung, kami berlima harus bertindak tegas terhadap turunan mereka." "Kami semua pasti setia kepada ketua yang baru!" seru para anggota.
"Hidup Kui Bin Pang!
Hidup ketua yang baru!" "Bagus!
Bagus!" Toa Sat Kui tertawa gelak.
"Ha ha ha!
Dua bulan kemudian kita akan bertemu kembali di markas!
Sekarang kalian boleh bubar!" Para anggota Kui Bin Pang itu mulai melesat pergi sambil mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, dan tak lama terdengarlah suara derap kaki kuda.
Sementara Siang Koan Goat Nio yang mengintip di atas pohon itu belum berani bergerak.
Setelah ketua Kui Bin Pang dan Ngo Sat Sin itu melesat pergi, barulah gadis itu menghela nafas lega sambil berpikir.
Berselang beberapa saat kemudian, ia melesat pergi menuju arah timur.
Ternyata ia telah mengambil keputusan untuk kembali ke markas pusat Kay Pang, karena harus memberitahukan kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tentang apa yang didengarnya tadi.
Itu memang penting sekali, sebab menyangkut Pulau Hong Hoang To.
-oo0dw0oo- Bagian ke empat puluh satu Perkenalan yang merepotkan Ho Bun Yang terus melakukan perjalanan ke Gunung Thian San.
Hari ini ia tiba di sebuah desa.
Kebetulan ada sebuah kedai teh di pinggir jalan, maka ia mampir untuk melepaskan dahaga.
Cukup ramai kedai teh itu.
Para tamu terdiri dari kaum pedagang dan kaum rimba persilatan, bahkan terdapat beberapa pelancong pula.
Begitu Tio Bun Yang duduk, pelayan kedai itu segera menyuguhkan secangkir teh seraya bertanya.
"Tuan mau pesan makanan lain?" "Tidak usah," sahut Tio Bun Yang sambil menggelenggelengkan kepala.
Sementara beberapa pedagang bercakap-cakap dengan serius sekali.
Wajah mereka tampak memucat.
"Belum lama ini di Gurun Sih Ih telah muncul setan iblis yang menunggang kuda." "Omong kosong!
Mana ada setan iblis me.
nunggang kuda" Engkau sudah mabuk ya?" "Aku tidak mabuk, memang telah muncul setan iblis di Gurun Sih Ih.
Aku...
aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.
Iiiih, sungguh menyeramkan!" "Oh" Engkau menyaksikan setan iblis itu dengan mata kepala sendiri?" "Ya.
Setan iblis itu berpakaian putih, menunggang kuda sambil mengeluarkan suara siulan aneh yang menyeramkan.
Wajah mereka seram sekali!" "Engkau melihat jelas wajah mereka?" "Hanya sekelebatan saja." "Kalau begitu...
mungkin mereka memakai kedok setan." "Entahlah.
Yang jelas sangat menyeramkan Aku...
aku nyaris pingsan seketika itu." "Mereka menuju ke mana?" "Ke arah Tionggoan.
Aku yakin setan iblis itu sudah berada di daerah Tionggoan." "Setan iblis itu tidak mengganggumu?" "Kalau setan iblis itu menggangguku, bagaimana mungkin aku masih bernafas sampai di sini?" "Menurut aku..." ujar pedagang yang tampak agak berpengalaman.