Sekali kita terseret oleh arus mencari kemajuan, sampai matipun kita akan mencari kemajuan terus, tanpa dapat menikmati kehidupan saat kita hidup. Menikmati hidup adalah saat ini, sekarang ini, detik demi detik, bukan esok atau lusa yang hanya berupa khayalan belaka.
Apakah kalau tidak mencari kemajuan, bukan bearti bahwa kita menjadi mandeg, menjadi statis, menjadi apatis (acuh)? Sama sekali tidak! Tanpa mencari kemajuan, tanpa mengejar sesuatu yang menjadi tujuan atau cita-cita, maka yang ada hanyalah perbuatan yang dilakukan dengan dasar kebutuhan hidup. Tanpa adanya si-aku yang mengejar sesuatu, maka di dalam setiap pekerjaan kita akan merasakan suara kenikmatan dan kesenangan besar, karena tanpa adanya aku yang bercita-cita mengejar kemajuan, di dalam pekerjaan itu terdapat cinta kasih terhadap pekerjaan itu. Dan pekerjaan yang dilakukan dengan cinta kasih ini tentu saja membawa perbaikan-perbaikan.
Akan tetapi Siu Coan tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Dia ingin mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Apa lagi setelah gurunya berada di situ dan gurunya mengatakan bahwa dia memperoleh ‘wahyu’, maka keinginannya untuk mengejar cita-citanya menjadi semakin kuat.
“Engkau harus dapat merampas kembali Giok-liong-kiam, Siu Coan. Tanpa itu, bagaimana engkau akan dapat berhasil menghimpun balatentara yang besar dan kuat? Balatentara yang besar dan kuat membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan untuk itu, Giok-liong-kiam harus dapat kita rampas!
“Mengapa Giok-Hong-kiam, suhu? Bukankah pusaka itu hanya sebuah pedang yang melambangkan keadaan seseorang yang menjadi jagoan nomor satu di dunia? Kukira itu hanya bualan dari San-tok belaka. Untuk apa? Aku tidak ingin menjadi jagoan nomor satu. Dan kalaupun pusaka itu merupakan benda berharga, berapa bisa kita dapatkan kalau dijualnya?”
“Ha-ha-ha-ha, engkau tahu satu tidak tahu dua. Engkau tidak tahu mengapa dahulu dengan susah payah aku merampas Giok-liong-kiam, dan tidak segan-segan menggunakan nama Siauw-bin-hud. Pedang itu mengandung rahasia penyimpanan harta karun yang tak ternilai harganya, saking banyaknya!”
Ong Siu Coan hanya baru mendengar berita angin saja tentang hal itu dan diapun tidak percaya, yaitu ketika diadakan pertemuan di dalam pesta hari ulang tahun Hai-tok.
“Ah, benarkah hal itu, suhu?”
“Bukan bualan… melainkan yang sesungguhnya demikianlah, muridku. Giok-liong-kiam itu mengandung rahasia penyimpanan harta karun yang luat biasa besarnya, cukup untuk membiayai balatentara yang besar.”
“Tapi… tapi bukankah pusaka itu sudah lama berada di tangan suhu?
Dengan demikian, tentu harta karun itu sudah berada di tangan suhu!”
Siu Coan memandang suhunya dengan sinar mata penuh perhatian dan penuh selidik. Hatinya tertarik sekali mendengar tentang harta karun, karena bagaimanapun juga, gurunya benar. Untuk dapat menghimpun tenaga balatentara yang besar, dia harus memiliki biaya yang amat banyak pula.
Akan tetapi kakek itu menggeleng kepala, membuat hati Siu Coan yang tadinya penuh harapan menjadi lemas kembali.
“Sayang sekali, sudah berbulan-bulan aku melakukan penyelidikan, akan tetapi belum juga dapat kutemukan rahasia itu. Sialan benar! Sudah kuselidiki dengan teliti, sudah kurendam dalam air sampai berbulan-bulan, namun tetap tidak dapat kutemukan rahasianya. Sialan! Dan sebelum aku berhasil, benda itu telah dicuri oleh Koan Jit.”
Siu Coan mengerutkan alisnya.
