"Mungkinkah mereka itu para anggota Kui Bin Pang?" "Tio Tocu!" Kou Hun Bijin menatapnya.
"Engkau tahu jelas tentang perkumpulan itu?" "Aku cuma dengar dari almarhum ayahku!" sahut Tio Tay Seng dan menutur.
"Ketika ayahku baru muncul di Tionggoan menggunakan Hong Hoang Leng, di luar perbatasan dekat gurun pasir Sih Ih juga muncul sebuah perkumpulan misteri yang para anggota maupun ketuanya memakai kedok setan, dan berpakaian serba putih.
Kemunculan mereka pasti disertai dengan suara siulan aneh yang menyeramkan.
Mereka membantai ma nusia seperti membunuh semut.
Para anggota perkumpulan itu rata-rata berkepandaian tinggi sekali, apalagi ketuanya." "Aku pernah dengar mengenai Kui Bin Pang itu, kira-kira sudah hampir seratus tahun yang lalu," ujar Kou Hun Bijin.
"Tapi Kui Bin Pang itu cuma bergerak di luar perbatasan, tidak pernah memasuki daerah Tionggoan." "Benar." Tio Tay Seng manggut-manggut.
"Pada waktu itu, ayahku memperoleh informasi tentang Kui Bin Pang, maka segera berangkat ke kota Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan).
Namun ketika sampai di sebuah desa, ayahku justru malah bertemu dengan ketua Kui Ban Pang." "Oh?" Sam Gan Sin Kay tertarik.
"Lalu apa yang terjadi?" "Ternyata ketua Kui Bin Pang memasuki daerah Tionggoan dengan maksud menyelidiki keadaan rimba persilatan Tionggoan.
Setelah itu, barulah ia akan membawa para anggotanya untuk menyerbu ke rimba persilatan Tionggoan," ujar Tio Tay Seng memberitahukan.
"Oleh karena itu, ayahku menantangnya bertarung." "Mereka berdua jadi bertarung?" tanya Kou iiun Bijin.
"Tentu jadi," jawab Tio Tay Seng dan melanjutkan.
"Sebab ketua Kui Bin Pang bersifat angkuh, maka terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.
Beberapa ratus jurus kemudian, ayahku berhasil memukulnya hingga jatuh ke jurang.
Namun dada ayahku juga tertendang oleh tendangannya, sehingga membuat ayahku mengalami luka dalam yang cukup parah.
Beberapa bulan kemudian, barulah ayahku bisa pulih.' "Pantas sejak itu tiada kabar beritanya mengenai Kui Bin Pang yang misteri itu!" ujar Kou Hun Bijin.
'Ternyata ayahmu berhasil memukul ketua itu jatuh ke jurang!" "Tio Tocu," tanya Kim Siauw Suseng.
"Tentang kejadian itu tiada seorang pun yang mengetahuinya?" "Memang tidak," jawab Tio Tay Seng.
"Bahkan para anggota Kui Bin Pang pun tidak tahu tentang itu" "Kalau begitu...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Kenapa kini malah muncul para anggota Kui Bin Pang itu?" "Aku pun tidak habis pikir," sahut Tio 'Im Seng sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menambahkan.
"Para anggota Kui Bin Pang itu telah muncul, pertanda perkumpulan itu sudah punya ketua.
Karena itu...." "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring "Tio Tocu, engkau khawatir perkumpulan itu akab ke mari menuntut balas?" "Kalau terjadi itu, bukankah ketenangan Pulau Hong Hoang To ini akan terusik?" sahut Tay Seng sambil menghela nafas panjang.
"Kita semua ingin hidup tenang dan damai di sini.' "Paman," ujar Tio Cie Hiong.
"Kui Bin Pang itu sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi atas diri ketua yang dulu.
tentunya mereka tidak akan ke mari menuntut balas." "Tapi biar bagaimanapun, kita harus berjaga-jaga," sahut Tio Tay Seng sungguh-sungguh.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Tio Tocu, kalau Kui Bin Pang ke mari, kita habiskan saja mereka." "Pengemis bau...." Tio Tay Seng menggeleng-geengkan kepala.
"Engkau harus tahu, para anggota Kui Bin Pang dan ketuanya berkepandaian tinggi sekali.
Terus terang, kemungkinan besar aku bukan tandingan ketuanya." "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Tio Tocu, kenapa engkau berubah menjadi pengecut?" "Bijin!" Tio Tay Seng tersenyum getir.
