Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 132

Memuat...

"Bohong! Bohong dan fitnah ya kaukatakan itu, Ban-tok Mo- li!" Han Beng berseru marah.

Ban-tok Mo-li memandang kepada pemuda itu dan sinar matanya mencorong marah.

"Siapakah engkau? Hemmm, agaknya engkau yang dijuluki Huang-ho Sin liong itu. Benarkah?" "Benar. Namaku Si Han Beng engkau bicara bohong tadi, Ban-tok li. Suhu Liu Bhok Ki tidak akan meracuni orang! Dia seorang pendekar besar, selamanya tidak menggunakan racun. Rajawali Sakti Liu Bhok Ki hanya mengandalkan kaki tangan dan sabuknya sama sekali tidak pernah menggunakan racun!"

"Huh, jadi engkau ini hanya murid Liu Bhok Ki saja? Tapi

........ aku pernah melihatmu. Benar ............ ! Engkau

bukankah engkau anak yang dulu bersama Giok Cu telah menemukan anak naga dan menghisap darah anak naga itu?"

"Benar, Ban-tok Mo-li. Dan kuharap engkau cukup gagah untuk mengakui perbuatanmu dan mempertanggungjawabkan darinya, tidak melakukan fitnah kepada orang lain yang sama sekali tidak bersalah."

"Bu Giok Cu, engkau yang kudidik lama bertahun-tahun sebagai murid terkasih, engkau datang menuduhku dan engkau malah percaya kepada keterangan pemuda ini?" Ban- tok Mo-li berseru penasaran kepada Giok Cu.

"Aku telah mendengar sendiri keterangan Lo-cian-pwe Liu Bhok Ki dan aku percaya kepadanya! Dan aku memang lebih percaya bahwa engkau yang telah membunuh Ayah bundaku dengan racun, Ban-tok Mo-li. Pertama, karena engkaulah orang yang sudah biasa menggunakan racun, sesuai dengan julukanmu. Ke dua biarpun aku pernah menjadi muridmu, aku sudah mengenal watakmu yang jahat dan kejam, bahkan pernah aku nyaris tewas di tanganmu dan tangan pendeta palsu Lui Seng Cu ini. Ban-tok Mo-Ii apakah engkau demikian pengecut dan penakut untuk mengakui bahwa yang membunuh Ayah Ibuku adalah engkau?"

Wajah wanita itu berubah merah karena marah dimaki sebagai pengecut dan penakut oleh bekas muridnya sendiri. Bagi orang golongan sesat, membunuh bukan merupakan perbuatan yang mealukan atau dianggap buruk, bahkan dianggap sebagai perbuatan yang membanggakan hati! Maka, ia pun sama seka tidak merasa malu, bahkan dengan sikap bangga ia mengakui perbuatannya.

"Bocah sombong Bu Giok Cu! Kalau benar demikian, habis engkau mau apa? Memang, aku telah membunuh Ayah Ibumu karena pada waktu itu aku menganggap mereka sebagai penghalang bagiku untuk mengambil engkau sebagai murid. Dan aku merasa menyesal mengapa engkau tidak kubunuh sekalian pada waktu itu sehingga sekarang engkau tidak hanya mendatangkan kepusingan saja."

Biarpun ia sudah menduga sebelumnya, tetap saja wajah Giok Cu berubah bucat seketika, kemudian menjadi merah sekali ketika ia mendengar pengakuan dari Ban-tok Mo-li itu. Dengan sinar mata mencorong seperti berapi, tubuh tegak lurus dan tangan kiri bertolak pinggang, telunjuk kanannya menuding ke arah muka Ban-tok Mo-li, Giok Cu berkata dengan suara yang nyaring dan penuh kemarahan.

"Ban-tok Mo-li! Bagus engkau telah mengakui perbuatanmu yang keji! Sekarang bersiaplah engkau! Aku datang untuk menagih hutang, membalas atas kematian Ayah Ibuku!" Giok Cu melangkah maju menghadapi wanita yang pernah menjadi gurunya itu.

