Mendengar itu, Hai-tok terbelalak penuh kemarahan dan semua orang mengusir kecurigaan mereka terhadap Hai-tok yang tadinya timbul.
“Di sini Tang Kok Bu, majikan Pulau Layar yang bicara!”
Teriakannya nyaring sekali sehingga akan mudah terdengar oleh mereka yang berada di luar guha.
“Hari ini kami mengadakan perayaan hari ulang tahun kami yang ke tujuhpuluh lima, dengan mengundang beberapa sahabat baik kami. Apa salahnya dengan itu? Kami tidak pernah bermusuhan dengan pasukan pemerintah. Apa maksudnya kini pasukan pemerintah mengepung tempat ini dan menyuruh kami menyerah?”
Hening sejenak setelah gema suara Hai-tok melenyap. Seolah-olah mereka yang berada di luar itu berunding sebelum menjawab teriakan tadi. Kemudian terdengar pula suara parau dari luar.
“Tang Kok Bu! Kami sudah tahu apa yang tersembunyi di balik pestamu itu! Engkau mengundang pemberontak-pemberontak, tokoh-tokoh pemberontak dari dunia persilatan untuk berunding dan mengatur rencana pemberontakan lebih lanjut. Kami mengenal banyak diantara tamu-tamu sebagai pemberontak- pemberontak di daerah Kanton dan sekitarnya, juga pengacau-pengacau yang suka menganggu pasukan-pasukan pemerintah di selatan kota raja. Lebih baik menyerah dengan tenang, dan serahkan para pemberontak itu kepada kami. Mereka yang ternyata tidak berdosa, setelah melalui pemeriksaan, tentu akan dibebaskan kelak!”
“Ha-ha-ha, tidak kusangka bahwa Hai-tok hanya besar lagaknya saja. Mengatur pertemuan begini saja sudah bocor sehingga kita dikepung pasukan pemerintah!”
Hai-tok mengepal tinju.
“Ini tentu ada yang membikin bocor. Tentu ada anjing pengkhianat, penjilat penjajah Mancu di sini!”
“Siancai, tidak perlu ribut, yang penting kita harus dapat lolos dari tempat ini,” kata Siauw-bin-hud.
Kini terdengar bunyi terompet dan membanjirlah pasukan yang bersenjata tombak, golok atau pedang, menyerbu bagaikan air bah ke dalam guha itu melalui pintu-pintu yang ada. Agaknya semua jalan masuk telah dipenuhi oleh pasukan sehingga terpaksa para tamu itu membela diri. Tentu saja pasukan itu bukan lawan para tamu yang rata-rata adalah orang-orang sakti yang memiliki kepandaian silat tinggi. Akan tetapi, karena semua jalan keluar sudah tertutup dan pasukan itu berjumlah amat banyak, keadaan menjadi berbahaya sekali. Kalau mereka diserang anak panah, apalagi senjata api, atau tempat itu dikurungi api dan mereka diserang dengan asap, akan celakalah mereka. Juga, andaikata mereka terus dikurung beberapa hari saja, mereka tentu akan menjadi kelaparan dan akhirnya akan tewas juga.
Pengepungan itu membuat beberapa orang tamu merasa panik dan mereka lalu nekat menyerbu ke luar guha. Tentu saja disambut pengeroyokan puluhan, bahkan ratusan orang anak buah pasukan. Terjadilah perkelahian-perkelahian seru di luar guha, dimana para penyerbu yang keluar itu mengalami pengeroyokan banyak sekali lawan. Melihat ini, Hai-tok khawatir kalau-kalau banyak di antara tamunya yang akan roboh dan tewas. Betapapun lihainya, mana mungkin menghadapi pengeroyokan ratusan orang di tempat yang sempit itu? Biarpun akan berhasil membunuh banyak pengeroyok, akhirnya akan roboh juga. Dia sudah memperhitungkan segala kemungkinan, maka dengan cepat dia lalu berseru.
