“Baiklah, nanti pada hari Minggu, saya akan menghadirii ceramah Bapak dan akan saya buktikan sendiri bagaimana cara mereka itu.”
Pada hari Minggu pagi, seperti biasa di sebuah rumah besar yang dijadikan gereja oleh Pendeta Allan, sudah berkumpul tidak kurang dari limapuluh orang, laki-laki, perempuan, tua muda. Mereka itu rata-rata mengenakan pakaian baru atau setidaknya pakaian bersih dan rambut mereka tersisir rapi.
Siu Coan duduk di sudut paling belakang sehingga dia dapat mengamati semua pengunjung dengan cermat. Ketika Pendeta Allan memimpin sembahyang, semua masih terjadi seperti biasa dan normal. Semua orang ikut bersembahyang. Juga ketika pendeta itu memimpin nyanyian dengan suaranya yang lantang namun dengan logat yang kaku, semua orang ikut pula bernyanyi memuji nama Tuhan.
Akan tetapi setelah pendeta itu mulai berceramah menerangkan ayat-ayat suci dan memberi penafsirannya dan memberi contoh-contohnya, mulailah para pengunjung itu nampak gelisah.
“Agama Kristen berdasarkan Cinta Kasih,” demikian antara lain pendeta Allan berkhotbah.
“Tuhan Maha Pengasih, Maha Pengampun, dan Maha Murah. Lihat saja, Tuhan dengan kasih sayang-Nya yang tak dapat diukur oleh pikiran manusia, telah menurunkan Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia di dunia, Yesus Kristus, Juru Selamat kita, telah membiarkan diri-Nya disiksa, disalib, bahkan dibunuh. Darah-Nya mengalir dan semua itu untuk siapa? Untuk kita semua. Untuk menebus dosa-dosa kita yang bertumpuk-tumpuk. Karena itu, siapa yang percaya kepada Yesus Kristus, siapa yang bertobat akan dosa-dosanya, siapa membuka pintu hatinya untuk Yesus, dia akan diselamatkan dunia akhirat. Bertobat akan dosa-dosanya berarti harus mulai hidup baru, menjauhi dosa, harus penuh cinta kasih terhadap sesama manusia. Kasihilah sesamamu seperti kalian mengasihi dirimu sendiri!
Demikianlah sabda dari Tuhan. Bahkan lebih dari itu, cintailah musuh- musuhmu! Apabila engkau ditampar pipi kirimu berikanlah pipi kananmu. Semua itu adalah pelajaran-pelajaran yang mengandung cinta kasih murni, dan siapa yang beriman dan melaksanakan segala perintah Tuhan, dialah yang berhak memperoleh tempat di sisi Tuhan, di kerajaan Sorga!”
“Bohong! Bohong besar!”
Tiba-tiba terdengar suara orang, dan Siu-Coan yang sejak tadi menaruh perhatian dan mengamati, melihat bahwa yang mengucapkannya adalah seorang nenek, akan tetapi dia tahu bahwa tak jauh dari nenek itu adalah seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun yang menggerak-gerakkan bibirnya. Dia terkejut. Gerakan bibir itu seperti orang yang menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara dari Jauh)! Agaknya orang itulah yang mengirim suaranya membisikkan kata-kata itu kepada si nenek yang hanya menirukan saja!
Pendeta Allan memandang ke arah nenek itu dan wajannya berubah. Wajah yang tadinya nampak lembut itu berubah keras dan alisnya berkerut.
“Saudaraku yang baik, kenapa kau berkata bohong? Apanya yang bohong besar?”
Tiba-tiba terdengar jawaban, bukan dan nenek itu, melainkan dan seorang kakek yang duduk di sudut, suaranya agak gemetar.
“Bohong kalau kita mencinta sesama seperti mencinta diri sendiri. Lebih bohong besar lagi kalau kita mencinta musuh-musuh kita!”
Tentu saja keadaan menjadi ribut, ada yang pro ada yang kontra. Akan tetapi Siu Coan sudah melihat bahwa ada seorang laki-laki berusia empatpuluh tahunan yang berpakaian serba biru, mengajukan pertanyaan tadi. Bersamaan dengan itu, terlihat juga seorang laki-laki tigapuluh tahunan tadi, menggerakkan bibirnya dengan ilmu mengirim suara dari jauh yang sama, akan tetapi sekali ini agaknya suaranya dikirimkan kepada kakek itu, sedangkan yang pertama mengirimkan suaranya kepada si nenek.
