Berbondong-bondong kaum pendekar datang menggabungkan diri membantu perjuangan balatentara Tai peng! Dan Ong Siu Coan-pun mulai bergerak menyerang ke utara. Tujuannya adalah merebut dan menduduki kota besar Wu-chang, kemudian Nan-king dan setelah menguasai wilayah lembah Yang-ce sampai ke muara, akan melanjutkan serangan menyerbu terus ke utara dan menduduki Peking, menggulingkan pusat pemerintahan Mancu. Demikianlah rencananya. gerakannya didukung oleh banyak petani dan pimpinan pasukan diserahkan ke tangan pendekar yang memiliki ilmu silat tinggi. Bagaimana alasan muluk yang dikemukakan orang yang kebetulan duduk di tingkat atas untuk membersihkan diri, tidak dapat disangkal lagi bahwa apa yang dinamakan pemerintah sesungguhnya hanyalah sekelompok orang yang sedang berkuasa pada saat itu.
Baik buruknya sebuah pemerintahan, kuat atau lemahnya, tergantung sepenuhnya kepada keadaan batin sekelompok orang yang sedang berkuasa itu, dan akibat daripada sebuah pemerintahan itu menyeret keadaan hidup rakyat banyak yang tunduk kepada pemerintahan itu. Di dalam sebuah kerajaan, kekuasaan mutlak berada di tangan kaisar, sehingga kuat lemahnya kerajaan itu yang digantungi nasib rakyatnya dapat dilihat dari keadaan kaisarnya. Pada waktu itu, yang menjadi kaisar adalah Kaisar Sian Feng yang naik tahta dalam usia sembilan belas tahun (1851-1861). Jatuh bangunnya setiap dinasti tidak ada bedanya dengan jatuh bangunnya setiap orang manusia. Sebab seseorang terjatuh dari kedudukannya, hal itu disebabkan oleh ulah dirinya sendiri, dan jatuhnya sebuah negara disebabkan oleh pemimpinnya.
Akan tetapi kalau kita melihat sejarah, seolah-olah ada Kekuasaan Tertinggi yang sudah menentukan dan mengatur semua itu. Kalau sudah tiba saatnya seorang manusia harus mati, ada saja yang menjadi sebab-sebabnya pula. Kerajaan Mancu atau dinasti Ceng yang sepenuhnya menguasai daratan Cina dimulai dalam tahun 1663 dengan kaisar pertamanya Kang Si, setelah mengalami masa jayanya yang gemilang selama kurang lebih dua ratus tahun lamanya, mulailah menyuram ketika Kaisar Sian Feng dinobatkan menjadi kaisar. Kaisar muda Sian Feng ini berbeda jauh dibandingkan dengan kaisar-kaisar Mancu sebelumnya, bahkan amat jauh berbeda dari kakek buyutnya yaitu Kaisar Kian Liong. Kaisar Sian Feng ini selalu mengejar kesenangan, terutama sekali kesenangan mengumbar nafsu berahi, bermain- main dengan wanita-wanita cantik.
Pengejaran kesenangan merupakan suatu penyakit yang akan menyeret kita ke dalam lingkaran setan yang berakhir dengan kesengsaraan, bahkan awal dan akhirnyapun sudah berada dalam keadaan yang sengsara, tak puas, tak dapat menikmati keadaan hidup. Bukan berarti bahwa kita harus menjauhi kesenangan, harus menolak dan menghindari kesenangan. Kesenangan adalah suatu keadaan hati, dan sudah menjadi hak setiap orang manusia untuk dapat senang. namun, kalau kita sudah diperbudak, maka kita selalu mengejarnya dan pengejaran inilah yang jahat! Pengejaran inilah yang menyeret kita kepada segala macam perbuatan kemaksiatan dan kejahatan.
Pengejaran terdorong oleh keinginan untuk memperoleh sesuatu yang lebih banyak, lebih baik, dan lebih segalanya daripada keadaan yang sudah ada.
Pengejaran membuat mata kita selalu memandang ke depan, kepada khayan, kepada suatu keadaan atau kesenangan yang belum terdapat. Dengan demikian, yang nampak besar, indah dan menyenangkan hanyalah sesuatu yang kita kejar dan kita ingin dapatkan itu, dan dengan sendirinya, segala seuatu yang ada pada kita tidak lagi nampak keindahannya, tidak lagi menyenangkan! Dan di dalam pengejaran inilah terdapat bahaya penyelewengan, karena pengejaran membuat mata kita buta terhadap baik buruknya tindakan atau langkah kita. Kita terjang saja segala yang menjadi perintang atau penghalang dalam pengejaran kita, kita tendang, kita langkahi, kalau perlu kita injak! Semua demi memperoleh sesuatu yang kita anggap akan mendatangkan kesenangan dan kepuasan kepada kita.
Dan, sekiranya yang dikejar itu berhasil kita dapatkan, benarkah kita akan senang dan puas, seperti yang kita idamkan? Memang senang, memang puas, namun inipun biasanya hanya bertahan dalam waktu singkat saja. Karena penyakit itu membuat mata kita mengejar lagi, mengejar sesuatu yang kita anggap lebih baik dan lebih menyenangkan daripada yang sudah terdapat itu! Yang sudah terdapat itu menjadi masa lalu dan kita ingin mendapatkan sesuatu yang masih berada di masa depan lagi. Hal begini akan terus menguasai kehidupan kita, menjadi lingkaran setan dari masa lampau dan masa depan, dan kita tidak pernah benar-benar hidup karena hidup adalah saat ini, sekarang ini. Masa lalu telah mati dan tidak perlu dikenang lagi, masa depan hanyalah khayal yang belum ada.
