Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 04

Memuat...

Ada seorang pembantu kami memberi tanda di depan rumah, harap kau suka mengajaknya masuk, saudara Ci Kong. Tentu dia membawa berita penting sekali maka berani menggangguku di sini. Ci Kong bergegas keluar dan benar saja, di luar telah berdiri seorang laki-laki gagah perkasa yang usianya sekitar empat puluh tahun, berpakaian seperti petani, serba hitam. melihat Ci Kong, orang itu menjura dengan hormat.

Tan-taihiap, bolehkah saya bertemu dan menghadap Ong-bengcu (pemimpin rakyat Ong)? katanya dengan sikap hormat. Diam-diam Ci Kong kagum. Anak buah Ong Siu Coan ini gagah dan juga telah mengenalnya.

Engkau dipanggil untuk menghadapnya di dalam, kata Ci Kong dan tanpa banyak cakap orang itu lalu ikut bersama Ci Kong memasuki ruangan dalam rumah itu. begitu melihat Siu Coan, laki-laki itu memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki seperti perajurit dan berkata dengan suara lantang.

Lapor kepada bengcu bahwa pasukan besar anjing Mancu telah datang ke arah dusun ini. Agaknya ada mata-mata yang telah melaporkan tentang peristiwa di dusun sebelah tadi. Mohon petunjuk. Ong Siu Coan mengerutkan alisnya.

Berapa jumlah mereka?

Menurut penyelidik, tidak kurang dari dua ratus orang. Dan kekuatan kita yang berada di sini?

Hanya ada dua puluh orang, bengcu. Semua penduduk yang bergabung dengan kita telah berangkat ke selatan.

Ah, mereka belum terlatih. Dan dua puluh orang cukup untuk memancing musuh keluar dari dusun ini. dengar baik-baik. Dua orang dari kalian menyamar sebagai kami berdua, meggunakan dua ekor kuda kami dan pancing pasukan itu agar menuju ke hutan di sebelah timur. Setelah tiba di sana, tentu hari telah menjadi gelap. Kalian masuk hutan dan berpencar. Kalau mereka berani mengejar, kalian lanjutkan perjalanan dan meloloskan diri. Kami sendiri akan menggunakan kuda lain, sediakan kuda baru, dan mengambil jalan lain. Ingat, jangan memaksa suatu pertempuran dalam keadaan berat sebelah. Nah, laksanakan perintahku. Ambil kuda kami dan tukar dengan yang baru.

Baik, bengcu! Orang itu memberi hormat, juga memberi hormat kepada Ci Kong dan Lian Hong, lalu cepat keluar dari dalam rumah itu.

Apakah yang telah terjadi? tanya Ci Kong.Ketika kami menuju ke sini, di dusun sebelah kami diserbu oleh tiga puluh lebih pasukan pemerintah. Untung ada anak buahku yang bertugas di sini, dan kami telah membunuh seluruh pasukan pemerintah yang tiga puluh orang lebih itu. Mayat-mayat mereka telah dilempar ke dalam hutan dan semua laki-laki muda di dusun itu telah meninggalkan dusun dan bergabung dengan kami. Akan tetapi celakanya, agaknya ada mata-mata musuh yang berhasil lolos dan memberi laporan ke Nan-king dan kini datang pasukan dua ratus orang lebih dari Nan-king.

Ah, celaka! Kalau begitu tentu mereka tahu bahwa kalian telah datang ke rumah kami, Ong-toako! kata Ci Kong dan wajahnya berubah khawatir. Ong Siu Coan mengangguk, wajahnya tetap dingin.

Itu sudah resiko pejuang, saudara Ci Kong. Maka, kukira sebaiknya kalau kalian bergabung saja dengan kami dan sekarang juga meninggalkan rumah ini.

Tapi...... Ci Kong teringat akan puteranya. Bagi dia dan isterinya, tidak ada keberatan apapun kalau ikut berjuang, karena memang merekapun menghendaki agar tanah air mereka terbebas dari cengkeraman orang-orang Mancu. Akan tetapi lalu bagaimana dengan pendidikan putera mereka? Pada saat itu, Tan Bun Hong datang berlari memasuki ruangan itu, sepasang matanya yang lebar bening itu terbelalak dan memandang ayahnya penuh ketegangan.

Ayah, ada pasukan menyerbu dusun kita, membunuhi orang-orang dusun.

Ah, begitu cepat mereka tiba! Ong Siu Coan berseru dan seperti dikomando saja, mereka berempat, dua pasang suami isteri perkasa itu sudah berloncatan keluar rumah. Benar saja, di ujung dusun sebelah utara terdengar suara ribut-ribut dan teriakan-teriakan wanita ketakutan. Mereka cepat menyelinap dan melihat betapa perajurit-perajurit dari Nan-king itu membunuhi orang seenaknya sendiri, Ci Kong dan Lian Hong sudah siap untuk mengejar mereka. Akan tetapi Siu Coan mencegah dan berkata lirih.

Jangan tergesa-gesa. Lihat, tentu anak buahku akan segera bergerak memancing mereka keluar dari sini. Benar saja, sepasukan orang lain yang menunggang kuda dan berpakaian petani secara tiba-tiba menyerbu. Tentu saja pasukan pemerintah itu menjadi marah dan cepat menyambut serangan balasan orang itu, yang dipimpin oleh seorang laki-laki dan seorang wanita yang menunggang dua ekor kuda besar hitam dan pitih, kuda-kuda tunggangan Ong Siu Coan dan isterinya tadi. bahkan pakaian yang dikenakan dua orang pemimpin pasukan kecil itupun serupa dengan pakaian yang dipakai Ong Siu Coan dan isterinya.

