Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 101

Memuat...

Namun dia tidak sabar menunggu akhirnya mengambil keputusan berangkat ke Gunung Thian San.

Kakek tahu, dia rindu sekali kepadamu.

"Kakek, siapa Yatsumi itu?" "Gadis Jepang." Lim Peng Hang menjelaskan.

'Ketika Goat Nio dan Ai Ling menuju ke mari, ketika tengah jalan bertemu gadis Jepang itu, yang ternyata putri Michiko, kenalan ayahmu." "Kenapa Adik Ai Ling mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To?" "Yatsumi ingin belajar ilmu silat kepada ayah-mu, karena kedua orang tuanya mati dibunuh ketua ninja..." tutur Lim Peng Hang tentang Michiko, ibu Yatsumi.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut setelah mendengar penuturan itu.

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana keadaan kauw heng" Kenapa engkau tidak membawanya ke mari?" "Kakek...." Mata Tio Bun Yang mulai basah.

'Kauw heng sudah mati." "Haaah?" Lim Peng Hang terperanjat, kemudian wajahnya berubah murung.

"Itu sungguh di luar dugaan!" "Kauw heng terkena pukulan yang kan Seng Hwee Sin Kun, padahal pukulan itu diarahkan padaku.

Kauw heng telah berkorban demi menyelamatkan nyawaku." "Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafai panjang.

"Oh ya!

Selama ini engkau berada di mana?" "Aku berada di dalam goa es, di Gunung Thian San..." jawab Tio Bun Yang dan menutur.

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggul "Jadi kini engkau telah berhasil menguasai ilmu Kan Kun Taylo Im Kang?" "Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk dan menutur lagi tentang Bokyong Sian Hoa, putri Manchuria itu.

"Pantas engkau tidak ke mari, ternyata engkau membawa putri Manchuria itu ke Pulau Hong Hoang To menemui ayahmu!" ujar Lim Peng Hang.

"Tapi Goat Nio dan Ai Ling malah berangkat ke mari, jadi kalian selisih jalan." "Kakek, aku mohon pamit untuk berangkat ke Gunung Thian San.

Aku harus segera menyusul Goat Nio." "Itu____" Lim Peng Hang berpikir sejenak, lama sekali barulah mengangguk seraya berkata, "Baik lah.

Engkau boleh berangkat sekarang, mudah mudahan engkau berhasil menyusulnya!" "Terimakasih, Kakek!" ucap Tio Bun Yang Pemuda itu segera meninggalkan markas pusat Kay Pang, dan langsung berangkat ke Gunung thian San.

Setelah berada di tempat sepi.

barulah ia menggunakan ginkangnya.

---oo0dw0ooo--Sementara itu.

Lie Ai Ling dan Yatsumi sudah tiba di Pulau Hong Hoang To.

Tentunya mengherankan para penghuni pulau itu, dan Kou Hun bijin langsung menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Kenapa engkau pulang seorang diri" Di mana goat Nio" Siapa gadis berpakaian aneh ini" Kenapa engkau membawanya ke mari?" "Aduuuh!" keluh Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku harus bagaimana menjawabnya?" "Ai Ling," sahut Tio Hong Hoa sambil memandangnya.

"Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu satu persatu!" "Ibu, aku sudah lupa apa yang ditanyakan Bibi Mijin," ujar Lie Ai Ling.

"Langsung mengajukan begitu banyak pertanyaan sih!" "Baik." Kou Hun Bijin manggut-manggut.

"Aku akan mengajukan satu persatu pertanyaanku.

Kenapa engkau pulang seorang diri?" "Aku mengantar Yatsumi ke mari." "Di mana Goat Nio?" "Siapa gadis berpakaian aneh ini?" "Dia berada di markas pusat Kay Pang." "Dia bernama Yatsumi, gadis berasal dai Jepang." "Kenapa engkau membawanya ke mari?" "Dia ingin bertemu Paman Cie Hiong, maka aku membawanya ke mari." "____" Ketika Kou Hun Bijin ingin bertanyi lagi, mendadak Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Bijin!

Jangan terus bertanya, kapan gilian Cie Hiong bertanya kepadanya?" ujar pengemi tua itu.