“Aihh, pantas kalau begitu… mengapa si Koan Jit itu mau merendahkan diri dan menjadi pembantu orang-orang bule. Andaikata dia bisa mendapatkan harta itu, tak mungkin dia mau merendahkan diri seperti itu. Aku berani bertaruh bahwa diapun kini kebingungan, tidak tahu bagaimana harus mendapatkan rahasia pedang Giok-Liong-Kiam itu… dan tidak dapat menemukan petunjuknya.”
“Kupikir demikianlah. Dan hal itu baik sekali, memberi kesempatan yang cukup bagi kita untuk mencoba merampasnya.”
“Merampasnya?”
“Kenapa tidak? Sekaranglah kesempatan kita yang paling baik. Aku sudah kau perkenalkan kepada Admiral dan diapun percaya kepadaku. Kita sudah memperoleh kepercayaan. Kita mempunyai kesempatan untuk menyerbu ke markasnya di Kanton dan merampas pedang itu.” “Ah, mana begitu mudah suhu? Tentu dia menyembunyikan pedang itu.” “Kita masuk dan menyelidiki. Mustahil kita berdua tidak akan dapat
menemukan benda yang dia sembunyikan di suatu tempat.”
“Akan tetapi, dia adalah komandan dari pasukan Harimau Terbang, dan di sana terjaga dengan ketat dan kuat!”
“Kau takut?”
“Tidak, suhu. Aku tidak takut… akan tetapi, kita berdua mana mungkin dapat menghadapi pasukan yang ratusan orang jumlahnya itu? Aku mempunyai akal, suhu… dan kalau siasatku dijalankan, kurasa lebih besar harapannya untuk berhasil merampas pedang pusaka Giok-liong-kiam itu.”
“Ha- ha-ha-ha… engkau memang selalu banyak akal dan pandai sekali!
Akal bagaimana itu yang hendak kaujalankan?”
“Begini suhu. Biarpun Koan Jit sudah menguasai pedang pusaka itu, akan tetapi melihat betapa dia masih saja berada di antara pasukan bule, hal itu menunjukkan bahwa diapun, seperti suhu, belum mampu memecahkan rahasia penyimpanan harta karun. Dia berada di dalam markas bule dan membentuk Pasukan Harimau Terbang, tentu hanya agar kedudukannya kuat dan tidak ada orang yang akan mampu merampas pedang pusaka itu. Nah, untuk dapat merampas pedang itu, kita harus mempergunakan siasat memancing harimau keluar dari sarangnya sambil membawa anaknya.”
“Eh, siasat macam apa itu? Kalau siasat memancing harimau keluar dari sarang… aku sudah tahu, akan tetapi memancing harimau keluar dari sarang sambil membawa annknya? Bagaimana itu?”
“Begini, kalau seekor harimau merasa terancam keselamatan anaknya, tentu dia akan melarikan diri keluar sarang dan menyelamatkan anaknya, membawa anaknya keluar dari dalam sarang yang terancam…”
“Ha-ha-ha-ha…!”
Perut gendut telanjang itu bergoyang-goyang ketika Thian-tok tertawa bergelak- gelak.
“Bagus, bagus! Memang, dengan demikian maka kita tidak perlu repot- repot mencari dimana dia menyimpan pusakanya itu. Coba teruskan, bagaimana siasatmu itu?”
“Untuk menghadapi ratusan orang Harimau Terbang, kita harus menggunakan sejumlah pasukan pula.”
“Kau hendak menggunakan pasukan bule di sini? Mana mungkin?” “Tidak, suhu. Ketika aku keluar dan Thian-te-pai, masih banyak anak buah yang setia kepadaku, dan mereka itu menantiku. Setiap waktu kalau aku
membutuhkan mereka, maka mereka itu semua akan membantuku. Aku sudah mempersiapkan mereka untuk kelak kalau aku sudah kuat, membentuk sebuah pasukan besar. Kalau hanya mengumpulkan dua tiga ratus orang saja, tidak sukar bagiku?”
“Hemm, bagus sekali. Lalu bagaimana?”
“Untuk tidak mencurigakan Koan Jit dan untuk memancing agar dia tidak ragu-ragu membawa keluar Giok-liong-kiam dari tempat persembunyiannya, sebaiknya kalau kita berdua memasuki markasnya secara menggelap, lalu bersembunyi dan melakukan pengintaian atas dirinya. Kemudian, biar pasukan istimewa yang sudah kupersiapkan itu melakukan penyerbuan kepada markas Harimau Terbang itu. Kalau dilakukan di waktu malam, tentu akan berhasil. Kepanikan di sana tentu akan memaksa Koan Jit berusaha untuk menyelamatkan dan menyingkirkan Giok-liong-kiam. Bagaimana pendapat suhu dengan siasat itu?
