Pendeknya, enam puluh empat orang gadis ini digembleng secara kilat agar menjadi dayang-dayang yang mengenal peraturan dan menyenangkan. Demikianlah, pada suatu pagi yang cerah, setelah kaisar bangun tidur dan dilayani para dayang untuk mandi dan bertukar pakaian, Kaisar menghadapi santapan pagi dengan pertunjukan istimewa yang sengaja diadakan oleh permaisuri. yaitu pertunjukan lomba kecantikan yang dilakukan oleh enam puluh empat orang perawan remaja yang pilihan! Gadis-gadis Mancu yang cantik-cantik itu berbaris melenggang di depan kaisar, dengan bermacam gaya dan lagak, dan semua adalah wanita-wanita yang cantik sekali. Kaisar memandangi mereka satu demi satu dengan mata terbelalak dan mulut menyeringai senang, seperti seorang anak kecil yang diberi mainan yang banyak dan menyenangkan hatinya.
Berulang-ulang keluar pujian dari mulut kaisar terhadap gadis-gadis itu dan sukarlah baginya untuk memilih mana yang paling cantik dan siapa di antara mereka yang akan dipilihnya untukmelayaninya dan menemaninya malam hari itu. Akan tetapi tiba-tiba pertunjukan yang amat menggembirakan itu terganggu dengan pelaporan pengawal bahwa Pangeran Kung dan seorang panglima yang bertugas memimpin pasukan besar di selatan minta menghadap karena ada urusan penting sekali. Kaisar menggerakkan tangannya dengan hati tak senang, minta agar pertunjukan itu dilangsungkan sampai habis. Gadis-gadis itu terus melangkah satu demi satu, akan tetapi gangguan itu membuyarkan perhatian kaisar sehingga dia hampir tidak melihat adanya seorang di antara para perawan itu, seorang gadis yang memiliki kecantikan yang khas dan pembawaan yang amat menarik.
Gadis ini nampak menyolok sekali dan jauh berbeda dari yang lain. Kalau gadis- gadis lain itu kelihatan takut-takut dan malu-malu, ia sama sekali tidak demikian. Dengan anggunnya ia lewat di depan kaisar, bahkan di dalam setiap gerak-geriknya, lirikan matanya, lenggak-lenggoknya, senyumnya, ada pengendalian dan kepribadian yang khas. Akan tetapi kaisar sudah merasa tak senang dengan gangguan tadi sehingga dia tidak lagi memperhatikan gadis-gadis itu. Akhirnya, setelah gadis terakhir lewat, Pangeran Kung dan panglima itu dipersilakan masuk.dengan wajah dingin kaisar bertanya mengapa sang pangeran itu mengganggunya di waktu sepagi itu. Pangeran Kung sambil berlutut berkata dengan penuh hormat, dengan wajah mengandung kegelisahan dan keprihatinan besar.
Mohon Sri Baginda sudi mengampunkan hamba yang berani mengganggu dengan menghadap tanpa dipanggil. Akan tetapi hamba membawa laporan berita yang amat buruk, Sri Baginda. Kerut di dahi kaisar makin mendalam. Celaka, pikirnya, sudah mengganggu kesenangannya, masih membawa berita buruk lagi.
Hemm, berita apakah? katakan!
Panglima Thung ini datang membawa laporan bahwa pasukan kerajaan yang berjaga di selatan telah dipukul mundur dan kini pemberontak Tai Peng telah menduduki Nan-king dan Wu-chang. Kekuatan mereka besar sekali, didukung oleh rakyat setempat dan dibantu oleh para petani, juga para pendekar. Berita itu tentu akan mengejutkan setiap orang, namun kaisar yang hanya mementingkan pengejaran kesenangan itu hanya nampak kaget sebentar saja.
