“Admiral... apakah ini sebuah perintah?” tanya seorang di antara mereka.
Admiral Elliot yang sedang gembira dan di dalam hati menduga bahwa enam orang itu belum tentu akan menang, tersenyum dan berkata.
“Aku perintahkan kalian maju mengeroyok pemuda itu, kalahkan dia tetapi jangan bunuh dia kalau bisa.”
“Baik, Admiral. Siap melaksanakan perintah!” jawab mereka berenam sambil memberi hormat.
Sejak tadi mereka itu tidak berbaju yaitu ketika tadi mereka berlatih tinju dan gumul, dan mereka hanya memakai celana panjang dengan sabuk kulit putih dan sepatu boot yang tebal. Mereka itu rata-rata memiliki tubuh yang penuh dengan otot-otot yang kekar dan kuat, dan muka yang bengis, pandang mata tajam penuh keberanian dan kecerdikan. Setelah memberi hormat, mereka lalu maju menghampiri Siu Coan yang masih berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang.
Semua perajurit yang berada di situ merasa gembira dan tegang. Mereka disuguhi pertunjukan yang luar biasa! Bahkan ada yang berteriak-teriak menantang teman bertaruh.
“Siapa berani bertaruh sepuluh pond lawan lima puluh pond, aku berpegang kepada enam orang jagoan kita!”
Biarpun taruhan itu satu lawan lima, tidak ada yang melayani.
“Dua puluh lima pond, dalam waktu kurang dari semenit, pemuda itu tentu roboh!”
Ramailah orang bertaruh, akan tetapi bukan bertaruh atas kemenangan Siu Coan, hanya bertaruh berapa lama pemuda itu akan dapat bertahan dikeroyok enam orang itu. Dan admiral itupun hanya tersenyum-senyum saja melihat kegemblraan anak buahnya, karena dia sendiri juga gembira dan senang.
Enam orang itupun bukan orang-orang biasa saja. Mereka adalah jagoan- jagoan berkelahi dan setiap orang jagoan tentu tidak mau begitu bodoh memandang rendah lawan yang belum dikenalnya. Mereka kini berindap-indap mengurung Siu Coan yang masih tetap berdiri tegak saja, seolah-olah tidak tahu bahwa di belakangnya ada dua orang, di depannya dua orang dan di kanan kirinya masing-masing satu orang. Melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak memperhatikan belakangnya, dua orang yang berada di belakangnya melihat kesempatan amat baik itu lalu menubruk ke depan. Yang seorang menonjok ke arah pungung dan seorang lagi menjambak rambut.
Semua orang mengira bahwa sekali serangan itu sudah akan cukup untuk merobohkan Siu Coan. Akan tetapi seorang ahli silat selihai Siu Coan, murid dari Thian-tok seorang di antara Empat Racun Dunia, telah memiliki pendengaran yang terlatih dan amat tajam, juga penasaannya sedemikian pekanya seolah-olah dia memiliki mata di belakang kepalanya. Oleh karena itu, walaupun dia diserang dan belakang, dia dapat mengikuti setiap gerakan kedua orang penyerangnya. Dan begitu dia meloncat ke kiri, kedua serangan itupun luput karena gerakan Siu Coan sedemikian cepatnya sehingga bagi kedua orang penyerangnya, dia seolah-olah pandai menghilang saja.
Melihat ini, dua orang yang berada di kanan kirinya juga cepat menyerang. Akan tetapi Siu Coan menangkis dengan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga. Pada saat yang bersamaan pula, dua orang yang berada di depannya sudah menyerang dengan pukulan-pukulan yang dahsyat. Sampai berkerontokan bunyi otot-ototnya di kedua lengannya ketika mereka mengirim jotosan-jotosan. Akan tetapi, dua kali kaki kanan Siu Coan bergerak dan ujung sepatunya sudah menotok ke arah lutut mereka, sehingga tanpa dapat dicegah lagi, kedua orang itu jatuh berlutut, sedangkan dua orang yang ditangkis tadi kini mengaduh-aduh sambil memegangi lengan mereka yang terasa nyeri dan kiut-miut rasanya, menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum.
Memang aneh sekali melihat betapa dua tengan yang besar berotot itu, begitu bertemu dengan tangkisan lengan Siu Coan yang kalau dibandingkan dengan mereka nampak kecil itu, lalu menjadi kesakitan seperti itu. Dua orang yang tadi luput menubruk, membalikkan tubuh dan mengirim hantaman- hantaman, akan tetapi Siu Coan tidak mengelak, melainkan cepat dari samping menangkap pergelangan tangan mereka, menarik sambil meminjam tenaga, dan kedua orang itu telah saling bertumbukan beradu muka. Tentu saja mereka menjadi kesakitan dan menutupi bidung yang bocor keluar darah karena saling berciuman terlalu keras.
