Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 100

Memuat...

Pemuda itu tertawa dan sekaligus berkelit, kemudian balas menyerang.

Mulailah mereka bertarung dengan seru, dan masing-masing mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Tak terasa pertarungan sudah melewati puluhan jurus.

Di saat itulah pemuda tersebut bersiul panjang.

Mendadak badannya berputar-putar ka arah Kepala anggota Seng Hwee Kauw, dan pedangnya, yang aneh itu berkelebat dan menyambal ke sana ke mari.

Itu membuat Kepala anggota Seng Hwee Kauw tidak bisa berkelit, maka terpaksa menangkis.

Trang...!

Terdengar suara benturan keras, dan bunga api berpijar ke mana-mana.

Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu memang berhasil menangkis serangan itu, tapi sungguh diluar dugaan, sebab mendadak pemuda itu meng gerakkan pedangnya membentuk sebuah lingkal an, sehingga membuat pedang lawannya harui berputar juga.

Di saat itulah ujung pedang pe muda itu menerobos mengarah ke dada lawannya.

"Aaaakh...!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menjerit sambil menyurut mundur beberapa langkah, dadanya sudah berlumuran darah.

"Aku tidak akan membunuhmu," ujar pemuda itu sambil tersenyum.

"Cepatlah ajak mereka pergi, jangan coba-coba mengganggu nona ini lagi" "Sebutkan namamu!" bentak Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu, namun kemudian malah merintih-rintih.

"Aduuuh...!" "Namaku Sie Keng Hauw!" sahut pemuda itu "Kalau engkau ingin balas dendam kelak, silakan Tapi...

saat itulah engkau akan mati di ujung pedangku!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menatapnya dengan mata berapi-api, lalu melangkah pergi sambil mendekap dadanya.

Para anak buahnyaa segera mengikutinya dari belakang dengan kepala tertunduk.

"Terimakasih, Saudara Sie!" ucap Lie Ai Ling, yang ternyata sangat tertarik padanya.

"Kok Nona tahu margaku?" Pemuda itu heran.

"Bukankah barusan engkau memberitahukan kepada Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu?" sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum manis.

"Oooh." Pemuda itu manggut-manggut.

"Nona, naaku Sie Keng Hauw.

Bolehkah aku tahu namamu?" "Aku bernama Lie Ai Ling," Gadis itu memperkenalkan.

"Dia bernama Yatsumi, berasal dari Jepang." "Selamat bertemu!

Selamat bertemu!" ucap Sie Keng Hauw.

"Aku sungguh gembira sekali berkenalan dengan Nona!" "Engkau merasa gembira berkenalan dengan-ku atau gadis Jepang itu?" tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya.

"Aku merasa gembira berkenalan denganmu," sahut Sie Keng Hauw blak-blakan.

"Sebab Nona cantik sekali." "Oh, ya?" Hati Lie Ai Ling berbunga-bunga mendengar pujian pemuda itu.

"Aku pun gembira sekali berkenalan denganmu." "Sungguh?" Wajah Sie Keng Hauw cerah ceria.

"Nona tidak bohong?" "Aku tidak bohong.

Saudara Sie, jangan memanggilku nona, panggil saja namaku!" "Baik, Ai Ling." Sie Keng Hauw menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Oh ya!

Bolehkah aku tahu kalian mau ke mana?" "Kami mau ke Pulau Hong Hoang To," jawab, Lie Ai Ling jujur.

"Engkau mau ke mana?" "Aku mau pergi menemui ayahku." Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Sudah belasan tahun aku tidak bertemu ayahku." "Engkau berada di mana selama belasan tahun ini?" tanya Lie Ai Ling heran.

"Berada di tempat guruku belajar ilmu silat" sahut Sie Keng Hauw.

"Aku telah berhasil menguasai seluruh ilmu guruku, maka aku diperbolehkan pulang." "Siapa gurumu?" "Maaf!

Guru melarangku menyebut nama nya." "Tidak apa-apa." "Ai Ling...." Sie Keng Hauw menatapnya dalam-dalam.

"Sayang sekali, aku harus segera pulang.

