Diana hampir tidak kuat lagi, akan tetapi gadis ini memiliki keangkuhan dan kekerasan hati, sama sekali tidak ingin memperlihatkan kelemahannya, apalagi di depan gurunya! Ketika kedua kakinya tersandung batu, membuat ia terhuyung, hampir ia tidak kuat karena napasnya semakin memburu. Akan tetapi ia lalu teringat akan cerita Lian Hong bahwa belajar silat tidaklah mudah, harus berani menghadapi segala macam kesukaran dan bahkan guru mereka, seperti guruguru lain yang mengajarkan ilmu silat, sering kali menguji murid- muridnya. Wah, ini tentu merupakan ujian dari gurunya, pikir Diana. Karena itu, sampai bagaimanapun juga, ia sama sekali tidak boleh memperlihatkan kelemahannya!
Pikiran ini, secara aneh sekali, mendatangkan semangat dan juga kekuatan sehingga kalau tadi napasnya sudah hampir putus kini ia merasa kuat lagi dan berjalan setengah berlari dengan penuh semangat! Kakinya merasa ringan, dan napasnya tidak memburu lagi seperti tadi. San-tok melihat perubahan itu dan dia merasa heran, akan tetapi juga kagum. Tadi dia tentu saja melihat betapa gadis itu sudah hampir tidak kuat dan dia merasa girang sekali dapat menyiksanya. Dia ingin melihat gadis itu roboh tidak kuat agar dapat dia memarahi dan mengejek, agar ia tidak tahan dan tidak suka menjadi muridnya. Akan tetapi napas yang hampir putus itu kini tersambung kembali dan semangat yang hampir runtuh itu bangkit kembali! Mau tidak mau dia merasa kagum juga dan mengerti bahwa gadis ini memang memiliki tekad yang amat besar.
Akhirnya tibalah mereka di kuil Siauw-lim-si itu. Dua orang hwesio penghuni kuil itu yang menyambut di luar, terbelalak keheranan melihat betapa tamu yang berpakaian tambal-tambalan itu datang bersama seorang gadis bule yang rambutnya kuning emas dan matanya biru! Biarpun gadis itu mengenakan pakaian petani dan gerak-geriknya seperti seorang gadis pribumi, namun jelaslah bahwa gadis itu seorang gadis kulit putih. Memang ada orang bule di negeri ini, akan tetapi biarpun orang bule itu memiliki kulit putih dan bulu yang keputih-putihan pula, namun rambutnya tidak kuning emas dan matanya tidak biru seperti itu! Akan tetapi karena mereka berdua sudah menerima tugas untuk menyambut tamu-tamunya, mereka memberi hormat dan mempersilahkan San-tok dan Diana untuk langsung saja masuk ke ruangan belakang kuil dimana tamu-tamu terdahulu sudah berkumpul.
Dengan langkah lebar, San-tok memasuki ruangan itu, meninggalkan Diana di belakangnya. Dengan gembira dia melihat bahwa Siauw-bin-hud dan Tee- tok sudah duduk bersila di atas lantai beralaskan bantal-bantal untuk siulian, dan juga murid hwesio itu bersama murid Tee-tok berada di situ. Mereka berempat menyambut kedatangannya dengan pandang mata gembira, akan tetapi mata mereka terbelalak ketika melihat munculnya Diana di belakang San-tok. Jadi murid kedua dari San-tok adalah seorang gadis kulit putih? Hampir mereka tak percaya. San-tok tentu saja merasakan keheranan dan kekagetan semua orang itu, dan untuk mengurangi rasa tak enak di hatinya itu diapun cepat-cepat menghampiri mereka, berlutut dan hendak duduk bersila seperti yang lain.
“Kau...! Kau... Penolongku yang budiman itu...!”
Tiba-tiba Diana berseru dengan suara gembira bukan main, dan selagi semua orang masih bengong memandang kepadanya, gadis ini lalu berlari menghampiri Ci Kong. Pemuda inipun masih terheran-heran melihat Diana datang bersama San-tok dan tadinya dia tidak ingat siapa adanya gadis bule itu. Akan tetapi begitu Diana berteriak kepadanya, dia teringat bahwa itu adalah gadis yang pernah ditolongnya ketika diculik oleh tukang-tukang pukul dari Kanton yang hendak memaksa gadis itu pulang ke kota.
