"Tidak! Can Hong San manusia terkutuk! Si Han Beng hanya ikut dengan aku ke sini. Akulah yang memiliki urusan pribadi dengan Si Iblis Betina Ban-Tok Mo-li. Ia telah membunuh Ayah Ibuku dan aku akan mencabut nyawanya untuk melenyapkan penasaran Ayah dan Ibuku! Bebaskan Han Beng, aku yang bertangung jawab! Kalau engkau memang jantan, biarkan aku bertanding mengadu nyawa dengan Ban-tok Mo-li, kemudian engkau boleh menandingiku dan mengeroyok aku kalau engkau berani!"
Dimaki dan dicela seperti itu, Hong ban hanya tersenyum mengejek. "Ha-ha-ha, enak saja kalian bicara. Kalian adalah tawanan kami, kalian tidak berdaya dan kamilah yang menentukan syarat, bukan kalian." Hong San tertawa-tawa mengamati pedang tumpul buruk milik Bu Giok Cu yang dirampasnya. Pedang itu butut dan tumpul, sama sekali tidak menarik, namun dia tahu bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh. Memang, Seng-kang-kiam (Pedang Baja Bintang) milik Bu Giok Cu itu adalah sebatang pedang yang langka, pemberian dari Hek Bin Hwesio.
"Hemmm, agaknya kalian saling mencinta. Kalian saling berebut untuk mengorbankan diri asal yang lain dibebaskan. Mengagumkan sekali. Cinta kasih seperti itu jarang ditemui di jaman ini ha-ha-ha!" Kembali Hong San tertawa. Dia sengaja bersikap demikian karena di ingin sekali mengambil hati dua ora muda yang dia tahu amat lihai itu. Mereka berdua itu jauh lebih lihai dibandingkan semua pembantunya. Kalau saja Si Han Beng dan Bu Giok Cu mau membantu dia, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat dan dia tidak akan takut menghadapi siapapun juga.
Mendengar ucapan itu, wajah Bu Giok cu menjadi kemerahan. Juga Han Beng merasa betapa jantungnya berdebar keras. Betapa tepatnya ucapan Hong yang tentu saja hanya merupakan ejekan itu. Dia memang mencinta Giok Cu dan akan rela mengorbankan nyawanya untuk keselamatan gadis itu. Akan tetapi dia juga marah sekali karena tahu bahwa ucapan itu tentu saja merupakan hal yang amat memalukan Giok Cu, bahkan juga menghina.
"Maaf, Can Kongcu. Gadis itu pernah menjadi sahabatku, oleh karena itu, kalau Pangcu memperbolehkan, serahkan saja kepadaku. Aku cinta padanya dan aku akan membujuknya agar ia suka bekerjasama dengan kita." kata Ji Ban To, pemuda kurus kering bermuka pucat, murid Ouw Kok Sian yang dahulu pernah menggoda Giok Cu itu.
"Berikan saja kepadaku, Can Kong-cu. Aku sanggup menundukkan Giok Cu!" seru Siok Boan pemuda yang gendut dan mukanya seperti kanak-kanak itu. Dia murid dari Lui Seng Cu yang menjadi Kauw-cu dari Thian-te-kauw. "Kepadaku saja, Can Kongcu! Aku dapat membikin ia jinak!" teriak pula Poa Kian So, sute dari Siok Boan, yang berhidung pesek dan bertubuh pendek. Memang dua orang murid dari Lui Seng Cu ini pernah tergila-gila kepada Giok Cu ketika gadis ini masih menjadi murid han-tok Mo-li, seperti juga Ji Ban To.
"Aih, sungguh kalian bertiga tidak tahu diri!" kata Siangkoan Tek, pemuda putera Siangkoan Bok yang juga menjadi pembantu utama di dalam perkumpulan Thian-te-pang itu. "Akulah yang pantas menjadi suami Bu Giok Cu. Can Kongcu berikan saja ia kepadaku!"
