Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 105

Memuat...

Karena saking rindunya pada Kakak Bun Yang, maka dia berangkat ke Gunung Thian san." "Dia berangkat ke Gunung Thian San menyusul Bun Yang?" Kou Hun Bijin terbelalak.

"Kenapa jadi kacau begitu?" "Sebab Goat Nio tidak tahu, kalau Kakak Bun Yang sudah ke mari, bahkan juga sudah berangkat kemarkas pusat Kay Pang.

Lantaran tidak sabar nunggu, akhirnya dia berangkat ke Gunung Thian San.

Beberapa hari kemudian, Kakak Bun Yang justru tiba di markas pusat Kay Pang, namun takk bertemu Goat Nio.

Karena itu, Kakak Bun Yang segera berangkat ke Gunung Thian San." "Mereka berdua...." Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala.

"Main kejar kejaran, kasihan sekali!

Mudah-mudahan mereka akan bertemu di Gunung Thian San!" "Itu tidak apa-apa," sela Sam Gan Sin Kay "Kejar-kejaran itu akan memperdalam cinta kasih mereka, sekaligus membuat mereka semakin rindu satu sama lain." "Engkau senang ya mengetahui mereka belum bertemu?" tanya Kou Hun Bijin ketus sambil melotot.

"Aku tidak mengatakan senang, namun...!

Sam Gan Sin Kay tersenyum.

"Itu merupakan suatu cobaan bagi mereka." "Hmm!" dengus Kou Hun Bijin.

"Diam!

Jangan banyak omong!" "Baik!

Baik!

Aku akan diam." Sam Gan Sin Kay segera menutup mulutnya rapat-rapat.

"Ai Ling," ujar Tio Hong Hoa.

"Engkau boleh ke dalam untuk beristirahat.

Ajak juga Sie ken Hauw!" "Ya." Lie Ai Ling segera menarik Sie Ken Hauw ke dalam.

Kam Hay Thian, Lu Hui San, Bokyong Sian Hoa dan Yatsumi pun ikut ke dalam.

Mereka semua menuju ke halaman belakang.

"Saudara Kam...." Sie Keng Hauw menepuk bahunya.

"Aku gembira sekali bertemu denganmu." "Sama-sama," sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Aku pun senang sekali bertemu denganmu." "Hui San adalah adikku, aku harap engkau baik-baik menjaganya!" ujar Sie Keng Hauw mengandung suatu maksud tertentu.

"Itu...." Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Kak," ujar Lu Hui San cepat.

"Aku sudah dewasa, tentunya bisa menjaga diri sendiri." "Adik...." Sie Keng Hauw menghela nafas panjang, kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Sayang sekali, aku belum bertemu Bun Yang." "Dia tampan sekali," ujar Bokyong Sian Hoa mendadak sambil tersenyum.

"Bahkan kepandaian nya juga tinggi sekali." "Sian Hoa...." Lie Ai Ling tertegun.

"Eng-kau....

"Aku tahu, Kakak Bun Yang sangat mencintai Goat Nio," ujar Bokyong Sian Hoa.

"Goat Nio pun sangat mencintainya.

Kalau mereka berdua tak saling mencinta, aku pasti berupaya mendampingi Kakak Bun Yang." "Ngmm!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Engkau adalah gadis yang blak-blakan, bahkan juga tau diri.

Bagus!

Engkau memang pantas menjadi adik Bun Yang." "Ai Ling!" Bokyong Sian Hoa tertawa kecil, "aku sudah memanggilnya Kakak Bun Yang." "Sama." Lie Ai Ling tersenyum.

"Sejak kecil aku memanggilnya Kakak Bun Yang." "Lagi pula aku pun harus tahu diri," tambah Bokyong Sian Hoa.

"Kakak Bun Yang mencintai Goat Nio, namun dia menyayangiku.

Aku sudah merasa puas.

Kita harus ingat akan satu hal, cinta tidak bisa dipaksa.

Kalau dipaksa justru akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan." "Eeeh?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Engkau paling kecil di antara kita, tapi pikiranmu sudah begitu jauh dan matang.

Aku salut kepadamu." "Yaah!" Bokyong Sian Hoa menghela nafai panjang.

"Terus terang, aku merasa kasihan sekali kepada Hui San." "Lho?" Lu Hui San tersentak.