"Bu Giok Cu, dengan sedikit isyaratku saja, engkau akan dikepung puluhan orang anak buahku dan engkau akan mati konyol, biarpun engkau dibantu oleh Huang-ho Sin-liong. Akan tetapi, kami dari Thian-te-pang adalah orang-orang gagah! Kalau memang engkau menantangku, beranikah engkau bertanding dengan aku di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) dan tidak di depan kuil ini agar tidak mengganggu mereka yang akan sembahyang dan mencemarkan pekarangan kuil yang suci?"

Giok Cu tersenyum mengejek. Ia dan Han Beng sudah berani datang ke tempat itu, ke sarang musuh, tentu saja mereka tidak takut, apalagi ditantang untuk bertanding di ruangan bermain silat. "Di mana pun dan kapan pun tantanganmu akan kuhadapi!"

Akan tetapi Han Beng cepat berkat "Ban-tok Mo-li, kedatangan kami ini tidak ada hubungannya dengan Thia te- pang atau Thian-te-kauw. Dan aku pun tidak akan mencampuri pertandingan, dengan Giok Cu. Akan tetapi, kalau sampai terjadi kecurangan, kalau engkau mengeroyok Giok Cu, terpaksa aku akan ikut campur dan mencegah kecurangan itu! Kami tidak ingin bermusuhan dengan Thian-te-kauw!"

Ban-tok Mo-li tertawa genit. "Hik-hik, aku akan bertanding melawan bekas muridku, perlu apa aku harus dibantu orang lain? Bahkan kalau perlu engkau boleh membantu Giok Cu, aku tidak takut menghadapi pengeroyokan kalian dua orang muda yang sombong ini!"

"Ban-tok Mo-li, tidak perlu banyak cerewet. Mari kita segera bertanding sampai seorang di antara kita roboh!"

Giok Cu membentak. Sambil tertawa Ban-tok Mo-li lalu masuk ke dalam, diikuti oleh Giok Cu dan Han Beng, juga diikuti Lui Seng Cu dan para pimpinan Perkumpulan itu. Giok Cu tentu saja masih hafal akan keadaan di rumah itu. Kiranya kuil itu dibangun di bagian depan dan menembus ke pinggir rumah bekas gurunya, dan lian-bu-thia yang dulu tidak begitu besar, kini telah dirombak dan menjadi sebuah ruangan yang luas, yang cukup untuk berlatih seratus orang! Ruangan ini tertutup dan tidak mempunyai jendela, hanya ada sebuah pintu di depan, pintu besi yang kokoh. Dengan langkah tenang dan gagah, Giok Cu mengkuti Ban-tok Mo-li memasuki ruangan itu bersama Han Beng, diiringkan oleh para tokoh Thian-te-pang.

Setelah tiba di dalam ruangan langsung saja Giok Cu berdiri di tengah-tengah dengan sikap menantang. "Mari kita selesaikan urusan antara kita. Aku sudah siap, Ban-tok Mo-li!" katanya sambil memandang kepada wanita itu. Han Beng berdiri di sudut dengan sikap tenang, namun waspada karena dia tetap merasa curiga bahwa orang-orang sesat itu dapat benar-benar bersikap gagah dan dapat dipercaya. Dia tidak khawatir sama sekali kalau memang terjadi pertandingan yang jujur, karena dia percaya sepenuhnya akan kelihaian Giok Cu. Yang dikhawatirkan adalah kalau orang-orang sesat itu menggunakan pengeroyokan atau jalan lain yang curang. Maka, biarpun dia nampak tenang saja berdiri sambil bersilang lengan di dada dia tetap waspada menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Ban-tok Mo-li masih belum banyak. benar akan pemberitahuan Can Kongcu bahwa bekas muridnya itu kini memiliki kepandaian yang amat tinggi, jauh lebih lihai dibandingkan kepandaiannya sendiri! Ia tidak percaya! Dan ia pun tidak takut, karena di situ terdapat Lui Seng Cu dan para tokoh lain, bahkan di situ terdapat pula Can Kongcu yang masih belum muncul, akan tetapi yang ia tahu tentu sedang melakukan pengintaian.

Dengan langkah gemulai Ban-tok. Mo-li Phang Bi Cu menghampiri Giok Cu di tengah ruangan itu sambil mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap memegang kipasnya. Begitu pedang tercabut, nampak anar merah. Itulah Ang-tok Po-kiam (Pedang Pusaka Racun Merah) yang ampuh sekali karena selain terbuat dari baja pilihan, juga pedang itu sudah direndam racun merah bertahun-tahun sehingga lawan yang terkena sekali goresan saja sudah terancam maut!

