Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 106

Memuat...

Bukan main cantiknya gadis itu, sudah barang tentu membuat para tamu terpukau menyaksikannya.

Siang Koan Goat Nio adalah gadis yang sangal cantik, namun ia merasa mengakui akan kecantikan gadis yang baru datang itu.

Karena tiada meja yang kosong, maka gadis itu mendekati meja Siang Koan Goat Nio.

"Adik manis!" tanya gadis itu.

"Bolehkah aku duduk di sini?" "Silakan!" sahut Siang Koan Goat Nio dengan ramah sambil tersenyum lembut.

"Aku gembira sekali Kakak mau duduk bersamaku." "Terima kasih!" ucap gadis itu sambil duduk di hadapannya.

Pelayan segera menyuguhkan secangkir teh, kemudian bertanya dengan sopan dan tersenyum "Nona mau pesan makanan lain?" "Sajikan makanan ringan untuk kami berdua!" sahut gadis itu.

"Ya, ya." Pelayan itu mengangguk dan cepat- cepat menyajikan beberapa macam makanan ringan "Adik manis, mari kita nikmati makanan ringan ini!" ujar gadis itu sambil tersenyum ramah.

"Terimakasih, Kak!" ucap Siang Koan Goat Nio, yang terkesan baik pada gadis itu.

Mereka berdua mulai menikmati makanan ringan sambil mengobrol, dan gadis itu memandang Siang Koan Goat Nio.

"Adik manis, engkau sungguh cantik!" "Kakak lebih cantik dariku," sahut Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya, bolehkah aku tahu siapa Kakak?" "Panggillah aku Kakak Cui!" "Baik." Siang Koan Goat Nio mengangguk lalu memperkenalkan diri.

"Namaku Siang Koan Goat Nio.

Kakak Cui boleh panggil namaku saja." "Goat Nio, engkau sedemikian cantik, tentunya sudah punya kekasih, bukan?" tanya gadis itu mendadak.

Siapa sebetulnya gadis itu" Ternyata Tu Siao Cui yang berusia delapan puluhan itu, murid Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie.

Setelah merendam di sumur alam di dalam goa, maka Tu Siao Cui berubah menjadi muda seperti gadis berusia dua puluhan yang cantik jelita.

"Aku...." Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Kenapa harus malu" Berterus teranglah!" ujar Tu Siao Cui sambil tertawa.

"Aku berterus terang kepadamu, aku belum punya kekasih." "Oh?" Siang Koan Goat Nio tampak kurang percaya.

"Kakak Cui secantik bidadari, bagaimana mungkin belum punya kekasih?" "Yaah!" Tu Siao Cui menghela nafas panjang.

"Memang banyak sekali pemuda mendekatiku, tapi mereka kubunuh semua." "Haaah...?" Siang Koan Goat Nio terperanjat.

"Kenapa engkau membunuh mereka?" "Sebab mereka berlaku kurang ajar terhadapku." Tu Siao Cui memberitahukan.

"Belum apa- apa mereka sudah berani meraba-raba diriku." "Sungguh sadis dan tak punya perasaan!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Bukankah mereka bisa kau usir, jadi tidak usah kau bunuh?" "Hmm!" dengus Tu Siao Cui dingin.

"Pemuda- pemuda macam itu cuma mengotori dunia, lebih baik dibasmi!" "Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa geli.

"Kenapa engkau terbelalak" Takut padaku ya?" "Aku tidak takut, hanya tidak menyangka...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Aku memang Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)." Tu Siao Cui memberitahukan sambil tertawa.

"Maka engkau tidak usah merasa heran aku begitu sadis.

Tapi aku tidak sembarangan membunuh." "Kakak Cui...." Di saat Siang Koan Goat Nio ingin mengatakan sesuatu, mendadak muncul belasan orang berpakaian hijau, yang tidak lain adalah anggota Seng Hwee Kauw.

Ketika melihat Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui, para anggota Seng Hwee Kauw itu langsung tertawa gembira.

