“Hei, San-tok. Engkau sudah mempunyai seorang murid perempuan yang baik, kenapa engkau mengambil murid perempuan bule itu? Untuk apa punya murid seperti itu?”
“Aih, kau tidak tahu! Siapa sudi mempunyai murid seperti itu? Akan tetapi ini semua gara-gara ulah muridku Hong-Hong. Ialah yang memaksaku menerima Diana sebagai murid, dan aku diakali olehnya, kalah janji. Kalau aku tidak mau menjadi guru Diana, berarti aku menjilat ludah sendiri. Sialan!”
Mereka lalu bercakap-cakap dengan Siauw-bin-hud, membicarakan keadaan tanah air dan berita-berita yang mereka dengar tentang gerakan para pejuang, tentang kedudukan Koan Jit yang kuat dan tentang cita-cita mereka untuk menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu dan menghalau kekuasaan asing kulit putih.
Sementara itu, Diana, Ci Kong dan Kui Eng berjalan-jalan di kebun yang luas itu. Mereka lalu duduk di ujung kebun, jauh dari kuil, di bawah pohon yang rindang dimana terdapat bangku-bangku bersih yang seolah-olah tersenyum mempersilahkan mereka duduk. Tempat itu memang nyaman sekali. Terdapat rumpun bambu yang gemersik tertiup angin, setiap ujung daun bergerak sendiri-sendiri seperti memiliki kehidupan pribadi, padahal merupakan serumpun, dan semua garis, semua lengkung, semua warna, antara cahaya dan bayangan, membentuk pandangan yang mengandung kesenian bernilai tinggi. Mereka tadi sudah berkenalan sambil berjalan-jalan, dan hati Diana girang sekali telah sempat berkenalan dengan penolongnya dan memperoleh sahabat baru yang demikian cantik manis dan gagah perkasa. Diam-diam ia membandingkan Kui Eng dengan Lian Hong, dan biarpun hatinya lebih condong kepada sahabat lamanya itu, namun harus diakuinya bahwa teman
barunya inipun amat menarik dan mengagumkan.
“Ci Kong, sungguh aku minta maaf kepadamu atas peristiwa tadi. Aku tidak berniat buruk sama sekali dan aku lupa diri.”
Kui Eng tersenyum lebar melihat wajah pemuda itu menjadi merah sekali. “Tentu saja engkau tidak berniat buruk dan perbuatanmu itupun tidak
buruk, bahkan manis sekali, Diana! Engkau tidak perlu minta maaf karena Ci Kong tentu senang juga dengan perbuatanmu tadi.”
Tentu saja Kui Eng berkata demikian untuk menggoda sehingga wajah pemuda itu menjadi semakin merah.
“Sudahlah, Diana,” Ci Kong berkata dengan halus, dan diapun merasa dekat dengan gadis bule ini, karena selain pandai sekali berbahasa daerah, juga gadis ini amat akrab, menyebut namanya dan nama Kui Eng begitu saja sehingga mereka segera menjadi akrab dan dapat bercakap-cakap tanpa sungkan-sungkan lagi.
“Segala yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan untuk mengganggu orang lain adalah tidak salah. Perbuatanmu itu kaulakukan karena kebiasaan cara hidup di negeri dan bangsamu. Akan tetapi di sini, perbuatan itu bisa dianggap tidak sopan, dan amat mengejutkan orang yang melihatnya.”
“Aku tahu, tapi ketika aku melihatmu di sana, sungguh aku menjadi lupa diri dan hanya menurutkan kegembiraan hati saja. Salahmu sih, dahulu itu kenapa engkau pergi begitu saja tanpa pamit? Coba kaubayangkan, Kui Eng, dia baru saja menyelamatkan nyawaku dari ancaman maut, akan tetapi dia terus pergi tanpa pamit. Hati siapa takkan merasa menyesal? Maka begitu bertemu, aku begitu gembira sampai lupa diri.”
