Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 03

Memuat...

Ah, tidak...... tidak......! Aku berada dalam keadaan sadar dan aku mendengar sendiri suara Tuhan berbisik-bisik kepadaku, amat jelas bunyinya dan beginilah bisikan Tuhan itu kepadaku : Anakku Ong Siu Coan, perjuanganmu akan berhasil kalau engkau memegang Giok-liong-kiam di tanganmu karena pusaka itulah lambang kejatuhan kerajaan Mancu. Nah, demikianlah bisikan Tuhan kepadaku, saudara Ci Kong. Karena itulah, aku dan isteriku kini datang berkunjung untuk minta pertolongan kalian berdua, meminjam Giok-liong-kiam.

Siauw Lian Hong mengerutkan alisnya. Pedang pusaka Giok-liong-kiam pernah dijadikan rebutan di dunia persilatan. Pedang itu tadinya dicuri oleh seorang pencuri pandai dari gudang pusaka istana kaisar, kemudian menjadikan rebutan banyak orang gagah di dunia persilatan. Pedang pusaka itu dahulu diperebutkan karena pedang itu mengandung rahasia penyimpanan harta pusaka yang amat besar nilainya. Dan akhirnya dalam perebutan itu, ialah yang berhasil mendapatkan pedang pusaka Giok-liong-kiam. Akan tetapi usahanya bersama gurunya untuk memperoleh harta pusaka itu gagal karena setelah tempat penyimpanan rahasia itu ditemukan, ternyata harta pusaka itu telah lenyap didahului orang lain.

Setelah itu, tentu saja tidak ada lagi orang yang memperebutkan Giok-liong-kiam, sebatang pedang terbuat dari batu Giok berbentuk naga yang tidak dapat menjadi senjata yang ampuh walaupun memang merupakan barang mahal harganya. Giok-liong- kiam kini hanya menjadi semacam benda indah atau hiasan saja, dan ia telah menyerahkan kepada Tan Ci Kong, sebagai tanda cintanya sebelum mereka menikah dahulu. Bagi ia dan suaminya, Giok-liong-kiam merupakan tanda jalinan cinta kasih di antara mereka, maka, mana mungkin memberikannya kepada orang lain? Akan tetapi karena ia telah menyerahkan pusaka itu kepada suaminya, tentu saja benda itu telah menjadi hak suaminya dan hanya dialah yang berhak memutuskan dalam menghadapi permintaan Ong Siu Coan. Ci Kong memandang tamunya dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian dia menjawab,

Ong-toako, memang benar bahwa Giok-liong-kiam ada padaku, sebagai hadiah dari isteriku. Pusaka itu merupakan lambang cinta kasih antara kami dan kami simpan sebagai pusaka keluarga.

Bagus sekali kalau begitu! Ong Siu Coan berteriak girang dan mengangguk- angguk. Kalian berdua pejuang-pejuang yang gagah perkasa, patriot-patriot sejati yang sudah membuktikan setia baktinya kepada tanah air dengan perjuangan kalian di masa lalu. Kalau kini lambang cinta kasih antara kalian yang sudah menjadi suami isteri menjadi lambang perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah laknat yang menekan rakyat, bukankah pusaka itu menjadi semakin terhormat? Kami hanya meminjamnya saja, saudara Tan Ci Kong berdua. Kami hanya meminjam, bukan untuk kepentingan kami, melainkan untuk perjuangan. Dengan pusaka itu di tangan kami, tentu akan mendatangkan dukungan dari para pendekar dan mereka akan lebih suka membantu perjuangan kita. Kalau sudah berhasil perjuangan kita, pusaka itu akan kami kembalikan kepada kalian, karena untuk apakah pusaka itu bagi kami pribadi? Kami pribadi tidak membutuhkannya. dan kamipun datang karena petunjuk langsung dari Tuhan, saudara Ci Kong. Menolak perintah Tuhan merupakan dosa yang teramat besar, dan kalau perintah itu tidak dilaksanakan, tentu kita semua terkena hukumannya yang amat berat.