Namun Giok Cu sama sekali tidak merasa jerih. Ia sudah mengenal habis-habis semua senjata dan kepandaian bekas gurunya. Ia tahu benar keadaan pedang pusaka yang berwarna merah itu,bahkan ia pun mengenal kipas di tang kiri lawan itu. Kipas itu nampaknya tidak berbahaya, namun ia tahu bah kipas itu lebih berbahaya daripada p dang karena kipas itu mengandung jarum-jarum halus beracun yang dapat menyambar dari dalam gagang kipas yang suda dipasangi alat. Juga selain kedua ujung gagang kipas yang runcing mengandun racun pula, juga kebutan kipas itu mendatangkan bau harum yang juga dapa membuat kepala menjadi pening. Ia mengenal pula bekas gurunya sebagai manusia beracun sehingga pukulan tangannya, cakaran kukunya, bahkan ludahnya mengandung racun yang dapat mematikan lawan!

"Bu Giok Cu, sudah begitu bosan hidupkah engkau maka begini tergesa-gesa minta mati?" tegur Ban-tok Mo-li dengan senyum mengejek.

"Ban-tok Mo-li, dua belas tahun yang lalu engkau telah membunuh Ayah dan Ibuku yang sama sekali tidak bersalah kepadamu. Sekarang aku, Bu Giok Cu anak mereka, menuntut balas atas kematian mereka yang penasaran itu. Ban-ok Mo-li bersiaplah engkau untuk menghadap Ayah Ibuku dan mempertanggung-jawabkan perbuatanmu yang jahat dan kejam!"

"Hi-hi-hik, engkau ini bekas muridku berani membuka mulut besar? Nah, kau makanlah pedangku!" Berkata demikian, wanita itu sudah menusukkan pedangnya, tanpa memberi kesempatan pada bekas muridnya untuk mencabut senjatanya. Memang wanita ini licik sekali dan sama sekali tidak merasa malu untuk melakukan kecurangan. Sinar merah berkelebat menyambar ketika pedang Itu menusuk ke arah dada Giok Cu. Gadis ini cepat meloncat ke belakang dan ketika tangan kanannya bergerak, ia sudah mencabut pedang pusaka Seng-kang-kiam pemberian Hek Bin Hwesio. Melihat pedang yang tumpul itu, dan buruk, Ban-tok Mo-li terkekeh geli.

"Hi-hi-heh-heh, Giok Cu. Pedang apa yang kaukeluarkan itu? Untuk memotong sayur pun belum tentu dapat, begitu tumpul dan buruk! Dan engkau hendak melawan Ang-tok Po- kiam dan kipas dengan pedang tumpul itu? Ha-ha!" "Tak perlu banyak cerewet. Lihat pedang!" Giok Cu membentak dan sudah menyerang dengan pedangnya. Terdengar suara berdesing dari didahului angin menyambar keras, pedang itu sudah menyambar pula ke arah leher lawan. Ban tok Mo-li yang masih tersenyum itu terkejut, senyumnya berubah dan ia cepat menggerakkan pedangnya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya, dengan maksud begitu kedua pedang bertemu, ia akan membarerengi dengan serangan kipasnya.

"Tranggggg !" Nampak bunga api berpijar dan Ban-

tok Mo-li terhuyung dan hampir saja pedangnya terlepas dari tangannya! Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah disangkanya sehingga rencana serangannya gagal sama sekali, bahkan hampir saja ia terpelanting! Dengan muka pucat, ia memungut pedang dari samping dan menyerang dengan dahsyat, penuh rasa penasaran dan kemarahan. Melihat ini, Giok Cu mengelak. Akan tetapi, kipas itu menyambar, mengebut kearah mukanya. Giok Cu menahan napas agar tidak perlu menyedot bau harum beracun dari kipas itu, dan ketika ujung gagang kipas menyambar sebagai lanjutan penyerangan dengan totokan, kembali ia mengelak ke belakang. Pada saat itu, nampak sinar lembut hitam menyambar dari gagang kipas. Hal ini pun sudah diduga oleh Giok Cu maka gadis ini dengan mudah memutar pedang memukul runtuh semua jarum halus beracun.