“Cepat kalian ikut aku melarikan diri melalui air! Cepat sebelum terlambat!” Dan diapun lalu meloncat begitu saja ke depan guha dan tubuhnya meluncur ke bawah, ke arah air laut!
Tang Ki atau Kiki yang sejak pertemuan itu tadi seringkali mengerling ke arah Ci Kong, pemuda yang pernah menolongnya, kini menghampiri pemuda itu.
“Ci Kong, mari ikut aku melarikan diri. Tidak ada jalan lain untuk melarikan diri selain seperti yang dianjurkan oleh suhu tadi.”
Sebelum pemuda itu sempat menjawab, gadis itu telah menarik tangannya ke tepi tebing depan guha. Melihat air laut jauh di bawah, di tempat yang amat curam itu, tentu saja Ci Kong merasa ngeri.
“Ah, kau hendak mengajak aku bunuh diri?” tanyanya kepada Kiki.
“Kau masih tidak percaya padaku? Baiklah, kalau bunuh diri juga berdua dengan aku. Nah, siaplah!”
Gadis itu lalu menarik tangan Ci Kong dan keduanya meloncat ke bawah! Ci Kong terkejut sekali, akan tetapi karena dia mendapat kenyataan bahwa gadis itupun meloncat bersama dia, maka dia mulai percaya dan membiarkan dirinya jatuh bersama gadis itu yang masih memegang pergelangan tangannya.
“Tahan napas dan jatuhkan dirimu dengan tegak lurus!”
Kiki sempat berkata sebelum tubuh mereka menimpa air. Ci Kong melupakan rasa ngerinya dan diapun menahan napas, mencoba untuk mengatur keseimbangan tubuhnya. Akan tetapi tetap saja dia menimpa air dengan pinggul lebih dulu.
“Byurrrr...!”
Keduanya tenggelam dan Ci Kong merasa pinggulnya sakit bukan main. Akan tetapi gadis itu masih memegang lengannya dan kini mereka cepat timbul kembali ke permukaan air. Ci Kong, gelagapan, akan tetapi tubuhnya tidak tenggelam karena Kiki telah mencengkeram pundaknya.
“Ke sini...!”
Terdengar suara Hai-tok, dan ternyata kakek itu telah mendayung sebuah perahu yang memang disembunyikan di bawah tebing untuk keperluan darurat. Kiki berenang sambil menarik tubuh Ci Kong dan keduanya dapat naik ke dalam perahu itu.
Sementara itu, melihat betapa Ci Kong, Kiki dan Hai-tok sudah meloncat ke bawah, banyak orang mengikuti jejak mereka. Berlompatanlah mereka ke bawah dan tubuh mereka diterima air laut dengan lunak. Di situ sudah ada Hai- tok dan muridnya, keduanya adalah ahli-ahli renang yang amat mahir, yang cepat menolong mereka itu naik ke dalam perahu. Di antara tigapuluh orang itu, ada sepuluh orang yang tertinggal di atas, mengamuk dan membunuh banyak anggauta pasukan pemerintah untuk akhirnya tewas dikeroyok ratusan orang. Tak seorangpun di antara mereka yang mau menyerah, dan merekapun tewas setelah merobohkan dan membunuh puluhan orang pengeroyok. Yang lainnya, kurang lebih duapuluh orang, telah selamat berada di perahu yang disediakan oleh Hai-tok di bawah tebing karang yang curam itu, dan kini perahu itu bergerak perlahan menyusuri pantai dan akhirnya mendarat di bagian yang sunyi dan jauh dari tebing itu.
“Terpaksa kita bubaran di sini dan kami merasa menyesal sekali setelah terjadi peristiwa yang tidak terduga-duga ini. Baiklah, kita saling berpisah karena aku harus mempersiapkan diri. Pemerintah tentu tidak akan tinggal diam dan Pulau Layar tentu akan diserbu. Mari kita berlumba untuk mendapatkan harta karun itu, dan peristiwa tadi makin mempertebal tekadku untuk membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu!” demikian Hai-tok berkata dengan penuh semangat, kemudian bersama Kiki dia menggerakkan perahu kembali ke tengah lautan menuju ke Pulau Layar.
