Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 103

Memuat...

Kok ayah Seng Hauw adalah paman Hui San?" "Perlu kuberitahukan..." ujar Lie Man Chiu n menutur, kemudian menambahkan.

"Kini kalian sudah tahu ayah angkat Hui San adalah Lu lay Kam, namun jangan menceritakan kepada Hay Thian!" "Ooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Tenyata begitu!

Baiklah.

Kami tidak akan menceritakan tentang itu kepada Hay Thian." "Tapi...." Lim Ceng Im mengerutkan kening, "Kelak Hay Thian pasti mengetahuinya." "Itu urusan kelak, lagi pula Hay Thian mungkin sudah mencintai Hui San," sahut Tio Hong Hoa "Mudah-mudahan!" ucap Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang.

"Kini yang kupikirkan adalah Kui Bin Pang itu." ---ooo0dw0oo--Bagian ke tiga puluh sembilan Menanti dengan penuh kesabaran Di ruang depan markas pusat Kay Pang, tampah Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong sedang duduk sambil bercakapcakap.

"Entah Bun Yang berhasil menyusul Goat Nio apa tidak?" ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"Aku justru khawatir mereka tidak bertemu" sahut Gouw Han Tiong.

"Sebab Gunung Thian San begitu luas, tinggi dan udaranya dingin.

Cara bagaimana Bun Yang bisa mencarinya?" "Itu...." Lim Peng Hang menggeleng-geleng kan kepala.

Di saat bersamaan, muncul seorang pengemis tua menghadap mereka.

Setelah memberi hormat pengemis itu melapor.

"Pangcu, ada seorang pemuda berkunjung kemari." "Oh?" Lim Peng Hang tercengang.

"Siapa pemuda itu" Mau apa dia berkunjung ke mari?" "Dia bernama Sie Keng Hauw, ingin menemui Lie Ai Ling." "Kalau begitu..." pikir Lim Peng Hang sejenak.

"Suruh dia masuk!" "Ya, Pangcu." Pengemis tua itu memberi hormat lalu melangkah pergi.

Tak lama muncullah Sie Keng Hauw.

"Pangcu!" Sie Keng Hauw menjura.

"Terimalah hormatku!" "Silakan duduk!" sahut Lim Peng Hang sambil menatapnya tajam.

"Terimakasih!" ucap Sie Keng Hauw lalu duduk.

"Anak muda, sebetulnya siapa engkau?" tanya iuw Han Tiong.

"Bolehkah engkau menjelas-n/ "Namaku Sie Keng Hauw.

Aku pernah bertemu Lie Ai Ling dan gadis Jepang itu." Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Dia yang berpesan kepadaku ke mari menunggunya, karena dia sedang mengantar gadis Jepang itu ke Pulau Hong Hoang to " "Ooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Tapi dia belum ke mari, mungkin masih dalam perjalanan menuju ke sini." "Kalau begitu...." Sie Keng Hauw bangkit dari tempat duduknya.

"Aku mohon diri saja.

Beberapa hari kemudian, aku akan ke mari lagi." "Begini saja," ujar Gouw Han Tiong mengusulkan.

"Lebih baik engkau tinggal di sini menunggunya, jadi engkau tidak usah repot ke sana ke mari!" "Tapi akan merepotkan Paman-paman." "Tidak apa-apa." Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Engkau boleh tinggal di sini menunggu Ai Ling.

Oh ya, bolehkah kami tahu siapa orang tuamu?" "Ayahku bernama Sie Kuang Han." Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Ooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Oh ya!" Sie Keng Hauw teringat sesuatu, dia langsung memberitahukan.

"Aku juga kenal Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio.

Mereka yang membawa Hui San pergi menemui ayahku.' "Oh?" Wajah Lim Peng Hang berseri.

"Sungguh diluar dugaan, engkau juga kenal cucuku!" "Apa?" Sie Keng Hauw tertegun.

"Bun Yang adalah cucu Paman?" "Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut "Ibunya adalah putriku.

Oh ya, engkau juga kena!

Lu Hui San?" "Terus terang, Hui San dan aku bersaudara." Sie Keng Hauw menjelaskan.

"Ayahku dan ayah nya adalah saudara kandung." "Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut lagi.

"Ternyata begitu!

Tak disangka Lu Thay Kam adalah ayah angkatnya!" "Paman, apakah Bun Yang, Goat Nio dan Hui .San tidak berada di sini?" tanya Sie Keng Hauw.