"Huhhh, engkau memang hanya pandai menggunakan racun dengan curang! Tak tahu malu!" bentak Giok Cu dan kini ia pun menyerang dengan pedangnya. Ia sama sekali tidak sudi menggunakan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Ban- tok Mo-li, melainkan menggunakan ilmu yang pernah dipelajarinya dari Hek-bin Hwesio. Dan tentu saja keadaan Giok Cu lebih untung. Semua serangan lawan sudah dikenalnya dengan baik, dan ia tahu bagaimana cara menghindarkan semua serangan itu. Sebaliknya, Ban-tok Mo-li bingung menghadapi permainan pedang Giok Cu yang sama sekali tidak dikenalnya. Juga wanita sesat ini kalah jauh dalam kekuatan tenaga sakti, bahkan pedangnya yang biasanya amat diandalkan itu sekali ini kehilangan keampuhannya menghadapi pedang tumpul Seng kang-kiam!

Setelah lewat tiga puluh jurus, Ban tok Mo-li tak mampu membalas serangan lagi. la terdesak dan terhimpit hanya mampu memutar pedang melindungi tubuhnya dan main mundur terus. Melihat ini, tentu saja Lui Seng Cu tidak mau membiarkan saja pangcu itu terancam bahaya.

"Bu Giok Cu, lepaskan pedangmu. Tiba-tiba dia membentak. Sejak tadi kauwcu ini memang sudah berkemak kemik membaca mantra dan mengerahkan kekuatan sihirnya, dan tiba-tiba ki dia melalui bentakannya hendak mengua sai Giok Cu dengan ilmu sihirnya.

Giok Cu merasa betapa jantungny tergetar dan hanpir ia melepaskan pedang. Akan tetapi gadis ini pernah digembleng oleh Hek Bin Hwesio, dan ia sudah dilatih hebat sehingga kini me¬miliki kekuatan batin yang mampu menolak pengaruh sihir.

"Lui Seng Cu pendeta palsu!" Ia pun membentak dan pedangnya semakin mendesak Ban-tok Mo-li, sedikit pun ia tidak terpengaruh oleh kekuatan sihir yang melepaskan Thian- te Kauw-cu (Kepala Agama Thian-te-kauw) itu. Melihat itu Lui Seng Cu terkejut dan dia pun meloncat ke depan sambil mencabut golok besarnya.

"Heiiiii, tidak boleh curang main keroyokan!" bentak Han Beng sambil meloncat maju dan ketika tangan kanannya mendorong ke arah Lui Seng Cu, Kauwcu ini hampir terjengkang oleh sambaran angin dahsyat.

Pada saat itu terdengar ledakan disusul asap tebal dan muncullah seorang sosok tubuh yang menyeramkan. Arca Thian-te Kwi-ong agaknya telah hidup! Orang yang muka dan pakaiannya mirip patung Thian-te Kwi-ong yang disembah- sembah itu telah muncul di situ, membawa sebatang pedang kuno yang panjang dan berat. Semua orang terkejut tak terkecuali Han Beng dan Giok yang segera berlompatan ke belakang dan mereka kini berdiri berdamping untuk saling melindungi. Mata mereka terbelalak memandang ke arah setan itu yang berdiri tegak. Semua pengurus dan anggauta Thian-te-kauw segera memberi hormat.

"Si Han Beng dan Bu Giok Cu! Menyerahlah kalian karena kalian sudah dikepung!" kata "Raja Setan" itu. "Kalau kalian menakluk, akan kami beri kedudukan yang baik, kalau kalian melawa kalian akan mati konyol!"

Dan tiba-tiba saja, pintu ruangan itu ditutup dan banyak asap berembus dari luar, memasuki lian-bu-thia itu.

