Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 02

Memuat...

Peristiwa itu mengejutkan si gendut dan diapun cepat melangkah ke depan sambil menodongkan pistolnya kepada Ong Siu Coan, diikuti tiga orang pembantunya yang siap menyerang dengan pedang mereka. Pada saat itu, mendadak Ong Siu Coan menggerakkan sepasang sumpit yang tadi dipakai untuk makan dan meluncurlah dua sinar yang cepat bukan main ke arah si gendut. Sebatang sumpit menancap di tangan yang menggenggam pistol, dan sumpit ke dua menghunjam ulu hati! Si gendut sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan itu, maka diapun terkejut dan pistol di tangannya meledak, akan tetapi karena pada saat itu dia sudah berada dalam keadaan sekarat oleh sumpit yang menembus jantungnya,

Peluru yang meluncur keluar dari pistol itu hanya menembus langit-langit dan genteng dan tubuhnya lalu terjengkang dan terbanting lalu berkelojotan.

Sementara itu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Tang Ki sudah menerjang dan menyambut tiga orang pembantu perwira yang berpedang. Wanita ini tidak bersenjata, namun gerakannya sedemikian cepatnya. Walaupun tiga orang perwira berusaha menyerangnya dengan pedang, namun bayangan tubuh wanita itu berkelebatan di antara tiga batang pedang dan kedua tangannya bergerak menampar. Tiga orang itupun menjerit kesakitan dan roboh terpelanting, tak mampu bangkit kembali karena Tang Ki telah melakukan tamparan-tamparan maut dengan kedua tangannya yang ampuh, dan yang dijadikan sasaran adalah pelipis kepala tiga orang itu!

Pertempuran yang terjadi di luar rumah makan itupun tidak berlangsung lama. Dua puluh orang lebih perajurit yang berpakaian preman itu bukanlah lawan seimbang bagi belasan orang yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi itu dan dalam waktu singkat saja mereka semua telah roboh dan tewas! Dua orang pimpinan rombongan yang menyerbu para mata-mata pemerintah itu menerobos masuk dan memberi hormat kepada Ong Siu Coan dan Tang Ki. Kiranya mereka adalah anggauta pemberontak yang tersebar di mana-mana dan yang tadi melihat pimpinan mereka terancam lalu turun tangan membantu. Ong Siu Coan mengangguk acuh kepada dua orang itu dan isterinya yang menghadapi mereka.

Terima kasih atas bantuan kalian, kata Tang Ki, mewakili suaminya yang kini telah menjadi seorang pemimpin tinggi sehingga suaminya merasa terlalu tinggi untuk berwawancara dengan anak buah tingkat rendahan seperti dua orang pemimpin rombongan pasukan kecil itu. Cepat singkirkan semua mayat dari dusun ini, lempar ke dalam hutan dan ajak semua pria dari dusun ini untuk menggabung agar mereka terbebas dari hukuman pemerintah. Dua orang itu mengangguk dan menyatakan mentaati perintah, lalu mengundurkan diri. Ong Siu Coan dan isterinya lalu meninggalkan dusun, menunggang kuda mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat keluar dari dusun itu.

Para anak buah pejuang itu telah mengumpulkan para penduduk dan menganjurkan agar para penghuni laki-laki bergabung dengan mereka karena peristiwa itu tentu akan berekor panjang. Pemerintah tentu akan mengirim pasukan besar untuk mengadakan pembersihan di dusun itu di mana perajurit pemerintah sebanyak kurang lebih tiga puluh orang telah tewas pada hari itu. Ong Siu Coan dan Tang Ki membalapkan kuda menuju ke sebuah dusun yang berada di luar kota Nan-king, sebuah dusun yang cukup besar dan mereka langsung menuju ke sebuah rumah yang nampak bersih dan rapi walaupun sederhana saja. Kedatangan mereka disambut oleh sepasang suami isteri yang berpakaian sederhana sepeti para petani, dengan anak mereka, seorang anak laki-laki berusia kurang lebih sebelas tahun. Melihat siapa yang datang, suami isteri itu kelihatan terkejut dan heran, akan tetapi juga girang sekali.

Aihhh, angin apakah yang meniup kalian datang ke sini? Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi keluarga kami yang sederhana menerima kunjungan pemimpin besar balatentara Tai Peng yang semakin terkenal itu! seru tuan rumah dengan wajah berseri dan pandang mata penuh kagum. Sementara itu, nyonya rumah juga saling rangkul dengan Tang Ki seperti dua sahabat baik yang sudah lama tidak saling berjumpa.

Tan Ci Kong, engkau mengangkatku terlalu tinggi dan menurunkan dirimu terlalu rendah! kata Ong Siu Coan sambil tertawa setelah memberi hormat. kemudian memandang kepada anak laki-laki itu dan berseru, Ahh, apakah dia ini puteramu? Sungguh seorang anak yang berbakat baik sekali!

Benar, dia anak tunggal kami. Bun Hong, cepat beri hormat kepada paman Ong Siu Coan dan bibi Tang Ki. Mereka ini suami isteri yang amat lihai dan patut kau hormati! Anak laki-laki yang bermata tajam itu cepat maju memberi hormat dan menyebut paman dan bibi.

Marilah kita bicara di dalam, kata tuan rumah dan mereka lalu masuk ke dalam rumah sederhana yang nampak bersih dan rapi itu.

