“Ketahuilah, bahwa tadi aku memang datang dengan maksud untuk membunuhmu. Siapa tidak dongkol mendengar bahwa engkau telah menghambakan diri pada orang bule? Aku mengutusmu bersama Gan Seng Bu untuk menyelidiki Koan Jit dan merampas kembali Giok-liong-kiam. Eh, si Gan Seng Bu itu malah kawin dengan seorang perempuan bule, dan kabarnya dia telah tewas di tangan Koan Jit. Dia masih boleh dimaafkan, mungkin dia tewas dalam usahanya merampas Giok-liong-kiam. Akan tetapi engkau! Engkau malah enak-enak di sini menjadi antek orang bule dan sama sekali tidak berusaha untuk merampas Giok-liong-kiam. Hati siapa tidak akan merasa panas dan marah?”
Kembali Siu Coan terkejut sekali. Nyaris dia terbunuh oleh suhunya malam ini kalau saja tidak telah terjadi sesuatu yang aneh, yang dia sendiri tidak tahu apa, karena tiba-tiba saja suhunya membatalkan niatnya membunuh itu.
“Akan tetapi suhu, harap jangan salah paham. Aku sama sekali bukan menghambakan diri begitu saja kepada orang kulit putih. Kedudukan Koan Jit yang menjadi komandan pasukan Harimau Terbang di pasukan kulit putih, satu-satunya jalan untuk dapat menyelidiki dan mendekatinya adalah kalau aku juga menjadi seorang yang dipercaya. Dan aku berhasil dipercaya oleh Admiral Elliot. Semua ini merupakan usahaku mendekati Koan Jit. Selain itu, aku juga hendak menyusun kekuatan untuk cita-citaku, suhu.” “Cita-cita yang mana?”
“Suhu, aku ingin sekali menyusun kekuatan, membentuk sebuah barisan besar untuk kelak dapat kupergunakan untuk menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu, dan kalau Tuhan menghendaki, kalau sampai berhasil, aku ingin menjadi kaisar.”
“Ha-ha-ha… cocok sekali! Aku yakin engkau akan berhasil!”
Tiba-tiba gurunya berkata dengan gembira bukan main. Kembali Siu Coan merasa heran dan kaget.
“Bagaimana suhu dapat berkata demikian?”
“Dengarkan kelanjutan ceritaku tadi. Aku datang malam ini untuk membunuhmu. Setelah aku berhasil berada di atas genteng kamarmu, tiba-tiba saja aku melihat suatu cahaya mencorong yang datang dari atas langit dan cahaya itu meluncur turun memasuki kamarmu!”
“Aihhh! Apakah itu, suhu?”
“Aku tadinya juga tidak tahu. Akan tetapi cahaya itu memasuki kamarmu lewat genteng begitu saja, menerobos genteng tanpa suara. Tadinya aku mengira bahwa itu tentulah pusaka ampuh, dan aku mengira Giok-liong-kiam sudah berada di sini. Pusaka ampuh kadang-kadang juga mempunyai cahaya mencorong seperti itu. Karena adanya cahaya itu, dan aku mengira engkau mempunyai Giok-liong-kiam atau pusaka lain, maka aku membatalkan niatku membunuhmu dan karena terkejut, aku membuat gerakan sehingga mengejutkanmu.”
Kembali Siu Coan bergidik. Kalau tidak ada peristiwa itu sehingga suhunya terkejut dan membuat gerakan, tentu dia tidak akan tahu dan tentu dia sudah mati tanpa sempat bangun kembali.
“Suhu, aku tidak mempunyai Giok-liong-kiam atau pusaka lain. Lalu apakah arti adanya cahaya mencorong itu?”
“Ha-ha-ha, aku tahu sekarang. Itu adalah wahyu!” “Wahyu?”
Selamanya, Siu Coan belum pernah mendengar kata itu. “Apakah itu, suhu?”