Kaisar Sian Feng hidup berenang didalam lautan kesenangan. Semenjak muda, dia memang tidak tertarik oleh pemerintahan, akan tetapi sejak remaja dia sudah mengenal kesenangan dengan wanita. Dia diangkat menjadi kaisar dalam tahun 1851, di dalam masa keributan dan di waktu pemerintahan Mancu sedang kacau, baik menghadapi orang-orang kulit putih yang mulai menanam kuku-kukunya di daratan Cina, maupun menhadapi pemberontakan di dalam negeri. Kaisar Sian Feng tidak menghiraukan semua ini, menganggap ringan dan menganggap tak mungkin ada kekuatan yang akan mampu menghancurkan kekuasaannya. bahkan pemberontakan Tai Peng juga dianggap sepi saja oleh kaisar muda ini. Urusan pemerintahan tidak ditangani langsung oleh Kaisar Sian Feng, melainkan diserahkan kepada Pangeran Kung dan para menteri. Kaisar sendiri sibuk mencari perempuan-perempuan baru, Berpuluh selir yang muda-muda dan cantik-cantik berada di sekelilingnya setiap saat, namun dia masih belum juga merasa cukup atau puas. Kesukaannya mengejar kesenangan membuat dia menjadi mudah bosan. Dia bergairah dengan kaki kecil perempuan Han, maka seringkali kaisar muda ini menyamar dengan pakaian biasa, dengan pengawalan rahasia, mengunjungi rumah-rumah pelacuran di Peking.
Kelemahan seorang kaisar tentu saja merupakan hal yang amat penting bagi para pembesar penjilat karena mereka dapat mempergunakan kelemahan kaisar ini untuk kepentingan diri sendiri. melihat kesukaan kaisar terhadap wanita-wanita Han ini, kepala thaikam (orang kebiri) yang menjabat sebagai kepala Taman Yuan-beng- gwan (Taman Terang Sempurna), yaitu taman musim panas, segera bertindak dengan cerdiknya.
Dia menghubungi kaisar dan berjanji akan mencarikan gadis-gadis Han yang cantik dari selatan. Tentu saja kaisar merasa gembira sekali dan menyetujuinya. Oleh karena pada masa itu terdapat peraturan istana yang melarang wanita bukan Bangsa Mancu dimasukkan istana maka gadis-gadis Bangsa Han itu ditaruh di dalam Taman Yuan-beng-gwan. Oleh pembesar thaikam itu, dicarikanlah gadis-gadis yang muda belia dan cantik jelita dari daerah Nan-king, Hang-couw dan So-chouw dan dibawalah mereka itu ke dalam taman yang amat indah itu. Taman Terang Sempurna merupakan istana taman musim panas yang amat indah berbau bangunan asing karena taman dan istana ini dibangun oleh seorang pendeta Italia bernama Castiglione di jaman Kaisar Kian Liong.
Bukan main gembiranya hati kaisar muda itu. Setiap hari dia berada di taman musim panas, bersenang-senang dengan selir-selir baru Bangsa Han yang mengelilinginya dan lupa akan segala. Para pejabat yang mengelilinginya adalah penjilat-penjilat yang hanya berusaha menyenangkan hati kaisar agar mereka memperoleh hadiah atau kenaikan pangkat. Atas petunjuk mereka, di taman musim panas itu dipelihara lebih dari tiga ratus ekor menjangan. Ramuan tanduk menjangan dan darah segar binatang itu menjadi obat kuat bagi sang kaisar. Darah itu ditaruh dalam mangkok kemala sebagai minuman setiap hari untuk menjaga kekuatan kaisar muda yang setiap hari dikeroyok oleh puluhan orang selir itu!
Nafsu memang tidak ada puasnya, seperti api yang makin diberi umpan semakin berkobar. Biarpun sudah mempunyai selir yang kini menjadi ratusan jumlahnya, masih saja Kaisar Siang Feng tidak mau melepaskan perempuan-perempuan baru yang belum pernah disentuhnya. Dayang-dayang istana yang terdiri dari gadis-gadis cantik, perawan-perawan jelita, banyak yang menjadi korban keganasan kaisar ini. Kalau melihat seorang dayang cantik, bisa saja dia timbul gairah dengan tiba- tiba dan langsung diterkamnya gadis itu. Kaisar yang menjadi budak nafsu ini tidak segan-segan untuk menggauli seorang dayang di depan selir-selirnya, hanya sekedar memamerkan kekuatannya. Permaisuri kaisar adalah seorang wanita cantik yang baik hati namun teramat lemah. Melihat keadaan suaminya, mulai timbul perasaan khawatir di dalam hati permaisuri,
Apalagi melihat betapa kaisar mengumpulkan demikian banyak selir berbangsa Han di Taman Terang Sempurna. Lebih-lebih kalau ia mengingat bahwa kaisar belum mempunyai keturunan putera yang akan menjadi pangeran mahkota. Maka ia lalu membujuk kaisar untuk mengambil gadis-gadis Mancu tercantik untuk dijadikan dayang-dayang baru di dalam istana. Kaisar yang mata keranjang itu tak perlu ditanya kedua kalinya. Tentu saja dia tertawa dan menyatakan persetujuannya atas usul sang permaisuri. Ratusan orang perawan remaja didatangkan para petugas.
Akan tetapi setelah dipilih oleh permaisuri, yang diterima sebagai calon hanya enam puluh empat orang perawan yang disuruh membersihkan diri, mengenakan pakaian-pakaian baru yang indah, diajar pula tata cara dan sopan santun istana.