“Tentu saja, Diana,” kata Kui Eng.
“Engkau tahu siapa Tan Ci Kong? Biarpun namanya saja cucu murid locianpwe Siauw-bin-hud, akan tetapi dia adalah muridnya, murid tunggal yang memiliki kepandaian tinggi. Dia seorang pendekar Siauw-lim-pai, dan seorang pendekar besar memang selalu bertindak tanpa pamrih. Satu-satunya yang mendorong perbuatannya hanyalah menentang kejahatan, melindungi yang lemah, dan membela kebenaran dan keadilan. Setelah menyelamatkanmu, berarti tugasnya selesai, dan perlu apa dia menanti balasan atau ucapan terima kasih?”
“Begitukah...?”
Diana memandang kepada Ci Kong dan matanya yang biru lebar itu terbelalak penuh kagum. Mula-mula Ci Kong balas memandang, akan tetapi melihat betapa mata biru amat indah dan lebar bening itu menatapnya seperti itu, dia tidak berani lama-lama memandang. Sekarang dia mulai merasakan keindahan dan kecantikan wajah gadis bule ini!
“Wah, kalau begitu para pendekar di sini lebih hebat dari pada para ksatria dalam dongeng rakyat di negeriku!”
“Bagaimana dengan pahlawan-pahlawan dan ksatria-ksatria di negerimu?”
“Mereka juga pembela kebenaran dan keadilan, akan tetapi mereka masih ingin memperoleh pahala, terutama sekali memperoleh hadiah gelar dan puteri.”
Ia kembali memandang wajah pemuda itu.
“Jadi para pendekar di sini yang selalu siap menyumbangkan tenaga dengan taruhan nyawa untuk membela kebenaran dan keadilan, selalu tidak pernah menerima balas jasa apapun?”
Kui Eng menggeleng kepala.
“Kalau menerima balas jasa itu namanya bukan pendekar, Diana. Seperti Ci Kong ini, bukan hanya tak pernah menerima balas jasa, bahkan sering menerima air tuba sebagai balas air susu yang diberikan.”
“Maksudmu?”
“Dia menolong, akan tetapi yang ditolongnya membalasnya dengan kejahatan.”
“Ah, mana mungkin?”
“Mungkin saja! Pernah dia menyelamatkan seorang gadis yang terancam bahaya maut, akan tetapi gadis yang diselamatkan nyawanya itu, tidak berterima kasih malah menyerangnya dan hampir membunuhnya...”
“Kui Eng...!”
Ci Kong mencoba untuk mencegah gadis itu melanjutkan. Akan tetapi Kui Eng tersenyum, dan berkata.
“Menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, tidak ada salahnya.”
“Ah, aku tidak percaya. Mana ada orang yang begitu jahat, diselamatkan nyawanya malah menyerang dan hampir membunuh penolongnya dan tidak berterima kasih? Tidak mungkin, mana ada orang seperti itu?”
“Inilah orangnya!” kata Kui Eng sambil menunjuk dada sendiri.
“Ci Kong ini pernah menolongku ketika aku dikepung pasukan pemerintah. Aku sudah terluka dan kehabisan tenaga dan jatuh pingsan ketika Ci Kong menolongku, membawa aku keluar dari kepungan dan menyelamatkan aku dari ancaman maut. Kalau tidak ada dia yang turun tangan, tentu aku sudah mati. Akan tetapi begitu siuman dari pingsan, aku lalu menyerangnya mati-matian!”
“Ihhh...!” Diana berseru kaget dan mengerutkan alisnya.
“Jangan mudah dibohongi, Diana,” kata Ci Kong sambil tertawa.
“Kui Eng melakukan serangan itu tanpa disadarinya. Ia mengira bahwa saya seorang musuh, maka ia menyerang mati-matian. Setelah ia tahu bahwa saya bukan musuh, kami lalu menjadi sahabat baik.”
