Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 112

Memuat...

pinceng sudah melihat muridmu itu, dan agaknya orang seperti ia tidak akan dapat dipaksa, apalagi untuk menikah dengan pria yang tidak dicintanya. Dan sekelebatan saja melihat muridmu, engkaupun akan mengalami kesulitan yang sama, Tee-tok. Anak-anak seperti mereka berdua itu tidak akan mudah ditundukkan, apalagi menyangkut kehidupan mereka sendiri, kebahagiaan mereka sendiri.”

“Hwesio tua, mengenai muridku, itu adalah urusanku sendiri, engkau tidak perlu ikut campur. Yang penting, engkau terima atau tidak pinanganku?” teriak San-tok.

“Benar, harus diputuskan sekarang siapa di antara kami yang pinangannya diterima, agar tidak membuat kami ragu-ragu dan penasaran,” sambung Tee- tok tak mau kalah.

“Omitohud, kalian memang hanya anak-anak kecil belaka. Mana mungkin pinceng dapat mengambil keputusan? Kalau yang kalian pinang itu adalah pinceng, maka tentu saja sekarangpun pinceng dapat mengambil keputusan! Hei, San-tok dan Tee-tok, apakah kalian meminang pinceng untuk dijodohkan dengan murid-murid kalian?”

Hwesio itu berkelakar untuk mendinginkan suasana.

“Hwesio tua… jangan pecengisan!” San-tok membentak, akan tetapi dari mukanya dapat diketahui bahwa diapun merasa geli dan kemarahannya sudah banyak berkurang.

“Siapa sudi punya mantu seperti kau, tua bangka yang sudah tinggal menanti saatnya saja?” Tee-tok membentak.

Siauw-bin-hud tertawa bergelak. Kemudian dia berkata dengan suara yang serius.

“Santok, dengarkan baik-baik. Andaikata kedua murid kalian itu setuju dengan pinangan kalian, andaikata mereka itu mencinta Ci Kong, itupun belum menjadi syarat bagi pinceng untuk menerima pinangan kalian. Yang dipinang adalah Ci Kong, dan ini sepenuhnya merupakan urusan dan persoalan dia, maka keputusannya adalah di tangannya sendiri. Kalau dia suka menjadi suami seorang di antara murid kalian, pincengpun setuju saja. Akan tetapi kalau dia tidak suka, siapapun tidak akan dapat memaksanya. Dan pinceng kira kalian akan menjadi guru-guru yang bijaksana kalau bertindak seperti yang pinceng lakukan.”

Dua orang datuk sesat itu kembali saling pandang dan agaknya mereka dapat melihat kebenaran kata-kata pendeta itu. Mereka kinipun merasa ngeri kalau membayangkan watak murid mereka masing-masing yang keras hati. Memang seharusnya bertanya dulu kepada anak-anak itu.

“Baiklah, aku tunda dulu pinangan itu dan akan kurundingkan dulu dengan muridku. Asal engkau tahu saja isi hatiku yang ingin berbesan denganmu,” kata San-tok.

“San-tok, kini engkau harus menceritakan apa rahasia tentang Giok-liong- kiam yang kauketahui itu,” Tee-tok mendesak.

San-tok memandang kepada rekannya yang bertubuh pendek kecil berkepala botak hampir gundul itu dan dia tertawa.

“Heh-heh, engkau ini hwesio bukan, tosupun bukan, pendeta setengah matang, cerewet seperti perempuan bawel saja, tidak mau kalah dalam segala hal. Kau mau tahu tentang Giok-liong-kiam yang diperebutkan itu? Ha-ha, Giok- liong-kiam yang diperebutkan itu, yang tadinya dirampas oleh Thian-tok dengan menggunakan nama Siauw-binhud, kemudian dicuri kembali oleh Koan Jit, pedang itu adalah pedang Giok-liong-kiam yang palsu.”

“Palsu...??”

Tee-tok berteriak, sedangkan Siauw-bin-hud juga memandang tajam kepada San-tok. Tentu saja berita ini merupakan berita yang amat penting sekali. Namanya telah dihebohkan karena pedang pusaka itu, bahkan dia telah mempergunakan waktu bertahun-tahun untuk mencari perampas Giok-liong- kiam yang mempergunakan namanya. Bukan itu saja, seluruh tokoh kang-ouw berebutan dan terjadi perkelahian-perkelahian, korban-korban nyawa, dan semua itu untuk memperebutkan sebuah benda palsu!

“Ya, palsu, Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit itu adalah pedang yang palsu, ha-ha!” San-tok tertawa-tawa dengan gembira sekali.

“Aku tidak percaya!” Tee-tok membentak, mukanya merah karena dia mengira rekannya itu mempermainkannya.

“Ha-ha-ha, kalau tidak percaya, pergilah kau mencari Koan Jit untuk memperebutkan pedang palsu dengan dia.

“Ha-ha, memang orang seperti engkau ini lebih patut kalau memperebutkan sebuah benda palsu dari pada mempercaya seorang seperti aku!”

“Omitohud, pinceng percaya ceritamu itu, San-tok,” kata Siauw-bin-hud dan suaranya terdengar mengandung kekecewaan.

Kalau dia bersusah payah selama bertahun-tahun dan namanya dihebohkan hanya untuk urusan pedang palsu, itu bukan merupakan hal yang mengecilkan hatinya sekarang ini. Akan tetapi yang mendatangkan kecewa adalah kenyataan bahwa kalau pedang itu palsu, berarti harta karun itupun tidak akan bisa ditemukan. Mendengar ucapan tokoh Siauw-lim-pai itu yang mempercayai cerita San-tok, Tee-tok menjadi ragu-ragu dan diapun kini memandang kepada San-tok dengan penuh harapan untuk memperoleh keterangan lebih lanjut.

