Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 134

Memuat...

"Ha-ha-ha, Si Han Beng, bagus sekar kalian saling menyatakan cinta. Kalau benar engkau mencinta Giok Cu, menyerahlah. Kalau kalian menyerah dan mau membantu kami, maka aku akan merayakan pernikahan kalian berdua. Kalian akan menjadi suami isteri yang hidup berbahagia bersama kami disini. sebaliknya, kalau kalian tetap menolak, kau akan melihat gadis yang kau cinta ini menderita penghinaan di depan matamu dan akhirnya kalian akan tersiksa sampai mati. Nah, pilihan yang mudah, bukan? Untuk yang terakhir kali, aku tawarkan kalian menakluk dan membantu kami."

"Apa yang dikatakan Can Kongcu memang benar dan menguntungkan sekali untukmu, Giok Cu. Ingat, engkau adalah bekas muridku dan engkau tahu betapa aku sayang padamu. Menyerahlah, Giok Cu, muridku!" Ban-tok Mo-li ikut membujuk, tahu betapa Hong San yang ditakutinya itu ingin sekali agar dua orang pemuda perkasa itu menyerah dan bersekutu dengan mereka.

Giok Cu dan Han Beng saling pandang dan sejenak pandang mata mereka bertaut, penuh kasih sayang, juga penuh kebulatan tekad untuk melawan sampai akhir.

"Lebih baik mati daripada menyerah bentak Giok Cu.

"Can Hong San iblis busuk, kami adalah orang-orang yang rela mati mempertahankan kehormatan dan kebenaran Han Beng juga membentak dan kembali keduanya mengerahkan tenaga dan bergulingan dengan cepat untuk menyerang lawan dengan menghantamkan tubuh yang kaki tangannya terbelenggu itu kepada lawan. Han Beng menyerang kearah Hong San sedangkan Giok Cu menyerang kearah Ban-tok Mo- li. Akan tetapi, dua orang yang diterjang itu mengelak dengan loncatan ke samping, kemudian menendang.

Tubuh Han Beng dan Giok Cu kembali terlempar dan membentur dinding. Sejak tadi Han Beng dan Giok Cu berusaha melepaskan belenggu kaki tangan, akan tetapi tidak berhasil. Kalau saja belenggu itu dari besi, mungkin mereka akan mampu mematahkannya. Akan tetapi itu terbuat dari kulit kerbau yang kuat, ulet dan juga agak lentur sehingga tidak dapat dibikin putus.

Keadaan dua orang muda perkasa itu kini gawat sekali. Mereka dapat dijadikan bulan-bulanan tendangan atau pukulan tanpa mampu membalas, bahkan tentu saja para pimpinan Thian-te-pang yang lihai itu dengan mudah akan dapat menotok jalan darah mereka atau menggunakan asap pembius. Hanya karena Hong San ingin sekali menarik mereka menjadi sekutu yang untuk sementara menyelamatkan mereka, dan kini kenekatan mereka membuat para pimpinan Thian-te-pang menjadi kewalahan juga.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan tambur yang riuh tendah dan saling sahutan, terdengar datang dari empat penjuru. Tentu saja hal ini membuat Hong San dan para pembantunya di ruangan itu terkejut bukan main. Pada saat itu, lima orang anak buah mereka datang berlarian dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

"Celaka ..........., Kongcu............. celaka. tempat

kita sudah terkepung pasukan pemerintah yang besar jumlahnya!" Mendengar laporan ini, wajah para pimpinan Thian-te-pang itu menjadi pucat. "Akan tetapi, bagaimana mungkin teriak Hong San. "Hubungan pasukan dengan kita amat baik!"

"Aihhh, ini tentu karena gagalnya gadis-gadis itu ketika melantik Souw Ciangkun. !" kata Lui Seng Cu dengan

suara penuh kekhawatiran.

"Benar .......... Kongcu yang memimpin adalah Yap

Ciangkun!" kata pula anak buah yang melapor. "Yap Ciangkun merintahkan agar seniua pimpinan Thian te-pang menyerah."

Wajah Hong San yang tadinya pucat kini berubah merah. "Jahanam! Dikiranya kita takut? Dua orang yang menjadi biang keladi ini harus kubunuh lebih dulu!" bentaknya dan Hong San sudah mencabut pedang Seng-kang-kiam, pedang butut tumpul milik Giok Cu yang telah dirampasnya, lalu dia menghampiri Giok Cu yang masih rebah miring terbelenggu dengan kursi. Gadis itu memandang padanya dengan mata mencorong penuh kebencian dan keberanian, sedikit pun tidak merasa takut.

"Can Hong San keparat busuk, pengecut hina. Lepaskan belenggu ini dan mari kita berkelahi kalau memang engkau masih mempunyai nyali!" teriaknya.

"Perempuan tak tahu diuntung!" kata flong San. "Karena keadaan darurat terpaksa kubunuh dulu engkau, kemudian pemuda kekasihmu itu!" Dia mengangkat tangan mengayun pedang dan Giok Cu Inenghadapi maut itu dengan mata terbuka. Pada saat pedang terayun, ada sinar hitam menyambar, tepat mengenai pergelangan tangan Hong San.

"Tukkk !" Hong San terkejut dan melompat ke

belakang, tidak jadi menggerakkan pedang untuk membunuh Giok Cu, dan pada saat itu, nampak dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang tosu tua dan seorang hwesio yang sama tuanya. Tosu itu usianya tentu sudah mendekati delapan puluh tahun, rambut dan kumis jenggotnya putih, pakaiannya pun putih semua. Sedangkan hwesio itu usianya sebaya kulit dan mukanya hitam, perutnya gendut dan wajahnya cerah tersenyum lebar

"Omitohud ! Seng-kang-kiam itu tidak boleh berada

di tanganmu. !!” katanya kepada Hong San dan lengan

kirinya bergerak, ujung lengan baju yang lebar itu sudah menyambar ke arah mu'ka Hong San. Pemuda itu bukan orang lemah. Melihat serangan yang dahyat itu, yang didahului oleh angin pukulan yang amat kuat, dia cepat miringkan tubuhnya dan pedang di tangannya bergerak membacok. Akan tetapi, pedang itu bertemu dengan benda lunak dan ternyata itu adalah lengan baju yang kanan, yang telah menyambut pedang itu dan melibatnya, kemudian sekali membuat gebrakan sentakan pedang itu telah berpindah tangan! Hong San terkejut sekali dan melompat ke belakang.

"Suhu !" kata Giok Cu girang melihat hwesio itu

Post a Comment