Dua orang penunggang kuda itu amat gagah dan mengagumkan semua orang yang kebetulan bersimpang jalan dengan mereka. Dua ekor kuda tunggangan mereka juga merupakan kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan kuat. Kuda-kuda itu berlari congklang ketika mereka memasuki sebuah dusun. Laki-laki itu berusia kurang lebih tiga puluh delapan tahun, bertubuh tinggi besar, wajahnya tampan dan gagah, dan sikapnya anggun berwibawa seperti sikap yang biasa nampak pada diri seorang bangsawan tinggi, sikap seseorang yang merasa akan kebesaran dan kepentingan pribadinya. Mulut dan matanya selalu nampak tersenyum ramah, namun di balik sinar mata yang ramah itu kadang-kadang kelihatan sinar mencorong yang aneh. Dia menunggang kuda berbulu hitam yang nampak ganas dan liar, namun penurut di bawah kendali kedua tangannya yang kokoh kuat itu.
Adapun wanita yang menunggang kuda berbulu putih di sampingnya adalah sorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh enam tahun, tubuhnya masih seperti seorang gadis yangbaru berusia dua puluh tahunan saja, masih padat dengan pinggang yang ramping. Wajah wanita inipun masih cantik dan manis sekali dengan setitik tahi lalat di pipinya, dan seperti juga pria itu, ia menunggang kuda dengan tubuh yang tegak dan lemas, sikap seorang penunggang kuda yang mahir.
Pakaian sepasang suami isteri yang anggun dan gagah ini cukup mewah, dan keduanya mengenakan sepatu kulit yang mengkilap, model sepatu boot yang biasa dipakai oleh orang-orang kulit putih, dan mereka melindungi tubuh dari hawa dingin dengan mantel tebal yang berkibar di belakang mereka. Suami isteri itu melewati sebuah kedai arak dan keduanya saling pandang.
Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar sambil minum arak agar kuda kita tidak terlalu lelah? tanya si wanita bertahi lalat itu kepada suaminya. Sang suami tidak menjawab, melainkan memandang ke arah dua ekor kuda yang mereka tunggangi. Memang kuda-kuda itu nampak lelah, penuh keringat karena mereka telah melakukan perjalanan jauh, sejak pagi tadi dan kini sudah lewat tengah hari. Dia mengangguk dan keduanya lalu turun dari punggung kuda, menuntun kuda mereka menghampiri kedai arak, mengikat kendali kuda di depan kedai, lalu memasuki kedai itu, disambut oleh seorang pelayan yang membungkuk-bungkuk penuh hormat melihat datangnya dua orang berpakaian mewah itu.
Selamat siang, tuan dan nyonya! katanya penuh hormat, Silakan duduk dan kami akan menghidangkan masakan yang paling lezat. Arak kami paling terkenal di seluruh daerah ini!
Sediakan masakan dan arak yang terbaik untuk kami, dan sediakan pula air dan rumput yang baik untuk dua ekor kuda kami. Pelayan itu mengerutkan alisnya, memandang ke arah dua ekor kuda di luar.
Akan tetapi, tuan...... kami tidak biasa mencarikan makan minum untuk kuda.
Carikan saja, kami akan membayar berapa saja yang kau minta! kata si wanita dan pelayan itu mengangguk-angguk dan tersenyum. Kesempatan baik untuk mendapatkan hasil tambahan, pikirnya.
Baik, nyonya. Silakan duduk......! pelayan itu mengantar mereka ke sebuah meja di ujung bagian dalam yang menghadap keluar. Suami isteri itu duduk menghadapi meja, saling berhadapan, yang pria menghadap keluar sedangkan yang wanita menghadap ke dalam. dengan demikian, keduanya dapat meneliti pintu luar dan pintu dalam. Dua buah buntalan yang tadi mereka turunkan dari punggung kuda dan mereka bawa masuk, mereka letakkan di atas meja. Tak lama kemudian mereka melihat seorang pelayan memberi rumput dan air kepada kuda mereka di luar, dan setelah pelayan datang membawa hidangan berupa masakan yang masih panas mengepul dan juga nasi dan arak, mereka lalu makan minum tanpa banyak cakap.
Selagi suami isteri ini makan dan minum di dalam kedai arak yang tidak berapa besar itu, dan tidak ada tamu lain kecuali mereka di siang hari itu, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk dan banyak orang bergerak di sekeliling rumah makan. Para pelayan kelihatan ketakutan dan mereka lari keluar dari rumah makan, Hal ini tentu saja diketahui oleh suami isteri yang sedang makan, akan tetapi keduanya hanya saling pandang sejenak, kemudian melanjutkan makan minum seolah- olah mereka tidak tahu akan gerakan banyak orang yang mengepung rumah makan.
Suasana yang tadinya hiruk pikuk menjadi hening, tanda bahwa orang-orang yang berada di luar itu telah mengepung dan siap siaga. Kini muncullah seorang laki- laki bertubuh gendut di ambang pintu depan, sikapnya berwibawa dan angkuh, dan dia memandang ke arah suami isteri itu sambil berseru dengan suara nyaring.
Pemberontak Ong Siu Coan! Engkau telah dikepung, menyerahlah untuk kami tangkap! Mendengar disebutnya nama ini, orang-orang yang tadinya nonton di luar rumah makan itu menjadi terkejut dan mereka lari ketakutan untuk bersembunyi.
