Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 109

Memuat...

Lian Hong merasa lega. Ia mengenal baik gurunya yang juga seperti kakeknya sendiri itu. San-tok memang seorang tokoh atau datuk sesat yang memiliki watak aneh dan tergolong ganas dan buas, tidak mengenal arti perikemanusiaan atau sopan santun, tidak perduli akan segala tata cara atau kesusilaan. Akan tetapi, di balik itu semua terdapat suatu watak yang gagah perkasa atau menghargai kegagahan dan sekali gurunya itu berjanji, dia tidak akan mau melanggar janjinya sendiri seperti sikap seorang yang menjunjung tinggi kegagahan. Maka, setelah memperoleh janji suhunya, ia lalu memberi hormat kepada semua orang dan pergi dari situ dengan ilmu lari cepatnya yang membuat bangga San-tok dan membuat kagum semua orang.

“Siancai, muridmu itu memang hebat, San-tok,” kata Siauw-bin-hud, teringat akan pertemuannya pertama dengan Lian Hong yang menyerang dan memukul kepalanya.

“Ha-ha-ha, berkat kebaikan budimu, ia memperoleh kemajuan, hwesio tua,” jawab San-tok.

“Akan tetapi sekarang aku harus memisahkan diri untuk menjemput anak setan itu.”

“Aha, kiranya si jembel gunung mempunyai seorang murid perempuan lagi yang disebut sumoi oleh muridmu tadi?” Tee-tok berkata.

San-tok yang biasanya suka senyum-senyum terus itu kini agak cemberut. Teringat betapa muridnya yang kedua ini seorang gadis bule dan belum bisa apa-apa, sungguh tak dapat dibanggakan sama sekali, hatinya tak senang. Dia tidak menjawab pertanyaan Tee-tok, melainkan bertanya kepada Siauw-bin- hud dimana letaknya kuil yang dimaksudkan. Setelah diberi tahu, dia lalu meloncat dan pergi dari situ untuk menjemput Diana yang ditinggalkan di sebuah kuil tua yang rusak.

Sementara itu, Siauw-bin-hud dan Ci Kong melakukan perjalanan menuju ke kuil yang dimaksudkan Siauw-bin-hud bersama Tee-tok dan Ciu Kui Eng. Dua orang kakek itu bercakap-cakap di sepanjang perjalanan, dan dua orang muda-mudi itu berjalan di belakang mereka. Karena Ci Kong dan Kui Eng pernah bertemu, bahkan berkenalan secara mengesankan sekali, mula-mula berkelahi dan Ci Kong pernah menyelamatkan Kui Eng dari pengeroyokan pasukan pemerintah, maka setelah kini ada kesempatan, keduanya juga bercakap-cakap dengan lirih.

Sejak pertemuannya yang pertama dengan Kui Eng, hati Ci Kong memang telah tertarik. Dia merasa kagum dan suka kepada gadis itu, walaupun gadis itu adalah puteri mendiang Ciu Lok Tai atau Ciu Wan-gwe yang pernah mencelakakan ayahnya. Dia sama sekali tidak melihat watak jahat dalam diri gadis ini. Sebaliknya malah, biarpun gadis ini menjadi murid seorang datuk sesat seperti Tee-tok, namun jelas bahwa gadis ini berwatak gagah perkasa, penentang kejahatan dan bahkan bersemangat besar untuk menjadi seorang pahlawan, seorang patriot yang membela tanah air dan bangsa!

Ci Kong tidak tahu tentang cinta. Dia tidak tahu apakah dia mencinta gadis ini, akan tetapi yang jelas, dia merasa kagum dan suka kepada gadis yang bermata tajam, berwatak keras agak angkuh namun gagah perkasa, galak akan tetapi manis dan kalau tersenyum bukan main manisnya itu.

“Nona, apa saja yang telah kaualami semenjak pertemuan kita yang pertama dahulu itu?” tanyanya lirih.

