“Kakek tua, kuharap engkau sopan sedikit dan tidak menghina guruku. Apa kesalahan guruku kepadamu maka engkau berani memaki dan menghinanya?”
Kui Eng khawatir kalau-kalau gurunya marah dan turun tangan terhadap gadis asing ini, maka iapun mendahului dan menghampiri Diana.
“Diana, engkau adalah seorang gadis kulit putih. Engkau tahu bahwa bangsamu sedang dimusuhi oleh bangsa kami. Bagaimana engkau kini mendekati orang-orang seperti kami, bahkan menjadi murid San-tok, seorang diantara kami yang memusuhi bangsamu?”
Pertanyaan yang dilontarkan Kui Eng ini mewakili suara hati semua orang, bahkan juga suara hati San-tok, maka mereka semua mendengarkan dengan penuh perhatian sambil memandang wajah gadis bule itu.
Diana menarik napas panjang, lalu menatap wajah Kui Eng, bahkan melepas pandang matanya ke sekeliling sebelum menjawab dengan suara tegas dan jelas.
“Tidak salah, sobat, aku adalah seorang gadis kulit putih, berkebangsaan Inggeris. Juga tidak salah bahwa bangsaku telah melakukan hal yang amat jahat terhadap bangsa kalian, dan tidak mengherankan kalau bangsaku dimusuhi di sini. Akan tetapi, justeru karena itulah aku tidak mau kembali kepada bangsaku. Setelah aku bertemu dengan suci Lian Hong, dan aku merasakan kehidupan di dusun-dusun, aku melihat betapa bangsaku telah berbuat jahat demi mencari keuntungan. Aku merasa malu dan aku ingin sekedarnya menebus keburukan mereka dengan bersaudara dengan rakyat, mempelajari kesenian rakyat, kebudayaannya, dan kemudian, siapa tahu, dengan kepandaian yang dapat kupelajari di sini, aku akan dapat menentang dan mengingatkan kesalahan bangsaku.”
“Omitohud... cita-cita ini amat luhur. Akan tetapi, nona, bagaimana kalau kelak mereka tidak mendengarkan peringatan yang kauberikan?”
Diana memandang hwesio tua itu dan diam-diam ia merasa tunduk. Hwesio ini memiliki pandang mata yang demikian mencorong tapi lembut dan penuh pengertian mendalam seolah-olah di dunia ini tidak ada rahasia apa-apalagi baginya.
“Lo-suhu,” katanya penuh hormat.
“Kalau sampai mereka tidak mau menerima peringatan yang akan saya berikan kelak, maka saya akan menggunakan segala kepandaian yang ada pada saya untuk menentang perbuatan mereka yang jahat! Demi untuk membela kebenaran dan keadilan, saya rela mati di tangan bangsaku sendiri karena menentang mereka.”
“Siancai... gadis ini biarpun berkulit putih namun semangatnya besar dan berjiwa pendekar. Engkau beruntung sekali mendapatkannya sebagai murid, San-tok.”
Akan tetapi hati San-tok tidak merasa gembira oleh ucapan Siauw-bin-hud ini, bahkan dia lalu berkata kepada Diana.
“Kau keluarlah dulu, aku mau bicara dengan mereka mengenai urusan penting!”
Tentu saja wajah Diana berubah agak pucat. Ia sudah mendengar dari Lian Hong bahwa kakek yang menjadi gurunya ini seorang yang aneh, kadang- kadang jahat dan kejam sekali walaupun memiliki kesaktian. Akan tetapi tak disangkanya gurunya akan tega memperlakukannya seperti ini, mengusirnya dari depan banyak orang secara merendahkan sekali. Akan tetapi ia teringat akan pesan Lian Hong agar mentaati semua perintah suhunya, maka iapun mengangguk dan mengundurkan diri, keluar dari ruangan belakang itu menuju ke kebun.
Melihat ini, Siauw-bin-hud merasa tidak enak.
“Ci Kong, temanilah gadis itu. Sebagai seorang tamu sudah sepantasnya ia kita sambut dengan baik.”