Juga para tetangga yang tadi mengintai di balik jendela, terkejut dan tak seorangpun berani keluar dari pintu rumah. Nama Ong Siu Coan sudah terkenal sekali di daerah Nan-king itu. Dusun itu berada di sebelah selatan kota Nan-king dan siapakah yang tidak mengenal nama pemimpin dari pasukan pemberontak Tai peng itu? Nama Ong Siu Coan sebagai pimpinan pemberontak Tai Peng amat terkenal sebagai seorang pejuang yang berusaha menumbangkan pemerintah Mancu, dan terkenal pula sebagai pelindung rakyat jelata. Kini orang-orang itu bukan takut terhadap Ong Siu Coan, melainkan mereka takut karena maklum bahwa yang mengepung rumah makan itu adalah pasukan pemerintah yang berpakaian preman dan karena yang dikepung adalah Ong Siu Coan, maka tentu akan terjadi pertempuran yang hebat di tempat itu.
Laki-laki tinggi besar yang gagah dan sedang makan di dalam kedai arak itu memang benar Ong Siu Coan, pemimpin pasukan Tai Peng yang tadinya memakai nama perkumpulan Pai Sang-ti Hwee (Perkumpulan Pemuja Tuhan), semacam perkumpulan agama yang berdasarkan Agama Kristen namun sudah tidak asli lagi, bercampur dengan Agama To dan pelajaran Khong Hu Cu. Perkumpulan itu makin lama menjadi semakin besar dan kuat, lalu membentuk balatentara yang disebut balatentara Tai Peng (Perdamaian Besar) yang bertujuan untuk menentang dan menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu. Gerakan yang bersifat perjuangan inilah, bukan agamanya, yang menarik banyak orang dari rakyat jelata untuk datang bergabung, terutama sekali kaum petani yang merasa tertindas oleh pemerintah Mancu.
Pria gagah itu adalah pemimpin Tai Peng. Namanya Ong Siu Coan, bukan hanya terkenal sebagai seorang pemimpin pejuang yang disegani dan dikagumi rakyat, namun terkenal pula di dunia persilatan sebagai seorang ahli silat yang pandai. Dia adalah murid seorang datuk sesat yang terkenal sekali, yaitu Thian-tok (Racun Langit), seorang di antara Empat Racun Dunia, tokoh-tokoh sesat yang amat terkenal diwaktu-waktu yang lalu. Adapun wanita cantik bertahi lalat di pipinya itu juga bukan orang sembarangan. Ia bernama Tang Ki, dan ia adalah puteri tunggal dari Hai-tok (Racun Lautan), seorang di antara Empat Racun Dunia pula.
Dalam hal ilmu silat kiranya tingkat kepandaian Tang Ki ini tidak kalah oleh suaminya, karena selain menerima gemblengan dari ayahnya sendiri,
Juga wanita perkasa ini secara kebetulan telah menemukan sebuah kitab kuno ciptaan Tat Mo Couwsu yang terisi pelajaran ilmu silat tinggi berdasarkan gin- kang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa. Sudah kurang lebih dua belas tahun mereka menjadi suami isteri di luar kehendak dan pesetujuan Hai-tok dan mereka berhasil menghimpun kekuatan untuk memberontak terhadap pemerintah Mancu. (Baca Giok-liong-kiam bagian pertama). Ong Siu Coan bergasil membangun balatentara besar, bukan saja karena dia lihai, berilmu tinggi dan agama barunya menarik perhatian banyak orang, terutama sekali karena dia mempunyai banyak harta benda untuk membiayai perkumpulannya. Dialah yang berhasil menemukan harta pusaka yang tersembunyi dalam rahasia pedang pusaka ini dia berhasil membentuk balatentara dan sanggup membiayainya. Ong Siu Coan, meyerahlah sebelum kami terpaksa mempergunakan kekerasan! Kembali perwira gendut yang berpakaian preman itu membentak. perwira ini dengan anak buahnya yang kini mengepung restoran, berjumlah kurang lebih tiga puluh orang, adalah pasukan penyelidik atau mata-mata pemerintah yang bertugas di sekitar Nan-king.
Sejak pagi tadi dia dan anak buahnya tahu akan munculnya pemimpin Tai-Peng di tempat umum, maka dia sudah mempersiapkan anak buahnya untuk menghadang di dusun itu. Kebetulan sekali suami isteri itu berhenti di rumah makan, memudahkan mereka untuk mengepung dalam usaha menangkap pemberontak itu. Akan tetapi Ong Siu Coan dan Tang Ki masih enak-enak makan, melanjutkan makan tanpa menghiraukan si gendut. Melihat sikap suami isteri itu, si gendut menjadi marah. Dia segera mencabut sebuah pistol yang tersembunyi di ikat pinggangnya, lalu melangkah maju, diikuti oleh tiga orang perwira pembantu yang mencabut pedang. Si gendut sambil menodongkan pistolnya maju menghampiri Ong Siu Coan dan Tang Ki, berseru kepada anak buahnya yang berada di luar rumah makan.
Serbu dan tangkap mereka! Pada saat itu, Ong Siu Coan dan Tang Ki saling pandang dan pria perkasa itu berbisik,
Kuambil si gendut, yang lain untukmu! Isterinya mengerti dan mengangguk. Pada saat itu terdengar suara gaduh di luar rumah makan itu dan ternyata dua puluh orang lebih yang menjadi anak buah si gendut dan tadi mulai bergerak hendak menyerbu, secara tiba-tiba diserang oleh belasan orang yang memiliki gerakan yang tangkas sehingga dalam gebrakan pertama saja beberapa orang anggauta pasukan itu telah roboh!