"Gadis Jepang itu ke mari menemuinya biar Cie Hiong yang bertanya." "Pengemis bau!" Kou Hun Bijin melotot.

"Memangnya aku tidak boleh aku mewakili Cie Hong untuk bertanya ?" "Tentu boleh.

Tapi...." Sam Gan Sin Kj tertawa lagi.

"Ha ha ha!

Apakah engkau tidak merasa capek terus-menerus bertanya?" "Justru tidak." Kou Hun Bijin tertawa nyaring kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya berkata, "Adik, sekarang engkau boleh bertanya padanya." "Biar Kakak saja yang bertanya," sahut Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kalau aku terus-menerus bertanya, pengemis bau yang mau mampus itu pasti bertambah tidak senang," ujar Kou Hun Bijin.

"Maka lebih baik engkau saja yang bertanya." Tio Cie Hiong mengangguk, lalu memandang Yatsumi seraya bertanya, "Engkau berasal dari Jepang?" "Maaf!" ucap Yatsumi sambil menatap Tio Cie Hiong.

"Apakah aku sedang berhadapan dengan Paman Cie Hiong?" "Betul." "Paman, terimalah hormatku!" Yatsumi segera membungkukkan badannya, kemudian memberitahukan.

"Aku memang berasal dari Jepang, namaku Yatsumi." "Siapa yang menyuruhmu ke mari menemuiku?" tanya Tio Cie Hiong heran.

"Ibuku," jawab Yatsumi dengan air mata berlinang-linang.

"Ibuku bernama Michiko." "Oh?" Tio Cie Hiong.

Lim Ceng Im dan lainnya terbelalak.

Mereka memang kenal Michiko.

"Duduklah, Yatsumi!" ujar Lim Ceng Im.

"Terimakasih, Bibi!" Yatsumi duduk dan memberitahukan.

"Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, ibuku berpesan kepadaku harus ke Tionggoan mencari Paman." "Jadi...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

'Ibumu sudah meninggal?" "Ya." Yatsumi terisak-isak.

"Ibu dan ayahku meninggal karena dibunuh oleh ketua ninja baru." "Ketua ninja baru?" Tio Cie Hiong terkejut.

"Siapa ketua ninja baru itu?" "Dia adik seperguruan ketua ninja lama, nama nya Takara Nichiba.

Kepandaiannya tinggi sekali maka ibuku menyuruhku kabur ke Tionggoan untuk mencari Paman.

Aku pun disuruh belajar ilmu silat kepada Paman agar bisa membalas dendam," ujar Yatsumi dengan air mata berderai derai.

"Aaaah...!" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang.

"Itu merupakan kejadian yang sungguh di luar dugaan!" "Oh ya!" Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya, "Bagaimana engkau bisa bertemu Ai Ling dan putriku?" "Secara kebetulan." tutur Yatsumi dan menambahkan.

"Setelah itu, Ai Ling dan Goat Nio mengajakku ke markas pusat Kay Pang.

Sesudah berunding, akhirnya Ai Ling mengantarku kemari menemui Paman Cie Hiong." "Ooooh!" Kou Hun Bijin manggut-manggut kemudian bertanya kepada Ai Ling.

"Kalian belum bertemu Bun Yang?" "Belum," jawab Lie Ai Ling.

"Dia tidak berada di markas pusat Kay Pang, mungkin masih berada di Gunung Thian San!" "Itu gara-gara kalian tidak bisa bersabar," tegur Kou Hun Bijin.

"Maka kalian tidak bertemu Bun Yang." "Memangnya kenapa?" Lie Ai Ling bingung "Setelah kalian berangkat ke Tionggoan, beberapa hari kemudian Bun Yang justru pulang." Tio Hoang Hoa memberitahukan.

"Dia pulang bersama Bokyong Sian Hoa." "Oh?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Ibu, siapa Bokyong Sian Hoa itu?" "Mantan putri Manchuria." Tio Hoang Hoa menjelaskan.

"Ayahnya adalah raja Manchuria, teman baik pamanmu, tapi kedua orang tuanya sudah meninggal." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Jadi kakak Bun Yang sudah berangkat ke Tionggoan?" "Ya." Tio Hoang Hoa mengangguk.

"Kalau begitu...." Lie Ai Ling tersenyum.