Suami isteri yang menjadi tuan rumah itupun bukan orang-orang sembarangan. Tan Ci Kong adalah seorang pendekar besar, seorang tokoh Siauw-lim-pai yang menerima gemblengan langsung dari Siauw-bin-hud. seorang datuk Siauw-lim-pai yang selalu bertapa dan mengasingkan diri, bahkan akhir-akhir ini bertapa sampai meninggal dunia, tak pernah lagi keluar dan mencampuri urusan dunia.Isterinya bernama Siauw Lian Hong, juga seorang wanita sakti karena ia adalah murid terkasih dari San-tok (Racun Gunung), seorang di antara Empat Racun Dunia sehingga tingkat ilmu kepandaiannya seimbang dengan tingkat Ong Siu Coan dan isterinya. Dua pasang suami isteri ini sudah saling mengenal karena belasan tahun yang lalu mereka adalah teman-teman seperjuangan walaupun jalan hidup mereka bersimpang.

Kalau Ong Siu Coan dan isterinya merupakan sepasang suami isteri perkasa yang bercita-cita besar, bertekad untuk meggulingkan pemerintah penjajah Mancu, maka Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong adalah sepasang suami isteri pendekar yang suka akan hidup sederhana, dan selama belasan tahun semenjak menikah tidak pernah menonjolkan diri di dunia persilatan maupun mencampuri urusan perjuangan, melainkan hidup tenteram di dusun itu mendidik putera mereka, Tan Bun Hong yang merupakan anak tunggal. Mereka sudah banyak mendengar akan sepak terjang Ong Siu Coan yang merupakan ancaman bagi pemerintah Mancu, dan diam-diam mereka berdua merasa kagum bukan main, oleh karena itu tentu saja mereka terkejut dan heran ketika secara tiba-tiba saja tokoh pimpinan yang amat terkenal itu muncul mengunjungi mereka. Empat orang pendekar sakti yang dulu pernah menjadi rekan- rekan seperjuangan itu kini duduk di ruangan dalam.

Tan Bun Hong, anak kecil itu oleh ayah ibunya disuruh bermain di luar dan dilarang untuk masuk ke dalam ruangan pertemuan. Setelah mereka duduk berhadapan, Ci Kong dan isterinya memandang dua orang tamunya dengan penuh perhatian, sebaliknya Ong Siu Coan dengan matanya yang bersinar aneh dan tajam juga mengamati dua orang bekas rekan seperjuangan itu penuh selidik. Dalam usianya yang tiga puluh enam tahun, Tan Ci Kong masih kelihatan muda. Tubuhnya nampak tegap dan kulitnya agak gelap sebagai tanda bahwa sebagai orang yang suka bekerja di ladang dia banyak tertimpa sinar matahari. pakaiannya tetap sederhana dan wajahnya yang jelas membayangkan kegagahan itu kelihatan penuh kesabaran dan penuh pengertian. Juga Siauw Lian Hong masih nampak cantik manis dengan mukanya yang berbentuk bulat dan matanya yang lebar jernih, lembut dan tajam.

Ong-toako, kata Ci Kong dengan sikap hormat dan menyebut toako (kakak) kepada rekan yang lebih tua itu,

Sudah bertahun-tahun kami mendengar bahwa engkau telah menjadi seorang panglima dan pemimpin besar balatentara pejuang yang amat kuat. Kami kagum sekali dan merasa heran melihat toako berdua datang berkunjung dan merasa yakin bahwa kunjungan ini tentu mengandung maksud yang amat penting. Ong Siu Coan saling pandang dengan isterinya, kemudian melayangkan pandang matanya kepada tuan dan nyonya rumah, lalu menarik napas panjang.

Sungguh menyenangkan sekali bicara dengan suami isteri yang gagah perkasa dan ucapanmu tadi langsung menyentuh persoalan yang sebenarnya, saudara Tan Ci Kong. Memang sesungguhnyalah, kedatangan kami ini mengandung maksud yang teramat penting yang mempunyai hubungan erat sekali dengan perjuangan rakyat menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu. Tentu saja Tan Ci Kong dan Siauw Lian Hong menjadi tertarik sekali, akan tetapi Ci Kong yang menduga bahwa tentu Ong Siu Coan datang untuk menarik dia dan isterinya agar suka membantu gerakannya, mendahuluinya,

Ong-toako, sebelumnya harap toako ketahui bahwa selama ini kami berdua hidup sebagai petani dan hidup tenteram di dusun ini, tidak pernah mencampuri urusan perjuangan bahkan tidak pernah mencampuri urusan dunia persilatan. Kami berdua ingin mendidik putera yang merupakan anak tunggal kami dan belum ingin melibatkan diri dengan perjuangan. Ucapan ini mengandung peringatan bahwa dia dan isterinya tidak akan mau ikut membantu perjuangan Ong Siu Coan. Akan tetapi Ong Siu Coan menggeleng kepala.

Membantu perjuangan dengan menerjunkan diri merupakan keputusan pribadi. Memang, sesungguhnya kami datang untuk mohon bantuanmu, saudara Ci Kong. Akan tetapi bukan minta bantuan tenaga. Lega rasa hati Ci Kong, akan tetapi dia pun heran. Kalau bukan bantuan tenaga, lalu bantuan apalagi?

Bagaimana kami dapat membantumu, Ong-toako?

Tuhan sendiri yang telah memberi petunjuk kepadaku, saudara Tan Ci Kong. Tuhan sendiri yang telah memberi penerangan dan penglihatan kepadaku di waktu aku tidur beberapa hari yang lalu.

Maksudmu...... engkau mimpi, Ong-toako? tanya Ci Kong yang merasa heran dan tidak mengerti.

Post a Comment