"Ha ha ha!

Ada dua gadis cantik di kedai teh ini, sungguh beruntung kita hari ini!" Sementara para tamu lain sudah kabur terbirit-birit, sehingga di dalam kedai itu cuma tertinggal Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui.

Pemilik kedai itu dan beberapa pelayannya sudah menggigil ketakutan, mereka mencemaskan kedua gadis itu.

"Ha ha ha!

Nona-nona manis!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw mendekati Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui.

"Bolehkah aku duduk di sini?" "Tentu boleh," sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum manis.

"Silakan duduk!" "Terima kasih!

Terimakasih!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu gembira sekali lalu duduk seraya bertanya, "Kalian berdua berasal dari mana?" "Dari Kang Lam," sahut Tu Siao Cui.

"Pantas kalian berdua begitu cantik!" ujar Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa.

"Ternyata kalian berasal dari Kang Lam!" "Oh ya!" Tu Siao Cui.

Tertawa kecil.

"Engkau tampak begitu gagah dan membawa begitu banyak anak buah.

Bolehkah aku tahu engkau dari partai mana?" "Seng Hwee Kauw," sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil membusungkan dada, karena barusan Tu Siao Cui mengatakannya begitu gagah.

"Jadi kalian bukan berasal dari tujuh partai besar!" ujar Tu Siao Cui dan menambahkan.

"Seng Hwee Kauw tidak begitu terkenal." "Seng Hwee Kauw sangat terkenal, bahkan tak lama lagi akan menguasai rimba persilatan." "Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa.

"Siapa Ketua Seng Hwee Kauw?" "Seng Hwee Sin Kun.

Ketua kami berkepandaian tinggi sekali.

Kami semua pun berkepandaian cukup tinggi.

Engkau membawa pedang, apakah kalian juga gadis rimba persilatan?" "Bukan." Tu Siao Cui tersenyum.

"Tapi kami pernah belajar ilmu silat, maka kami membawa pedang untuk menakuti para penjahat." "Oooh!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa.

"Kalian berdua sudah berkenalan dengan kami, maka kami berani jamin tiada seorang penjahat pun berani mengganggu kalian." "Kalau begitu, kami harus berterima kasih kepadamu!" ucap Tu Siao Cui.

"Sungguh beruntung kami berkenalan dengan kalian!" "Tidak salah!

Ha ha ha!

Bahkan kalian pun tidak akan kesepian, sebab kami semua siap melayari kalian berdua!" "Oh?" Tu Siao Cui tersenyum.

"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu!

Bolehkah engkau menjelaskan?" "Engkau harus tahu, kami semua lelaki gagah.

Pokoknya pasti dapat memuaskan kaum anak gadis yang mana pun.

Nah, engkau mengerti?" "Aku...." Tu Siao Cui menggelengkan kepala.

"Aku masih kurang mengerti, tolong jelaskan sekali lagi agar aku mengerti!" "Begini...." Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu berbisik.

"Kami semua siap menemani kalian berdua tidur." "Oh, itu!" Tu Siao Cui tertawa merdu.

"Tapi kalau kami tidak mau, bagaimana kalian?" "Ha ha ha!

Jangan sampai kami bertindak secara paksa!" "Kalau begitu...." Tu Siao Cui menatapnya.

"Kalian sudah sering memperkosa anak gadis?" "He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu cuma tertawa terkekeh.

"He he he...!" "Jadi...." Tu Siao Cui tersenyum.

"Kami berdua harus menemani kalian tidur?" "Betul." "Goat Nio," ujar Tu Siao Cui.

"Bagaimana engkau, apakah engkau bersedia menemani mereka tidur?" "Kakak Cui!

Engkau...." Siang Koan Goat melotot.

"Kita tidak bisa melawan mereka, maka terpaksa harus menemani mereka tidur," ujar Tu Siao Cui sambil memberi isyarat.