“Ah, aku girang sekali bertemu denganmu di sini dan aku berterima kasih sekali!”
Diana tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Ci Kong dan... ‘cup! cup!’, ia telah mencium kedua pipi Cio Kong!
Tentu saja peristiwa ini membuat semua orang menjadi bengong. Ci Kong sendiri tak mampu mengelak, karena selain dia sama sekali tidak mengira akan dicium begitu saja oleh gadis bule itu di depan orang banyak, juga dia terlalu kaget, malu dan bingung sehingga ketika dicium kedua pipinya, dia hanya terbelalak saja!
Ciu Kui Eng hampir menjerit dan menggunakan jari tangan menutupi mulut untuk menahan jeritnya. Tentu saja gadis inipun merasa kaget setengah mati dan sukar mengatakan perasaan apa yang memenuhi hatinya saat itu. Perbuatan seorang wanita mencium pria begitu saja di depan banyak orang, baginya merupakan suatu perbuatan yang amat tidak patut dan tidak tahu malu! Akan tetapi, iapun melihat kewajaran dari sikap gadis bule itu, seolah- olah ia tidak pernah melakukan suatu kesalahan dan sikapnya benar-benar sikap seorang yang merasa amat gembira bertemu dengan orang yang agaknya selalu dibuat kenangan.
Siauw-bin-hud hanya tersenyum lebar melihat adegan itu, walaupun alisnya yang putih panjang itu agak berkerut. Sebagai seorang yang sudah memiliki pengalaman luas dan batin yang kokoh kuat, Siauw-bin-hud tidak heran melihat adegan itu, dan dia tahu bahwa gadis itu menyatakan kegembiraan dan terima kasihnya secara langsung menurutkan gejolak hatinya, akan tetapi betapapun juga dia merasa betapa perbuatan gadis ini tentu mengguncangkan perasaan semua orang yang hadir di situ, terutama sekali membuat muridnya, Ci Kong, berada dalam keadaan yang serba salah.
Hwesio yang menjadi ketua kuil itu, yang tadi bangkit berdiri menyambut tamu barunya, berdiri bengong dan tak dapat bergerak seperti telah berubah menjadi arca. Juga Tee-tok mengerutkan alisnya dan melirik dengan perasaan tidak senang berbayang di wajahnya. Tee-tok diam-diam mengharapkan untuk dapat menjodohkan muridnya dengan pemuda didikan Siauw-bin-hud itu, maka kini melihat pemuda itu diciumi oleh seorang gadis bule di depan umum, sungguh membuat hatinya merasa tidak nyaman. Yang paling terkejut setengah mati adalah San-tok.
“Ya ampuuunnn...!”
Demikian dia mengeluh dan memandang dahinya sendiri, matanya terbelalak, mulutnya melongo dan dia merasa malu, dan marah bukan main. Rasa tidak sukanya kepada Diana semakin menebal. Sungguh sialan, pikirnya. Perempuan bule ini benar-benar membikin malu saja dengan ulahnya yang ganjil dan tidak sopan, amat memalukan dia yang menjadi gurunya, yang membawa masuk ke kuil ini. Padahal, diam-diam seperti halnya Tee-tok, San- tok ini juga mempunyai keinginan untuk menjodohkan muridnya, Lian Hong, dengan Ci Kong yang dikaguminya. Bukankah pernah dia menyalurkan sinkang membantu pemuda ini di waktu masih kecil seperti halnya Siauw-binhud membantu Siauw Lian Hong? Bukankah perbuatan dan sikap mereka berdua sebagai orang-orang tua, yang dilakukan tanpa sengaja, seperti sudah memberi tanda ikatan jodoh, antara dua orang anak itu?
“Anak gila! Apa yang kaulakukan ini?”
San-tok membentak keras, dan kalau saja di situ tidak hadir orang-orang sakti yang dikaguminya, mungkin dia sudah turun tangan memukul mati gadis kulit putih itu.
Diana seperti baru sadar dan ketika ia menengok, ia melihat betapa semua orang memandang kepadanya dengan aneh. Baru teringatlah ia bahwa perbuatannya yang spontan tadi merupakan perbuatan yang ganjil dan asing bagi mereka ini, mungkin dianggap tidak sopan, maka mukanya tiba-tiba menjadi merah sekali.
