Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 107

Memuat...

“Mohon maaf kepada para locianpwe dan cu-wi yang terhormat kalau saya berani lancang bicara. Urusan perjuangan ini memang harus dipecahkan oleh kita semua, tua dan muda, karena hal ini menyangkut kehidupan rakyat atau bangsa kita. Agaknya akan berat sekali kalau dengan mati-matian kita harus melawan kedua musuh kita, yaitu kerajaan Mancu dan pasukan kulit putih. Seperti yang sudah dilakukan oleh banyak kelompok pejuang, saya merasa setuju sekali kalau dalam hal ini kita mempergunakan siasat dan kecerdikan, bukan sekedar mengandalkan kekuatan badan. Seperti kita ketahui, pasukan asing kulit putih amat kuat dengan persenjataan mereka, dan merekapun tidak sangat bersahabat dengan pemerintah Mancu semenjak terjadinya pembakaran candu secara besar-besaran di Kanton itu.

Kalau dua pihak itu bermusuhan dan berperang satu sama lain, hal ini amat menguntungkan kita. Biarkan mereka itu saling serang, karena peperangan antara mereka akan membuat keduanya menjadi lemah. Dan kalau sudah begitu, barulah kita turun tangan menghantam mereka. Dengan demikian, kita menghemat tenaga.”

Suasana menjadi bising karena semua orang menanggapi sendiri-sendiri pernyataan dari Ong Siu Coan itu.

“Omitohud... pemikiran yang muda-muda memang patut diperhatikan, karena kadang-kadang mereka itu lebih cerdik dari pada kita orang-orang tua.”

Yang bicara itu adalah hwesio yang menjadi wakil dari Bu-tong-pai. “Memang baik sekali melakukan siasat memancing perpecahan antara

pemerintah Mancu dan orang-orang kulit putih. Biarkan mereka itu berperang sendiri, sementara kita menyusun kekuatan yang membutuhkan waktu dan tentu saja membutuhkan banyak biaya seperti yang dikemukakan oleh locianpwe Siauw-bin-hud tadi.”

Sebagian besar yang hadir setuju dengan pemikiran yang diajukan oleh Siu Coan itu. Siasat itu memang baik sekali. Mereka memang tidak suka kepada orang kulit putih dan semua ingin menghalau mereka keluar dari tanah air. Akan tetapi selagi orang-orang kulit putih itu bermanfaat untuk membantu mereka menjatuhkan pemerintah penjajah, maka calon-calon musuh itu dapat untuk sementara dijadikan senjata demi keuntungan perjuangan mereka.

Girang karena hasil pemikiran muridnya itu diterima dengan baik oleh para tokoh yang hadir, Thian-tok teringat akan muridnya yang pertama dan dia menghantamkan telapak tangan kirinya sendiri sampai terdengar suara keras dan semua orang terkejut lalu memandang kepada kakek gendut itu. Wajah kakek itu yang biasanya selalu menyeringai lebar, kini nampak agak keruh dan tidak ada senyum. Baru Thian-tok merasa bahwa perbuatannya tadi menarik perhatian semua orang setelah semua orang terdiam dan memandang kepadanya.

“Aku teringat akan murid murtad Koan Jit itu!” katanya penuh kemarahan. “Tidak saja dia telah menjadi antek orang kulit putih, akan tetapi dia juga

telah melarikan Giok-liong-kiam!”

Semua orang tertarik mendengar kakek itu mulai bicara tentang Giok-liong- kiam. Terdengar suara ketawa dan yang ketawa ini adalah Siauw-bin-hud.

“Heh-heh, ini namanya hukum karma, Thian-tok. Engkau memperoleh pedang itu dengan menggunakan nama pinceng, dan tanpa pinceng membalasmu, yang membalaskan adalah muridmu sendiri yang mencurinya darimu!”

“Siancai, apa hubungannya Giok-liong-kiam dengan perjuangan kita? Kenapa percakapan kini menyeleweng ke arah pedang pusaka itu??” terdengar seorang tosu dari Kun-lun-pai memprotes.