"Engkau tidak berkeberatan, bukan?" "Aku...." Siang Koan Goat Nio tidak mengerti akan isyarat itu.

"Terserah Kakak Cui." "Baiklah." Tu Siao Cui manggut-manggut, kemudian memandang Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu seraya berkata, "Kalau begitu, kita harus pergi ke tempat yang sepi." "Benar!

Benar!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa gembira, lalu meninggalkan kedai teh itu.

Para anak buahnya langsung mengikutinya sambil tertawa terbahakbahak.

"Mari kita ikut mereka!" Tu Siao Cui menarik Siang Koan Goat Nio.

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.

"Tenang saja!" Tu Siao Cui tersenyum.

"Aku tahu engkau pun berkepandaian tinggi, tentunya engkau tidak takut terhadap mereka." Siang Koan Goat Nio tidak menyahut.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di suatu tempat yang sangat sepi.

Tempat itu merupakan sebuah rimba.

"He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa terkekeh.

"Bagaimana dengan tempat ini" Kalian berdua merasa cocok?" "Cocok sekali," sahut Tu Siao Cui.

"Kalau begitu, cepatlah kalian buka!" "Buka apa?" "Buka pakaian kalian," sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa.

"Ha ha ha...!" "Seharusnya kalian yang buka duluan, tidak mungkin kaum wanita yang buka pakaian duluan, bukan?" "Itu...." Kepala anggota Seng Hwee Kauw memandang yang lain seraya bertanya.

"Bagaimana menurut kalian?" "Apa yang dikatakan nona itu memang benar, kita kaum lelaki yang harus buka pakaian duluan," sahut mereka sambil tertawa.

"Ha ha ha!

Pokoknya kita harus bergilir secara adil!" "Beres." Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekeh.

"Seperti biasa...

harus aku yang menikmatinya duluan." "Ayoh!" desak Tu Siao Cui sambil tertawa genit.

"Cepatlah kalian buka, pokoknya kalian semua pasti memperoleh giliran secara memuaskan." "Eeeh!" Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Kakak Cui...." "Tenang saja!" sahut Tu Siao Cui.

Sementara Kepala anggota Seng Hwee Kauw dan lainnya sudah mulai melepaskan pakaian masing-masing.

Setelah tinggal tersisa celana dalam, mereka mendekati Tu Siao Cui dan Siang Koan Goat Nio dengan penuh nafsu birahi.

"Kalian sudah siap?" tanya Tu Siao Cui merdu.

"Nona, kami...

kami sudah tidak tahan nih!

Ayohlah!

Cepatan dikit!" "Baik," sahut Tu Siao Cui dan mendadak tertawa nyaring sambil menggerakkan jari tangannya ke arah para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Sungguh menakjubkan, karena jari tangannya memancarkan cahaya, yang kemudian meluncur laksana kilat ke arah dada para anggota Seng Hwee Kauw.

"Aaakh!

Aaaakh!

Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati.

Belasan anggota Seng Hwee Kauw itu telah terkapar berlumuran darah, dada mereka berlubang tertembus Hian Goan Ci (Ilmu Jari Sakti) yang dilancarkan Tu Siao Cui.

"Engkau...

engkau...." Kepala anggota Seng Hwee Kauw masih sempat menudingnya.

"Engkau...

engkau siapa?" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Aku Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)!

Hi hi hi...!" "Haaah...!" Mata Kepala anggota Seng Hwee Kauw mendelik-delik, kemudian nyawanya melayang.

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio tidak tega menyaksikan kematian mereka.

"Engkau...

engkau sungguh sadis!

"Goat Nio!" Tu Siao Cui tersenyum.

"Yang sadis aku atau mereka" Seandainya kita tidak memiliki ilmu silat, apa yang akan terjadi atas diri kita" Bukankah mereka akan memperkosa kita secara bergilir" Nah, mereka begitu jahat maka aku harus membunuh mereka demi membela sesama kaum wanita." "Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Goat Nio!" Tu Siao Cui tersenyum lagi.

Post a Comment