"Han Beng, awas asap beracun! Kita harus menerjang keluar!" teriak Giok Cu. Han Beng terkejut dan dia pun menahan napas. Akan tetapi, Ban-tok Mo-li sudah tertawa bergelak dan bersama Lui Sen Cu dan para tokoh sesat mereka menghadang dan mengeroyok dua orang pendekar muda itu sehingga mereka tidak dapat keluar. Apalagi pintu besi itu sudah ditutup dari luar, sementara itu asap beracun yang mengandung bius itu semakin tebal. Ternyata bahwa Ban-tok mo-li sudah memberi obat penawar kepada rekan- rekannya sehingga mereka itu menyedot asap tanpa pengaruh apa-apa. sebaliknya, Han Beng dan Giok Cu tidak berani bernapas. Mereka menahan napas, akan tetapi tentu saja mereka tidak mungkin dapat bertahan terlalu lama, apalagi mereka dikeroyok banyak lawan. Akhirnya, tanpa tersentuh senjata lawan, Han Beng dan Giok Cu roboh terpelanting dan pingsan!

Ketika Han Beng dan Giok Cu siuman kembali, mereka mendapatkan diri mereka sudah duduk di atas kursi dan masing-masing terbelenggu kaki tangan mereka, terikat pada kursi sehingga tidak mampu berkutik. Mereka masih berada di lian-bu-thia tadi, akan tetapi kini tidak ada lagi asap harum yang mengandung bius. Di depan mereka, dalam jarak sepuluh meter, nampak belasan orang itu duduk pula berjajar di atas kursi. Yang paling depan adalah seorang pemuda yang tampan dan yang selalu tersenyum-senyum, didampingi oleh Kauwcu Lui Seng Cu di sebelah kirinya Pangcu Ban-tok Mo-li di sebelah kananya. Para pengurus lainnya dan para tokoh sesat duduk di belakang tiga orang ini. Sikap mereka seperti suatu paruturan pengadilan yang hendak menghakimi Han Beng dan Giok Cu sebagai pesakitan!

Ketika Han Beng dan Giok Cu memandang kepada pemuda itu, mereka terbelalak.

"Engkau !" Giok Cu dan Han Beng berseru, hampir

berbareng saking herannya bertemu dengan musuh lama itu situ.

"Jangan kurang ajar!" bentak Ban tok Mo-li kepada dua orang tawanan itu "Kalian berhadapan dengan Can Kong penjelmaan dari Thian-te Kwi-ong. Bersikaplah hormat!"

Akan tetapi Giok Cu tersenyum mengejek. "Penjelmaan Thian-te Kwi-ong Hemmm, memang dia iblis cilik! Hong San, ular kepala dua yang pernah membantu gerombolan pemberontak yang gagal! Dan sekarang menyelundup ke dalam Thian-te Kwi-ong! Bagus-bagus!"

Hong San tidak marah, bahkan tertawa bergelak. "Bu Giok Cu, engkau makin cantik saja, ha-ha-ha. Dan engkau masih tetap bernyali besar tabah dan penuh semangat, pantang mundur walaupun sudah menjadi tawanan. Sungguh sikap seorang calon isteri ketua yang besar! Bu Giok Cu, ketahuilah bahwa aku ini telah menjadi pemimpin besar dari Thian-te- pang yang memiliki kekuasaan besar. Kami bukanlah perkumpulan orang jahat, melainkan perkumpulan yang gagah dan membela kepentingan umum. Aku tahu bahwa engkau dan juga Huang-ho Sin-liong Si Han Beng adalah pendekar- pendekar yang gagah perkasa. Oleh karena itu, biarpun kalian telah beberapa kali melakukan perbuatan yang menentangku, namun aku masih suka mengampuni kalian, kalau kalian suka membantu perjuangan kami. Kelak, kalau kita lberhasil, kalian tentu akan mendapatkan bagian dan memperoleh kedudukan tinggi. Nah, Bu Giok Cu, kalian sudah tak berdaya. Kalau engkau suka menjadi isteriku yang terhormat, dan Si Han Beng suka menjadi pembantuku "

"Tutup mulutmu yang kotor!" bentak Bu Giok Cu. "Aku lebih suka mati daripada menjadi isteri seorang keji dan jahat macam engkau!"

"Can Hong San," kata Han Beng d ngan suara tenang namun tegas. "Kalau engkau memang seorang laki-laki yang jantan, bebaskan kami dan mari kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Sebaliknya, kalau engkau hanya seorang iblis yang licik dan curang, setidaknya engkau tentu mengenal malu untuk mencurangi seorang wanita. Bebaskan Bu Giok Cu dan kau siksa dan bunuh saja aku. Giok Cu tidak bersalah apa-apa kepadamu!"

Post a Comment