Tentu saja Ci Kong merasa tidak enak sekali. Sebetulnya, hatinya tidak keberatan untuk menemani seorang seperti Diana yang walaupun seorang gadis kulit putih namun harus diakuinya amat cantik, walaupun kecantikannya itu asing baginya. Namun, dia sedang berada di antara tokoh-tokoh besar, bahkan terutama sekali di situ ada Kui Eng! Dia akan merasa lebih senang menemani Kui Eng dari pada gadis asing ini!
“Kui Eng, engkaupun pergilah menemani mereka. Kami orang-orang tua mau bicara,” tiba-tiba Tee-tok berkata.
Ucapan ini menggirangkan hati Kui Eng yang segera bangkit dan turun ke kebun itu, akan tetapi juga menggirangkan hati Ci Kong karena dengan adanya Kui Eng, tidak perlu lagi dia merasa kaku dan malu-malu harus menemani Diana dari pada kalau dia berdua saja dengan gadis bule itu.
Setelah tiga orang muda itu memasuki kebun dan tak nampak lagi dari ruangan itu, San-tok yang ingin segera menyampaikan keinginan hatinya lalu berkata.
“Siauw-bin-hud, aku akan menyampaikan suatu rahasia. Kebetulan sekali Tee-tok di sini, biarlah dia menjadi saksi.”
Siauw-bin-hud dapat menduga bahwa tentu kakek berpakaian tambal- tambalan itu hendak menyampaikan hal yang amat penting sekali. Akan tetapi dia bersikap tenang saja dan berkata.
“Omitohud, pinceng siap mendengarkan, San-tok.”
“Tadinya, rahasia ini akan kusimpan sampai mati, karena memang aku ingin mengalihkan perhatian seluruh tokoh-tokoh agar tidak mengetahui rahasiaku ini. Akan tetapi setelah kita mengadakan pertemuan di tempat pesta Hai-tok, pendirianku berubah. Aku hendak bicara tentang rahasia Giok-liong- kiam!”
Mendengar ini, Siauw-bin-hud yang biasanya tenang itupun kini mengangkat muka memandang penuh perhatian. Apalagi Tee-tok. Dia memandang rekannya dengan sinar mata mencorong dan penuh curiga.
“Jembel gunung! Jangan katakan bahwa engkau sudah merampas Giok- liong-kiam dari tangan murid pertama Thian-tok yang murtad itu!”
San-tok mengangguk-angguk.
“Terus terang saja, memang aku belum berhasil menemukan Giok-liong- kiam, akan tetapi dapat dikatakan bahwa Giok-liong-kiam sudah berada di tanganku! Akan tetapi sebelum aku melanjutkan ceritaku yang akan membuka rahasia Giok-liong-kiam, aku ingin minta pendapat kalian lebih dulu.”
“Pendapat bagaimana?” tanya Siauw-bin-hud.
“Bagaimana pendapat kalian tentang orang yang akan mampu menemukan harta karun itu dan menyerahkannya untuk keperluan perjuangan menumbangkan pemerintah penjajah dan menentang bangsa kulit putih? Apa hadiah untuknya?”
“San-tok, apakah kau masih pura-pura lagi? Bukankah kau sendiri yang mengajukan usul bahwa dia yang berhasil itu akan memperoleh pedang pusaka Giok-liong-kiam, dan selanjutnya dianggap sebagai pahlawan dan jagoan nomor satu di dunia?” Tee-tok menegur.
“Itu benar, dan hal itu sudah menjadi persetujuan bersama,” sambung Siauw-bin-hud.
“Aku tidak akan menyangkal persetujuan itu, Siauw-bin-hud, akan tetapi aku ingin menambahkan sedikit, yaitu bahwa apabila aku yang berhasil menemukan harta karun itu, mengingat bahwa muridku Siauw Lian Hong yang banyak berjasa dalam hal itu, aku ingin agar engkau suka menyetujui Hong Hong menjadi jodoh muridmu, Tan Ci Kong.”
Mendengar ini, Tee-tok terkejut dan cepat mencela.