"Kenapa?" "Engkau begitu mencintai Kam Hay Thian" sahut Bokyong Sian Hoa secara blak-blakan.

"Namun sebaliknya dia selalu bersikap acuh tak acuh, kelihatannya dia merindukan gadis lain." "Sian Hoa____" Air muka Kam Hay Thian tampak berubah.

"Engkau harus tahu, gadis yang engkau rindukan itu mencintai pemuda lain.

Maka percuma engkau merindukannya.

Lebih baik arahkan perhatianmu pada Lu Hui San!

Kalau engkau menolak cintanya, pasti menyesal kelak," ujar Bok yong Sian Hoa.

"Engkau____" Wajah Kam Hay Thian tampak tidak senang.

"Hmm!" dengus Bokyong Sian Hoa.

"Hui San begitu baik terhadapmu, namun engkau malah bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadapnya.

Aku juga anak gadis, tentunya merasa simpati padanya, tapi merasa sebal padamu." "Sian Hoa____" Yatsumi segera menarik tangan gadis itu.

"Jangan terus menegurnya!" "Dia adalah pemuda yang tak tahu diri," ujar Bokyong Sian Hoa.

"Setahuku, Hui San yang membopongnya ke mari ketika dia terluka parah.

tapi dia...." "Sian Hoa!" Lie Ai Ling merasa tidak enak.

"Sudahlah!

Jangan...." "Aku merasa kasihan pada Hui San, sebab batinnya tersiksa sekali," sahut Bokyong Sian Hoa dan menambahkan.

"Kalau aku adalah Hui san, sudah kutendang pemuda yang begitu macam!" "Sian Hoa____" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

Kam Hay Thian memandang mereka semua, kemudian meninggalkan tempat itu dengan kepala tertunduk.

"Hay Thian!" panggil Lu Hui San dengan suara rendah.

"Percuma engkau memanggilnya," sahut Bok-Yong Sian Hoa.

"Dia adalah pemuda yang tak punya perasaan dan tidak mengenal cinta yang suci murni.

Kelak dia pasti hidup menderita karena itu." Sementara Sie Keng Hauw diam saja.

Namun ia terus menatap iba pada Lu Hui San.

Dalam hal ini, ia tidak bisa membantu apa-apa.

---ooo0dw0ooo--Pintu kamar Lie Ai Ling terbuka, Lie Mu Chiu dan Tio Hong Hoa melangkah ke dalam dengan wajah berseri-seri.

"Ayah, Ibu..." gadis itu tercengang, karena sudah larut malam kedua orang tuanya justru datang di kamarnya.

"Engkau belum tidur, Nak?" tanya Tio Hong Hoa lembut.

"Aku baru mau tidur," sahut Lie Ai Ling.

"Ada urusan apa, sehingga Ibu dan Ayah ke mari lagi malam?" "Kami ingin membicarakan sesuatu dengan mu," sahut Tio Hong Hoa sambil duduk di pinggir tempat tidur, sedangkan Lie Man Chiu cuma berdiri memandangnya sambil tersenyum.

"Ibu ingin membicarakan apa?" tanya Lie / Ling heran.

"Nak!" Tio Hong Hoa menatapnya dalam-dalam seraya bertanya, "Engkau sungguh-sungguh mencintai Sie Keng Hauw?" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Dia juga mencintaimu?" tanya Tio Hong Hoa lagi.

"Ya," jawab Lie Ai Ling dengan wajah agak kemerahmerahan.

"Dia memang mencintaiku." "Syukurlah!" ucap Tio Hong Hoa.

"Lalu bagaimana rencana kalian?" "Rencana apa?" Lie Ai Ling heran.

"Tentunya mengenai pernikahan kalian," sahut Lie Man Chiu.

"Kira-kira kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" "Ayah...." Lie Ai Ling tersipu.

"Kami baru saling mencinta, kenapa Ayah sudah membicarakan itu" Bukankah terlampau cepat?" "Kalau kalian berdua sudah saling mencinta, apa salahnya segera melangsungkan pernikahan?" ujar Lie Man Chiu sambil tertawa.

"Ayah!" Lie Ai Ling tersenyum.

"Aku tidak mau begitu cepat menikah, sebab aku belum ingin punya anak." "Kami justru ingin cepat-cepat menggendong cucu," ujar Tio Hong Hoa sambil tersenyum.

