Siu Coan dan Thian-tok sudah waspada. Sejak tadi mereka memang sudah mengintai dan mengamati gerak-gerik Koan Jit. Ketika melihat Koan Jit tidak cepat mengatur barisannya atau memimpin pemadaman api melainkan lari ke arah belakang markas, keduanya lalu cepat menyelinap dan membayangi. Ternyata Koan Jit memasuki sebuah gudang bahan bangunan yang agaknya sudah tidak terpakai dan pintunya yang tebal itu digembok.
Koan Jit yang memegang kuncinya, dan dia kini membuka pintu gudang itu, lalu menyelinap masuk. Siu Coan dan Thian-tok sudah siap siaga. Tak lama kemudian, Koan Jit meloncat ke luar dan di punggungnya sudah nampak bungkusan yang cukup besar. Tiba-tiba saja, Siu Coan menyerangnya dengan dahsyat sekali, menghantam ke arah dadanya dengan pukulan maut yang amat kuat.
Koan Jit terkejut, maklum bahwa pukulan yang ditujukan kepadanya dengan mendadak itu amat berbahaya. Diapun tidak mempunyai lain jalan kecuali menangkis pukulan yang sudah menyambar dekat itu.
“Desss!!”
Akibatnya, tubuh Siu Coan hampir terjengkang, akan tetapi Koan Jit juga merasa betapa tubuhnya terguncang hebat, dan pada saat itu, tiba-tiba saja bungkusan di punggungnya itu terlepas.
“Hehh…!” Dia membalik sambil mengirim tendangan, akan tetapi orang yang merampas buntalannya itu dapat mengelak sambil tertawa bergelak.
Koan Jit memandang dengan mata terbelalak dan mukanya pucat, karena perampas buntalannya itu bukan lain adalah Thian-tok, gurunya! Dan penyerangnya tadi adalah Siu Coan, sutenya!
“Kalian manusia-manusia curang!” bentaknya marah sekali. “Ha-ha-ha-ha… kau masih bisa bicara tentang curang?”
Thian-tok berkata sambil membuka buntalan itu dan melongok isinya. Dia melihat Giok-Liong-Kiam bersama beberapa batang pedang dan juga hiasan dan batu giok dan emas permata lainnya.
“Ha-ha-ha, terima kasih… engkau meminjam Giok-liong-kiam dan mengembalikan berikut bunganya, ha-ha-ha…!”
“Kembalikan itu!”
Koan Jit menyerang dengan ganasnya, menubruk dan menghantam ke arah gurunya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah buntalan.
“Desss!”
Thian-tok menangkis dan guru ini terkejut bukan main. Dia terpelanting dan hampir roboh. Untung pada saat itu, Siu Coan sudah menyerang lagi sehingga Koan Jit tidak mampu mendesak gurunya, dan kini Koan Jit berkelahi dengan mati-matian melawan Siu Coan.
Sementara itu, para anak buah Siu Coan sudah mulai menyerbu ke dalam dan terjadilah pertempuran yang kacau balau karena benteng itu hanya diterangi oleh sinar api yang membakar bangunan-bangunan. Dan tiba-tiba saja terdengar bunyi terompet, tambur dan ledakan-ledakan senapan. Beberapa orang anak buah Siu Coan roboh terjungkal.
Melihat betapa pasukan bule sudah datang dan tentu saja mereka itu membantu pasukan Harimau Terbang, Siu Coan maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya. Juga Thian-tok maklum akan bahaya. Tadipun ketika mengadu tenaga dengan murid pertamanya, dia hampir roboh dan hal ini saja membuktikan bahwa betapapun lihainya, usianya yang sudah amat tua mengurangi banyak tenaganya.
“Siu Coan, mari kita pergi!”
Berkata demikian, kekek ini mengeluarkan suara auman yang amat hebat. Koan Jit yang hendak mengejar, seketika lemas dan tenaga sinkangnya banyak berkurang karena dia harus mengerahkan tenaga itu untuk menjaga jantungnya yang tiba-tiba saja terguncang hebat. Gurunya ini memang hebat sekali Ilmu Sin-houw Ho-kangnya, dan kesempatan itu dipergunakan oleh Siu Coan untuk menghantamnya.
“Dukk!!”
Koan Jit menggunakan Ilmu Kim-siong-ko (Ilmu Baju Besi), semacam iImu kekebalan, akan tetapi biarpun dia tidak terluka, tetap saja dia terlempar dan ketika dia meloncat kembali, guru dan murid itu telah lenyap menghilang ke dalam kegelapan malam.
Siu Coan segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk mundur. Dan melihat munculnya pasukan bule yang menggunakan lampu senter yang besar dan terang, juga senapan-senapan yang ampuh, anak buah Siu Coan mengundurkan diri dan meninggalkan korban yang tidak kurang dari limapuluh orang banyaknya, walaupun di pihak pasukan Harimau Terbang juga sedikitnya ada tigapuluh orang yang tewas dan beberapa puluh orang yang luka-luka!
Perang, macam apapun juga adanya perang itu, memang kejam dan juga menyedihkan sekali. Lihat saja pertempuran antara anak buah Siu Coan dan pasukan Harimau Terbang, anak buah Koan Jit. Mereka itu berbunuh-bunuhan, sampai puluhan orang banyaknya, bahkan hampir seratus orang yang menjadi korban. Untuk apa? Pasukan Harimau Terbang adalah pasukan bayaran dan hal ini dapat kita maklumi. Mereka memang bekerja untuk perang, walau betapa keji dan kejampun sifat pekerjaan itu. Mereka akan membunuh siapa saja karena hal itu adalah pekerjaan mereka, dan untuk itu mereka digaji setiap bulan. Akan tetapi, biarpun mereka berperang karena itu memang menjadi pekerjaannya yang dibayar, mereka itu sebetulnya berperang dan mengorbankan nyawa hanya demi kepentingan seorang Koan Jit saja! Andaikata tidak ada Koan Jit dan Giok liong-kiam, belum tentu puluhan orang Harimau Terbang itu tewas pada malam hari itu!
Dan puluhan orang anak buah Siu Coan itu! Mereka juga tewas dan mati konyol! Untuk apa? Tentu saja merekapun memiliki alasan yang kuat, yang mendorong mereka untuk nekat dan mati-matian berbunuh-bunuhan dengan pihak musuh. Mungkin ada yang berdalih agama seperti yang dipropa gandakan oleh Siu Coan. Memang Siu Coan suka mempergunakan agama untuk mencapai tujuannya. Mungkin perang di malam hari itu dianggap sebagai perang suci atau perang salib seperti yang dipropagandakan oleh Siu Coan, memerangi orang-orang yang jahat.
Atau mungkin, juga Siu Coan mempergunakan propaganda kepatriotan. Mereka itu dianjurkan untuk memerangi Harimau Terbang karena itu adalah perbuatan yang patriotik! Membela bangsa, negara dan tanah air, dan orang- orang yang menghambakan diri kepada bangsa bule! Dan tentu saja ada pula di antara mereka yang berperang karena ambisi, karena mengharapkan kemenangan dan menerima imbalan jasa dari Siu Coan.