Kini Pendeta Allan memandang kakek dan nenek itu bergantian, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Ya Tuhan, semoga dosa kalian diampuni. Mengapa kalian berdua berani menyangkal kebenaran Alkitab? Dan siapakah kalian mendapatkan pikiran yang seperti itu?”
“Ini adalah suara bisikan hati saya sendiri,” ratap si nenek hampir menangis.
“Saya mendengar bisikan itu jelas sekali di dalam telinga dan hati, tak dapat dibantah…”
“Hemm, itu bisikan setan!” kata Pendeta Allan.
“Dan bagaimana clengan engkau, Lao Ceng?” tanyanya kepada kakek itu, kakek yang biasanya patuh dalam agama.
Kakek itu mengangguk dan menelan ludah beberapa kali sebelum menjawab.
“Saya juga demikian, saya mendengar bisikan dalam hati saya, maka saya langsung mengeluarkan saja suara hati saya itu.”
“Akan tetapi, nenek dan kakek yang baik, apa alasan kalian mengatakan bahwa semua pelajaran itu bohong?”
Pada saat itu, selagi kakek dan nenek itu nampak kebingungan, Siu Coan sudah berjalan maju ke atas mimbar, mendekati pendeta itu dan diapun berkata sambil memandang kepada dua orang yang tadi bisikkan kata-kata itu kepada kakek dan nenek.
“Orang yang mampu mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh adalah orang-orang gagah. Akan tetapi perbuatan bersembunyi dan menyuruh orang-orang lain untuk bicara sedangkan diri sendiri bersembunyi, sama dengan melempar batu bersembunyi tangan, dan perbuatan itu adalah perbuatan yang rendah dan pengecut!”
Orang yang memakai baju kuning dan berusia tigapuluh tahun segera bangkit berdiri dan berkata suaranya lantang.
“Sebaliknya, orang Cina yang membantu orang bule untuk merusak bangsa sendiri adalah seorang pengkhianat yang tak patut diampuni!”
Siu Coan terkejut dan dia memandang tajam. Biarpun dia tidak teringat pernah bertemu dengan orang ini, namun dia dapat menduga bahwa tentu orang ini seorang pejuang yang menyelundup ke dalam gereja dan membuat kacau. Dia tidak merasa mengkhianati bangsanya, maka ucapan itu tidak membuat mukanya menjadi merah. Dia masih tersenyum ramah dan menjura ke arah orang itu.
“Aih, kiranya di tempat ini ada seorang pendekar yang berilmu tinggi. Ketahuilah, saudara… bahwa di dalam gereja tidak ada permusuhan, tidak ada perbedaan bangsa atau kulit. Di depan Tuhan Allah, semua manusia sama saja, apapun warna kulitnya. Kalau saudara merasa tidak setuju dengan pelajaran Agama Kristen dan hendak memprotes, kenapa tidak dilakukan sendiri.”
Kini si baju biru yang bertubuh tinggi besar itu bangkit pula dan berkata Iantang.
“Kami bukan anggauta gereja, karena itu terpaksa kami meminjam mulut anggauta gereja untuk menyatakan rasa penasaran hati kami.” Kini Pendeta Allan yang sudah merasa girang karena Siu Coan dapat membongkar rahasia itu dan menemukan biang keladinya, lalu berseru dengan suaranya yang halus.
“Ya Tuhan, semoga diampuni dosa-dosa kalian! Saudaraku yang baik, sebetulnya mengapakah anda berdua menyangkal kebenaran ajaran dari Alkitab?”
Kini si baju kuning yang menjawab.
“Kami tidak tahu menahu tentang isi Alkitab, akan tetapi mendengar ceramahmu, kami sama sekali merasa bahwa semua ceramahmu tu bohong belaka. Engkau mengajarkan tentang cinta kasih sesama manusia. Apakah engkau dan bangsamu itu mempunyai rasa cinta kasih terhadap sesama? Pelajaranmu menganjurkan cinta kasih, akan tetapi apa yang telah kalian lakukan di tanah air kami? Meracuni bangsa kami, memerangi bangsa kami, membunuh, menyiksa, menjajah dan menginjak-injak kebebasan bangsa kami. Kalian mengajarkan cinta kasih, akan tetapi melaksanakan permusuhan dan kebencian! Bukankah itu berarti bahwa semua ceramahmu itu bohong belaka? Dan pelajaran tentang mencinta musuh-musuhmu itu. Huh, pernahkah engkau mencinta bangsa kami yang kalian musuhi?”