“Ha- ha-ha-ha, tadinya kukira bahwa hanya Koan Jit muridku yang paling hebat. Tidak tahunya engkau, malah melebihi dia, Siu Coan. Ah, aku tidak menyesal melihat wahyu itu dan mengambil keputusan untuk membantumu, muridku. Siasat itu bagus sekali dan cepat kerjakan. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menanti lebih lama lagi. Aku ingin merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit, juga ingin merampas nyawanya sekali!”
Siu Coan segera mempersiapkan rencananya. Dia menghubungi bekas anak buahnya, dan ternyata memang banyak sekali anak buah Thian-te-pang yang masih setia kepadanya, terutama mereka yang sudah memeluk Agama Kristen baru yang dipropagandakan oleh Siu Coan. Tidak kurang dari duaratus lima puluh orang dapat dia kumpulkan dengan rahasia, dan mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan. Rencana diatur masak-masak, dan setelah dipilih malam yang baik, Siu Coan dan Thian-tok lalu menyelundup ke dalam markas Harimau Terbang. Hal ini tidak begitu sukar dilakukan karena mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Menjelang tengah malam, dua bayangan berkelebat di dalam markas Harimau Terbang yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa di dalam markas itu ada dua orang lihai yang menyelundup, juga sama sekali tidak tahu bahwa markas mereka yang tidak berapa besar itu telah dikepung oleh hampir tiga ratus orang anak buah Siu Coan.
Siu Coan dan Thian-tok sendiri sudah mengetahui letak kamar Koan Jit. akan tetapi mereka tidak berani sembrono memperlihatkan diri, hanya mengintai saja dari tempat gelap untuk nanti melihat reaksi dari gerakan Koan Jit kalau penyerbuan dimulai. Setelah saat yang ditentukan tiba, guru dan murid itu berpencar dan tak lama kemudian nampak api bernyala besar sekali di ujung barat dan di sebelah timur depan. Tentu saja Siu Coan dan gurunya yang membakar gudang ransum dari gardu itu setelah menyiram tempat itu dengan minyak yang mereka ambil dari lampu-lampu gantung. Nyala api itulah yang menjadi tanda bagi pasukan anak buah Siu Coan untuk menyerang.
“Kebakaran! Kebakaran!”
Orang-orang di dalam markas itu berteriak-teriak dan suasana menjadi panik ketika mereka lari berserabutan untuk membantu memadamkan api. Ada yang masih setengah telanjang karena terbangun dari tidur.
Koan Jit sendiri meloncat dan keluar kamar setelah mengenakan sepatu dan pakaiannya. Akan tetapi pada saat itu, orang-orang berteriak karena datang luncuran anak- anak panah dari empat penjuru memasuki markas itu.
“Api… api harus dipadamkan dulu!”
Suasana menjadi semakin ribut, apalagi ketika kini pasukan anak buah Siu Coan datang menyerbu. Pintu markas jebol dan banyak pula anak buah Siu Coan yang berlompatan dari atas tembok. Terjadilah pertempuran mati-matian di malam buta itu. Melihat ini, tentu saja Koan Jit menjadi terkejut bukan main, ia tahu bahwa yang menyerbu tentulah para pejuang. Kalau bukan, siapa lagi yang berani menyerbu markas Harimau Terbang? Dia segera teringat akan pusaka-pusakanya. Musuh menyerang dengan panah-panah berapi, dan ada sebagian bangunan yang sudah menjadi lautan api di samping gudang dan gardu yang kebakaran tadi.
Tepat seperti yang sudah diduga oleh Siu Coan, Koan Jit tentu saja sayang kepada pusaka-pusakanya, terutama Giok-Liong-Kiam. Dan tepat pula seperti yang telah diduga oleh Siu Coan, selama ini Koan Jit dengan sia-sia mencoba untuk mencari tahu akan rahasia Giok-Liong-Kiam, mencari rahasia harta karun yang kabarnya disimpan di dalam pedang pusaka itu.