Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 122

Memuat...

“Mengapa tidak boleh? Tadi sudah kukatakan bahwa kalau dia menyerang lagi untuk keempat kalinya, aku terpaksa akan membalas.”

“Benar, akan tetapi engkau menyerang bagian kaki. Menurut ilmu tinju kami, serangan hanya boleh dilakukan dari pinggang ke atas, itupun bagian depan, tidak boleh bagian belakang, dan harus dilakukan dengan pukulan tangan, tidak boleh dengan anggauta tubuh yang lain.”

Mendengar penjelasan ini, Siu Coan mengangguk mendengar tentang peraturan tinju di antara orang kulit putih. Bahkan dia pernah menyaksikan pertandingan tinju seperti itu yang dianggap amat aneh dan lucu. Orang bertanding dan berkeiahi kenapa mesti pakai aturan dan larangan segala macam? Bukankah berkelahi itu mencari kemenangan dengan cara apapun juga? Lihat saja kalau harimau berkelahi, ayam berkelahi, tanpa ada aturan- aturan yang mengikat. Dia berpikir sejenak. Memang tidak mudah kalau ilmu silatnya dibatasi dalam perkelahian seperti itu.

Bayangkan saja. Semua bagian tubuh lain, tendangan kaki yang mematikan, lutut, siku, bahkan kepala kalau perlu, semua itu untuk dipergunakan menyerang. Dan lebih lucu lagi, yang diserang hanya pinggang ke atas, sedangkan bagian-bagian lain yang mematikan tidak boleh disentuh! Dan tangan harus dikepal pula. Padahal, untuk mencapai bagian-bagian yang sempit seperti tenggorokan, mata dan untuk menotok jalan darah atau mematahkan tulang iga, semua itu hanya dapat dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan. Kalau jari-jari dikepal, tentu hanya dapat dipakai untuk menjotos saja. Bahkan pinggiran tangan yang dapat dipakai membabat seperti golok atau pedang tak dapat dipergunakan lagi.

“Bagaimana? Beranikah engkau melawan aku dengan peraturan tinju seperti itu?”

Kini Sersan Bullbone menantang, akan tetapi sikapnya tidak segalak tadi. Pertama, karena dia dapat pula menduga bahwa tentu pemuda ini pandai silat seperti opsir Koan Jit, dan juga di situ disaksikan oleh Admiral Elliot, maka dia tidak boleh bersikap sewenang-wenang.

Siu Coan tersenyum.

“Tuan, sebetulnya tadi saya tertarik menyaksikan pertandingan itu dan ingin memasuki karena tadi ada tantangan dari enam orang itu. Aku tidak ingin berkelahi, melainkan bertanding untuk mengadu ilmu bela diri. Akan tetapi kalau tuan mendesak dan mau coba-coba, boleh saja. Hanya, aku tidak suka kalau tanganku dibungkus, karena dengan demikian, aku merasa seperti tidak mempunyai tangan saja.”

Semua orang tersenyum mendengar ini dan Sersan Bullbone tertawa. “Aha, kalau tanganku ini dibiarkan terbuka tanpa dilindungi sarung

tangan, pukulanku bisa mematahkan tulang rahangmu, mungkin kepalamu.” "Bagi kami, kalah atau menang, mati atau hidup merupakan akibat

pertandingan yang tak patut disesalkan lagi.”

“Baik, majulah. Akan tetapi ingat, hanya menggunakan kepalan tangan untuk menghantam dari pingging ke atas, dari depan. Tahu?”

“Baik, aku mengerti,” jawab Siu Coan.

Kini keduanya sudah berhadapan dan opsir itu sudah membuat gerakan mengelilingi Siu Coan dengan lagak seorang petinju jagoan. Tubuhnya agak membongkok, kedua lengannya dipasang, yang kiri di depan dagu, yang kanan di dekat rusuk, keduanya dikepal, kedua kakinya membuat gerakan seperti menari-nari dan dia mengelilingi Siu Coan.

Siu Coan berdiri tanpa bergerak, hanya matanya yang mengikuti gerak- gerik lawan. Kalau lawan mengitarinya di belakangnya, dia diam saja. Bukankah tidak boleh memukul dari belakang, pikirnya. Tiba-tiba dari samping, opsir itu melancarkan pukulan straight ke arah dagu kanan Siu Coan. Pemuda tidak mau memperpanjang pertandingan itu, maka begitu pukulan melayang datang ke arah dagunya, diam-diam dia mengerahkan sinkangnya untuk melindungi dagu itu. Tepat pada saat pukulan yang keras itu menghantam dagunya, dia membarengi dengan jotosan lunak saja ke arah pangkal leher lawan.