Sungguh menyebalkan! kata kaisar tak senang. Kita sudah membuang banyak harta untuk membiayai pasukan-pasukan itu, akan tetapi sekarang menghadapi segerombolan pemberontak saja tidak becus membasminya! Panglima Thung mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah sekali. Sambil berlutut dan memberi hormat dia berkata,
Ampun, Sri Baginda. hamba sekalian, seluruh pasukan yang berjaga di selatan, sudah mengerahkan tenaga dan mengorbankan banyak nyawa ketika menghadapi serbuan pemberontak Tai Peng. Akan tetapi kekuatan mereka amat besar, dan yang lebih menyulitkan lagi, rakyat membantu mereka, juga para pendekar yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, kalau hamba mendapatkan bala bantuan dari kota raja, dengan pasukan-pasukan pilihan dan perwira-perwira yang berilmu tinggi, hamba akan mencoba untuk merebut kembali Wu-chang dan Nan-king.
Kaisar menoleh kepada Pangeran Kung.Bagaimana pendapatmu, pangeran? Hal ini memang sudah diperhitungkan oleh Pangeran Kung.
Sri Baginda, agaknya tidak akan menguntungkan kalau kita mengerahkan seluruh tenaga untuk menggempur pemberontak Tai Peng di selatan, karena kita harus pula berjaga-jaga terhadap pemberontakan dari utara dan barat, juga terhadap gerakan orang-orang kulit putih. Kalau kita mengerahkan tenaga ke selatan, tentu kedudukan kotaraja menjadi lemah, memudahkan lawan untuk menyerbu. sebaiknya kini kalau pasukan di selatan dikerahkan untuk menjada tapal batas saja agar pemberontak tidak dapat maju dan sementara kita biarkan mereka menduduki kedua kota itu sampai kita merasa kuat untuk merebutnya kembali. Hamba akan memerintahkan agar dibentuk pasukan-pasukan baru untuk memperkuat pertahanan kita. Kaisar mengerutkan alisnya dan menggerakkan kedua tangan dengan tidak sabar lagi. Kepalanya menjadi pening harus memikirkan urusan pemberontakan itu.
Begitu juga baik, kau aturlah saja semua itu, pangeran, dan aku hanya menanti berita yang baik-baik saja darimu. Nah, kalian keluarlah dan laksanakan tugas sebaiknya. Dua orang pembesar itu tidak berani membantah lagi, keduanya keluar dan baru setelah mereka tiba di luar, keduanya saling pandang dan menggeleng kepala.
Tanpa bicarapun kedua orang pembesar ini memiliki pendapat dan pandangan yang sama terhadap kaisar yang sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap urusan pemerintah, melainkan menenggelamkan diri ke dalam kesenangan pribadi belaka. Memang hebat sekali gerakan Tai Peng. Dalam tahun 1853, setahun saja setelah Ong Siu Coan memperoleh Giok-liong-kiam, pasukannya yang amat kuat itu menyerbu ke utara dan dengan kekuatan penuh menduduki Wu-chang dan Nan-king dan menguasai seluruh daerah sepanjang lembah Yang-ce bagian timur sampai ke muaranya! Akan tetapi, sudah menjadi ciri hampir seluruh pemimpin di dunia ini, bahkan menjadi ciri umum manusia, kemenangan selalu mendatangkan guncangan kepada batin, membuat pertimbangan menjadi miring dan orang yang merasa menjadi pemenang itu akan dihinggapi penyakit mabok atau gila kemenangan! Lupa diri!
Mabok kemenangan ini menimbulkan bermacam-macam sikap dan perbuatan. Ada yang lalu mengangkat diri setinggi-tingginya, ada yang memperkuat kedudukannya, ada pula yang berebutan kekuasaan seperti segerombolan serigala yang memperebutkan bangkai lembu yang mereka bunuh bersama, ada yang lalu berfoya-foya untuk berpesta pora atas kemenangannya, secara berlebihan dan tidak mengenal puas. Ada yang melampiaskan dendamnya dan dengan kekuasaan yang ada pada dirinya, membalas dendam dengan cara yang luar biasa kejamnya. Ong Siu Coan agaknya tidak terkecuali. Bahkan sebagai seorang pemenang yang berhasil baik, dia bukan hanya mabok, melainkan sudah menjadi gila dalam arti yang sedalam-dalamnya! Ong Siu Coan bahkan mengangkat diri sendiri menjadi Kaisar dari Kerajaan Sorga yang didirikannya,
Bahkan dia mengaku secara resmi bahwa dia adalah putera Tuhan yang kedua, adik dari Yesus! Betapapun juga, harus diakui bahwa gerakan Tai Peng (Perdamaian Besar) yang dipimpin oleh Ong Siu Coan itu memperoleh sukses yang gemilang.