"Mereka tidak berada di sini.

Hui San berada di Pulau Hong Hoang To, sedangkan Bun Yang dan Goat Nio...." Lim Peng Hang memberitahukan.

"Oooh!" Sie Keng Hauw manggut-manggut.

"Keng Hauw," ujar Gouw Han Tiong mendadak sambil tersenyum.

"Engkau jangan memanggil kami paman, harus memanggil kami kakek!" "Maaf!" Sie Keng Hauw cepat-cepat minta maaf.

"Aku sama sekali tidak berpikir sampai kesitu, harap Kakek Lim dan Kakek Gouw sudi memaafkan ku!" "Ha ha ha!" Gouw Han Tiong tertawa gelak.

"Tidak apaapa." "Keng Hauw!" Lim Peng Hang menatapnya lain.

"Setelah engkau bertemu Ai Ling, bagaimana perasaanmu terhadapnya?" tanyanya.

"Aku..." Wajah Sie Keng Hauw agak kemerah-merahan.

"Terkesan baik terhadapnya." "Juga jatuh hati padanya?" tanya Lim Peng Hang lagi sambil tersenyum.

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.

"Tapi____" "Kenapa?" tanya Lim Peng Hang cepat.

"Aku tidak tahu apakah dia juga jatuh hati padaku apa tidak," jawab Sie Keng Hauw sambil menghela nafas panjang.

"Keng Hauw," ujar Gouw Han Tiong sungguh sungguh.

"Engkau harus bertanya kepadanya, jangan ragu dan merasa malu untuk bertanya!" "Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak "Dia yang menyuruhmu menunggu di sini, tentunya dia juga telah jatuh hati padamu.

Kalau tidak, bagaimana mungkin dia akan menyuruh ke mari menunggunya?" "Benar." Wajah Sie Keng Hauw berseri.

Lim Peng Hang dan Gouw Hang Tiong salii memandang, kemudian keduanya tertawa terbahak bahak.

"Ha ha ha!

Ha ha ha...!" Walau Sie Keng Hauw sudah menunggu beberapa hari, Lie Ai Ling yang ditunggunya belum juga kunjung datang.

Namun pemuda tersebut tidak putus harapan atau patah semangat, dia tetap menanti dengan penuh kesabaran.

Menyaksikan itu, diam-diam Lim Peng Han dan Gouw Han Tiong memujinya dalam hati Mereka berdua juga bersyukur dalam hati, karena Lie Ai Ling bertemu pemuda yang baik, sopan, tampan dan penuh kesabaran.

Hari ini Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong in Sie Keng Houw duduk di ruang depan sambil bercakap-cakap.

"Heran?" gumam Lim Peng Hang.

"Kenapa sudah lewat lima enam hari Ai Ling masih belum kemari?" "Mungkin dia ada halangan," sahut Sie Keng Hauw.

"Itu tidak apa-apa, aku akan tetap menunggunya di sini.

Tapi apakah aku tidak akan Mengganggu Kakek Lim dan Kakek Gouw?" "Tentu tidak." Lim Peng Hang tersenyum.

"engkau boleh terus menunggunya di sini." "Terimakasih, Kakek Lim." ucap Sie Keng lauw.

"Aku yakin..." ujar Gouw Han Tiong.

"Dia pasti ke mari." Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, terdengar pula suara seruan nyaring.

"Kakek Lim!

Kakek Gouw!" "Ai Ling!" sahut Lim Peng Hang dan Gouw lan Tiong sambil tertawa.

"Ha ha ha!

Akhirnya engkau muncul juga!" "Ai Ling!" Sie Keng Hauw buru-buru mendekatinya.

"Ai Ling!" "Keng Hauw!" panggil Lie Ai Ling sambil memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"Sudah lama engkau menungguku di sini?" "Tidak begitu lama," sahut Sie Keng Hau "Aku...." "Tidak begitu lama, namun sudah enam hari dia menanti di sini," ujar Lim Peng Hang memberitahukan.

"Akan tetapi, dia tetap menanti def ngan sabar sekali." "Oh?" Wajah Lie Ai Ling berseri.

"Terima kasih, Kakek Lim dan Kakek Gouw!" "Lho?" Lim Peng Hang heran.

