"Aaaah!" Sie Keng Hauw menghela nafas panjang.
"Pada dasarnya Lu Thay Kam tidak jahat, tapi dikarenakan politik di istana, maka dia tertaksa bertindak kejam." "Tapi ada satu hal yang sangat memusingkan," ujar Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Hal apa?" "Mengenai Kam Hay Thian." "Memangnya kenapa?" "Hui San mencintainya, namun Kam Hay Thian bersikap acuh tak acuh kepadanya.
Lagi pula dia sangat mendendam pada Lu Thay Kam karena...." Lie Ai Ling menceritakan tentang kematian guru silat Lie dan putrinya yang dibunuh para anggota Hiat Ih Hwe.
"oleh karena itu, Kam Hay Thian bersumpah akan membunuh Lu Thay Kam, sedangkan Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San." "Itu memang sangat memusingkan." Sie Ken, Hauw menghela nafas.
"Oh ya!
Apakah Kam Hay Thian belum tahu bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San?" "Belum tahu.
Karena itu, engkau juga tidak boleh memberitahukannya apabila kalian bertemu!" pesan Lie Ai Ling.
"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.
"Ai Ling aku ingin menemui Hui San.
Maukah engkau mengantarku ke Pulau Hong Hoang To?" "Tentu mau," sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum manis.
"Karena kedua orang tuaku pingin bertatap muka denganmu." "Oh" Aku...." "Engkau tidak mau bertatap muka dengan kedua orang tuaku?" "Tentu mau dan memang harus.
Tapi...." Sie Keng Hauw tersenyum, "aku agak gugup." "Kenapa harus gugup?" ujar Lie Ai Ling sambil menatapnya.
"Kalau engkau gugup, pertanda...
engkau tidak bersungguhsungguh terhadapku lho!" "Ai Ling!" Sie Keng Hauw menatapnya lembut seraya berkata, "Aku bersungguh-sungguh terhadapmu, percayalah!" "Aku percaya." Lie Ai Ling menundukkan ppala.
"Ha ha ha!" Terdengar suara tawa gelak, muncul Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
"Bagaimana" Kalian berdua sudah beres menarahkan isi hati masing-masing?" "Kakek Lim...." Lie Ai Ling cemberut.
"Sudah, Kakek Lim," sahut Sie Keng Hauw sambil tersenyum.
"Terimakasih atas perhatian kakek Lim dan Kakek Gouw!
Terimakasih!" "Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han tertawa lagi, lalu duduk sambil memandang mereka.
"Kalian berdua merupakan pasangan yang cocok dan serasi.
Kami turut gembira." "Kakek Lim...." Lie Ai Ling melotot, lalu mendadak teringat sesuatu.
"Oh ya!
Ada titipan pesan dari Sam Gan Sin Kay.
Beliau berpesan...." "Ayahku berpesan apa?" Lim Peng hang heran.
"Menyelidiki gerak gerik Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)!" Lie Ai Ling memberitahukan.
"Ternyata orang-orang berpakaian putih dan memakai kedok setan yang pernah kami lihat tempo hari itu, adalah para anggota Kui Bin Pang" "Kui Bin Pang?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, keduanya kelihatan bingung.
"Apakah Kui Bin Pang itu merupakai perkumpulan yang baru muncul di rimba per silatan?" "Entahlah." Lie Ai Ling menggelengkan kepala.
"Aku tidak begitu jelas.
Tapi kakek Tio tahu tentang Kui Bin Pang itu." "Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening "Apa yang dikatakan Tio Tocu mengenai Kui Bin Pang itu?" , "Kakek Tio memberitahukan..." Lie Ai Lini menutur sesuai dengan apa yang dikatakan Tio Tay Seng.
Setelah mendengar penuturan Lie Ai Ling muka Lim Peng Hang dan Gouw Han Tion tampak berubah hebat.
"Kui Bin Pang..." gumam Gouw Han Tiong "Tidak salah.
Almarhum pernah menceritaka tentang itu." "Ayahmu tahu jelas mengenai Kui Bin Pang" Lim Peng Hang tertegun.
"Ketika berusia belasan, ayahku pernah ke kota Giok Bun Kwan.
Di kota perbatasan itu ayahku mendengar tentang Kui Bin Pang," ujar Gouw Han Tiong dan melanjutkan.
"Perkumpulan itu merupakan perkumpulan misteri, ketua dan para anggotanya berkepandaian sangat tinggi sekali.