Mula-mula, sepak terjang Tai Peng mendatangkan rasa suka dan memperoleh dukungan para pendekar karena gerakan itu membela kepentingan rakyat kecil. mengusahakan penghapusan kemiskinan para petani, mengangkat derajat kaum wanita dan menghapuskan peraturan-peraturan dan tradisi-tradisi yang merendahkan martabat wanita. Selain Tan Ci Kong yang menjadi orang kepercayaan dan pembantunya, juga banyak sekali orang-orang pandai dan pendekar-pendekar perkasa bergabung dengan Ong Siu Coan. ketika dia mula-mula memberi nama Kerajaan Sorga Tai Peng kepada balatentaranya,
Dia sudah dibantu oleh banyak orang pandai, di antara pemdekar-pendekar itu terdapat nama-nama besar yang tercatat dalam sejarah seperti Lin Feng Siang, Li Kai Fang, Si Ta Kai, Wei Chang Hui, Yang Siu Cing, dan terutama sekali Li Siu Ceng dan Tan Yu Ceng. mereka ini tercatat di dalam sejarah sebagai tokoh-tokoh yang memperkuat pimpinan Tai Peng dan menjadi pembantu-pembantu utama dari Ong Siu Coan. Ong Siu Coan berhasil menduduki Nan-king, lalu menyuruh dua orang pembantunya, yaitu Lin Feng Siang dan Li Kai Fang untuk memimpin pasukan menuju ke utara, mempersiapkan penyerbuan besar-besaran yang tujuannya adalah penyerbuan ke kotaraja Peking! Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat banyak pendekar merasa kecewa dengan gerakan tai peng. Mereka melihat betapa Ong Siu Coan membuat pengakuan-pengakuan aneh,
Seperti putera Tuhan dan adik Yesus dan bahwa dia dapat membuat hubungan langsung dengan Tuhan, menerima petunjuk-petunjuk yang kesemuanya itu menuju ke arah ketidaknormalan. Yang lebih daripada segalanya adalah melihat betapa Ong Siu Coan membiarkan anak buah pasukannya melakukan segala macam perbuatan kejam, bukan hanya membunuhi orang-orang yang dicurigai tanpa diperiksa, akan tetapi juga merampok dan memperkosa wanita! Ong Siu Coan terlalu memanjakan anak buahnya, dan tentu saja di antara mereka terdapat banyak orang yang memang berwatak penjahat. Karena perbuatan-perbuatan kejam seperti memperkosa wanita dan merampok itu tidak dijatuhi hukuman, tentu saja yang lain-lain juga terseret karena perbuatan-perbuatan jahat yang menguntungkan dan menyenangkan diri sendiri mudah sekali menular dan dicontoh orang lain.
Melihat kenyataan-kenyataan pahit ini, mulailah para pendekar mengundurkan diri setelah mereka itu dengan gagah perkasa membantu penyerbuan Wu-chang dan Nan- king sampai kedua kota itu berhasil diduduki. Yang mengundurkan diri banyak sekali termasuk pula Tan Ci Kong. Akan tetapi karena sudah merasa berhasil dan kekuasaannya mulai nampak sebagai hasil perjuangannya, Ong Siu Coan tidak perduli. Masih banyak orang yang suka menjadi pembantunya, pikirnya, apalagi setelah kini dia mengangkat diri menjadi pemimpin besar, bahkan raja dari Kerajaan Sorga Tai Peng! Kalau saja Ong Siu Coan tidak berwatak sombong dan tinggi hati, kalau saja kesempatan yang amat baik setelah balatentaranya memperoleh kemenangan itu dia pergunakan sebaiknya dengan memperkuat pasukan,