Ucapan orang ini demikian penuh semangat, terasa sampai ke dalam hati para pendengar di dalam gereja itu, sehingga kini pandang mata mereka terhadap pendeta itu seketika berubah. Diam-diam Siu Coan memuji orang ini yang pandai sekali melakukan penyerangan dengan kata-kata.
Mendengar ucapan itu, sang pendeta merangkap kedua tangan di depan dada sambil memejamkan mata dan seperti orang berdoa, kemudian dia membuka mata dan berkata.
“Saudaraku yang baik. Memang manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Karena itulah maka Tuhan menurunkan Yesus ke dunia untuk menebus dosa dan untuk mengajarkan kebaikan kepada umat manusia. Tidak hanya terbatas pada Bangsa Cina, juga Bangsa Inggeris, merupakan manusia- manusia penuh dosa yang harus bertobat.”
Kini orang berbaju biru segera berseru.
“Kalau begitu, apa perlunya kau mengajarkan kami tentang cinta kasih dan mencinta musuh? Kami orang-orang tertindas kauajarkan untuk mencinta musuh, bukankah berarti engkau menyuruh kami diam saja dan mandah diperlakukan semena-mena dan menderita tekanan dan bangsamu? Daripada kau mengajarkan cinta kasih kepada kami, kenapa engkau tidak menyuruh bangsamu itu menghentikan kejahatan mereka, tidak mengedarkan racun madat kepada bangsa kami, dan meninggalkan tanah air kami dengan aman? Selama hidup, kami tidak pernah mengganggu bangsamu yang negaranyapun kami tidak tahu dimana. Adalah bangsa kalian yang datang dan mengganggu kami, akan tetapi engkau masih menyuruh kami mencinta mereka!”
Siu Coan hampir tak dapat menahan ketawanya ketika melihat betapa pendeta itu nampak panik, wajahnya sebentar pucat sebentar merah. Dia merasa kasihan pula, karena bagaimanapun juga, Siu Coan sudah tertarik akan Agama Kristen. Dia lalu maju, membela pendeta itu dan suaranya lantang sekali terdengar oleh semua orang.
“Ji-wi enghiong (dua saudara gagah), semua yang ji-wi katakan itu memang tidak keliru. Akan tetapi kukira tidak pada tempatnya. Harap ji-wi ketahui bahwa antara agama dan politik, antara agama dan perang, tidak boleh dicampuradukkan sama sekali. Agama Kristen tidak mencampuri politik, tidak mencampuri perang. Agama ini mengajarkan cinta kasih dan kebaikan kepada umat manusia, tak perduli berbangsa apa, pintar atau bodoh, kaya atau miskin, tua atau muda. Yang menimbulkan perang, yang menjual madat, yang melakukan penindasan bukanlah agamanya. Dan semua orang, baik yang menindas maupun yang ditindas, baik yang melakukan kejahatan atau yang dijahati, keduanya tidak lepas dari pada dosa, dan karenanya dosa-dosanya itu harus dicuci dan ditebus oleh darah Yesus dan hidup baru sesuai dengan jalan Tuhan. Kalau ji-wi menyerang bapak pendeta Allan ini, sungguh tidak tepat. Beliau hanya tahu akan pelajaran agama, sama sekali tidak tahu menahu tentang perang, tentang madat dan sebagainya.”
“Akan tetapi, sebelum orang bule datang, sebelum mereka datang, kita tidak mengenal madat, tidak mengenal agama baru, dan kita hidup dalam tenteram dan damai!” teriak si baju kuning.
Siu Coan tersenyum.
“Benarkah itu? Walaupun mungkin tidak ada banyak madat, namun dari See-thian sudah berdatangan madat yang diselundupkan. Dan tentang perang, sejak dahulu kita sudah mengenal perang. Bukankah perang saudara dan perebutan kekuasaan selalu terjadi sejak jaman Sam Kok? Dan siapa pula yang kini berkuasa di tanah air kita ini? Harap ji-wi suka berpikir secara mendalam dan jangan menyalahkan pendeta dan Agama Kristen yang tidak bersalah apa- apa.”
Dua orang itu memang hendak membubarkan agama yang dibawa orang bule dan menanamkan permusuhan terhadap orang bule. Mereka adalah pejuanng-pejuang golongan yang anti orang kulit putih, maka kini mendengar rencana mereka itu dibantai dan dihalangi oleh Siu Coan yang agaknya membela pendeta itu, mereka menjadi marah.
“Kalau begitu, engkau adalah seorang pengkhianat besar!” bentak si baju kuning sambil melompat ke depan dan diikuti oleh temannya yang berbaju biru.