“Ah, itu tidak ada sangkut pautnya dengan urusan Giok-liong-kiam! San- tok, baru saja aku hendak minta kepada Siauw-bin-hud agar muridnya itu dijodohkan dengan muridku Ciu Kui Eng. Karena engkau sudah menyatakan lebih dulu, biarlah akupun mengajukan pinangan dan kita lihat, siapa diantara murid-murid kita yang akan diterima menjadi calon isteri murid Siauw-bin-hud
.”
Kini Siauw-bin-hud yang merasa terkejut dan dia memandang kepada wajah dua datuk sesat itu dengan hati yang agak cemas. Pinangan orang biasa saja merupakan hal yang wajar dan menerima atau menolaknya merupakan peristiwa biasa yang takkan mendatangkan akibat apapun. Akan tetapi pinangan orang-orang seperti mereka ini, kalau ditolak tentu akan mendatangkan akibat buruk, dan kini yang mengajukan pinangan sekaligus adalah dua orang! Menerima yang satu tentu akan menolak yang lain, dan dia menjadi serba salah. Akan tetapi, Siauw bin-hud hanya sedetik dua detik saja dicekam kecemasan. Dia sudah tersenyum kembali.
“Omitohud, betapa lucunya kalian ini, ha-ha-ha-ha!” Kakek tua renta itupun tertawa bergelak, suara ketawa yang halus dan penuh kegembiraan.
Sejenak dua orang datuk sesat itu saling pandang dengan sikap bermusuhan, akan tetapi mendengar suara ketawa itu, San-tok berkata.
“Siauw-bin-hud, apa engkau merasa terlalu tinggi bagi orang macam aku?” “Engkau berani memandang rendah kepadaku, dan muridku tidak pantas
menjadi jodoh murid Siauw-lim-pai?” Tee-tok juga menegur.
Dua orang datuk sesat itu nampak penasaran sekali dan siauw-bin-hud menarik napas panjang, akan tetapi masih tersenyum lebar. Baru bayangan bahwa pinangan itu ditolak saja sudah membuat kedua orang datuk ini nampak penasaran dan marah. Apalagi kalau benar-benar ditolak! Dia tidak takut akan ancaman mereka, akan tetapi dia mengkhawatirkan perpecahan akan terjadi di antara mereka, padahal dalam menghadapi kekalutan tanah air, mereka sudah sepakat untuk bekerja sama.
“Siancai... harap kalian bersabar dan tidak mengambil keputusan dan pendapat tergesa-gesa yang tidak tepat. Siapakah yang menolak dan siapakah yang menerima? Kalian tentu tahu bahwa perjodohan hanya dapat terlaksana kalau ada persetujuan kedua pihak, maksud piceng pihak mereka yang tersangkut. San-tok, engkau mengajukan pinangan, apakah engkau telah yakin bahwa muridmu itu mencinta Ci Kong?”
Ditanya demikian, San-tok memandang bingung.
“Aku tidak tahu, akan tetapi... ia tentu mau, ia harus mau...”
“Bagaimana dengan engkau, Tee-tok, apakah muridmu itu mencinta Ci Kong?”
“Wah, mana aku tahu? Agaknya begitulah. Seharusnya begitu karena muridmu itu seorang pemuda yang baik, dan alangkah baiknya kalau kita menjadi besan...”
Siauw-bin-hud memperlebar senyumnya.
“Omitohud, kalian ini dua orang tua yang berpikiran singkat dan seperti kanak-kanak saja. Bagaimana kalian berani lancang mengajukan pinangan kalau kalian belum tahu apakah murid-murid kalian itu mencinta cucu muridku, belum tahu apakah murid-murid kalian akan menyetujui? Lancang, sungguh lancang! Bagaimana kalau andaikata pinangan kalian diterima, kemudian ternyata bahwa murid-murid kalian itu tidak setuju? Bukankah ini berarti kalian menghina kepada yang dipinang?”
Kembali dua orang datuk itu saling pandang dengan bingung. “Tidak, aku tidak menghina, dan aku akan memaksa muridku untuk menyetujui!” kata San-tok.
“Akupun yakin muridku akan setuju, kalau ia menolak, akan kupaksa!” “Nah, nah, itulah pikiran kekanak-kanakan, main paksa-paksaan. San-tok,