“Menurut dongeng dari See-thian (India), dan juga dongeng dari para kaisar jaman dahulu, siapa yang akan menjadi kaisar, tentu memperoleh wahyu. Wahyu itu adalah semacam berkah atau tanda dari Thian yang sudah menemukan bahwa seseorang akan menjadi raja. Ada kalanya wahyu itu tidak nampak, ada kalanya nampak. Wahyu yang jatuh kepada dirimu malam ini juga tidak akan nampak oleh siapapun kalau saja tidak kebetulan aku datang di sini untuk membunuhmu.”
“Dan menurut suhu, wahyu itu jatuh kepadaku, dan hal itu membuktikan bahwa kelak aku akan menjadi raja?”
“Aku yakin akan hal itu, muridku. Karena itu, mulai sekarang aku ingin membantumu. Aku yakin engkau akan berhasil.”
Tentu saja hati Siu Coan girang bukan main mendengar keputusan yang diambil suhunya ini. Suhunya, biarpun sudah amat tua, akan tetapi lihai bukan main. Dan kalau dia dibantu suhunya, agaknya cita-citanya akan lebih cepat terkabul. Dan untuk menyenangkan hati suhunya, mudah saja. Dia tahu bahwa suhunya ini mata keranjang, suka akan wanita-wanita muda yang mulus dan cantik, suka pula akan arak yang baik dan masakan lezat, suka akan kehidupan mewah. Dan dalam kedudukannya yang sekarang, sebagai pengawal pribadi admiral, sebagai orang terpercaya yang dicukupi semua kebutuhannya, mudah baginya untuk menyediakan semua kegemaran suhunya itu. Dia memberikan sebuah kamar untuk suhunya, kamar yang dihiasnya dengan indah. Bahkan untuk tempat tidur suhunya, dia memberikan tempat tidur hadiah Admiral Elliot, yaitu tempat tidur yang memakai tilam kulit harimau besar yang masih lengkap dengan kepalanya. Dan di antara belasan orang pelayan wanita yang cantik-cantik itu, dia memilih empat orang pelayan yang sengaja diberikan kepada suhunya, bukan hanya untuk melayaninya makan, mandi dan sebagainya, akan tetapi juga melayaninya di tempat tidur.
Mulailah Thian-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia, menikmati kehidupan yang amat mewah dan berlebihan. Si Racun Langit ini hidup seperti anak kecil saja. Kalau ingin mandi, tinggal tunggu saja. Empat orang pelayan atau selirnya itu akan menanggalkan seluruh pakaiannya dan akan memandikannya di bak mandi besar, menyabun dan memberinya minyak wangi, lalu memakaikan pakaian sutera yang tetap saja tidak mampu menutupi perut dan dadanya.
Kakek ini memang pantang ditutupi dada dan perutnya. Kalau sudah makan malam yang amat lezat dan kebanyakan minum arak, dia lalu akan rebah terlentang seperti seekor babi kekenyangan di atas pembaringannya yang bertilam bulu Harimau. Empat orang selirnya akan merubungnya, ada yang memijati, ada yang menumbuk-numbuk dengan kepalan tangan, ada yang membelai sampai akhirnya dia tidur sambil mendekap mereka berempat di dalam jubahnya yang lebar. Thian-tok lupa segala dan berenang di dalam lautan kesenangan dan kemewahan yang berlebihan.
Kesenangan hidup merupakan berkah bagi setiap orang manusia yang terlahir di dunia ini. Semua setelah diberikan kepada manusia. Pada mata sudah terdapat selera pandangan yang mengenakkan hati, demikian pula pada semua panca indriya. Dalam kita sudah diberi selera untuk menikmati apa yang terasa enak oleh mulut kita. Segala yang nampak enak itu, termasuk pula sex yang juga merupakan berkah bagi setiap orang manusia dan sudah menjadi hak setiap orang manusia untuk menikmatinya, sudah terbawa sejak kita lahir. Menikmati itu disebut kesenangan. Dan memang semua itu sudah benar dan sudah menjadi hak kita utuk menikmati kesenangan yang datang kepada kita. Akan tetapi, berkah ini segera dapat berubah menjadi suatu bahaya yang amat besar, yang akan mungkin melahirkan malapetaka dan sengsara seperti sebuah kutukan! Yaitu pengejaran. Pengejaran akan yang enak-enak itulah yang merupakan bahaya paling besar di dalam kehidupan kita. Kenikmatan hidup memang sudah wajar dan menjadi hak kita untuk dapat menikmatinya.