Melihat betapa empat orang pera pembantunya itu memperebutkan Giok Cu, Hong San tertawa. "Ha-ha-ha, engkau mendengar sendiri, Giok Cu dan Han Beng. Hanya ada dua pilihan bagi kalian. Pertama, kalian menakluk kepa kami dan berjanji menjadi pembantu kami yang setia, berjuang bersama kami dan mendapatkan kedudukan yang terhormat dan mulia. Dan ke dua, kalau kalian menolak, terpaksa aku membiarkan empat orang pemuda yang sudah tergila-gila kepada Giok Cu ini untuk memilikinya, mempermainkannya sepuas ha nya mereka di depan matamu, Han Beng. Mereka akan memperkosanya sampai gadis yang kaucinta ini mati di depan matamu, kemudian barulah kami akan menyiksamu sampai mati. Nah, kalian pilih yang mana?"
"Aku pilih mati daripada harus takluk padamu!" bentak Giok Cu dan tiba-tiba gadis itu mengerahkan tenaga dan bersama kursinya sudah meloncat ke depan. Ji Ban To yang ingin berjasa tertubruk untuk menangkapnya, akan tetapi gadis itu bersama kursinya menerjang ke arahnya dengan kekuatan hebat.
"Bresssss !" Ji Ban To mengaduh dan tubuhnya
terjengkang, bergulingan di terjang gadis yang masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi itu! "Itu pula jawabanku, keparat!" Han Beng berseru dan dia pun meniru perbuatan Giok Cu. Tubuhnya yang masih terbelenggu pada kursinya itu menerjang ke depan, ke arah Can Hong San. Akan tetapi pemuda sakti ini dengan mudah mengelak sambil menggerakkan kaki menendang sehingga tubuh Han Beng yang tidak mampu menggerakkan kaki tangan Itu terpental ke samping oleh tendangan itu. Siangkoan Tek yang mencabut pedang menubruk ke arah Han Beng dan menyerang dengan bacokan ke arah perut pemuda yang terbelenggu itu. Han Beng melihat kesempatan baik sekali. Diam-diam dia mengerahkan sin-kang sepenuhnya untuk melindungi kakinya dan ketika pedang menyambar, dia malah menyambut dengan kaki yang terbelenggu, pedang itu membabat belenggu ke kakinya. Pedang itu berkelebat.
"Brettttt!" Kain celana dan belenggu itu terbabat putus, dan kulit kaki kanan Han Beng tergores sedikit karena sudah dilindungi kekebalan. Kedua kakinya bebas! Han Beng meloncat dan sekali kaki kirinya menendang, tubuh Siangkoan Tek terlempar sampai lima meter jauhnya dan terbanting keras. Padahal Siangkoan Tek memiliki tingkat kepandai yang cukup tinggi. Namun tendangan tadi merupakan tendangan yang khas dari ilmu silat Hui-tiauw Sin-kun sehingga Siangkoan Tek yang sudah memandang rendah lawan yang terbelenggu itu terkena tendangan. Untung yang tertendang pahanya sehingga dia tidak sampai terluka parah, hanya nyeri dan terkejut saja.
Dua orang tawanan itu mengamuk. Han Beng yang sudah bebas kedua kakinya, walaupun kedua tangan masih terbelenggu dan kursi itu masih melekat dipunggung, mengamuk dengan tendangannya dangan kedua kakinya. Giok Cu juga mengamuk. Gadis ini masih terbelenggu kaki tangannya pada kursi, akan tetapi kursi itu menerjang ke sana- sini dengan ganasnya!
Betapapun juga, dua orang tawanan ia tidak dapat bergerak leluasa dan di situ terdapat banyak orang lihai. Kalau Hong San dan para pembantunya menghendaki, tentu tidak terlalu sukar bagi mereka untuk menghentikan amukan duia orang itu dengan serangan yang mematikan.
"Jangan bunuh mereka!" beberapa kali Hong San berseru. 'Tangkap dan lumpuhkan saja. Aku masih belum selesai dengan mereka!" Dalam seruannya ini terkandung kemarahannya. Dia akan menyikat dua orang musuh itu sepuas hatinya sebelum membunuhnya.
Hong San dan para pembantunya kini mengepung dua orang tawanan yang mengamuk itu dan kini baik Han Beng maupun Giok Cu menjadi bulan-bulanan kemarahan mereka. Mereka itu memukul, menendang dan dua orang itu terbanting-banting dan terguling-guling bersama kursi mereka. Dalam keadaan terbelenggu pada kursi itu, tentu saja gerakan mereka tidak leluasa sama sekali. Namun mereka adalah dua orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki tenaga dalam yang kuat sekali sehingga biarpun kaki tangan mereka terbelenggu, namun luncuran tubuh mereka dengan kursi itu masih berbahaya bagi lawan.