Ci Kong saling pandang dengan isterinya, dan keduanya merasa bimbang. Tentu saja pusaka itu sebenarnya tidaklah begitu penting sekali bagi mereka, hanya menjadi benda peringatan saja. Dan ucapan Siu Coan tadi terlampau berat menekan batin mereka, karena dihubungkan dengan perjuangan. Tentu saja di lubuk hati mereka, suami isteri pendekar ini condong untuk membantu Siu Coan menentang pemerintah penjajah Mancu yang mereka benci pula. Agaknya Ong Siu Coan yang pandai membaca isi hati orang melalui pandang mata dan sikapnya, maklum bahwa suami isteri itu biarpun masih ragu-ragu, namun condong membantunya.

Kami harap saudara Ci Kong berdua dapat berpikir dengan adil dan mengingat akan asal-usul pusaka itu. Pusaka itu dicuri orang dari gudang pusaka istana, dan sebelum itu, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita semua. Lenyapnya pusaka itu dari istana merupakan lambang kejatuhan Kerajaan Mancu! Dan kini tidak diperebutkan orang lagi karena harta pusaka itu telah lenyap. Kiranya orang yang telah menemukan harta pusaka itulah yang lebih berjodoh dengan Giok- liong-kiam, tidaklah kalian berpendapat demikian?

Ci Kong dan Lian Hong terpaksa mengangguk karena memang kenyataannya demikian. Pusaka Giok-liong-kiam berasal dari istana kaisar dan benda itu keluar dari istana karena dicuri orang, kemudian diperebutkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw.

Biarpun kini Giok-liong-kiam berada di tangan mereka, namun harus diakui bahwa sebetulnya merekapun tidak berhak, karena benda itu bukan pusaka yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, melainkan merupakan benda curian! Dan perebutan berakhir setelah harta pusaka yang disimpan rahasianya oleh Giok-liong-kiam ternyata telah diambil orang lain, maka memang tepatlah kalau dikatakan bahwa yang berhasil mendapatkan harta pusaka itu lebih berjodoh dengan Giok-liong- kiam.

Akan tetapi siapakah yang telah mendapatkan harta pusaka itu? tanya Siauw Lian Hong dan Ci Kong mengangguk karena pertanyaan yang sama mengaduk hatinya.

Sepasang mata Ong Siu Coan bersinar-sinar aneh ketika dia menatap wajah kedua orang di depannya, dan suaranya terdengar halus namun penuh wibawa ketika dia bicara.

Apakah kalian tidak dapat menduganya? Aku telah berhasil membangun balatentara yang amat besar jumlahnya, tidak kurang dari seratus ribu orang! Dari mana aku dapat membiayai semua itu? Dari mana aku dapat memberi makan kepada orang sebanyak itu, membelikan pakaian, senjata dan sebagainya? Saudara Ci Kong, bayangkan saja berapa banyak harta yang harus dipergunakan untuk semua itu, untuk menghimpun ratusan ribu orang? Ci Kong dan Lian Hong saling pandang dan mata mereka terbelalak penuh keheranan, kekagetan dan juga kekaguman.

Jadi...... kau maksudkan...... engkaulah orangnya yang telah mengambil harta pusaka Giok-liong-kiam itu? tanya Ci Kong. Siu Coan mengangguk dan tersenyum.

Tidak sepenuhnya. hanya tinggal seperempat bagian saja, namun cukup besar untuk dapat membiayai balatentara yang ratusan ribu jumlahnya. Semua orang memperebutkan harta pusaka itu untuk kesenangan dan kepentingan pribadi, akan tetapi aku ingin mendapatkan harta itu bukan untuk kepentingan pribadiku, melainkan untuk kepentingan perjuangan. Karena itulah, Tuhan selalu memberi perlindungan dan bimbingan kepadaku sampai saat ini. Dan kami sungguh mengharapkan agar saudara Ci Kong berdua membantu pula pelaksanaan perintah dan kehendak Tuhan. Ci Kong dan Lian Hong kembali saling pandang. Orang ini telah mengerahkan seluruh tenaga, pikiran dan harta miliknya untuk perjuangan! Kalau sekarang, mereka menolak memberi pinjam Giok-liong-kiam, yang sebetulnya bukan milik mereka melainkan sebuah benda curian yang setelah perebutan terjatuh ke tangan mereka, sungguh hal ini amat berlawanan dengan jiwa kepatriotan mereka!

