Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 07

Memuat...

Bersekutu dengan para pemberontak lain yang pada waktu itu juga bermunculan di utara dan barat, atau kalau saja dia mau bersekutu dan mempergunakan kekuatan orang-orang kulit putih yang agaknya akan suka membantunya mengingat bahwa dia mengaku sebagai penyiar Agama Kristen, agaknya sejarah akan membuat catatan lain dan mugkin sekali Tai peng ini akan menguasai seluruh daratan dan berhasil pula menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu! Akan tetapi Ong Siu Coan terlalu tinggi hati dan mabok kemenangan, merasa bahwa balatentaranya tidak ada yang akan dapat mengalahkannya karena dia memperoleh bimbingan dari Tuhan sendiri! Kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh balatentara Tai Peng membuat Ong Siu Coan tinggi hati dan lengah sehingga hampir saja kelengahannya itu menewaskannya pada malam hari itu.

Malam itu gelap dan sunyi. Karena merasa aman dan tidak mungkin ada orang yang berani mengganggunya, Ong Siu Coan dan isterinya tidur di dalam istana mereka tanpa pengawalan pribadi. Mereka mengambil istana di Nan-king yang merupakan istana tua namun megah menjadi tempat tinggal mereka, hidup bagaikan seorang raja, megah dan mewah.

Karena tidak ada pasukan pengawal pribadi yang melakukan penjagaan, ketika suami isteri ini sudah tidur, tidak ada orang dalam istana itu yang melihat berkelebatnya bayangan orang bergerak cepat sekali melayang turun dari atas genteng istana setelah tadi dia berlompatan seperti seekor burung terbang atau kucing saja. Para pelayan di istana itu terdiri dari orang-orang yang tidak berkepandaian silat, maka mereka tidak mendengar atau melihat sesuatu.

Bayangan itu menyelinap dan akhirnya mengintai dari jendela kamar di mana Ong Siu Coan tidur bersama Tang ki, isterinya. Sebagai seorang yang berasal dari sebuah dusun di Hwa-sian, propinsi Kuang-tung, yang baru saja mengangkat diri menjadi kaisar, Ong Siu Coan belum dapat hidup sebagai layaknya seorang raja atau seorang pembesar tinggi. Dia masih belum mengerti dan masih hidup sebagai orang biasa, tidur sekamar dengan isterinya tanpa ada penjagaan ketat seperti yang biasa bagi seorang raja. Juga dia tidak memiliki selir. Hal ini bukan hanya karena dia mencinta isterinya, akan tetapi juga karena satu di antara peraturan agama barunya adalah melarang pria beristeri lebih dari seorang. Maka, di luar tempat tidurnya itu tidak nampak adanya pengawal dan hal ini membuat bayangan yang mengintai di luar kamar, mengeluarkan suara ketawa lirih mengejek.

Bayangan yang dapat bergerak seperti setan itu bertubuh sedang dan tegap, pakaiannya indah seperti pakaian seorang pelajar, rambutnya mengkilap terpelihara rapi, akan tetapi mukanya tertutup saputangan sutera hitam sehingga tidak dapat dikenal, hanya sepasang matanya saja yang nampak dari dua buah lubang pada saputangan itu, sepasang mata yang tajam dan kadang-kadang mencorong! Pada tubuhnya tidak nampak adanya senjata. Hal ini saja menunjukkan bahwa dia bukan seorang pencuri biasa, melainkan seorang yang sudah terlalu percaya kepada diri sendiri, tidak membutuhkan senjata lagi karena kaki dan tangannya sudah merupakan senjata yang tidak kalah ampuhnya dengan senjata dari baja.

Atau juga menjadi petunjuk bahwa dia adalah seorang yang sombong dan menganggap kepandaian sendiri terlampau tinggi sehingga memandang rendah orang lain. Ketika sepasang mata yang mencorong itu mengamati keadaan di dalam kamar yang remang- remang karena hanya diterangi lampu minyak yang dikerudungi kain hijau dan melihat benda yang dicarinya, sepasang mata itu mengeluarkan sinar berkilat.