"Aku tidak berubah menjadi pengecut, melainkan memikirkan ketenangan pulau ini." "Sudahlah!" tandas Kim Siauw Suseng.
"Belum tentu mereka itu para anggota Kui Bin Pang.
kalaupun benar, kita tidak usah takut." "Tapi...." Tio Tay Seng menghela nafas panjang.
"Apabila Kui Bin Fang muncul di rimba persilatan, pasti akan terjadi pula bencana di rimba persilatan." "Paman," ujar Tio Cie Hiong.
"Itu urusan rimba persilatan, kita tidak usah mencampurinya." "Ngmmm!" Tio Tay Seng manggut-manggut.
Sementara Lie Ai Ling diam saja dengan pikiran menerawang.
Apa yang mereka bicarakan bagaikan angin lalu, sebab pikirannya terus mengarah pada Sie Keng Hauw yang telah mencuri hatinya.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya, "Kenapa engkau melamun.
Apa yang engkau pikirkan?" "Ibu...." Wajah Lie Ai Ling agak kemerah merahan.
"Yatsumi tidur di kamar mana?" "Itu..." pikir Tio Hong Hoa sejenak.
"Sekamar saja dengan Hui San dan Bokyong Sian Hoa." "Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke kamar untuk beristirahat," ujar Lie Ai Ling sambil menarik Yatsumi ke dalam.
Perlahan-lahan Lie Ai Ling membuka pintu kamar itu, dilihatnya Lu Hui San dan seorani gadis duduk di situ.
"Ai Ling" panggil Lu Hui San gembira.
"Hui San!" Lie Ai Ling menggenggam tangannya erat-erat.
"Engkau kok agak kurusan?" "Aku...." Lu Hui San menghela nafas panjang "Oh ya, mari kuperkenalkan!
Ini adalah Bokyon Sian Hoa, berasal dari Manchuria." "Selamat bertemu, Sian Hoa!" ucap Lie ai Ling sambil memberi hormat, lalu memperkenalkan Yatsumi.
"Dia berasal dari Jepang, namanya Yatsumi" "Selamat bertemu Nona Hui San dan Non Sian Hoa!" ucap Yatsumi sambil membungkuk badannya.
"Hi hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli, sekaligus balas memberi hormat dengan cara menjura.
"Kenapa engkau membungkukkan badanmu dalam-dalam begitu?" "Ini cara Bangsa Jepang memberi hormat," sahut Yatsumi memberitahukan sambil tersenyum.
"Ooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut, kemudian bertanya kepada Lie Ai Ling.
"Engkau bertemu Kakak Bun Yang?" "Tidak." Lie Ai Ling menggelengkan kepala.
"Tapi dia bertemu seorang pemuda tampan.
Mereka berdua sudah saling jatuh hati," sela Tatsumi memberitahukan.
"Eh" Engkau kok begitu banyak mulut sih?" tegur Lie Ai Ling sambil melotot.
"Ai Ling!" Lu Hui San tampak gembira.
"Siapa pemuda itu" Betulkah kalian berdua sudah saling jatuh hati?" "Dia bernama Sie Keng Hauw, kami berdua...." Lie Ai Ling tidak melanjutkan ucapannya, Mainkan tampak tersipu.
"Apa?" Lu Hui San tersentak.
"Pemuda itu bernama Sie Keng Hauw?" "Engkau kenal dia?" Lie Ai Ling heran.
"Mungkinkah dia putra pamanku?" sahut Lu Hui San.
"Tentunya engkau masih ingat, pamanku adalah Sie Kuang Han." "Ooooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Aku ingat sekarang, pantas aku merasa pernah mendengar nama itu!
Ternyata dia putra pamanmu Sungguh di luar dugaan!" "Ai Ling..." bisik Lu Hui San.
"Ingat, engkau tidak boleh membuka tentang hubunganku dengan Lu Thay Kam!" "Jadi...." Lie Ai Ling terbelalak.
"Hingga kini dia belum tahu ayah angkatmu adalah Lu Tha Kam?" "Dia sama sekali tidak tahu," sahut Lui Hu San dengan suara rendah.
"Kalau dia tahu, entah apa yang akan terjadi" Sebab dia sangat men dendam kepada ayah angkatku itu." "Jangan khawatir!" Lie Ai Ling tersenyum "Aku tidak akan memberitahukan tentang itu.
oh ya, ayahku sudah tahu?" "Tentu, tahu," sahut Lu Hui San.