Semua orang memandang dengan bengong, bahkan Admiral Elliot sejak tadi tidak pernah mengedipkan matanya, kini memandang dengan mata terbelalak dan mulut celangap. Kalau dia tidak melihat dengan mata sendiri, tak mungkin dia dapat percaya bahwa seorang pemuda Cina yang demikian sederhana, dalam satu gebrakan saja mampu merobohkan enam orang jagoannya yang ahli bermain tinju dan bertubuh kuat sekali. Dia tidak ingat bahwa mereka roboh karena terpukul bagian anggauta tubuh yang lemah. Dua orang tertangkis lengannya dengan lengan yang mengandung sinkang sehingga tulang lengan seolah-olah retak-retak rasanya. Dua orang lagi tertotok ujung sepatu tepat pada lututnya sehingga tentu saja membuat mereka jatuh berlutut, dan dua orang pula mukanya diadu sedemikian kerasnya sampai hindung mereka berdarah.
Admiral Elliot menjadi kagum dan mulai timbul kepercayaannya bahwa pemuda ini benar seorang pendekar seperti Koan Jit. Dan sudah merasa iri bahwa Kapten Charles Elliot, saudara sepupunya, telah berhasil memperhamba seorang ahli silat selihai Koan Jit. Kini ada pemuda ini, kalau dia sampal dapat menarik pemuda ini menjadi pembantunya, maka dia tidak kalah oleh saudara sepupu yang masih menjadi orang bawahannya itu.
“Orang muda, siapakah engkau?”
Pertanyaan ini mengandung banyak penyelidikan, bukan sekedar bertanya nama. Siu Coan juga maklum akan hal itu, maka diapun berterus terang kepada admiral itu. Setelah menghampiri dan memberi hormat, diapun berkata.
“Tuan besar, nama saya adalah Ong Siu Coan. Seorang pendekar perantau yang tidak mencampuri urusan pemberontakan. Tentu tuan pernah mendengar nama Koan Jit, bukan?”
“Tentu! Kau kenal dia?”
“Bukan hanya kenal. Dia adalah kakak seperguruan saya, tuan.” “Ohhh…!”
Wajah admiral itu menjadi girang bukan main. Dia mendapatkan adik seperguruan Koan Jit yang lihai itu, yang kini menjadi komandan pasukan Harimau Terbang yang amat terkenal dan banyak jasanya terhadap kumpeni,
“Jadi engkau adik seperguruannya? Dia menjadi pembantu Kapten Charles Elliot! Eh. Ong Siu Coan, bagaimana kalau engkau diadu dengan Koan Jit, siapa yang lebih unggul?”
Siu Coan tersenyum. Pertanyaan seperti itu sudah diduganya, dan dia sudah pula mempersiapkan jawabannya.
“Ah, di antara saudara seperguruan ,tentu saja tidak akan bertanding, tuan. Akan tetapi, apa yang pernah dipelajari oleh Koan Jit juga pernah saya pelajari. Di antara kami berdua, boleh dibilang sama kuat. Dia lebih tua dan lebih berpengalaman, akan tetapi saya lebih muda dan lebih kuat tenaga saya.”
Girang sekali hati Admiral Elliot, akan tetapi hatinya masih belum yakin benar. Koan Jit sudah memperlihatkan kelihaiannya, pernah merobohkan keroyokan puluhan orang kuli pelabuhan yang kuat-kuat, dan bahkan pernah pula diuji kemampuannya oleh Peter Dull sendiri, dihujani peluru pistol namun dapat menghindarkan diri.
“Song Siu Coan, setelah engkau menguji kepandaaianmu, lalu apa yang kaukehendaki dari kami?”
“Tuan besar, terus terang saja, saya masih menganggur tidak tahu harus bekerja apa. Saya hanya bisa ilmu berkelahi saja dan saya tidak suka menjadi tukang pukul, apalagi menjadi penjahat. Kalau sekiranya tuan suka, saya ingin minta pekerjaan di sini.”
“Oho, bagus… bagus...” Admiral Elliot kegirangan.
“Akan tetapi kami belum percaya benar kemampuanmu. Bagaimana kalau engkau menghadapi enam orang jagoan kami itu, akan tetapi mereka menggunakan bayonet. Sanggupkah engkau mengalahkan mereka?”
Mendengar ucapan itu, Siu Coan mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada admiral itu. Pandang matanya demikian mencorong seperti hendak menembus jantung admiral itu sehingga Admiral Elliot terkejut dan tidak berani menentang pandang itu.
“Tuan besar, mengapa tuan menyuruh orang-orang untuk membunuh atau berusaha membunuh aku dengan senapan? Bukankah menurut pelajaran agama tuan dikatakan bahwa kita harus mencintai sesama hidup kita, bahkan ada pelajaran yang mengatakan agar mencintai musuh-musuh kita? Kenapa sekarang tuan hendak membunuh saya yang tidak berdosa?”
Admiral itu membelalakkan matanya.
“Haii! Kau tahu apa tentang Agama Kristen?”