yang bukan lain adala Hek Bin Hwesio!
"Suhu !" Han Beng juga berseri kepada tosu itu yang
bukan lain adalah Pek | Tojin, susiok-couw dan juga suhunya itu.
"Omitohud, anak nekat !" Hek Bin Hwesio
menghampiri Giok Cu, menggerakkan pedang tumpul itu dan belenggu kaki tangan gadis itu pun putus semua, puga Pek I Tojin menghampir Han Beng, akan tetapi dia tidak melepaskan belenggu kaki tangan muridnya.
"Siancai , apakah engkau tidak mampu melepaskan
diri dari belenggu Itu, Han Beng?"
"Belenggu ini ulet dan lentur Suhu " "Hemmm, kalau begitu jangan mencoba untuk membikin putus, melainkan meloloskan tanganmu dengan Sia-kut- hoatmu (Ilmu Melepas Tulang Melemaskan Badan)." Han Beng baru teringat akan ilmu yang pernah dipelajarinya itu. Tapi dalam keadaan terancam, dia tidak ingat untuk mempergunakan ilmu itu. Dengan ilmu itu, dia dapat melepaskan sambungan tulang, melemaskan otot-ototnya sehingga bagian tubuh seperti lengan atau kaki dapat menjadi lunak dan lemas, menja kecil sekali hanya seperti tulang terbungkus kulit saja. Dia membuat kedua lengannya lemas. Otot-ototnya mengendur dan tulang-tulangnya seperti dapat terlepas dan dengan demikian, mak tidak begitu sukar baginya untuk menarik kedua tangannya lepas dari ikatan tali kerbau. Demikian pula dengan mudah dia melepaskan ikatan kakinya, lalu berlutut di depan Pek I Tojin seperti jug Giok Cu yang sudah berlutut di depan Hek Bin Hwesio.
Pada saat itu terdengar suara pertempuran di luar. Hong San dan para pembantunya hendak lari keluar, akan tetapi beberapa orang anak buah lari masuk dalam keadaan luka.
"Celaka, Kongcu sebagian besar teman telah
menyerah kita jauh kalah banyak dan rumah ini sudah
di kepung ketat!!" Baru saja dia bicara demikian, sebatang panah meluncur dari luar dan dia pun roboh. Dan kini di ambang pintu ruangan yang luas itu muncullah seorang perwira tinggi yang berwajah keren.
"Yap Ciangkun !" Han Beng meemanggil, juga
Giok Cu mengenal panglima itu.
Yap Ciangkun mengangguk dan tersenyum. "Kiranya Ji-wi masih selamat. Syukurlah dan rumah ini sudah kami kepung. Para pimpinan perkumpulan jahat Ini harus kami tangkap semua!" "Nanti dulu, Yap Ciangkun!" kata Giok Cu. "Sebelum Ciangkun melakukan penangkapan, aku ingin menyelesaikan urusan pribadiku dengan Ban-tok Mo-li!"
Yap Ciangkun mengerutkan alisnya, akan tetapi mengingat akan kelihaian gadis itu, dia pun mengangguk. "Baiklah, Li- hiap." Dia lalu memberi isyarat kepada pasukannya untuk siap dengan anak panah mereka untuk melindungi Giok Cu.
Melihat ini, Can Hong San tertawa tergelak. Pemuda ini amat cerdik dan dia pun melihat bahwa kini sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri. Menerjang keluar sama dengan bunuh diri, oleh karena itu satu-satunya jalan haruslah membela diri secara gagah.
"Ha-ha-ha, kalian ini mengakunya saja pendekar gagah, akan tetapi ternyata hanyalah pengecut-pengecut yang berlindung di belakang pasukan pemerintah. Pendekar macam apakah itu? Si Han Beng, engkau dijuluki orang Huang-Sin- liong, Naga Sakti Sungai Kuning. Kiranya nama itu hanya kosong belaka karena kenyataannya kini engkau hanya menjadi penunjuk jalan bagi pasukan pemerintah. Kalau memang engkau gagah, mari kita bertanding dengan taruhan nyawa. Kalau engkau kalah olehku, aku berhak untuk hidup dan harus dibiarkan lolos tanpa gangguan. Sebaliknya kalau aku kalah, biarlah kubayar dengan nyawa!"
Han Beng adalah seorang pemuda yang pada dasarnya berwatak pendiam dan tidak pandai bicara. Biarpun dia tahu bahwa Hong San membual dan memutar balikkan kenyataan, namun dia tidak pandai membalas dan hanya berkata tenang. "Sesukamu engkau hendak berkata apa, Can Hong San. Yang jelas, aku tidak mendatangkan pasukan, dan aku tidak mempunyai permusuhan pribadi denganmu "
"Hong San, manusia pengecut yang bermulut busuk!" Giok Cu memotong percakapan Han Beng yang tenang itu dengan suaranya yang lantang. "Siapa percaya omonganmu yang berbau busuk penuh kebohongan itu? Aku dan Han Beng datang ke sini untuk berurusan pribadi dengan Ban-tok Mo-li, dan engkau mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok, bahkan menggunakan asap pembius menangkap kami. Siapa yang pengecut? sekarang, setelah engkau melihat pihakmu tidak berdaya, engkau berlagak sebagai orang gagah! Cih, alangkah tebalnya mukamu, dapat mengeluarkan kata-kata dan memperlihatkan sikap semacam itu. Han Beng, sambut tantangannya itu dan binasakan saja manusia iblis ini, karena kalau dibiarkan hidup, dia pun hanya akan menyebar kejahatan di antara manusia. Dan engkau, Ban-tok Mo-li, engkau telah membunuh Ayah Ibuku yang tidak berdosa. Majulah dan terimalah pembalasanku agar arwah Ayah Ibu dapat tenang!"
Menghadapi Giok Cu yang lincah galak dan pandai bicara itu, Hong San tak mampu bersuara lagi. Mukanya berubah sebentar merah sebentar pucat karena bermacam perasaan mengaduk hatinya. Ada marah, dan malu, ada pula benci, akan tetapi juga takut. Bagaimanapun juga dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong Can Siok, pendiri Thian-te-pang yang besar. Ayahnya adalah seorang datuk sesat yang disegani dan ditakuti dunia kang ouw, oleh karena itu, bagaimanapun juga dia harus memperlihatkan sikap yang gagah!
"Sing-singgggg !" Nampak sinar berkelebat ketika
tangan kanannya mencabut pedang sedangkan tangan kirinya mencabut suling. Dia memang nampak gagah sekali. Can Hong San memiliki ketampanan yang khas karena ada darah Nepal mengalir di tubuhnya. Hidungnya terlalu mancung dan matanya yang lebar itu terlalu hitam. Hidung mancung yang agak besar dan bibir yang merah itu menunjukkan betapa dia memiliki gairah nafsu yang besar.
Melihat ini, Yap Ciangkun berseru dengan suaranya yang berwibawa, "Can Hong San, menyerahlah untuk kami tangkap karena engkau menggerakkan Thian-Te-Pang melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Tidak perlu melawan karena pasukanku telah mengepung dan semua anak buahmu telah menakluk!"
"Yap Ciangkun, perkenankanlah kami menghadapi para penjahat ini secara kami sendiri, yaitu sesuai dengan peraturan di dunia persilatan."