Benda itu adalah Giok-liong-kiam yang diletakkan berdiri di atas sebuah meja, bersandar pada dinding yang dihias indah dan di atas dinding terdapat gambar Yesus. Ada dua buah lilin kecil bernyala di kedua ujung meja yang diberi tilam sutera putih yang dipinggirnya berenda. Giok-liong-kiam seolah-olah menjadi sebah benda keramat, benda pujaan di bawah gambar Yesus! Dan memang Ong Siu Coan selalu menonjolkan Pedang Naga Kemala itu sebagai benda keramat,

Sebagai pusaka dan lambang kejayaan Tai Peng. Senyum simpul agaknya menghias pada mulut yang tertutup saputangan itu karena matanya juga membayangkan kegembiraan ketika dia melihat pedang itu. Setelah meneliti beberapa saat lamanya dan merasa yakin bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, dan dari suara pernapasan di dalam kamar itu dia dapat mengetahui bahwa orang-orang yang tidur di balik kelambu itu tentu sudah pulas, orang itu lalu menggunakan kedua tangannya untuk membuka daun jendela. Daun jendela itu terkunci dari dalam dan terbuat dari papan kayu yang tebal dan terukir indah, karena daun jendela itu dipasang di kamar induk dari istana itu. Tidak akan mudah orang membongkarnya dari luar, karena engsel dan kunci jendela terbuat dari besi, buatannya kokoh bukan main.

Akan tetapi, dengan jari-jari tangannya yang amat kuat, orang itu dapat membuka daun jendela tanpa mengeluarkan banyak suara! Hal ini membuktikan bahwa orang berkedok ini memang benar lihai sekali. Setelah daun jendela terbuka, dia meloncat ke dalam kamar melalui lubang jendela, gerakannya tiada bedanya dengan gerakan seekor kucing meloncat, ketika kedua kakinya turun ke lantai kamar, sama sekali tidak terdengar suara berisik. Harus diingat bahwa dua orang yang tidur di balik kelambu tempat tidur itu adalah Ong Siu Coan dan Tang Ki, dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, yang telah melatih diri sedemikian rupa sehingga panca indera mereka demikian pekanya dan biarpun tertidur nyenyak, kalau ada suara sedikit saja yang mencurigakan sudah cukup untuk menggugah mereka!

Akan tetapi sekali ini, mereka tidak mendengar sesuatu dan tetap tidur nyenyak, seperti dapat diketahui oleh orang itu dengan mendengarkan pernapasan mereka yang panjang dn halus tak terkendali. Hal ini kembali membuktikan kelihaian orang itu. Sesaat lamanya dia berdiri saja memandang ke arah kelambu, sambil mendengarkan pernapasan dan melihat kalau-kalau kelambu itu bergoyang. Akan tetapi semuanya tetap hening dan dia menganggu-angguk girang, melihat ke arah dua pasang sepatu di bawah pembaringan, sepasang sepatu pria dan sepasang sepatu wanita. Kemudian dia menoleh ke arah meja di mana terdapat Giok-liong-kiam yang berada dalam sarungnya. Dia melangkah maju, langkahnya juga lembut tanpa suara, dan dilain saat dia telah mengambil pedang pusaka itu,

Mencabutnya dari dalam sarung dan matanya kembali mencorong dan berkilauan ketika dia melihat bahwa benda itu benar Giok-liong-kiam yang dicarinya. Tak disangkanya bahwa benda itu akan dapat dia temukan sedemikian mudahnya! Dia lalu menyelipkan pedang itu ke balik jubahnya, di ikat pinggangnya, dan kakinya melangkah mendekati jendela. Akan tetapi, dia berhenti dan menoleh ke arah ranjang, lalu kakinya bergerak menghampiri. Agaknya timbul suatu keinginan yang membuatnya menghampiri ranjang, menggunakan tangan kiri menyingkap kelambu dan dia menjenguk ke dalam. Ong Siu Coan tidur miring membelakangi isterinya yang tidur terlentang. Keduanya tidur pulas. Orang itu berdiri memandangi wajah dan tubuh Tang Ki yang tertutup pakaian tidur yang tipis, dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar lembut.

Tangan kirinya masih menyingkap kelambu dan kini tangan kanannya bergerak ke depan, dengan lembut meraba dan mengusap kaki Tang Ki di bagian paha. Rabaan halus ini cukup bagi Tang Ki untuk merasakan sesuatu yang tidak wajar dalam tidurnya. Ia membuka mata dan seketika ia mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya sudah meloncat dan menerjang ke arah orang berkedok itu! Tang Ki adalah seorang wanita yang memiliki kepandaian tinggi sekali, mungkin tidak kalah lihai dibandingkan suaminya. Ia adalah puteri tunggal Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, dan selain telah mewarisi ilmu-ilmu silat yang hebat dari ayahnya, juga ia telah mewarisi ilmu meringankan tubuh yang istimewa ciptaan Tat Mo Couwsu yang ditemukan di dalam sebuah kitab yang bernama Hui-thian-yan-cu (Burung Walet terbang ke Angkasa)!