"Karena itu, engkau harus segera menikah." "Ibu, aku belum mau menikah." Lie Ai Ling cemberut.

"Aku masih muda, belum bisa mengurusi bayi." "Jangan khawatir!

Ibu akan mengurusinya," ujar Tio Hong Hoa sungguh-sungguh.

"Jadi engkau tidak usah mengkhawatirkan itu." "Ibu, pokoknya aku belum mau menikah!" Lie Ai Ling membanting-banting kaki.

"Baiklah." Tio Hong Hoa tersenyum.

"Terus terang, kami sangat menyukai Sie Keng Hauw Dia memang merupakan pemuda baik, sopan dan penuh kesabaran." "Dia memang sabar," ujar Lie Ai Ling mem beritahukan.

"Dia terus menungguku di markas pusat Kay Pang." "Ngmm!" Tio Hong Hoa manggut-manggut, "Nak, kini legalah hati kami karena engkau sudah punya kekasih." "Ibu...." Mendadak wajah Lie Ai Ling tampak agak berubah.

"Aku...." "Ada apa, Nak?" tanya Tio Hong Hoa sambil menatapnya.

"Hatimu masih terganjel sesuatu" Katakanlah pada ibu!" "Aku mengkhawatirkan Hui San." Lie Ai Ling menggelenggelengkan kepala.

"Dia begitu mencintai Kam Hay Thian, tapi Kam Hay Thian malah acuh tak acuh terhadapnya." "Nak!" Tio Hong Hoa tersenyum.

"Cinta tidak bisa dipaksa, kalau Kam Hay Thian tidak mencintai Lu Hui San, maka Lu Hui San harus menjauhinya." "Memang." Lie Ai Ling manggut-manggut "Tapi Hui San sudah begitu dalam mencintainya aku khawatir mereka akan terjadi sesuatu kelak" "Ai Ling," ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh.

"Engkau harus berusaha menasihatinya." "Ya, Ayah." Lie Ai Ling mengangguk dan memberitahukan.

"Tadi Sian Hoa telah mencetuskan yang pedas dan tajam terhadap Kam Hay Ihian, mungkin pemuda itu akan tersinggung." "Oh?" Tio Hong Hoa mengerutkan kening.

'Itu akan menimbulkan suatu masalah di pulau" "Belum tentu," ujar Lie Man Chiu.

"Sebab kam Hay Thian merupakan pemuda yang baik, hanya saja cintanya belum tumbuh terhadap Hui san.

Aku yakin suatu saat nanti, dia akan mencintainya." "Mudah-mudahan!" ucap Tio Hong Hoa, kemudian berkata kepada Lie Ai Ling.

"Nak, kami harap engkau dan Keng Hauw jangan begitu cepat meninggalkan pulau ini, tinggallah di sini beberapa bulan!" "Baik." Lie Ai Ling mengangguk.

"Akan kuberitahukan kepadanya, mungkin dia akan menuruti perkataanku." "Ngmm!" Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa manggutmanggut, kemudian keduanya pun tersenyum.

"Syukurlah!" ---ooo0dw0ooo--Jilid 9 Bagian ke empat puluh Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan) Sementara itu, Siang Koan Goat Nio terus melakukan perjalanan menuju Gunung Thian San.

Enam tujuh hari kemudian, gadis itu merasa menyesal atas tindakannya.

Gunung Thian San begitu luas, tinggi dan hawanya dingin sekali.

Bagaimana mungkin ia bisa mencari Tio Bun Yang di sana" Kini barulah terpikirkan olehnya, karena itu ia merasa menyesal.

Seharusnya ia tetap menunggu di markas pusat Kaypang.

Namun sudah terlanjur, maka gadis itu terpaksa melanjutkan perjalanan.

Hari ini Siang Koan Goat Nio tiba di sebuah kota kecil.

Ia mampir di kedai teh, karena sudah merasa haus sekali Setelah Siang Koan Goat Nio duduk, pelayan kedai itu langsung menyuguhkan secangkir teh hangat seraya bertanya, "Nona mau pesan makanan lain?" "Tidak usah!" sahut Siang Koan Goat Nio.

Di saat ia baru mau mengangkat cangkirnya, mendadak melangkah ke dalam seorang gadis berusia dua puluhan.

Post a Comment