Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 126

Memuat...

Siu Coan melompat turun dari mimbar menghadapi mereka.

“Ji-wi keliru kalau melakukan kekerasan di sini. Gereja adalah tempat orang beribadat, tempat orang berbakti kepada Thian, bukan tempat bertentangan dan berkelahi.”

“Pengkhianat!” bentak mereka, dan keduanya sudah menerjang maju dan mengirim pukulan ke arah Siu Coan.

Pukulan-pukulan itu cukup dahsyat dan Siu Coan menyambut dengan tenang saja. Dia menggerakkan kedua tangannya, dibuka jari tangannya dan didorongkan ke depan menyambut.

“Dess!”

Dua orang itu terjengkang dan dan mulut mereka mengalir sedikit darah, tanda bahwa mereka telah menderita luka dalam yang biarpun tidak parah namun membuat mereka tidak berani maju lagi.

“Siapakah kau?” bentak si baju biru, terkejut heran dan juga penasaran. “Namaku Ong Siu Coan,” jawab Siu Coan sederhana.

Dua orang itu sejenak memandang kepadanya dengan penuh perhatian, kemudian mereka keluar dan gereja tanpa banyak cakap lagi. Siu Coan lalu berpamit dan Pendeta Allan yang menyatakan terima kasihnya berkali-kali. Tak lama kemudian terdengar lagi suara nyanyian dan dalam gereja itu, penuh semangat dan keharuan.

Jasa Siu Coan dalam gereja itu tentu saja disebarluaskan oleh Pendeta Allan dan tentu saja diketahui oleh Admiral Elliot. Hal ini menambah kejayaan Siu Coan yang semakin dipercaya.

Pada suatu malam, selagi Siu Coan tidur nyenyak setelah tadi ditemani oleh pelayan wanita yang paling disayangnya dan kini pelayan itu sudah disuruhnya tidur di kamarnya sendiri, pemuda ini terbangun dengan kaget. Pendengarannya yang terlatih dan amat peka mendengar sesuatu yang tidak wajar di atas genteng kamarnya. Sebagai seorang ahli silat yang sudah matang ilmunya, biarpun dalam keadaan pulas kelelahan, Siu Coan terbangun hanya karena suara sedikit saja, dan terutama karena ada semacam indriya keenam yang membisikkan bahwa ada hal yang tidak wajar.

Dengan tenang namun cepat sekali, Siu Coan sudah meloncat turun dan mengenakan sepatunya, juga bajunya karena tadi dia tidur tanpa baju saking panasnya hawa udara malam itu. Lalu terdengar suara di atas genteng itu.

“Demi Iblis, anak ini sungguh bernasib luar biasa baiknya!”

Mendengar suara itu, Siu Coan merasa seperti pernah mengenalnya, maka diapun cepat membuka daun jendela dan sekali tubuhnya mencelat, dia telah melayang keluar dari jendela dan naik ke atas genteng kamarnya. Dan siapakah yang dilihatnya di bawah sinar bulan yang suram itu? Bukan lain seorang kakek tua yang berkepala botak berperut gendut, yang berdiri tegak memandang kepadanya, dan kakek itu adalah seorang kakek yang luar biasa sekali, karena bajunya terbuka nampak dada dan perutnya yang amat besar. Tangan kirinya membawa sebuah ciu-ouw (tempat arak) dan di pinggangnya tergantung sebuah mangkok dengan tali.

“Suhu!”

Siu Coan terkejut sekali ketika mengenal Thian-tok, dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di atas genteng. Tidak seperti biasanya, kakek ini mengerutkan alisnya dan wajahnya tidaklah segembira seperti biasanya, melainkan masih nampak kaget dan terheran-beran.

“Mari kita masuk dan bicara di dalam…” katanya.

“Silahkan suhu,” kata Siu Coan yang mendahului gurunya melayang turun, memasuki kamar melalui jendela lalu membuka pintu kamarnya. Gurunya melangkah masuk melalui kamar itu dan mereka duduk di dalam kamar.

Siu Coan menepuk tangan dan muncullah belasan orang perajurit yang menjadi pengawalnya di depan pintunya. Mereka ini tentu saja terbelalak heran melihat munculnya seorang kakek gendut begitu saja tanpa mereka ketahui masuknya.

“Jangan ganggu aku malam ini. Kalau ada pertanyaan dari Admiral, katakan bahwa aku kedatangan tamu yaitu guruku. Sudah… kalian jaga di depan, jangan mendekati kamar ini.”

Para perajurit itu memberi hormat dan mereka memandang kagum ke arah si kakek gendut. Mereka semua tahu akan kelihaian Siu Coan. Kalau kakek gendut itu gurunya, wah… tentu lebih lihai bukan main. Setelah mereka pergi, Siu Coan yang tahu akan kesukaan gurunya, berkata.

“Apakah suhu ingin makan minum dulu sebelum bicara?” Kini kakek itu dapat tersenyum seperti biasa.

“Boleh, boleh. Asal ada arak baik dan masakan lezat.”

Siu Coan lalu menarik sebuah tali sutera di dekat pembaringannya. Itulah tanda bagi para pelayan wanita yang tidur di kamar sebelah bahwa dia membutuhkan mereka. Tak lama kemudian, berhamburanlah tujuh orang gadis cantik dengan pakaian yang setengah telanjang dan rambut yang kusut masai karena mereka tadi sudah pergi tidur, dan agaknya merekapun sedang mengharap-harapkan dipanggil oleh majikan mereka yang muda dan tampan itu. Maka merekapun datang seperti berlumba! Karuan saja Thian-tok terbelalak memandangi mereka, dan tujuh orang gadis itupun terkejut setengah mati melihat bahwa majikan mereka ternyata duduk menghadapi meja bersama seorang kakek yang gendut sekali!