Maka, terjangannya tadi, biarpun dilakukan dalam keadaan baru saja terbangun dari tidur nyenyak, dan dari keadaan rebah terlentang, berlangsung cepat bukan main dan tahu-tahu tubuhnya sudah melesat naik, ke depan dan kedua tangannya telah melancarkan pukulan maut ke arah kepala dan dada orang berkedok! Orang itu sudah cepat meloncat ke belakang dia menghadapi terjangan Tang Ki dengan tenang saja! Padahal ketika tubuhnya melayang dan memukul, Tang Ki telah menggunakan Ilmu Pukulan Thai-lek Kim-kong-jiu, ilmu pukulan warisan dari ayahnya yang mengandung tenaga bagaikan geledek menyambar. Akan tetapi orang itu menyambutnya dengan gerakan yang sama sehingga kedua tangannya bertemu dengan kedua tangan Tang Ki, saling bentur di udara dengan tenaga yang sama-sama kuat.

Dessss......! Akibat benturan tenaga dahsyat itu, tubuh Tang Ki terlempar kembali ke atas pembaringan, sedangkan orang berkedok itu mengeluarkan suara mengejek menyerupai tawa tertahan. Sementara itu, Siu Coan sudah terbangun oleh suara dan gerakan isterinya dan terkejutlah dia melihat seorang berkedok menyambut pukulan isterinya yang ampuh dan membuat isterinya terjengkang dan terbanting ke atas pembaringan.

Maling hina yang sudah bosan hidup! bentaknya dan diapun sudah meloncat turun dari atas pembaringan dan langsung menyerang orang berkedok itu.

Karena dia dapat menduga bahwa orang itu tentu lihai, maka begitu menyerang dia sudah menggunakan jurus dari ilmu silat yang paling diandalkan di antara ilmu- ilmu silat lain, yaitu Ngo-heng Kuan-hoan-kun yang dipelajari dari gurunya, yaitu Thian-tok (Racun Langit). Akan tetapi, dari balik kedok kain sutera itu terdengar suara tawa mengejek dan orang itu menyambut serangannya dengan ilmu silat yang sama. Bahkan orang itu membalas serangan Siu Coan dengan jurus-jurus Ngo-heng Lian-hoan-kun pula! Demikian hebat serangan orang itu membuat Siu Coan terpaksa cepat meloncat ke belakang dengan kaget bukan main. Karena kakinya tidak bersepatu, maka gerakannya menjadi terganggu. Kaki yang tidak biasa telanjang itu agak kaku ketika dipakai bersilat.

Siapa kau......! Dia membentak karena heran melihat betapa orang itu dapat bersilat dengan Ilmu Ngo-heng Lian-hoan-kun! Dialah satu-satunya murid Thian-tok sekarang. Kedua orang saudara seperguruannya, yaitu Koan Jit dan Gan Seng Bu sudah tewas. Rasanya tidak mungkin gurunya telah diam-diam mengambil murid lain sebelum gurunya itu mengambil dia sebagai murid. Akan tetapi orang berkedok itu hanya menjawab dengan suara ketawa bergelak kemudian sekali melompat, dia sudah menerobos keluar jendela dan melarikan diri.

Tangkap penjahat!! Siu Coan berteriak, juga Tang Ki yang tadi terkejut oleh kekuatan orang itu, berteriak-teriak. Keduanya tidak dapat langsung melakukan pengejaran karena harus mengenakan sepatu yang sebelum tidur mereka lepas, dan membereskan pakaian. Para pelayan datang berlarian dan di antara mereka ada yang melihat berkelebatnya orang berkedok itu. mereka menjerit-jerit dan datanglah perajurit pengawal yang berjaga di luar. Akan tetapi ketika Siu Coan dan Tang Ki keluar, penjahat itu sudah tidak nampak lagi bayangannya. Barulah Ong Siu Coan sadar bahwa dia lengah dan malam itu juga dia memerintahkan agar istananya dijaga ketat, baik di sebelah luar maupun di sebelah dalam. Kemudian dia kembali ke dalam kamar bersama isterinya.

Post a Comment