“Dukkk… desss…”

Akibatnya, tubuh yang kokoh itu terpelanting dan roboh tak mampu bangkit kembali karena pingsan! Knocked-out dalam satu pukulan saja! Tentu saja semua orang terbelalak menyaksikan itu. Mereka tadi melihat dengan jelas betapa pukulan Sersan Bullbone tepat mengenai dagu Siu Coan, akan tetapi pemuda itu sama sekali tidak merasakannya, karena dagunya terlindung tenaga sakti, sedangkan pukulannya yang hanya dilakukan dengan tenaga terkendali itu cukup membuat sang sersan roboh pingsan!

Sersan itu sendiri kalau tidak keburu pingsan, tentu akan bengong terlongong. Ketika pukulannya yang keras tadi mengenai dagu lawan, dia merasa seperti memukul benda lunak, seperti memukul sebuah balon yang terisi angin saja! Dan pukulan lawan ke arah pangkal lehernya seperti ada geledek menyambarnya!

Terdengar tepuk tangan dan yang bertepuk tangan adalah Admiral Elliot. Melihat ini, banyak perajurit bertepuk tangan memuji. Dan sang Admiral lalu menggapaikan tangannya memanggil Sui Coan. Memang ini yang dikehendaki pemuda itu, maka diapun lalu menghampiri dan berkata halus.

“Harap maafkan, tuan besar. Aku tidak sengaja membikin celaka tuan itu.” Dia menunjuk ke arah tubuh Bullbone yang mulai bergerak dan bangkit dibantu teman-temannya. Admiral Elliot memandang pemuda yang tinggi itu dengan sinar mata penuh selidik. Sebagai seorang Admiral, tentu saja Elliot bukan orang bodoh. Dia sedang menaksir-naksir dan melakukan penyelidikan dengan pandang matanya terhadap pemuda ini? Musuhkah? Mata-mata musuhkah? Atau seorang penjahat yang melarikan diri dari pemerintah Ceng, seperti juga Koan? Ataukah seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi dan hanya ingin bertualang? Ataukah seorang yang haus akan kedudukan dan

kemuliaan seperti Koan Jit?

Dengan bahasa daerah yang dikuasainya dengan baik, Admiral Elliot lalu tiba-tiba saja mengajukan pertanyaan kepada Siu Coan.

“Orang muda, sebenarnya apa kehendakmu maka engkau berani datang ke tempat kami dan memamerkan kepandaianmu?”

Kalau bukan Siu Coan yang ditanya seperti itu, tentu akan menjadi panik dan gugup. Pertanyaan itu diajukan dalam bahasa daerah yang fasih, hal yang sama sekali tidak tersangka-sangka, dan pertanyaan itu demikian tepat dan langsung mengenai sasaran. Karena memang sesungguhnya, dia datang untuk memamerkan ilmu kepandaiannya! Dia harus berhati-hati terhadap admiral ini, pikirnya, karena dia tahu bahwa pembesar ini benar-benar seorang yang cerdik sekali. Dia lalu menjura dengan cara bangsanya, memberi hormat dan berkata. “Maafkan saya, tuan. Saya sama sekali tidak bermaksud memamerkan kepandaian, melainkan karena sejak kecil saya memang suka akan olah raga beladiri. Melihat betapa saudara-saudara yang gagah di sini memperlihatkan ilmu itu dan mengadu kepandaian, lalu mendengar tantangan tadi, timbul kegembiraan hati saya untuk mencoba-coba. Hanya bermaksud untuk bersahabat melalui adu ilmu silat, bukan untuk bermusuhan, tuan. Di kalangan bangsa kami terdapat peribahasa bahwa tidak akan menjadi sahabat baik

sebelum saling mengadu ilmu masing-masing.”

Admiral itu tersenyum. Sebagai seorang pembesar tinggi yang bertugas di negeri Gina, tentu saja di banyak mempelajari tentang keadaan di negara itu, tentang para pejuang, para pendekar dan para sasterawannya. Dia dapat menduga bahwa pemuda ini memang hanya seorang pendekar yang suka akan petualangan saja, akan tetapi masih ‘bersih’ dari pada pengaruh politik yang membuat orang menjadi pro sana anti sini.

“Baiklah kalau begitu, apakah engkau yakin dapat mengalahkan seorang di antara enam orang jagoan kami itu?”