Apalagi karena Hong San beberapa kali memberi peringatan agar dua orang itu jangan dibunuh. Para pembantunya menyimpan senjata mereka dan hanya mencoba untuk menangkap kedua orang yang mengamuk itu dengan kaki tangan mereka. Inilah yang berbahaya karena siapa berani menghadapi terjangan Han Beng atau Giok Cu dengan tangan, tentu akan kena hantaman tubuh yang menjadi satu dengan kursi itu sehingga terjengkang dan terguling-guling!
"Yang lain mundur, biarkan aku, Pang-cu dan Kauwcu bertiga saja yang menangkap mereka!" kata Hong San setelah melihat beberapa orang pembantunya empat roboh sampai terguling-guling. Dia sendiri membiarkan tubrukan Han Beng lewat dengan elakan, dan kakinya menyambar.
"Dukkk!" Tubuh Han Beng terpenting ketika dadanya kena ditendang tanpa dan mampu mengelak atau menangkis.
Ban-tok Mo-li dan Lui Seng Cu juga berhasil menangkap Giok Cu dari kanan kiri, menangkap sandaran kursinya dan gadis perkasa itu tidak mampu berkutik pula.
Agaknya tidak ada harapan lagi bagi Han Beng dan Giok Cu untuk dapat menyelamatkan diri dari tangan para pim pinan Thian-te-pang itu dan mereka terancam bahaya maut, terutama sekali Giok Cu yang telah diancam akan di perkosa sampai mati di depan Han Beng kalau mereka berdua tidak mau menakluk dan membantu perkumpulan itu.
Dengan marah sekali Han Beng terguling-guling oleh tendangan Hong San tadi, mengerahkan lagi tenaganya dan tubuhnya meluncur kembali ke arah Hong San, bagaikan sebuah peluru besar yang ditembakkan dari mulut meriam. Tidak mungkin mengelak dari serangan peluri manusia seperti itu. Hong San menyambut dengan hantaman kedua tangannya sambil mengerahkan sin-kang. Ketika Han Beng meluncur ke arahnya, dia sudah siap memasang kuda-kuda dan kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah lawan.
"Desssss. !!" Kembali Han Beng bersama kursinya
terlempar oleh hantaman kedua tangan itu, bahkan nampak sandaran kursi itu patah-patah. Akan tetapi juga Hong San terhuyung ke belakang karena ketika dia memukul, Han Beng juga mengerahkan sin-kangnya sehingga pukulan lawan itu membalik.
Han Beng terbanting dan terguling-guling, matanya berkunang dan walaupun dia tidak sampat terluka parah, namun kepalanya terasa pening. Hantaman tadi kuat sekali. Ketika dia bergulingan, kebetulan sekali Giok Cu juga bergulingan di dekatnya.
"Han Beng, kau............ kau larilah. ,jangan
korbankan diri untuk aku. ini urusanku, biar aku yang
mengamuk sampai mati." Giok Cu berkata dengan napas terengah-engah.
"Giok Cu, kalau perlu, kita akan mati bersama." bisik Han Beng kembali. Mendengar ini, Giok Cu menahan tangisnya! la tahu bahwa mereka berdua tak berdaya dan kalau melanjutkan mengamuk dalam keadaan terbelenggu seperti itu akhirnya mereka berdua pasti akan tewas. Tidak ada harapan sama sekali untuk dapat meloloskan diri. Dan Han Beng mengatakan siap untuk mati bersama!
"Han Beng ........ aku .......... cinta ........ padamu " Ia
membuat pengakuan terakhir ini, bukan hanya untuk menyatakan rasa terima kasih dan keharuannya, melainkan untuk membuka rahasia hatinya sendiri. "Aku juga cinta padamu, Giok Cu.” jawab Han Beng, suaranya terharu namun mengandung kebahagiaan besar walaupun dia tahu pula bahwa mereka berdua akan mati.
Mendengar percakapan singkat itu Hong San mengangkat tangan member isarat kepada para pembantunya untul berhenti menyerang.