Sementara itu, para tamu yang berhasil diselamatkan, termasuk tiga orang di antara Empat Racun Dunia bersama murid mereka, Siauw-bin-hud dan Ci Kong, segera meninggalkan tempat itu dengan berpencar. Akan tetapi Siauw- bin-hud menahan Thian-tok, San-tok, dan Tee-tok.
“Omitohud... sungguh sayang sekali bahwa perundingan yang baik dan sudah mulai berhasil itu diganggu penyerbuan pasukan pemerintah. Bagaimana kalau pinceng mengundang kalian bertiga bersama murid-murid kalian untuk melanjutkan perundingan sambil bersembunyi dari pengejaran pasukan ke dalam kuil Siauw-lim-si yang tua dan tidak begitu jauh dari sini?”
Tee-tok segera menyatakan kesediaannya.
“Bagus, aku memang ingin sekali bercakap-cakap sebagai sahabat dengan Siauw-bin-hud yang sudah sekian lamanya kekagumi namanya dan sudah kukenal kehebatannya sejak dahulu. Aku ingin minta banyak petunjuk darimu, Siauw-bin-hud.”
Akan tetapi Thian-tok mengerutkan alisnya.
“Hwesio tua, kiranya sudah cukup kita bicara tadi. Terlalu banyak bicara tidak ada gunanya bagiku. Dari tangankulah Giok-liong-kiam hilang dan karena itu, aku merasa paling tertekan dan paling besar kewajibanku untuk merampas kembali pedang itu, dibantu oleh dua orang muridku ini. Siu Coan, Seng Bu, mari kita pergi!”
Guru dan dua orang muridnya itu lalu pergi setelah siu Coan dan Seng Bu berpamit.
“Bagaimana dengan engkau, San-tok?”
San-tok saling pandang dengan muridnya, lalu dia berkata.
“Aha, sesungguhnya akupun masih kangen kepada kalian dan ingin bicara panjang lebar dan saling bertukar pikiran. Akan tetapi aku harus membagi tugas dengan muridku.”
Lalu dia berkata kepada Lian Hong.
“Hong Hong, engkau tahu apa yang harus kaulakukan. Biarlah ini merupakan ujian bagimu. Dapatkan pusaka itu lalu bawa kepadaku. Nah, pergilah sekarang juga.” “Tapi, suhu... bagaimana dengan... sumoi...?”
San-tok terbelalak, nampaknya bingung dan terheran-heran.
“Apa? Sumoi...? Ah, benar, anak itu...!” Dia teringat bahwa yang dimaksudkan oleh muridnya adalah Diana. Hampir lupa dia kepada gadis bule yang menjadi muridnya itu. Sialan!
“Persetan...”
“Suhu, kalau suhu bersikap demikian, aku tidak akan mau melaksanakan perintah!”
Lian Hong berkata dengan sikap tegas sehingga San-tok merasa kewalahan dan agak kemalu-maluan karena di depan dua orang kakek itu muridnya berani menantangnya.
Benar saja, Tee-tok sudah tertawa mengejek.
“Huh, mampus kau, Jembel Gunung! Kau keras kepala, muridnya lebih keras kepala lagi. Mau kulihat siapa yang menang!”
San-tok menghela napas.
“Sudahlah... memang nasibku yang sial. Baik, pergilah, Hong Hong, aku akan mengurus anak setan itu.”
“Tapi, suhu, berjanjilah dulu bahwa suhu tidak akan mencelakainya.” “Anak bandel! Apa kaukira aku sudah gila, mencelakai murid sendiri?” Tapi melihat sinar mata muridnya, dia mengangguk-angguk.
“Baiklah, baiklah, aku berjanji...”