"Kenapa engkau berterimakasih kepada kami?" "Karena..." ujar Lie Ai Ling dengan suara rendah, "karena Keng Hauw diperbolehkan tinggal di sini menungguku." "Ooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut sambil tersenyum.

"Ai Ling, dia pernah bertanya sesuatu kepada kami!" "Apakah yang dia tanyakan?" "Dia bertanya, apakah engkau juga jatuh hati padanya?" "Dia____" Wajah Lie Ai Ling agak kemerah-merahan, namun hatinya berbunga-bunga.

"Kakek Lim, betulkah dia bertanya begitu?" "Betul." Lim Peng Hang mengangguk.

"Nah engkau harus memberitahukan kepadanya!" "Kakek Lim____" Lie Ai Ling cemberut.

"Baiklah." Ling Peng Hang dan Gouw Hai Tiong bangkit dari tempat duduknya.

"Kami ke dalam, silakan kalian berdua saling mencurahkan isi hati masing-masing di sini!" Usai berkata begitu, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong berjalan ke dalam sambil tertawa gelak.

"Konyol sekali Kakek Lim dan Kakek Gouw!" ujar Lie Ai Ling dengan suara rendah.

"Mereka tidak konyol, melainkan demi kebaikan kita," sahut Sie Keng Hauw.

"Ai Ling, mari kita duduk!" Lie Ai Ling mengangguk.

Mereka lalu duduk sambil saling memandang dengan mata berbinar-binar.

"Eeeh?" Lie Ai Ling menengok ke sana ke mari.

"Kok Goat Nio tidak kelihatan?" "Dia sudah berangkat ke Gunung Thian San." Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Apa?" Lie Ai Ling tertegun.

"Kapan dia berangkat?" "Entahlah." Sie Keng Hauw menggelengkan kepala.

"Kakek Lim yang memberitahukan kepadaku." "Aaah...!" keluh Lie Ai Ling sambil menghela nafas panjang.

"Kenapa dia tidak sabar menungguku?" "Karena dia tak tahan menahan rindunya kepada Bun Yang," ujar Sie Keng Hauw.

"Maka dia berangkat ke sana." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Seandainya aku tidak muncul hari ini, bagaimana engkau?" "Aku akan tetap menanti dengan penuh ke sabaran." "Bagaimana kalau aku tidak muncul sama sekali?" "Aku pasti menyusulmu ke Pulau Hong Hoan To," ujar Sie Keng Hauw sungguh-sungguh.

"Namun dengan membawa kekecewaan." "Lho?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Kenapa harus membawa kekecewaan?" "Karena engkau tidak muncul di sini, berarti engkau sudah melupakan aku.

Nah, bukankah aku akan kecewa sekali?" "Keng Hauw...." Lie Ai Ling tersenyum.

"Kini aku sudah berada di sisimu, bagaimana perasaan mu?" "Aku gembira sekali," sahut Sie Keng Hauw kemudian mendadak menggenggam tangan gadis itu erat-erat.

"Ai Ling, engkau jatuh hati padaku?" "Ng!" Lie Ai Ling mengangguk perlahan.

"Engkau?" "Sama." Sie Keng Hauw tersenyum lembut "Oh ya!

Ternyata engkau teman baik Hui San itu sungguh di luar dugaan!" "Benar." Lie Ai Ling tertawa gembira.

"Setelah aku tiba di Pulau Hong Hoang To, barulah aku tahu tentang itu.

Hui San yang memberitahukan kepadaku.

Pantas aku merasa pernah mendengar namamu!" "Ai Ling, bagaimana keadaan adikku" Dia baik-baik saja?" tanya Sie Keng Hauw penuh perhatian.

"Dia baik-baik saja," jawab Lie Ai Ling.

"Engkau tahu tentang itu dari ayahmu?" "Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.

"Bahkan ayahku berpesan, aku dan Hui San tidak perlu menuntut balas terhadap Lu Thay Kam." "Syukurlah!" ucap Lie Ai Ling.

"Tapi ketika itu, Lu Thay Kam justru nyaris mati di tangan Hui San." "Oh?" Sie Keng Hauw mengerutkan kening.

'Kenapa bisa begitu?" "Ternyata Lu Thay Kam sangat menyayangi Kui San, maka dia rela mati di tangan Hui San." Lie Ai Ling memberitahukan, kemudian menutur tentang kemunculan Tio Bun Yang, yang menyelamatkan nyawa Lu Thay Kam.

Post a Comment