Kita berpisah di sini." "Yaaah!" Lie Ai Ling menghela nafas panjang "Baru bertemu sudah mau berpisah!

Kapan kita akan berjumpa kembali?" "Itu...." Sie Keng Hauw mengerutkan kening "Oh ya!

Aku harus ke mana mencarimu?" "Kalau engkau ingin menemuiku, carilah aku di markas pusat Kay Pang!" sahut Lie Ai Ling.

"Aku menantimu di sana." "Baik." Mendadak Sie Keng Hauw memegang bahu gadis itu.

"Kita akan berjumpa lagi, aku pasti ke markas pusat Kay Pang menemuimu." "Aku...." Lie Ai Ling menundukkan kepala, namun bergirang dalam hati karena pemuda itu memegang bahunya.

"Aku pasti menantimu." "Baiklah," ucap Sie Keng Hauw.

"Sampai jumpa?" "Sampai jumpa, Keng Hauw!" sahut Lie Ai ling sambil mendongakkan kepala memandangnya.

"Aku pasti menantimu di markas pusat Kay Pang." "Ai Ling!

Sampai jumpa...." Sie Keng Hauw meleset pergi.

Walau pemuda itu sudah tidak kelihatan, namun Lie Ai Ling masih berdiri termangu-mangu disitu.

"Ai Ling!" Yatsumi menepuk bahunya sambil 'tersenyum.

"Pemuda itu sudah pergi jauh, engkau k masih melamun di sini?" "Haah...?" Lie Ai Ling tersentak kaget, wajah-nya tampak kemerah-merahan.

"Aku____" "Aku tahu...." Yatsumi tertawa kecil.

"Engkau sudah jatuh cinta kepada pemuda itu.

Kelihatannya dia memang pemuda baik, sabar, jujur dan tampan." "Benar!" Lie Ai Ling mengangguk lalu bergumam.

"Sie Keng Hauw!

Sei Keng Hauw...." "Eh?" Yatsumi menatapnya heran.

"Ai Ling kenapa engkau?" "Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut," sahut Lie Ai Ling sambil berpikir.

"Hanya saja aku lupa dengar di mana?" Siapa sebenarnya Sie Keng Hauw itu" Di tidak lain adalah putra Sie Kuang Han, saudara Lu Hui San.

Ketika Tio Bun Yang, Lu Hui Sai-Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling berada di rumah Sie Kuang Han, orang tua itu pernah menyebut nama putranya yaitu Sie Keng Hauw Namun, Lie Ai Ling sudah tidak ingat itu lagi.

"Ai Ling...." Yatsumi menatapnya dalam-dalam.

"Kelihatannya pemuda itu juga sangat tertarik kepadamu." "Oh?" Lie Ai Ling tertawa gembira.

"Bagimana menurutmu, apakah aku cocok dengan dia "Kalian berdua memang cocok," sahut Yatsumi sambil tertawa.

"Ai Ling, aku mengucapkan selamat kepadamu!

Engkau telah bertemu p muda idaman hatimu, aku turut gembira." "Terimakasih!" ucap Lie Ai Ling.

"Yatsumi mari kita melanjutkan perjalanan agar bisa cepat tiba di Pulau Hong Hoang To!" "Baik." Yatsumi mengangguk.

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan Kali ini dalam perjalanan wajah Sie Keng Hauw terus bermunculan di pelupuk mata Lie Ai Ling, sehingga membuat gadis itu tersenyum sendiri.

Diam-diam Yatsumi tertawa geli, namun sikap Lie Ai Ling justru membuatnya teringat kepada pemuda idaman hatinya yang di Jepang.

---ooo0dw0ooo--Bagian ke tiga puluh delapan Berangkat ke Gunung Thian San Tiga hari setelah Lie Ai Ling mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To, Siang Koan Goat Nio yang berada di markas pusat Kay Pang mulai tak sabar menunggu, sebab Tio Bun Yang, yang dirindukannya masih belum muncul.

Hal itu membuat gadis tersebut sering duduk melamun.

Sikapnya itu tidak terlepas dari mata Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Goat Nio...." Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendekati gadis yang sedang duduk melamun di ruang tengah itu.

