Siu Coan membuat tanda salib dengan tangannya.
“Saya percaya kepada Allah Bapa, Allah Putera, dan Roh Kudus!” “Ya Tuhan...! Kau… kau… seorang Kristen?”
Siu Coan mengangguk.
“Saya banyak berkenalan dengan pendeta Kristen dan banyak menerima pelajaran tentang Agama Kristen, dan sudah membaca kitab suci.”
Admiral Elliot mengangguk angguk, hatinya merasa bertambah girang. Namun dia masih berhati-hati, tidak percaya begitu saja dan dia lalu mengajukan beberapa pertanyaan tentang sejarah dalam agama Kristen, tentang kelahiran Yesus, tentang nabi-nabi Musa, Daud, dan yang lain. Semua dapat dijawab dengan lancar oleh Siu Coan. “Bagus? Jangan khawatir, maksudku kau melayani serangan anam orang pembantuku ini yang akan menyerangmu dengan bayonet dengan senapan yang kosong. Mereka tidak akan menembakmu. Tahukah kau bahwa Koan Jit akan dapat mengalahkan mereka seperti itu?”
“Baiklah, tuan. Aku percaya penuh kepada tuan, karena menurut pengetahuanku, seorang Kristen tidak boleh membohong atau menipu. Nah, aku siap sudah.” Dan diapun berdiri memasang kudn-kuda.
Menghadapi pengeroyokan enam orang itu yang tadi menyerangnya dengan tangan kosong, dan menghadapi mereka dengan senjata senapan berbayonet walaupun senapan itu tidak diisi peluru, sama sekali tidak boleh disamakan. Dia tadi sudah melihat ketika mereka berlatih menggunakan bayonet dan memang mereka itu sigap sekali, pandai menggunakan senjata itu. Hanya diapun tahu bahwa senjata itu amat kaku, sebenarnya tidak praktis dipergunakan untuk berkelahi, tidak seperti pedang, golok atau tombak. Maka, diapun tidak memandang reridah dan kini dia memasang kuda-kuda dengan gagahnya. Kuat lemahnya pasangan kuda-kuda tidak tergantung dan indah tidaknya gaya kuda kuda itu, akan tetapi untuk menimbulkan kesan, Siu Coan sengaja memasang kuda-kuda yang amat gagah gerakan dan gayanya. Dia berdiri dengan satu kaki kiri, kaki kanannya diangkat dan ditekuk seperti kalau seekor burung berdiri, tangan kanannya diangkat tinggi di atas kepala dan tangan kanannya membentuk cengkeraman di depan pusat. Kuda-kuda seperti ini kalau dilihat oleh seorang ahli silat tinggi tentu akan menggelikan, karena kuda-kuda ini ringkih sekali walaupun perubahannya dapat dilakukan dengan cepat.
Kini enam orang yang tadi sudah kalah, mengambil senapan tanpa peluru dan sudah dipasangi bayonet yang amat tajam runcing berkilau tertimpa sinar matahari pagi. Semua orang yang nonton menjadi semakin tegang. Kini pemandangan itu bukan hanya mengadu kepala dan tendangan, melainkan menggunakan bayonet yang tajam. Sekali saja perut tergores bayonet itu, tentu akan tersayat dan ususnya akan terburai keluar. Leherpun akan dapat terbabat putus. Apalagi yang mempergunakan bayonet- bayonet itu adalah enam orang sekaligus, enam orang yang sudah ahli memainkan bayonet-bayonet itu.
Siu Coan juga tidak berani main-main. Begitu enam orang itu mengurung dan seorang diantara mereka maju menusukkan bayonet ke arah perutnya, diapun sudah mengeluarkan kepandaiannya yang sungguhnya. Tubuhnya meloncat ke atas dan dia juga mengeluarkan suara lengkingan nyaring sekali, itulah lengkingan Sin-houw Ho-kang, yaitu auman seperti suara harimau mengaum yang dapat membuat jantung lawan tergetar hebat dan membuat mereka kesima. Memang auman ini diambil dari auman singa atau harimau. Kalau binatang yang dsebut raja hutan itu berburu mangsa, dengan aumannya yang menggetarkan jantung itu, dia dapat membuat calon korbannya, kijang atau binatang lain, seketika menjadi lumpuh tak mampu lari lagi saking kaget dan takutnya. Ilmu inilah yang ditiru oleh orang-orang lihai seperti juga ditiru oleh Thian-tok dan yang diturunkan kepada para muridnya.