Mereka menjadi malu-malu dan berusaha menutupi pakaian dan membereskan rambutnya. Akan tetapi, mana mungkin membereskan pakaian yang seperti itu? Pakaian mereka itu adalah pakaian tidur yang memang diharuskan oleh Siu Coan untuk mereka pakai setiap malam. Terbuat dan kain tipis berwarna muda yang tembus pandang dan di bawah pakaian itu tidak ada pakaian apa-apa lagi. Juga potongannya sederhana sekali, hanya dibelitkan pada pundak saja.

“Heh-heh-heh, sungguh engkau hidup enak sekali di sini, Siu Coan! Ini semua selirmu?”

Siu Coan tersenyum.

“Mereka adalah pelayan-pelayanku, suhu. Akan tetapi kalau suhu menyukai mereka, suhu boleh memilihnya.”

“Ha-ha-ha-ha, sungguh enak sekali hidupmu. Biarlah nanti saja, sekarang mari kita makan minum lalu bicara.”

Siu Coan memerintahkan tujuh orang wanita cantik itu untuk menyediakan makanan dan arak, dan sebentar saja semua hidangan itu telah dipersiapkan di dalam kamar itu. Diam-diam Thian-tok merasa kagum. Memang cepat sekali muridnya ini memperoleh kemajuan dan hidupnya sungguh senang, akan tetapi dibandingkan dengan apa yang baru saja dilihatnya di atas genteng tadi, ini masih belum apa-apa!

Dilayani oleh wanita-wanita yang cantik dan muda dan berbau harum itu, Thian-tok makan minum sepuasnya. Setelah semua bekas makanan dibersihkan, Siu Coan mengajak suhunya untuk bercakap-cakap di sebuah ruangan dimana tidak akan ada orang lain yang dapat mengintai atau mendengarkan percakapan mereka.

“Kunjungan suhu yang tiba-tiba ini amat mengejutkan hati teecu. Tentu ada keperluan penting sekali, suhu.”

“Tentu saja. Kalau tidak penting, untuk apa aku susah payah datang ke sini? Siu Coan, aku datang untuk membunuhmu!”

Kalau ada kilat menyambar kepalanya di saat itu, belum tentu Siu Coan akan sekaget seperti ketika mendengar omongan gurunya. Mukanya menjadi pucat sekali dan dia sudah meloncat berdiri, siap untuk melarikan diri atau memanggil para pengawal untuk membela diri. Biarpun yang akan membunuhnya itu gurunya sendiri, dia tidak akan sudi menyerah begitu saja.

“Akan tetapi kenapa, suhu?” Kakek itu tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, jangan khawatir. Aku tidak jadi membunuhmu sekarang, pikiranku sudah berubah agi.”

Siu Coan bernapas lega, akan tetapi mukanya masih pucat. Celaka, kakek ini sungguh membikin hatinya kecut sekali, nyawanya seperti dipakai mainan saja! Biarpun dia itu gurunya, kalau sekiranya membahayakan dirinya, dia tidak akan segan-segan untuk membunuhnya!

“Suhu, sungguh teecu merasa heran bukan main. Apakah dosaku terhadap suhu maka suhu bersusah payah datang hendak membunuhku?”

Akan tetapi suhunya tidak menjawab, melainkan menatap wajah muridnya itu dengan tajam penuh selidik, lalu bertanya.

“Siu Coan, apakah engkau telah merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit?”

Siu Coan terkejut dan menggeleng kepala.

“Tidak, suhu… sama sekali belum. Bahkan aku belum sempat bertemu dengan dia. Kedudukannya kuat sekali di dalam pasukan inggeris.”

“Dan apakah engkau menyimpan sebuah pusaka lain yang ampuh?” “Pusaka? Pusaka apa, suhu? Aku tidak mempunyai pusaka apapun.” Gurunya memandangnya penuh selidik.

“Sungguh tidak punya? Mau kau bersumpah bahwa engkau tidak menyimpan pusaka ampuh di dalam kamar ini?”

‘Tidak, suhu. Sunguh mati. Untuk apa aku berdusta kepada suhu?” “Wah, kalau begitu, kiong-hi (selamat)…”

Dan tiba-tiba kakek gendut itu bangkit berdiri dan memberi hormat kepada muridnya seperti biasa orang memberi ucapan selamat. Tentu saja Siu Coan terkejut bukan main dan dia cepat berlutut.

“Suhu, tidak berani teecu menerima penghormatan suhu. Ada apakah maka suhu bersikap seaneh ini?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Bangkit dan duduklah.”

Setelah mereka duduk berhadapan kembali, Thian - tok berkata.

“Siu Coan, ketahuilah bahwa engkau telah ditakdirkan untuk menjadi calon orang besar, bahkan aku tidak akan heran kalau kelak engkau dapat menjadi seorang raja besar!”

Ingin Siu Coan tertawa geli. Walaupun cita-cita itu memang ada dalam batinnya, akan tetapi tanpa hujan tanpa angin, gurunya dapat mengatakan demikian, bukankah ucapan itu hanya ngawur dan terlalu muluk saja? Akan tetapi dia tidak berani memperlihatkan kegelian hatinya.

“Terima kasih atas doa restu suhu, akan tetapi bagaimana suhu dapat menduga demikian?”

Post a Comment