“Tosu bodoh, kau tahu apa?” Thian-tok berseru.

Memang sudah menjadi watak Empat Racun Dunia untuk menyapa orang, baik sudah dikenalnya atau belum, tak perduli apa dan bagaimana kedudukannya, dengan kasar dan tanpa sopan santun sama sekali. Oleh karena itu diapun begitu saja memaki tosu bodoh kepada tosu Kun-lun-pai itu!

“Kalau Giok-liong-kiam sekarang berada di tanganku, aku akan buat membiayai perjuangan kita semua sampai kerajaan penjajah Mancu dijatuhkan dan orang-orang kulit putih diusir habis!”

Kembali semua orang menjadi bising.

“Benarkah berita tentang harta karun yang berada di balik rahasia Giok- liong-kiam?” terdengar suara orang berseru.

Thian-tok mengangkat kedua tangannya ke atas.

“Jangan kalian pura-pura tidak tahu saja. Kalau kalian tidak tahu akan rahasia itu, perlu apa orang-orang seluruh kang-ouw memperebutkan pusaka itu? Hanya untuk mencari nama agar dianggap jagoan nomor satu di dunia persilatan? Omong kosong! Yang jelas, karena kita semua memperebutkan harta karun yang tersembunyi itu.”

“Omitohud...!” Siauw-bin-hud berseru tersenyum.

“Ingat, Thian-tok, pinceng sama sekali tidak pernah ikut memperebutkan.

Ceritakanlah, apa gunanya Giok-liong-kiam itu untuk perjuangan kita?”

Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian ketika Thian-tok mulai bercerita.

“Kalian tentu tahu bahwa orang macam aku ini tidak lagi membutuhkan bukti bahwa aku adalah jagoan nomor satu dengan memiliki Giok-liong-kiam. Phuh..! Kalau Giok-liong-kiam tidak menyimpan rahasia harta karun, perlu apa aku bersusah payah merampasnya dan menyamar sebagai Siauw-bin-hud? Giok-liong-kiam itu mengandung rahasia yang menunjukkan dimana adanya harta karun yang tak ternilai besarnya! Kalau kita dapat memiliki harta itu, dapat dipakai sebagai biaya perjuangan selama puluhan tahun. Sayang murid murtad itu telah mencurinya dari tanganku.”

“Heii, si mulut besar Thian-tok!”

Tiba-tiba San-tok yang sejak tadi diam saja dan hanya saling pandang dengan muridnya sambil tersenyum, kini menegur Thian-tok.

“Pedang pusaka itu telah lama berada di tanganmu. Tentu engkau sudah mencari dan mengambil harta karun itu. Jangan pura-pura bodoh! Kami bukan orang-orang tolol yang mudah kau kelabuhi!”

“Jembel busuk… enak saja kau ngomong!”

Thian-tok balas memaki akan tetapi mulutnya menyeringai. Dimaki oleh seorang rekan seperti San-tok itu sama sekali tidak merupakan penghinaan, bahkan membawa kehangatan karena keakraban.

“Kalau harta karun itu sudah berada di tanganku, perlu apa aku banyak ngomong lagi? Menurut keterangan yang kuperoleh, rahasia itu berada di gagang pedang, dan kalau direndam air semalam suntuk akan timbul gambaran-gambaran atau tulisan yang menerangkan tempat dimana adanya harta karun. Akan tetapi sungguh sialan, sudah kurendam sampai tiga hari tiga malam, tidak juga nampak perubahan apa-apa. Sebelum aku berhasil menemukan rahasianya, pedang itu telah dicuri Koan Jit.”

Hampir San-tok tertawa bergelak, juga Lian Hong menahan senyumnya. Hanya mereka berdualah yang tahu akan rahasia sebenarnya dari pedang pusaka Giok-liong-kiam itu. Thian-tok sama sekali tidak tahu bahwa pedang pusaka yang dicuri dari tangannya oleh muridnya itu adalah pedang pusaka yang palsu, walaupun yang palsu itu akan membawa pemiliknya kepada yang aseli.