“Ah, kalau begitu aku mengerti. Aku tidak percaya orang seperti kau ini demikian jahatnya, membalas kebaikan dengan kejahatan, Kui Eng.”
Ia lalu memandang kepada Ci Kong dan sebuah pikiran membuat wajah gadis bule ini berseri dan seperti biasa, ia langsung saja mengatakan apa yang dipikirkannya itu.
“Ah, kalian ini sungguh merupakan sepasang pendekar yang amat cocok! Ci Kong seorang pemuda tampan dan gagah perkasa berwatak halus dan budiman, sedangkan Kui Eng adalah seorang gadis yang cantik manis dan lihai pula.”
Mendengar ucapan yang sama sekali tak pernah mereka sangka dilontarkan begitu saja dari mulut Diana, Ci Kong dan Kui Eng saling pandang dan muka mereka mendadak menjadi kemerahan.
“Aih, kau ini ada-ada saja, Diana! Mana mungkin aku disamakan dengan pendekar ini? Dia adalah murid dari locianpwe Siauw-bin-hud, dia seorang pendekar muda yang perkasa dari Siauw-lim-pai, sedangkan aku? Aku keturunan jahat, dan aku murid seorang datuk sesat yang biasa berkecimpung dalam dunia kejahatan. Diana, kau seperti membandingkan aku sebagai seekor burung gagak dan dia sebagai seekor burung Hong.”
“Nona... Kui Eng, jangan engkau berkata demikian.” Ci Kong cepat membantah.
“Baik buruknya seseorang nampak dalam sepak terjang kehidupannya, bukan dari keturunan atau perguruannya.”
“Cocok!” Diana berkata sambil tertawa.
“Aku sudah mendengar banyak dari suci Lian Hong tentang Empat Racun Dunia. Dan akupun sekarang menjadi murid seorang di antara mereka. Akan tetapi, yang kupelajari adalah ilmu silatnya, bukan perbuatan jahat.”
Tidak lama kemudian, muncul tiga orang kakek itu, mengajak murid-murid mereka melanjutkan perjalanan. Tiga orang kakek itu sudah bersepakat. San- tok hendak melanjutkan usahanya mencari harta karun. Tee-tok ingin menyampaikan kepada rekan-rekan seperjuangan agar menghentikan usaha mereka merampas Giok-liong-kiam dari tangan Koan Jit yang ternyata hanya merupakan benda palsu. Sedangkan Siauw-bin-hud akan mengabarkan kepada para tokoh besar di dunia para pendekar agar segala permusuhan pribadi antara kaum persilatan dihentikan dulu sehingga seluruh kekuatan dapat dipersatukan untuk perjuangan. Mereka berjanji akan saling bertemu kembali kalau San-tok sudah berhasil menemukan harta karun.
Hati Ci Kong merasa berat harus berpisah dari Diana dan Kui Eng, dua orang gadis yang amat menyenangkan hatinya itu. Di dalam perjalanannya mengikuti Siauw-bin-hud kembali ke pusat Siauw-lim-si, Ci Kong membayangkan wajah gadis-gadis yang pernah dijumpainya dan membanding-bandingkan mereka. Dan harus diakuinya bahwa mereka semua itu, Siauw Lian Hong, Ciu Kui Eng, Tang Ki, bahkan juga Diana, merupakan gadis-gadis pilihan yang selain memiliki kecantikan-kecantikan khas, juga mempunyai watak-watak yang aneh dan menarik. Dia sendiri tidak tahu apakah dia jatuh cinta kepada seorang di antara mereka. Dia tidak tahu bagaimana sih rasanya jatuh cinta itu! Akan tetapi harus diakuinya bahwa dia merasa suka, kagum dan senang bergaul dengan mereka semua, dan kalau dia disuruh memilih siapa di antara mereka semua yang paling hebat, sukarlah agaknya bagi dia untuk menentukan.