Namun perkumpulan itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan." "Kalau begitu...." Kening Lim Peng Hang berkerut-kerut.
"Kenapa kini para anggota Kui Bin Pang itu berada di Tionggoan?" "Karena itu, Sam Gan Sin Kay menyuruh kita menyelidikinya," sahut Gouw Han Tiong.
"Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut.
kita harus perintahkan beberapa anggota handal untuk menyelidiki itu." "Betul." Gouw Han Tiong mengangguk.
"Tapi jangan bentrok dengan mereka sehingga menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan!" Lim Peng Hang manggut-manggut lagi, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya bertanya, iTempo hari engkau dan Siang Koan Goat melihat mereka, apakah engkau masih ingat mereka menuju mana?" "Mereka menuju utara!" Lie Ai Ling mem-itahukan.
"Baiklah," ujar Lim Peng Hang.
"Kami akan menyelidiki tentang itu.
Oh ya, Goat Nio tidak lagi menunggu di sini, dia sudah berangkat ke gunung Thian San." "Keng Hauw sudah memberitahukan kepadaku"ujar Lie Ai Ling.
"Kakek Lim, aku dan Keng Hauw harus segera berangkat ke Pulau Hong Hoang To." "Tidak mau menunggu Goat Nio atau Bun Yang?" tanya Lim Peng Hang.
"Ayah dan ibu berpesan kepadaku, aku harus segera membawa Keng Hauw ke Pulau Hong Hoang To," jawab Lie Ai Ling dan menambahkan.
"Lagi pula Keng Hauw ingin bertemu Hui San." "Kapan kalian akan berangkat?" "Besok pagi.
Oh ya!
Paman Cie Hiong berpesan, kalau Kakak Bun Yang dan Goat Nio ke mari, tolong suruh mereka segera pulang ke Pulau Hong Hoang To!" "Baik." Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Kalau mereka ke mari, pasti kusuruh segera pulang ke Pulau Hong Hoang To." "Terimakasih, Kakek Lim!" ucap Lie Ai Ling.
"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Ai Ling, engkau sungguh beruntung sekali, karena Keng Hauw merupakan pemuda yang baik, tampan dan penuh kesabaran." Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw telah meninggalkan markas pusat Kay Pang, langsung menuju Pulau Hong Hoang To.
Perjalanan ini sung guh menggembirakan mereka.
Mereka bersenda gurau, bercanda ria dan memadukan cinta.
Oleh karena itu, tak terasa sama sekali mereka sudah tiba di Pulau Hong Hoang To.
Dapat dibayangkan, betapa gembiranya Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa, begitu pula yang lain.
Kou Hun Bijin terus memandang Sie Keng Hauw dengan penuh perhatian, kelihatannya seakan sedang mengamati suatu benda antik.
"Bijin!" tegur Sam Gan Sin Kay sambil tertawa pelak.
"Ha ha ha!
Kenapa engkau begitu?" "Ngmmm!" Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Pemuda itu memang pantas menjadi suami Ai Ling." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak lagi.
"Kenapa engkau berubah menjadi begitu usil?" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
'Aku paling tua di sini, tentunya berhak menentukan sesuatu." "Oh, ya?" Sam Gan Sin Kay terbelalak.
"Tio Tocu!" Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya, "Apakah aku tidak boleh menentukan sesuatu di sini?" "Tentu boleh.
Tentu boleh..." sahut Tio Tay Seng sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara Sie Keng Hauw berdiri terbengong-bengong di tempat, sebab barusan Kou Hun Bijin mengatakan bahwa dirinya paling tua, itu sungguh mengherankannya.
"Keng Hauw," bisik Lie Ai Ling memberitahu "Kou Hun Bijin sudah berusia seratus tahun lebih.
Suaminya adalah Kim Siauw Suseng yang juga awet muda." "Ooooh!" Sie Keng Hauw manggut-manggu dengan mata terbelalak.
"Goat Nio putri mereka." Lie Ai Ling mem beritahukan lagi.
"Pantas Goat Nio begitu cantik, ternyata kedua orang tuanya awet muda!" bisik Sie Keng Hauw.
"Anak muda," ujar Tio Tay Seng sambil tersenyum.
"Duduklah!
Jangan terus berdiri!" "Terimakasih, Kakek!" ucap Sie Keng Hauv sambil duduk.
Kemudian Lie Ai Ling pun duduk di sebelahnya dengan wajah berseri-seri.