"Kakek Lim, Kakek Gouw!" panggil Siang Koan Goat Nio, kemudian menundukkan kepala.

"Goat Nio!" Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya, "Kenapa engkau duduk melamun di sini" Apa yang engkau pikirkan?" "Aku...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Memikirkan Bun Yang?" tanya Lim Peng Hang lembut.

"Ya!" Siang Koan Goat Nio mengangguk "Aku mencemaskannya, kenapa hingga saat ini dia belum ke mari" Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Engkau tidak usah cemas," ujar Lim Peng Han menghiburnya.

"Dia tidak akan terjadi suatu apa pun, percayalah!" "Tapi...." "Goat Nio...." Gouw Hang Tiong tersenyum "Aku yakin dia sedang merawat monyet bulu putih itu di Thian San, maka dia belum ke mari." "Tapi sudah sekian lama." "Engkau tahu, kan?" Gouw Han Tiong ter senyum lembut.

"Monyet bulu putih itu terluka parah, tentunya membutuhkan waktu untuk merawatnya." "Terus terang, aku...." "Katakanlah!" ujar Lim Peng Hang dan menambahkan, "Bun Yang adalah cucuku, maka engkau jangan ragu mengutarakan sesuatu ke padaku!" "Kakek Lim, aku ingin menyusulnya." "Apa?" Lim Peng Hang terbelalak.

"Maksud mu ingin ke Gunung Thian San?" "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Goat Nio____" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau harus tahu!

Gunung thian San begitu luas dan dingin sekali, bagaimana mungkin engkau mencarinya di sana?" "Tentunya lebih baik aku mencarinya di sana dari pada terus melamun di sini." "Goat Nio!" Lim Peng Hang menatapnya tajam.

"Pikirkan baik-baik jangan terlampau cepat mengambil keputusan!

Lagi pula bukankah engkau harus menunggu Ai Ling?" "Kakek Lim, aku sudah mengambil keputusan iu," ujar Siang Koan Goat Nio sungguh-sungguh.

Besok pagi aku akan berangkat ke Gunung Thian san." "Goat Nio...." Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku tidak bisa melarangmu, kalau memang engkau sudah mengambil keputusan itu, besok pagi engkau boleh berangkat kegunung Thian San!" "Terimakasih, Kakek Lim!" "Kalau engkau bertemu dengan Bun Yang, ajak dia ke mari!" pesan Lim Peng Hang.

"Sebaliknya apabila engkau tidak berhasil mencarinya ke Gunung Thian San, engkau harus segera Kembali." "Ya," Siang Koan Goat Nio mengangguk.

Keesokan harinya, berangkatlah Siang Koan Goat Nio ke Gunung Thian San.

Seandainya ia bisa bersabar dua tiga hari.

gadis itu pasti bertemu Tio Bun Yang.

Akan tetapi, saking rindunya kepada Tio Bun Yang membuatnya tidak bisa sabar menunggu, maka ia mengambil keputusan berangkat ke Gunung Thian San.

Tiga hari kemudian, sampailah Tio Bun Yang di markas pusat Kay Pang.

Begitu melihat pemuda itu, Lim Peng Hang langsung menghela nafai panjang.

"Kakek...." Tio Bun Yang tercengang.

"Kenapa Kakek menghela nafas?" "Kakek tahu, engkau ke mari ingin menemui Goat Nio.

Tapi...." Lim Peng Hang menggeleng gelengkan kepala.

"Kenapa dia?" tanya Tio Bun Yang tegan, "Telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Dia sudah berangkat ke Gunung Thian Sal tiga hari yang lalu." Lim Peng Hang memberitahu kan.

"Maksudnya menyusulmu.

Kakek menyuruhnya bersabar menunggu di sini, namun dia ber keras berangkat kc Gunung Thian San." "Lalu adik Ai Ling, apakah dia juga ikut keunung Thian San?" tanya Tio Bun Yang.

"Ai Ling mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To," sahut Lim Peng Hang melanjutkan.

"Sedangkan Goat Nio menunggumu di sini.

Post a Comment