Kui Eng tersenyum dan mukanya menjadi agak kemerahan. Ia masih teringat betapa dalam keadaan pingsan dikeroyok pasukan, ia pernah ditolong pemuda ini yang memondongnya dan membawanya keluar dari kepungan. Dan betapa ia salah sangka, bukannya berterima kasih bahkan menyerang pemuda ini. Kemudian, betapa Ci Kong sama sekali tidak merasa menyesal atau sakit hati atas perlakuannya yang tidak patut, sebaliknya pemuda itu bahkan membantunya mengangkat jenazah keluarganya untuk dikuburkan dengan sepatutnya walaupun amat sederhana. Perpisahan antara mereka adalah perpisahan dua orang sahabat dan di lubuk hatinya, Kui Eng selalu terkenang kepada pemuda itu dengan perasaan hati kagum dan berterima kasih.

“Aku hanya membantu gerakan orang-orang gagah yang melawan pasukan pemerintah, dan kadang-kadang juga melakukan pembersihan terhadap penjahat-penjahat yang sengaja bersikap semena-mena dan merajalela di dusun-dusun dalam keadaan perang yang kacau itu. Ada kalanya kami dengan kawan-kawan menghadang pasukan kulit putih dan mengganggu mereka. Dan kau?”

“Ah, selama ini aku tidak melibatkan diri dengan perang, tidak berpihak mana-mana sesuai dengan sikap Siauw-lim-pai selama ini. Aku hanya menentang kejahatan dan membela mereka yang lemah membutuhkan bantuan saja. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berubah banyak. Agaknya Siauw-lim-pai juga melihat bahwa tanah air dan bangsa harus dibela.”

“Pernahkah engkau berhasil mencari Giok-liong-kiam?” tanya pula Kui Eng. Pemuda itu menggeleng kepala.

“Bertemu dengan yang bernama Koan Jit itupun belum pernah. Dan Kau?”

Kui Eng tersenyum. Pertanyaan yang diajukan pemuda ini sama benar dengan yang dilakukannya tadi, singkat namun akrab sekali.

“Wah, aku hampir celaka di tangan iblis itu. Koan Jit itu memang lihai bukan main. Aku pernah bertemu dengan dia dan bahkan kami berkelahi, akan tetapi dia berhasil menawanku dengan obat bius. Aku pasti telah celaka di tangannya kalau saja tidak tertolong oleh adik Lian Hong...” “Murid San-tok tadi?”

“Benar, adik Hong sungguh hebat. Karena pertolongannya, maka sampai sekarang aku masih bernapas, tentu saja juga karena pertolonganmu dahulu.”

“Dan kalian berhasil mendapatkan Giok-liong-kiam?” Kui Eng tersenyum dan melirik.

“Kalau sudah kami dapatkan perlu apa sekarang ribut-ribut? Kami hanya mampu mengusir Koan Jit, akan tetapi tidak pernah melihat pedang pusaka itu. Entah kalau adik Lian Hong karena sejak itu, baru tadi kami saling jumpa, dan belum sempat kami bercakap-cakap.”

Tidak begitu leluasa mereka bercakap-cakap, karena mereka berdua berjalan di belakang dua orang kakek yang berjalan di depan mereka. Benar seperti yang dikatakan kakek Siauw-binhud, tak lama kemudian merekapun tiba di sebuah kuil yang tersembunyi di dalam hutan kecil di daerah lereng bukit. Kuil itu selain menjadi tempat pertapaan beberapa orang hwesio Siauw- lim-si yang suka akan keheningan dan kesunyian, juga melayani beberapa buah dusun di sekitar bukit itu.

Hanya ada lima orang hwesio di kuil sederhana dan tua itu. Mereka ini terkejut bukan main melihat kedatangan Siauw-bin-hud. Dengan berlutut, mereka menyambut dengan segala kehormatan karena kepala hwesio itu masih terhitung cucu murid Siauw-bin-hud.

“Ha-ha, pinceng hanya akan merepotkan kalian,” kata Siauw-bin-hud. “Karena kami dan kawan-kawan dikejar-kejar pasukan, kami akan

beristirahat di sini dan pinceng ingin meminjam sebuah ruangan untuk bercakap-cakap dengan beberapa orang sahabat.”