“Suhu, pendekar ini pernah menyelamatkan aku dari tangan anggauta pasukan Hui-houwtin yang dipimpin oleh Koan Jit. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih, karena dia sudah cepat melarikan diri. Kini, berjumpa dengan penolongku di tempat ini, hal yang sama sekali tidak kuduga- duga, aku menjadi gembira sekali dan ingin menyampaikan rasa terima kasihku kepadanya.”
“Benarkah itu, orang muda?”
San-tok bertanya sambil memandang kepada Ci Kong. Pemuda itu masih bengong. Dapat dibayangkan betapa bingungnya rasa hati pemuda ini. Dia diciumi begitu saja, di depan orang banyak, terutama di depan Kui Eng! Bagaimana Kui Eng akan menanggapi adegan yang memalukan tadi? Celaka, dia sampai tidak berani mengangkat muka bertemu pandang dengan Kui Eng. Dia merasa malu sekali. Mendengar pertanyaan San-tok, Ci Kong mengangguk.
“Benar, locianpwe.”
Lalu dia menoleh ke arah Diana dan menegur halus. “Nona, perbuatanmu tadi tidak sepatutnya. Sungguh tidak sopan melakukan perbuatan terima kasih seperti itu, di depan orang banyak pula.”
Diana sudah menyesali perbuatannya tadi.
“Maafkan aku, maafkan. Sungguh aku melakukannya tanpa kusadari, saking gembiranya rasa hatiku. Sejak engkau menolongku lalu pergi begitu saja, aku merasa menyesal bukan main. Kini, tanpa kuduga-duga, aku berjumpa denganmu di sini, maka aku terdorong oleh luapan hati yang gembira. Maafkan...”
Ketika ia melihat bahwa semua orang masih kelihatan bingung dan kacau, ia melanjutkan kata-katanya dengan cepat.
“Maaf, sungguh bukan maksud saya untuk bersikap tidak sopan. Sekarang saya teringat bahwa perbuatanku tadi dapat dianggap tidak sopan, akan tetapi, sesungguhnya bukan demikian maksudku. Saya... saya berterima kasih, bersyukur sekali telah dapat bertemu dengan pendekar yang selama ini selalu kukenang dengan hati penuh penyesalan karena belum sempat saya mengucapkan terima kasih. Ciuman... eh, tadi itu merupakan pernyataan terima kasih dan kegembiraan, bukan... bukan tidak sopan..... ah, saya harap anda sekalian dapat memaklumi...”
Melihat sikap gadis bule ini yang demikian penuh penyesalan dan wajar, dan mendengar betapa gadis asing itu dapat bicara dengan gaya yang demikian lancar, sopan dan sejujurnya, di dalam hati semua orang kecuali San- tok, telah timbul perasaan simpati dan mereka mau memaafkan. Bahkan Kui Eng lalu tersenyum ramah.
“Sobat, engkau cantik sekali dan jujur. Siapakah namamu?” Kui Eng menegur dengan ramah.
Diana memandang kepada gadis itu dan iapun kagum. Seorang gadis yang manis, dan kelihatan begitu gagah.
“Namaku Diana, dan siapakah engkau, sobat yang manis?”
Kui Eng tersenyum gembira. Baru bicara sedikit saja, ia sudah mulai suka kepada gadis bule ini, gadis dari bangsa yang dianggap musuhnya.
“Namaku Ciu Kui Eng.”
“Kui Eng, apakah engkau juga gagah perkasa dan lihai seperti suci Lian Hong?”
Kui Eng tertawa.
“Ah, mana aku bisa dibandingkan dengan adik Lian Hong yang lihai?” Tiba-tiba Tee-tok mengeluarkan suara ketawa nyaring.
“Ha-ha, jembel gunung, inikah muridmu itu? Hemm, benar hebat kau, memilih murid dari bangsa kulit putih yang justeru sedang kita tentang!”
San-tok menjadi serba salah, tidak mampu menjawab. Akan tetapi Diana sudah menghadapi Tee-tok dengan sinar mata bernyala penuh kemarahan.