Begitu Siu Coan mengeluarkan pekik itu, enam orang itu menjadi panik dan pada saat itu, dengan jurus-jurus Ngo-Heng Lian-hoan Kun hoat, Siu Coan sudah menyambar-nyambar turun dan dalam waktu singkat saja, dia telah mampu merampas semua senjata dari tangan enam orang pengeroyoknya itu. Enam orang itu tentu saja tidak mau senjatanya dirampas dan mereka mempertahankannya dengan mati-matian, bahkan masih melanjutkan dengan serangan tangan kosong kepada bayangan yang berkelebatan di antara mereka itu.
Akan tetapi kini Siu Coan membagi-bagi tamparan tangan kiri dan tendangan-tendangan kakinya. Setiap kali menampar atau menendang, orang- orang itu tentu mengaduh dan terpelanting roboh. Kemudian Siu Coan melompat dan sekali tubuhnya melayang, dia sudah berada di dekat Admiral Elliot dan enam batang senapan berikut bayonetnya itu telah disandangnya di pundak kanan dengan rapinya!
Semua orang melongo. Belum pernah mereka melihat yang seperti itu. Dan Admiral Elliot tersenyum gembira sekali, lalu merangkul pundak Su Coan dan diajaknya pemuda itu memasuki benteng setelah senapan-tenapan itu dikembalikan kepada enam orang yang masih belum tahu benar apa yang telah terjadi menimpa diri mereka.
Mulai saat itu, Siu Coan memulai suatu kehidupan yang baru. Dia memperoleh kepercayaan, menjadi pengawal pribadi Admiral Elliot dan juga bertugas melatih ilmu bela diri kepada para opsir dan juga sersan dan kopral. Tentu saja Siu Coan yang tidak ingin ilmu silat dikuasai orang-orang bule itu, hanya mengajarkan pukulan-pukulan biasa saja, dengan jurus-jurus yang hanya nampaknya saja hebat akan tetapi sebetulnya tidak ada artinya kalau dipergunakan untuk membela diri. Akan tetapi dia bersungguh-sungguh menjadi pengawal pribadi Admiral Elliot, karena dia tahu bahwa dengan dekat pembesar yang paling berkuasa di antara semua pembesar Inggeris itu, akan mudah baginya untuk memperoleh kedudukan. Dia bukan mencari kedudukan di dalam pasukan Inggeris, melainkan mencari jalan untuk menuju kepada cita- citanya yang amat tinggi, yaitu membentuk pasukan istimewa yang kelak akan menjadi balatentara besar dimana dia menjadi kisarnya!
Bberkali-kali Admiral Elliot yang cerdik itu mencoba kesetiaannya, antara lain dengan menyuruh orang-orang rahasia untuk berusaha menyerang Admiral Elliot itu. Dan selalu Siu Coan yang turun tangan menyelamatkan admiral itu dan ancaman semua serangan buatan itu.
Setelah menghambakan diri kepada admiral itu selama beberapa bulan, Siu Coan telah mendapatkan kepercayaan besar, bahkan memperoleh sebuah bangunan dalam benteng itu dan hidup mewah. Admiral itu juga bukan orang bodoh dan dia pandai sekali mempergunakan tenaga yang baik. Segala keperluan hidup Siu Coan dilengkapi, bahkan berlebihan, dan Siu Coan hidup dengan penuh kemewahan. Dia memelihara pelayan-pelayan wanita yang cantik-cantik dalam jumlah belasan orang. Tentu saja bukan pelayan-pelayan biasa yang hanya mencuci pakaian, membersihkan rumah atau memasakkan makanan untuknya. Kalau perlu, juga melayaninya di dalam kamar menemaninya tidur!
Hidupnya sudah seperti seorang raja kecil, akan tetapi tentu saja hal ini masih jauh dari pada memuaskan hati Siu Coan yang bercita-cita menjadi seorang kaisar yang sungguh-sungguh. Pekerjaannya tidaklah berat sekali. Kalau admiral sedang berada di kantor, maka dia tidak perlu mengawal.