"Dia pasti bertemu Goat Nio di markas pusat Kay Pang, sebab Goat Nio menunggu di sana." "Syukurlah!" ucap Kou Hun Bijin sambil tertawa gembira.

"Legalah hatiku!" Sementara Tio Cie Hiong terus memandang Yatsumi.

Ia merasa iba pada gadis Jepang itu.

"Yatsumi," tanya Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.

"Jadi engkau ingin belajar ilmu silat?" "Ya, Paman," sahut Yatsumi sambil menganggukkan kepala.

"Baiklah." Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Aku akan mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi.' "Terimakasih, Paman!" ucap Yatsumi gembira.

'Setelah aku berhasil menguasai ilmu silat tingkat tinggi, aku akan segera pulang ke Jepang untuk membalas dendam kedua orang tuaku." "Oh ya!" Tio Cie Hiong menatapnya seraya bertanya.

"Engkau pernah belajar ilmu silat kepada ibumu?" "Ibuku mengajarku ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi.

Katanya Paman yang mengajarkan padanya," ujar Yatsumi.

"Betul." Tio Cie Hiong manggut-manggut dan menambahkan.

"Besok aku akan mulai menggemblengmu." "Terimakasih, Paman!" ucap Yatsumi, kemu dian melirik Lie Ai Ling seraya berkata.

"Paman, di tengah jalan kami dihadang beberapa panjahat Untung muncul seorang pendekar muda membantu kami.

Pendekar muda itu tampan sekali." "Oh?" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Siapa pendekar muda itu?" "Dia bernama Sie Keng Hauw," jawab Yatsumi memberitahukan.

"Kelihatannya dia dan Ai Ling sudah saling jatuh hati." "Yatsumi!" Wajah Lie Ai Ling kemerah-merahan.

"Jangan omong yang bukan-bukan!

Aku akan marah lho!" "Aku berkata sesungguhnya, kenapa engkau akan marah?" Yatsumi heran.

"Seharusnya engkau berterus terang kepada orang tuamu." "Eh" Engkau...." Lie Ai Ling melotot.

"Kok engkau banyak mulut sih?" "Ai Ling!" Lie Man Chiu menatapnya tajam "Bagaimana pemuda itu, apakah dia tergolong emuda baik, jujur, ramah tamah dan sopan?" "Ayah...." Wajah Lie Ai Ling bertambah merah.

"Hi hi hi!" Mendadak Kou Hun Bijin tertawa berkikikan.

"Man Chiu, kenapa engkau begitu kalut?" "Ai Ling adalah putriku satu-satunya, tentu-iya aku kalut karena dia sudah jatuh hati pada seorang pemuda," sahut Lie Man Chiu sungguh-sungguh.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan lagi.

"Engkau memang keterlaluan dan tidak bisa bersabar.

Bukankah engkau boleh bertanya kepadanya di dalam kamar" Bertanya secara terang-terangan di sini sama juga mempermalukannya." "Benar." Lie Man Chiu manggut-manggut.

"Sungguh mengagumkan!" ujar Sam Gan Sin Hay sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Bahkan juga sungguh diluar dugaan.

Kali ini Bijin bisa berpikir sampai sejauh itu." "Memangnya aku tidak punya pikiran?" sahut ou Hun Bijin sambil melotot.

"Hm!

Dasar pengemis bau!" "Ha ha ha...!" Sam Gan Sin Kay terus tertawa gelak, sedangkan Kou Hun Bijin pun terus melototinya.

"Oh ya!" Mendadak Lie Ai Ling teringat suatu.

"Ayah, Ibu, ketika aku dan Goat Nio nuju markas pusat Kay Pang, di tengah jalan aku mendengar suara siulan aneh yang sangat menyeramkan.

Setelah itu terdengar pula suara derap kaki kuda." "Oh?" Lie Man Chiu mengerutkan kening "Kemudian apa yang kalian lihat?" "Kami melihat segerombolan orang menung gang kuda, mereka terus mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, bahkan juga memakai kedok setan." "Apa?" Tio Tay Seng, majikan pulau Hong Hoang To itu tampak terkejut sekali.

"Mereka juga berpakaian serba putih?" "Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)!" seru Tio Tay Seng tak tertahan dan wajahnya tampak berubah.

Post a Comment