“Tentu saja teecu terima dengan senang hati dan merasa mendapat kehormatan yang takkan teecu lupakan selama hidup!” kata para hwesio itu dan memasuki kuil dan membawa mereka ke ruangan belakang yang luas, bersih dan berhawa jernih karena menghadapi kebun terbuka.

Mereka lalu duduk, menerima hidangan air minum dan makanan sederhana, bercakap-cakap sambil menanti kedatangan San-tok.

Hati San-tok masih merasa tak senang dan mendongkol ketika tiba di kuil tua dimana dia dan Lian Hong meninggalkan Diana. Kalau menurut kata hatinya, ingin dia meninggalkan gadis bule itu, atau bahkan kalau perlu membunuhnya agar tidak merepotkannya lagi. Dia mempunyai murid seorang gadis kulit putih berambut kuning emas bermata biru? Huh! Seperti setan! Apalagi kalau diingat betapa orang-orang kulit putih telah mendatangkan malapetaka di negerinya. Sepatutnya dia membunuhi semua orang kulit putih! Racun madat mereka sebarkan di antara rakyat, ditukar dengan kekayaan rakyat. Mereka itu berpesta pora di atas mayat-mayat rakyat karena kalau dilanjutkan penyebaran madat yang dijual mahal itu, akhirnya orang-orang kulit putih yang menjadi kaya raya, sedangkan rakyat menjadi miskin habis- habisan dan selain miskin juga tubuh mereka menjadi rusak!

Ketika dia menyelinap ke dalam kuil. Dia melihat Diana sedang duduk bersila dan tekun bersamadhi. Huh, gadis bule itu telah mendapat latihan- latihan permulaan dalam ilmu siulian dari Lian Hong. Memang muridnya itu mengajarkan siulian (Samadhi) hanya untuk mengajar gadis bule itu menjaga keselamatan badannya dan menenangkan batinnya.

Melihat betapa seorang diri di kuil tua itu, yang amat sunyi, Diana tekun melatih diri, berkuranglah rasa tidak suka di hati San-tok. Bagaimanapun juga, gadis bule ini memang benar memiliki semangat besar dan tekun belajar. Orang dengan kemauan dan semangat sebesar ini dapat diharapkan akan memperoleh kemajuan pesat.

San-tok memberatkan langkah kakinya sehingga terdengar suara keras dan lantai kuil itupun tergetar. Diana terkejut, membuka matanya dan begitu dilihatnya kakek yang menjadi gurunya itu telah berada di situ, ia cepat bangkit dengan muka cerah. Sepasang matanya yang biru itu memandang dengan berseri-seri.

“Oughh, kiranya suhu yang datang? Mana suci (kakak seperguruan) Lian Hong?”

Kembali perasaan tidak suka menyelinap di hati kakek itu. Matanya begitu biru, seperti mata iblis dalam dongeng, rambutnya seperti benang emas. Sungguh menyeramkan dan menjijikkan! Dan menyebut dia ‘suhu’ begitu mesra, juga menyebut Hong Hong ‘suci’. Menyebalkan. Akan tetapi dia segera teringat akan janji-janjinya kepada gadis bule ini untuk mengambilnya sebagai murid, juga janjinya kepada Lian Hong tadi bahwa tidak akan mencelakai Diana. Kakek itu menarik napas panjang, tidak segera menjawab pertanyaan Diana.

“Mari kau ikut bersamaku, Diana. Hong Hong sedang melaksanakan tugas.”

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu melangkah keluar dari kuil itu. Diana cepat mengejarnya dan kakek itu berjalan cepat sekali sehingga Diana terpaksa harus berlari-larian untuk dapat mengimbangi kecepatannya. Karena tidak pernah berlatih lari terus-terusan seperti itu, maka tak lama kemudian Diana sudah terengah-engah berlari di samping San-tok yang masih berjalan seenaknya. Dia tidak perduli melihat gadis itu sudah terengah-engah dan melangkah terus dengan langkah-langkah lebar.

Post a Comment