Kantor itu sudah dikepung oleh pasukan besar jumlahnya yang amat kuat, Maka tidak perlu lagi dikawal. Hanya kalau admiral tu keluar benteng, selain dikawal oleh pasukan, Siu Coan juga harus selalu mendampinginya. Dan latihan yang diberikan kepada para opsir juga tidak setiap hari, cukup dia memberi satu dua jurus yang dia perintahkan agar mereka itu melatihnya sampai sempurna, dan cukup sepekan sekali dia menguji dan memeriksa mereka! Karena banyak menganggur ini, Sui Coan mendapatkan banyak kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya tentang Agama Kristen, yang dipelajarinya dan para pendeta yang bertugas di dalam benteng itu.
Pada suatu hari, Siu Coan dipanggil oleh Admiral Elliot. Setelah pemuda itu menghadap, pembesar itu berkata.
“Siu Coan, ada pekerjaan penting bagimu.”
“Apakah paduka akan keluar benteng dan pergi ke kota lain. Admiral?” “Tidak, sekali ini bukan bertugas mengawalku.”
“Ehh? Lalu tugas apa, Admiral?”
“Menyelidiki kenapa di dusun Boan-ciu, yang sebagian besar penghuninya tadinya sudah tunduk dan mau masuk menjadi Kristen di bawah pimpinan Pendeta Allan, kini tiba- tiba saja memberontak.”
“Memberontak? Apa yang telah mereka lakukan?” Siu Coan bertanya terkejut.
“Belum serius. Akan tetapi mereka itu membantah kalau diadakan ceramah, bahkan ada ancaman-ancaman dilontarkan terhadap Pendeta Allan. Aku khawatir sekali karena hanya dengan agama itulah maka bangsamu dapat diajak berunding dengan damai. Kau pergilah ke dusun Boan-cui dan coba selidiki, apa yang terjadi dan siapa biang keladinya. Kalau ada yang memang menjadi pengacaunya, tangkap atau bunuh saja.”
Hati Siu Coan merasa tidak enak, ini merupakan tugas yang lain lagi dan asing baginya. Dia harus berurusan dengan bangsanya sendiri yang mem berontak. Mana mungkin? justeru dia sendiri berjiwa pemberontak! Akan tetapi karena pemberontakan itu ditujukan kepada seorang pendeta Kristen, diapun cepat berangkat mencari pendeta itu dan minta penjelasan darinya mengapa ada orang orang di dusun Boan-ciu yang memberontak.
“Bapak Pendeta, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Boan-ciu? Saya menerima tugas dari Admiral untuk melakukan penyelidikan tentang hal itu.”
Pendeta yang usianya paling banyak lima puluh tahun itu menarik nafas panjang.
“Baru kurang lebih satu bulan ini, mulai terjadi perubahan itu. Tadinya, penduduk di sana amat patuh dan selalu dalam keadaan damai dan tenteram. Gereja pun selalu penuh dengan pengunjung dan banyak malah yang sudah menjadi Kristen secara sesungguhnya. Akan tetapi kurang lebih sebulan yang lalu, mulailah terjadi pembangkangan-pembangkangan.”
“Dalam bentuk bagaimana?”
“Pertanyaan-pertanyaan aneh dan bantahan-bantahan, bahkan kecaman- kecaman pedas terhadap bangsa kulit putih. Dan agaknya memang ada penggeraknya dari belakang. Akan tetapi yang mengajukan kecaman itu bahkan orang-orang yang tadinya tekun sekali, sehingga sukar bagiku untuk menyelidiki siapa biang keladinya. Tentu ada orang-orang yang membujuk mereka dari belakang.”
“Baiklah, sekarang katakan, siapa namanya orang-orang yang suka mengajukan protes dan kecaman-kecaman itu?”
“Banyak, akan tetapi pemrotes-pemrotes yang paling keras adalah dua orang saja, yaitu Lie Kiat dan Tan Liok. Mereka itu bekerja sebagai tukang ka yu di Boan-ciu.”