Melihat dua orang pemimpin pemberontak ini, komandan pasukan pemerintah berteriak-teriak untuk menangkap mereka yang dianggapnya adalah pemimpin besar kaum pemberontak Tai peng dan isterinya. Pertempuran itu terjadi berat sebelah karena mana mungkin belasan orang pemberontak itu melawan dua ratus lebih pasukan dari Nan-king.Segera mereka melarikan diri ke timur, dikejar oleh pasukan karena komandan pasukan bernapsu sekali untuk menawan dua orang pemimpin besar pemberontak Tai Peng itu. Sudah terbayang olehnya hadiah yang amat besar dari istana kalau dia mampu menangkap Ong Siu Coan dan isterinya! Setelah pasukan besar itu mengejar belasan orang pemberontak yang melarikan diri ke timur, Siu Coan lalu keluar dari tempat prsembunyiannya. Segera dua orang anak buahnya yang tinggal di situ menghampirinya dan memberi hormat.

Bujuk para peduduk untuk bergabung dengan kita, pesan Ong Siu Coan. Mereka harus cepat dibawa ke selatan agar tidak keburu dikejar oleh pasukan penjajah. Dua orang itu memberi hormat dan mereka segera menemui para penduduk, dan seperti juga penduduk dusun pertama, kini peduduk dusun inipun, terutama yang laki-laki dan masih muda, tidak ragu-ragu lagi untuk bergabung dengan para pejuang Tai Peng. Tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka. Kalau mereka pergi mengungsi begitu saja, akan mengungsi ke mana? Dan tentu akan dapat dikejar oleh pasukan pemerintah dan mereka tetap saja akan dibunuh sebagai pemberontak- pemberontak. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri hanyalah bergabung dengan pasukan Tai Peng, dan dengan demikian mereka bahkan dapat membalas dendam kepada pemerintah penjajah yang selama ini telah menekan keluarga mereka turun- temurun.

Demikian siasat yang dipergunakan oleh Ong Siu Coan, satu di antara siasat- siasatnya untuk mengumpulkan kekuatan dan memperbesar jumlah anggauta pasukannya! Kini diapun membujuk Ci Kong yang kebingungan. seperti para penghuni lainnya di dusun itu, Ci Kong juga maklum bahwa tidak mungkin lagi dia tinggal di dusun itu bersama keluarganya, tentu akan diancam oleh pasukan pemerintah.

Apalagi dia adalah orang yang dikunjungi oleh pimpinan besar pasukan pemberontak Tai Peng! Tan Ci Kong cepat mengambil keputusan setelah berunding dengan isterinya. Dia akan bergabung dengan Ong Siu Coan, membantu perjuangan sambil melarikan diri dari dusun itu, sedangkan isterinya akan membawa putera mereka lari mengungsi ke pegunungan Wu-yi-san, yaitu ke puncak Pek-liong-kwi-san (Puncak Iblis Naga Putih), tempat kediaman gurunya, yaitu San-tok (Racun Gunung).

Kepada isterinya Ci Kong berjanji bahwa dalam waktu setahun dia akan menyusul ke puncak itu. Dengan tergesa-gesa, keluarga Tan itupun berkemas, membawa barang- barang yang berharga dan yang perlu saja, kemudian mereka saling berpisah. Ci Kong menunggang kuda bersama Ong Siu Coan dan TangKi, meninggalkan dusun itu menuju ke selatan. Siauw Lian Hong bersama puteranya Tan Bun Hong, juga menuju ke selatan, ke Pegunungan Wu-yi-san, berboncengan menunggang kuda pula.

Berakhirlah sudah kehidupan penuh damai dan ketenteraman bagi keluarga Tan Ci Kong. Mereka mulai kehidupan baru penuh kekerasan dan tantangan, dan terpaksa pula suami isteri itu saling berpisah. Semua ini gara-gara Ong Siu Coan yang datang ke dusun mereka. Mereka mengira bahwa hal itu terjadi kebetulan saja,

Sama sekali tidak mengira bahwa memang Ong Siu Coan sudah memperhitungkan kemungkinan ini dan mengatur siasat yang menguntungkan pihaknya dalam segala kesempatan. Buktinya, peristiwa di kedua dusun itu amat menguntungkan dirinya, memperkuat pasukan Tai Peng dengan ratusan orang penduduk dusun, yang terutama sekali, selain memperoleh Giok-liong-kiam, juga memperoleh bantuan seorang pendekar yang boleh diandalkan, yaitu Tan Ci Kong! Dan perhitungan Ong Siu Coan memang tepat sekali. Setelah dia melalui orang-orangnya menyiarkan bahwa pusaka Giok-liong-kiam kini berada di tangannya dan menjadi lambang kekuatan Tai Peng juga lambang kehancuran pemerintah penjajah Mancu, banyak pendekar merasa tertarik. Apalagi ketika mereka mendengar bahwa pendekar Tan Ci Kong, pendekar Siauw-lim-pai yang amat terkenal itu, kini bergabung dan bahkan menjadi pembantu utama Ong Siu Coan,

Post a Comment