"Bocah," ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa "Hi hi hi!
Mari kuperkenalkan mereka semua Yang duduk di sisiku ini suamiku tercinta, yang dekil itu adalah pengemis bau dan yang duduk ditengah-tengah itu adalah Tio Tay Seng, majikan pulau ini." Sie Keng Hauw terus-menerus memberi hormat kepada mereka satu persatu.
Hal itu membuat Lie Ai Ling tertawa geli dalam hati.
Sementar Lie Man Chiu dan Tio Hoang Hoa tersenyum senyum, keduanya tampak merasa suka kepada pemuda itu.
Seusai Kou Hun Bijin memperkenalkan mereka, muncullah Kam Hay Thian, bersama Lu Hui San, Bokyong Sian Hoa dan Yatsumi.
"Ai Ling!" seru gadis Jepang itu gembira 'Syukurlah engkau pulang bersama Sie Keng Hauw!" "Yatsumi!" Wajah Lie Ai Ling agak kemerah-merahan.
Kemudian ia berkata kepada Lu Hui San.
"Hui San, tahukah engkau siapa dia?" "Aku tahu...." Lu Hui San manggut-manggut.
"Dia Kakak Keng Hauw, putra pamanku." "Adik Hui San!" panggil Sie Keng Hauw sama memandangnya.
"Belasan tahun kita tidak bertemu, engkau...
engkau sudah dewasa!" "Engkau juga sudah dewasa," sahut Lu Hui San dan menambahkan.
"Aku dengar...
engkau dan Ai Ling sudah saling jatuh hati.
Ya, kan?" "Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.
"Engkau dan Kam Hay Thian pun sudah saling mencinta, bukan?" "Itu...." Lu Hui San melirik Kam Hay Thian.
"Kami memang merupakan kawan akrab," sahut Kam Hay Thian.
Betapa kecewanya Lu Hui San mendengar ucapan itu, sehingga nyaris menangis.
"Benar." Sie Keng Hauw tertawa.
"Kalian berdua memang sudah akrab sekali.
Bagus, bagus!" "Hi hi hi!" Mendadak Kou Hun Bijin tertawa nyaring.
"Kalian tingkatan muda, kalau mau muntahkan isi hati atau memadu cinta, janganlah diruang ini!
Di tempat yang sepi saja, jadi tidak ada yang mengganggu." "Biarkan saja!" sahut Sam Gan Sian Kay.
"Kenapa engkau usil?" "Hai!
Pengemis bau!" Kou Hun Bijin melotot "Kenapa engkau selalu menentangku" Mau dihajar ya?" "Jangan, jangan!" Sam Gan Sin Kay mengoyang-goyangkan sepasang tangannya.
"Takut aku" "Hmm!" dengus Kou Hun Bijin dingin sekaligus mengancam.
"Kalau engkau berani lagi pasti kutampar mulutmu!" "Ampun!
Ampun!" sahut Sam Gan Sin Kay "Sam Gan Sin Kay," ujar Lie Ai Ling memberitahukan.
"Aku sudah menyampaikan pesan itu kepada Kakek Lim." "Terimakasih!" ucap Sam Gan Sin Kay, yang kemudian melirik Sie Keng Hauw.
"Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi." "Terimakasih, Sam Gan Sin Kay!" ucap Sie Keng Hauw sambil memberi hormat.
"Kami ber dua...." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Ha ha ha!
Aku tahu, kalian berdua sudah saling mencinta, bukan?" "Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.
"Keng Hauw____" Wajah Lie Ai Ling tampak kemerahmerahan.
"Engkau...." "Ai Ling," ujar Sie Keng Hauw sambil tersenyum.
"Di hadapan tingkatan tua, kita harus berterus terang.
Tidak boleh merasa malu." "Betul!
Betul!
Ha ha ha...!" Sam Gan Sin Kay terus tertawa gembira, kemudian bertanya mendadak.
"Kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?" "Eeeeh?" Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling ling memandang, keduanya tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
"Itu akan dirundingkan nanti," sahut Lie Man Chu.
"Sekarang mereka baru tiba, tidak baik mengutarakan itu." "Oh ya!
Ai Ling!" Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya.
"Kenapa Goat Nio dan Bun Yang tak pulang?" "Aku tidak bertemu Goat Nio," sahut Lie Ai Ling memberitahukan.
"Ternyata dia tidak sabar menunggu.