Dia menunjuk ke arah enam orang yang masih berkumpul di situ, yang tadi juga menonton pertandingan antara sersan Bullbone dan Siu Coan. Mereka merasa jerih juga kalau harus berhadapan dengan pemuda sederhana itu sendirian saja.

“Saya Yakin, tuan.”

“Bagaimana kalau kau dikeroyok dua, masih yakinkah akan menang?” “Kalau tidak dibatasi dengan peraturan tinju, melainkan perkelahian biasa

boleh menggunakan cara bagaimana saja untuk memperoleh kemenangan, saya yakin akan mampu mengalahkan dua orang di antara mereka,” jawab Siu Coan, bukan dengan nada sombong melainkan dengan sikap sederhana dan suara meyakinkan, sehingga menyenangkan hati admiral itu. Pemuda ini pasti memiliki kepandaian hebat, mungkin tidak banyak selisihnya dengan kelihaian Koan Jit, maka berani menjawab seperti itu, dan sikapnya juga amat sopan dan sederhana, sama sekali berbeda dengan sikap Koan Jit yang kelihatan congkak dan mengandalkan kehebatan dirinya sendiri.

“Hemmm. ”

Admiral Elliot meraba dagunya yang halus, akan tetapi jenggot yang pagi tadi dicukur bersih sudah mulai memarut jari-jari tangannya.

“Bagaimana kalau dikeroyok tiga? Beranikah kau?”

Dia memakai pertanyaan dengan kata berani, bukan yakin menang lagi. Dia ingin menguji ketabahan hati pemuda ini, dan jawaban Sui Coan yang tetap sederhana itu mengejutkan hatinya.

“Saya berani, tuan.”

Admiral itu memandang kepada Siu Coan penuh perhatian. Benarkah anak ini akan mampu menghadapi pengeroyokan tiga orang jagoan itu? Dia sendiri dikeroyok dua saja akan berpikir pikir dulu!

“Bagaimana kalau mereka berenam maju semua? Berani jugakah engkau?” “Saya berani, tuan,” jawab Siu Coan tanpa ragu-ragu. Memang dia ingin memperlihatkan kelihaiannya agar dapat ‘terpakai’, maka diapun tidak ragu-

ragu untuk menantang.

“Bagaimana kalau mereka berenam maju semua? Berani jugakah engkau?” “Saya berani, tuan,” jawab Su Coan tanpa ragu-ragu.

Memang dia ingin memperlihatkan kelihaiannya agar dapat ‘terpakai’, maka diapun tidak ragu-ragu untuk menantang.

“Bagus! Akan kubuktikan omonganmu. Akan tetapi, dalam perkelahian, kepalan tangan tidak mempunyai mata, kalau sampai engkau kena pukulan keras dan menderita sakit atau sampai mati sekalipun, jangan kaupersalahkan aku, karena engkau sendiri yang menerima tantangan untuk dikeroyok enam orang sekaligus.”

“Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa dan tidak akan menyesal, tuan.” Admiral itu lalu memanggil enam orang itu dan menerangkan dalam bahasa Inggeris bahwa pemuda Cina ini berani menghadapi mereka dengan sekaligus dikeroyok enam orang. Enam orang itu terbelalak, saling pandang dan kemudian terkekeh-kekeh. Ketika semua perajurit yang tidak mengerti omongan antara admiral dan Siu Coan tadi mendengar bahwa pemuda itu berani dikeroyok enam orang jagoan yang dipilih itu, merekapun tertawa-tawa

tidak percaya.

Akan tetapi Sui Coan sudah siap untuk memperlihatkan kepandaiannya, maka dengan sikap tenang dia telah melangkah ke dalam tengah arena itu, lalu berdiri tegak dan bertolak pinggang, lalu berkata dengan suara Inggeris yang patah-patah.

“Tuan-tuan berenam, silahkan maju mengeroyokku!”

Enam orang itu kembali saling pandang dan tertawa-tawa, mereka semua ragu-ragu dan menganggap Siu Coan dan admiral itu hanya berkelakar saja, bagaianapun juga mereka adalah juara-juara tinju juara-juara, bermain anggar, dan bermain bayonet. Bagamana kini mereka berenam disuruh mengeroyok seorang pemuda Cina yang tubuhnya, dibandingkan mereka, amat kurus dan kecil itu? Sekali tonjok saja agaknya pemuda itu akan knocked-out dan tidak akan bangun lagi.

Post a Comment