Akan tetapi, kalau kita mengejarnya, didorong oleh si-aku yang ingin mengulang dan mengulang lagi, maka kita lalu menjadi hamba nafsu.
Kesenangan lalu menjadi cita-cita yang selalu kita kejar, menjadi tujuan pokok dalam kehidupan kita. Dan kalau sudah demikian halnya, maka terjadilah penyelewengan-penyelewengan dalam kehidupan ini. Demi mengejar kesenangan yang menjadi sasaran tujuan, maka kadang-kadang kita menggunakan segala cara.
Sex merupakan anugerah kenikmatan hidup, akan tetapi begitu dikejar- kejar, lalu timbullah perjinahan, perkosaan, pelacuran dan sebagainya. Harta benda merupakan anugerah kenikmatan hidup, namun pengejaran terhadap harta menimbulkan korupsi, pencurian, penipuan dan sebagainya lagi.
Oleh karena itu, seorang bijaksana tidak akan mengejar kesenangan dalam bentuk apapun juga. Hal ini sama sekali bukan berarti bahwa seorang bijaksana HARUS MENINGGALKAN atau MENJAUHI KESENANGAN. Sama sekali tidak demikian. Bukan menolak karena memang sudah menjadi haknya untuk menikmati kesenangan, melainkan TIDAK MENGEJAR!
Menikmati apa yang ada, itu berarti tidak mengejar sesuatu. Pengejaran selalu menimbulkan kekecewaan dan perasaan tidak puas terhadap apa yang ada, karena pengejaran ini dapat diselimuti dengan kata-kata halus seperti cita-cita, tujuan, harapan, ambisi dan sebagainya lagi. Dan kalau kita mau membuka mata dengan penuh kewaspadaan, mengamati segala yang menimpa diri kita TANPA MENILAI SEBAGAI BAlK MAUPUN BURUK, akan ternyatalah oleh kita bahwa di dalam segala sesuatu itu terkandung keindahan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata lagi!
Di dalam apa saja! Dalam sakit, dalam kelaparan, dalam malapetaka, dalam kematian! Terdapat keajaiban dan kekuasaan yang menggerakkan seluruh isi alam mayapada ini. Dan kita ini hanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari itu semua. Sekali kita memisahkan diri dan semua itu karena dorongan sang aku yang ingin senang sendiri, maka berarti kita telah memasuki neraka selagi masih hidup.
Siu Coan dan Hai-tok adalah orang orang yang selalu tidak pernah puas dengan keadaan yang ada. Bagi umum yang biasanya memiliki pendapat yang salah kaprah, sikap demikian itu benar. Orang tidak boleh merasa puas dengan hidupnya, orang harus selalu mencari kemajuan, demikian nasihat nenek moyang kita sejak jaman kuno dahulu. Dalam arti kata, orang harus selalu mengejar sesuatu, bercita-cita, bertujuan, berambisi, mencari sesuatu yang dianggap sebagai kemajuan! Orang harus mencani kemajuan!
KEMAJUAN! Apakah ini? Menurut umum, kemajuan adalah keadaan yang lebih baik dari pada keadaan kita sekarang. Dengan demikian, kita harus SELALU MENCARI kemajuan. Karena kemajuan itu tidak mungkin ada batasnya, bukan? Dengan demikian, kita akan mencari terus sampai mati, mencari YANG LEBIH. Dan ini dianjurkan oleh setiap pemerintah, setiap guru, setiap orang tua.
Kita lupa bahwa mencari yang lebih baik itu, berarti tidak puas dengan keadaan yang ada saat ini! Dan kalau kita sudah membiarkan diri dijangkiti penyakit mencari ini, maka selama hidup kita tidak akan dapat bahagia, tidak mungkin dapat menikmati kehidupan ini. Karena yang dapat dinikmati adalah ‘SAAT INI’, hanya saat inilah yang dapat kita nikmati! Bukan esok atau lusa!