"Karena ayahmu mantan wakil ayah angkatku." "Oh?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Ayahmu..." tutur Lu Hui San dan menambahkan.
"Namun ayahmu sama sekali tidak membuka rahasiaku itu." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Baik lah.
Aku akan ke kamar untuk beristirahat sebentar.
Kalau engkau berjumpa Keng Hauw lalu ajaklah dia ke mari!" "Baik." Lie Ai Ling mengangguk, lalu melangkah ke kamarnya.
Begitu memasuki kamarnya ia terbelalak karena melihat kedua orang tua sudah menunggu di situ.
"Ayah, Ibu!" "Ai Ling," sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum lembut.
"Duduklah!" Lie Ai Ling duduk di sebelah ibunya dengan kepala tertunduk.
Gadis itu yakin ibunya akan tanya ini dan itu kepadanya.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya.
"Betulkah engkau bertemu seorang pemuda, bahkan kalian berdua sudah saling jatuh hati?" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk malu-malu.
"Siapa pemuda itu?" tanya Lie Man Chiu.
"Apakah dia pemuda yang baik?" "Dia bernama Sie Keng Hauw.
Menurut aku dia memang pemuda yang baik," jawab Lie Ai ling dan menambahkan.
"Justru sungguh di luar dugaan, ternyata pemuda itu saudara Hui San." "Oh?" Lie Man Chiu tertegun.
"Dari mana engkau tahu?" "Tadi Hui San memberitahukan, maka aku pun ingat...." Lie Ai Ling memberitahukan sekaligus menutur tentang itu.
"Ooooh!" Lie Man Chiu manggut-manggut sambil tersenyum, kemudian berpesan.
"Ai Ling, engkau tidak boleh memberitahukan kepada Hay Thian bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San." "Tadi Hui San juga berpesan begitu," ujar Lie Ai Ling melanjutkan.
"Aku pun tak menyangka jikalau Ayah pernah jadi wakil ayah angkatnya." "Ai Ling...." Lie Man Chiu menghela nafas panjang.
"Itu telah berlalu, jangan diungkit lagu" "Ya, Ayah." Lie Ai Ling mengangguk.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya lembut "Apabila engkau bertemu lagi dengan pemuda itu, ajaklah dia ke mari menemui ibu dan ayah!" "Ibu...." Wajah Lie Ai Ling berseri.
"Besok aku akan berangkat ke markas pusat Kay Pang sebab Goat Nio masih menunggu di sana.
Lagi pula Keng Hauw akan ke markas pusat Kay Pang menemuiku.
Aku...
aku harus segera berangkat ke sana." "Baik," pesan Lie Man Chiu sungguh-sungguh "Setelah kalian berjumpa, ajaklah dia ke mari!" "Ya, Ayah." Lie Ai Ling mengangguk.
Keesokan harinya, Lie Ai Ling berpamit ke pada semua orang.
"Ai Ling, kalau engkau bertemu Bun Yang dan Goat Nio, ajaklah mereka pulang!" pesan Lim Ceng Im.
"Seandainya cuma bertemu Goat Nio...." Kou Hun Bijin juga ikut berpesan pada gadis itu "Biarlah dia tetap di markas pusat Kay Pang menunggu Bun Yang." "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.
"Ai Ling!" Sam Gan Sin Kay menatapnyi seraya berkata.
"Sampaikan pesanku kepada Peng Hang, bahwa menyuruh dia menyelidiki Kui Biu Pang!" Lie Ai Ling mengangguk lagi, dan setelah itu barulah berangkat.
Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mengantarnya sampai di luar rumah.
"Syukurlah dia sudah punya kekasih!" ucap m Cie Hiong setelah Lie Ai Ling tidak kelihatan.
"Memang sungguh di luar dugaan!" sahut Lie lan Chiu sambil tersenyum.
"Pemuda itu saudara Li Hui San!" 'Oh, ya?" Tio Cie Hiong tertegun.
"Kok engkau tahu?" "Ai Ling yang beritahukan," sahut Lie Man hiu menjelaskan.
"Pemuda itu bernama Sie Keng Kauw, putra Sie Kuang Han, paman Lu Hui San." "Aku jadi bingung nih," ujar Lim Ceng Im dengan kening berkerut.
"Hui San bermarga Lu, sedangkan Keng Hauw bermarga Sie.