“Hwesio tua, engkau memang belum pikun dan dapat berpikir secara bijaksana sekali. Aku memang tidak berbohong.”

“Siancai... kalau begitu, musnahlah cita-cita kita bersama untuk mencari harta karun agar dapat dipergunakan membiayai perjuangan rakyat...”

“Ha-ha-ha, jangan khawatir, Siauw-bin-hud. Akulah yang akan menemukan harta karun itu. Secara kebetulan aku mendapatkan keterangan tentang palsunya Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit itu, dan bukan hanya itu yang kuketahui. Akupun mengetahui rahasia bagaimana untuk dapat menemukan harta karun itu.”

“Kau membual!” teriak Tee-tok.

“Kalau benar demikian, apa maksudmu menceritakan kepada kami tentang kepalsuan Giok-liong-kiam?”

Tentu saja Tee-tok merasa curiga karena biasanya, orang-orang seperti mereka, apalagi Empat Racun Dunia, selalu mempergunakan siasat dan tipu muslihat untuk mengelabui orang lain demi keuntungan diri sendiri. Maka, keterangan San-tok ini tentu tak dapat ditelannya mentah-mentah begitu saja. “Ha-ha-ha, dasar tolol tetap tolol! Kalau tidak ada sebab-sebabnya, apa kaukira aku begitu bodoh untuk menceritakan ini semua kepada orang seperti engkau, Tee-tok? Sudah kukatakan tadi, rahasia ini tentu saja kusimpan sendiri dan aku bersama muridku akan tertawa geli sampai perut kaku melihat betapa kalian semua orang kang-ouw saling berlumba memperebutkan pusaka yang berada di tangan Koan Jit itu. Tadinya aku memang ingin begitu, melihat kalian seperti anjing-anjing berebutan tulang busuk, sedangkan aku diam-diam akan mengambil dan menikmati harta karun itu. Akan tetapi, setelah pertemuan di pesta Hai-tok, pendirianku berubah. Kita adalah rekan-rekan seperjuangan dan persatuan demi tanah air ini membuat aku memaksa diri mengesampingkan kepentingan pribadi. Aku sengaja menceritakan agar kalian tidak membuang- buang waktu memperebutkan pusaka palsu itu. Nah, belum juga engkau menghaturkan terima kasih kepadaku, Tee-tok?”

“Terima kasih hidungmu! Engkau masih merahasiakan tempat harta karun dan akan mengambilnya sendiri untuk memiliki Giok-liong-kiam tulen dan mendapatkan sebutan pahlawan dan jagoan nomor satu! Akan tetapi, mengenai perjodohan murid-murid kita, aku tidak mau mengalah kalau engkau hendak memaksa Siauw-bin-hud menyerahkan muridnya!”

Mendengar nada suara menantang itu, San-tok mengerutkan alisnya dan menatap wajah rekannya itu dengan tajam.

“Kalau tidak mau mengalah, lalu kau mau apa?”

“Mau apa?” Tee-tok melompat berdiri dan sikapnya menantang sekali. “Hayo majulah, kaukira aku takut padamu?”

“Cacing pita! Akupun tidak takut!” San-tok juga melompat berdiri. “Omitohud, kalian ini benar-benar seperti anak kecil.”

Siauw-bin-hud tahu-tahu sudah berdiri di antara mereka.

“Harta karun belum ditemukan, perjuangan belum dilakukan, dan kalian sudang ingin saling genjot dan saling bunuh sendiri? Pejuang-pejuang macam apa kalian ini? Celaka, kalau semua pejuang seperti kalian, belum apa-apa kita sudah kehabisan tenaga.”

Dua orang kakek yang sudah saling melotot itu sadar dan keduanya duduk kembali dengan muka merah.

“Wah, aku memang pelupa dan pemarah. Dia itu yang membikin darah naik!” kata San-tok.

“Maaf, Siauw-bin-hud. Menghadapi orang macam dia itu memang bisa bikin orang lupa daratan!”

Watak dan sikap dua orang datuk sesat ini memang menggelikan, seperti anak-anak saja mereka itu. Akan tetapi, bukankah kita semua ini hanyalah anak-anak yang besar tubuhnya saja? Apa bedanya kita dengan anak-anak? Masih selalu memperebutkan sesuatu, masih cengeng, masih suka berkelahi, mesih mengejar-ngejar kesenangan! Kalau orang yang susah menjadi kakek berhadapan dengan anak cucunya, mungkin dia bersikap seperti seorang kakek. Akan tetapi sikap ini sesungguhnya dipaksakan berhubung keadaan, karena malu dan merasa tua. Akan tetapi, kumpulkanlah kakek-kakek itu dengan teman-teman sebayanya, maka akan kembali menjadi anak-anak nakal! Hal ini tentu dirasakan oleh kita semua yang mau melihat diri sendiri dan tidak berpura-pura! Kita ini hanya anak-anak besar tubuhnya. Tubuh kita memang tumbuh menjadi besar, akan tetapi batin kita kadang-kadang bahkan semakin kecil, sarat dengan segala macam kepalsuan dan pamrih-pamrih tersembunyi, sedangkan anak-anak belum mengenal kepalsuan dan pamrih-pamrihnya tidak tersembunyi.

Karena merasa bersalah, Tee-tok lalu memperlihatkan sikap berbaik kembali dengan San-tok. Memang para datuk sesat itu aneh wataknya. Mudah tersinggung dan mudah marah sampai tega membunuh kawan, akan tetapi juga tidak mendendam dan mudah melupakan perselisihan antara mereka.

Post a Comment