“Kalau begitu, mari kita berlumba untuk merampasnya kembali dari Koan Jit!” terdengar seruan orang.

“Ah, bagaimana kalau muridmu itu telah mengambil harta karun itu?” Hai- tok bertanya kepada Thian-tok.

Kakek gendut itu menggeleng kepala.

“Diapun tidak lebih tahu dari pada aku. Agaknya keterangan tentang harta karun itu hanya dongeng belaka, dan pedang itu tidak menyimpan apa-apa.”

“Betapapun juga, kita harus berusaha untuk merampas pedang pusaka itu!” Hai-tok berkeras.

“Akan tetapi, sekarang bukan merampas untuk diri sendiri, melainkan untuk bisa mendapatkan harta karun untuk membiayai perjuangan kita. Apakah kalian semua setuju?”

Semua orang menyatakan setuju.

“Omitohud, betapa mudahnya bicara dan betapa sukarnya melaksanakan semua itu. Pinceng mendengar bahwa Koan Jit telah menjadi seorang yang berkuasa di dalam pasukan kulit putih. Dia sendiri sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, kabarnya semua ilmu dari Thian-tok telah dikurasnya. Sekarang dia berlindung di belakang pasukan kulit putih yang memiliki benteng amat kuat. Bagaimana mungkin dapat merampas Giok-liong-kiam dari tangannya?”

Siauw-bin-hud berkata dan semua orangpun termenung, karena merekapun maklum betapa sukarnya merampas pedang itu dari tangan Koan Jit. Agaknya akan lebih sukar dari pada kalau pedang itu berada di tangan Thian-tok.

Tiba-tiba terdengar lagi San-tok bicara lagi, suaranya lantang dan menjadi perhatian semua tamu yang hadir.

“Biarpun sukar, kita semua harus berusaha untuk mendapatkan harta karun itu. Memang suatu pekerjaan yang amat sukar dan berbahaya, karena itu, sudah sepatutnya kalau siapa yang berhasil, akan mendapatkan pahala yang wajar dan sesuai.”

“Wah-wah, jembel tua ini minta sedekah! Pahala bagaimana maksudmu, San-tok?” tanya Thian-tok, tertarik juga karena siapa mau bekerja keras kalau tidak diberi imbalan jasa.

“Siapa yang berhasil mendapatkan harta karun itu dan menyerahkannya untuk kepentingan perjuangan meruntuhkan penjajah Mancu dan mengusir bangsa kulit putih, maka pedang pusaka Giok-liong-kiam diakui menjadi miliknya yang syah, dan dia dianggap sebagai seorang pahlawan dan jagoan nomor satu di dunia! Bagaimana, setujukah kalian?”

“Omitohud, pinceng anggap hal itu sudah sepatutnya. Merampas Giok- liong-kiam dari tangan Koan Jit yang berlindung dalam pasukan kulit putih merupakan pekerjaan yang amat berat, apalagi kalau harus melanjutkan penyelidikan dari pedang itu sampai bisa mendapatkan harta karun. Jasa orang itu amat besar dan patutlah dia menjadi pahlawan dan dianggap jagoan nomor satu di dunia persilatan,” kata Siauw-bin-hud, dan semua orang menyatakan persetujuan mereka dengan serentak.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lebih gemuruh dari pada suara mereka. Semua orang terkejut karena suara itu datangnya dari luar guha. Hai- tok yang paling dulu tahu akan keadaan di situ, lebih dahulu meloncat bangun. Dia merasa adanya sesuatu yang luar biasa dan mencurigakan sekali. Ketika dia tidak melihat gerakan anak buahnya, wajahnya berubah merah.

“Ada bahaya...!” Serunya.

Berbareng dengan seruannya itu, terdengar bunyi tambur di luar, disusul suara parau penuh gertakkan.

“Kalian yang berada di dalam guha, menyerahlah. Pasukan kerajaan telah mengepung tempat ini. Lebih baik menyerah dan menjadi tawanan kami, dari pada harus kami kerahkan pasukan dengan jalan kekerasan!”

Post a Comment