Akan tetapi, biarpun Giok-liong-kiam itu telah diberikan oleh isterinya kepadanya, menjadi haknya, namun Ci Kong tidak mau melampaui isterinya, oleh karena itu dia lalu berkata kepada Ong Siu Coan.

Ong-toako, perkenankan aku berunding lebih dulu dengan isteriku di dalam. Tanpa menanti jawaban, Ci Kong lalu bangkit dan mengajak isterinya meninggalkan ruangan itu untuk berunding empat mata di dalam kamar mereka. Ong Siu Coan hanya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah berada di dalam kamar, Ci Kong lalu bertanya, Bagaimana pendapatmu, Hong-moi? Lian Hong memandang suaminya.

Dan engkau bagaimana? Ci Kong yang sudah mengenal baik isterinya maklum bahwa dengan jawaban itu, isterinya sudah setuju walaupun masih meragu dan menantikan keputusannya. Kalau isterinya tidak setuju, tentu langsung saja isterinya mengatakan tidak setuju. Isterinya setuju, akan tetapi tidak berani lancang karena pusaka itu telah diberikan kepada suaminya.

Aku tidak keberatan. Bagaimanapun juga, pusaka itu adalah benda curian dari kerajaan, dan pula, kalau hanya dipinjam untuk memperkuat perjuangan dan menarik lebih banyak orang kuat membantu perjuangan, apa salahnya?

Akupun berpikir demikian, kata Lian Hong dengan hati lega.

Kalau begitu, kita serahkan pusaka itu sekarang juga. Ci Kong lalu mengajak isterinya keluar sambil membawa Giok-liong-kiam yang dibungkus dalam kain kuning. Ong Siu Coan menyambut mereka dengan wajah berseri.

Sungguh bijaksana sekali bahwa kalian telah menyetujui dan suka memenuhi permintaan kami, katanya, seolah-olah dia telah tahu lebih dulu bahwa suami isteri pendekar itu tentu akan memenuhi permintaannya. Ci Kong menyerahkan buntalan kain kuning itu dan berkata,

Kami memang suka sekali menyerahkan pusaka Giok-liong-kiam untuk kau pinjam, Ong-toako, mengingat bahwa engkau meminjamnya untuk keperluan perjuangan. Mudah- mudahan saja dengan adanya Giok-liong-kiam, balatentaramu akan menjadi semakin besar dan kuat sehingga kekuasaan penjajah Mancu akan dapat segera dihancurkan. Ong Siu Coan menerima pusaka sambil tersenyum.

Bukan hanya itu, juga kami mengharapkan agar kalian berdua sewaktu-waktu suka datang membantu mengulurkan tangan untuk menghancurkan penjajah yang menyiksa rakyat jelata. Diapun membuka buntalan dan bersama Tang-ki, dia mengagumi Giok- liong-kiam yang memang teramat indah itu. Ukiran batu halus sekali berbentuk naga itu indah bukan main, halus sekali sehingga benda itu merupakan sebuah pusaka yang tentu amat mahal harganya. Terutama sekali orang kulit putih yang haus akan benda-benda kuno, tentu akan membayar pusaka ini dengan harga yang luar biasa tingginya. Setelah mendapat kenyataan bahwa pusaka itu benar Giok- liong-kiam yang asli Ong Siu Coan membuntalnya lagi dengan kain kuning, lalu menyelipkannya di ikat pinggangnya.

Mari kita berdoa mohon berkah Tuhan agar pusaka ini benar-benar akan membawa kita kepada kemenangan atas kaum penjajah Mancu. Mendengar ini, Kiki lalu merangkap kedua tangan, menundukkan muka dan meletakkan kedua tangan di meja, memejamkan kedua matanya. Ong Siu Coan sendiri bersedekap, menyilangkan kedua lengan di depan dada dan menundukkan mata, kemudian terdengar dia berdoa dengan kata-kata yang bergetar penuh perasaan. Ci Kong dan Lian Hong hanya saling pandang, tidak tahu harus berbuat apa, hanya memandang suami isteri yang bersembahyang di depan mereka. Baru saja Siu Coan selesai bersembahyang, tiba- tiba terdengar suara bersuit lirih yang terdengar dari depan rumah itu. mendengar ini, Siu Coan lalu berkata kepada Ci Kong,

Post a Comment